Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
RAHASIA LAINNYA


__ADS_3

*


Aku masih berbaring menyamping menikmati pemandangan yang terbaring indah disampingku ini. Di tiba - tiba menggeliat, mengubah posisi tidurnya, menyamping menghadapku, tatapanku kembali berhenti di bibirnya yang puas aku ***** tadi malam. Matanya tiba - tiba membuka, menatapku sebentar lalu menutup lagi sambil tersenyum.


" Jangan pandangi aku lama - lama, nanti kau jatuh cinta." katanya pelan.


" Aku memang sudah jatuh cinta padamu sayang." jawabku, lalu memberikan kecupan di bibirnya.


" Mandi yok..." ajakku, matanya cepat membuka dan dia menggeliat lagi, mengangkat kedua tangannya lalu melingkarkannya di tubuhku.


" Gendong.." pintanya manja. Aku cepat bangkit dan mengangkat tubuhnya, menuruni tempat tidur dan mengajaknya masuk ke kamar mandi masih dengan posisi yang sama.


**


Kami keluar dari kamar saling berpegangan tangan tanpa melepas senyuman, seperti sepasang kekasih yang baru saja menikah. Berjalan ke halaman belakang, hendak menikmati sarapan bersama. Uni Rahmi tersenyum melihat kehadiran kami, Di melepas pelan tangannya dariku dan berjalan mendekati uni Rahmi yang tengah menyusun piring untuk sarapan diatas meja makan. Sementara aku melanjutkan langkahku menuju kursi santai kebesaran kami dan duduk disana.Pemandangan laut beratapkan langit cerah menyambut pagiku, setelah tadi di sambut senyuman, ciuman dan pelepasan nikmat bersama kekasihku.


Di tiba - tiba datang dan duduk disampingku. Dengan satu piring penuh nasi goreng dan tiga telur diatasnya. Uni Rahmi mengikutinya dari belakang dan meletakkan sebuah teko dan gelas di atas meja di depan kami.


" terimakasih uni." kata Di tanpa melepas senyuman.

__ADS_1


" kau bahagia sayang?" tanyaku lembut sambil meletakkan tanganku diatas pahanya. Dia mengangguk dan mengarahkan satu sendok nasi goreng ke mulutku. Aku membuka mulutku dan memasukkan sendok berisi nasi itu ke dalam mulut. Lalu dia menyuapkan sendiri ke dalam mulutnya.


" Bagaimana kau bisa mengenal Vena, Di?" tanyaku pelan membuka cerita.


" Kau mengenalnya Dim?" tanyanya balik tanpa menghentikan kegiatannya menyuapkan nasi padaku dan untuknya juga.


" iya... sangat mengenalinya bahkan." jawabku. Dia menghentikan sebentar kegiatannya dan menatapku.


" Kau??? ahhhh.. aku benci kalau dugaanku benar." katanya kemudian.


" apa dugaanmu?" tanyaku


" kau kekasih yang sangat dicintainya, laki - laki yang dengan terpaksa dilukai karena kebodohannya percaya pada Radit, apakah itu kau Dim?" tanyanya balik, aku mengangguk


" Tapi aku tidak pernah merasa kalau aku dilukainya Di, aku hanya terluka ketika mendengar kabar dia meninggal ketika bermalam di hotel bersama seorang laki - laki." jawabku, " dan mama tidak tahu bagian itu." sambungku lagi.


Di menggeleng cepat.


" perkenalanku dengannya justru karena aku ingin melabraknya, awalnya. Mendatangi tempat tinggalnya membawa Iza yang masih kecil dan Azi yang baru lahir. Aku ingin mengambil kembali ayah anak - anakku darinya. Tapi, dia dan mamanya menyambut kedatanganku dengan sangat hangat hari itu, Vena pun menjelaskan kalau dia tidak punya hubungan apa - apa dengan Radit dan menjelaskan kalau Radit adalah adik dari laki - laki yang sangat ia cintai." Di mengurai cerita, tiba - tiba saja wajah dan senyuman Vena hadir di benakku.

__ADS_1


" Vena adalah sosok wanita modern yang sangat polos. Sangking polosnya dia tidak tahu apa tujuan Radit atasnya, yang dia tahu Radit adalah calon adik ipar yang wajib dibantunya saat dia membutuhkan bantuan, dan itu yang dilakukannya selama ini." Di diam sebentar, meletakkan piring yang masih berisi, nafsu makannya mungkin hilang seketika. Airmata mulai mengalir di pipinya.


" Malam itu dia mengajakku dan anak - anak bertemu di sebuah restoran cepat saji, menggendong Azi dan mengatakan kalau dia juga sangat ingin punya anak dari laki - laki yang dicintainya, membawa Azi ke dalam pelukannya dan menciumnya. Itu malam kedua sekaligus terakhir pertemuanku dengannya. Besoknya aku mendapat kabar kematiannya, mendatangi rumahnya karena tidak percaya dan ternyata yang kudapati hanya tubuhnya yang tersenyum kaku tak menatapku." Di berhenti, mengusap airmata dipipinya.


" Radit menjebaknya di suatu malam, mengatakan kalau kakaknya ingin membuat kejutan untuknya dan memintanya datang ke sebuah hotel. Vena yang bahagia datang ke hotel yang disebutkan Radit, mendapatkan hanya Radit yang ada disana, dengan alasan kakaknya sedang dalam perjalanan menuju hotel dan dia diminta untuk menemani sebentar. Entah apa yang terjadi, yang dia ingat dia terbangun keesokan harinya dalam keadaan telanjang, dan ternyata Radit sudah menyetubuhinya sementara dia tidak ingat apapun." Di terisak sedih, aku mengepalkan tangan menahan marahku, wajah sombong laki - laki itu cepat masuk ke otakku.


" Sejak itulah segala ancaman dimulai. Dia sedih tidak bisa menolak semua permintaan Radit, dia juga sedih karena sudah banyak membohongi kekasihnya dan malam itu dia baru tahu kalau dia hamil. Dia merasa dunianya hancur, dia bingung bagaimana menjelaskan pada keluarganya, pada kekasihnya dan dia juga membenci pemilik benih yang ada di rahimnya. Oh... Vena..." airmata kembali mengalir deras dan sudah membasahi wajahnya lagi meski sudah berulangkali dia usap pipinya.


" Vena meninggal dalam keadaan hamil?" tanyaku mengulang cerita, Di mengangguk. Aku membuang pandanganku ke depan dan mengumpat.


" Aku juga tidak bisa berbuat apa - apa malam itu Dimas... Maafkan aku, aku hanya bisa menguatkannya lewat kata - kata, menemaninya menangis, mendengar ceritanya saja. Aku juga sedang tidak berdaya saat itu." lanjut Di merasa bersalah, aku mengambil tangannya dan meremasnya lembut.


" Vena menitipkan HPnya padaku sebelum dia pergi meninggalkanku bersama anak - anak. Dia bahkan memberikanku sejumlah uang, untuk anak - anakku, katanya. Aku juga bingung kenapa dia menyerahkan HPnya padaku, tapi dia bilang dia bosan dengan tekanan yang diberikan Radit padanya dan memintaku memegang HPnya untuk beberapa hari yang nanti akan dijemputnya lagi kalau dia sudah tenang, dan aku mengiyakan saja permintaannya." lanjut Di lagi


" Tapi dia tidak akan pernah kembali Dim..." Di menutup wajahnya, menangis terisak. Aku cepat memeluknya dan meletakkan kepalanya di bahuku. " tapi dia sudah tenang di sana Di..." kataku dalam hati.


" Kau masih menyimpan HPnya sayang?" tanyaku pelan, Di mengangguk.


" Aku membawanya kemanapun aku pergi Dim. Benda itu sudah seperti benda wajib yang harus aku bawa terus bersamaku." jawabnya masih terisak. Aku mengeratkan pelukku padanya, " kau tak pernah menyakitiku Ve... Aku sangat tahu kalau kau mencintaiku." ujarku dalam hati.

__ADS_1


" Kau ingat waktu aku bilang pada Radit kalau ada seseorang yang membantu mengurus keberangkatanku pulang ke Padang, kau masih ingat Dim?" tanyanya balik dan aku mengangguk.


" Mama Vena lah yang membantuku, Kepergianku dua tahun yang lalupun, beliau yang membantu. Beliau sudah memberikan cinta buatku seperti cintanya pada Vena. Beliau sangat menyayangiku dan anak - anakku. Tapi beliau tidak tahu sama sekali soal Radit dan Vena Dim... Aku memilih untuk merahasiakannya, beliau tidak pantas mendengar hal itu." Kembali Di menjelaskan dan aku tersenyum lega. Setidaknya aku sudah tahu, kalau dia pergi ke tempat yang tepat saat dia sedang sangat terpukul. Aku memberikan ciuman di keningnya dan kembali menatap laut. " Vena juga sangat suka laut dan langit sepertimu Di..." kataku dalam hati.


__ADS_2