
Author POV
Di mengedarkan pandangannya begitu mobil merangkak pelan ke sebuah jalan kecil, sepertinya dia pernah melewati jalan ini, tapi dia lupa kapan. Sakit di kepala menyerang tiba - tiba, seperti kulit tangan yang digigit semut atau di cubit sangat lama. Di memegang kepalanya dengan sebelah tangan dan memicingkan mata. Dimas menahan diri untuk tidak mendekati Di. Tangannya menggenggam erat pegangan di pintu.
" Kamu kenapa?"
Dimas menekan suaranya, menyembunyikan kekhawatiran. Di hanya menjawab lewat gelengan kepala. Dimas diam, tapi matanya tak jua lepas dari Di yang sedang menahan sakit di sampingnya.
" Kamu yakin tidak pa pa?"
" Hanya sedikit pusing tuan."
Di menyembunyikan rasa sakit yang teramat sangat di kepalanya.
" Kau rebahkan saja kepalamu sebentar."
Dimas mulai tidak tahan melihat keadaan Di
" Nggak usah tuan, lagi pula kita kan sudah dekat."
Dimas membelalakkan matanya, terkejut dengan kata - kata Di. " Kau sudah mulai mengingat Di?" Dimas berharap - harap cemas dalam hati.
" Kau benar, ini memang sudah dekat."
Dimas masih menatap Di penuh harap, sementara kata - kata Dimas malah membuat kepala Di semakin sakit. Dimas cepat menangkap tubuh Di yang terhuyung, tubuh Di jatuh dalam pelukan Dimas. Sebentar dia membuka mata, tersenyum dan diam sambil menutup matanya.
" Di!!" Bangun Di, aku mohon!"
Mobil yang dikendarai Andi berhenti mendadak tepat di depan sebuah rumah peristirahatan. Andi bergegas keluar dari pintunya dan membuka pintu di sisi Di. Selanjutnya Dimas dan Di mengangkat tubuh Di ke dalam kamar. Uni Rahmi yang melihat keadaan Di ikut panik, tapi dengan sigap dia membantu membukakan pintu kamar untuk di lewati Dimas, Andi dan Di.
" Uni, panggilkan dokter, cepat!"
Andi dan uni Rahmi segera bergerak keluar kamar, meninggalkan Dimas dan Di berdua. Dimas membelai lembut kepala Di, air matanya mengalir, Dimas merasa sangat sedih melihat keadaan Di saat ini.
" Bertahanlah perempuanku, aku dan anak - anak sangat membutuhkan kehadiranmu sayang."
Dimas mengusap air mata yang membasahi pipinya, lalu mengecup kening Di... Lama.
Tak lama kemudian, Andi dan uni Rahmi masuk ke kamar bersama seorang dokter. Dimas berdiri dan meminta dokter memeriksa keadaan Di. Dokter itu menurut, dengan cepat memeriksa Di dengan sangat teliti.
" Bagaimana riwayat kesehatan ibu pak, apa beliau sedang sakit saat ini?"
Dimas diam sebentar, menatap Di yang masih diam dan tersenyum seperti tertidur. Dimas kemudian menceritakan penyakit yang sedang diderita Di saat ini. Dokter hanya diam saja mendengarkan cerita Dimas.
" Dia akan baik - baik saja kan dok?"
__ADS_1
Dokter menghela nafas berat, lalu menatap Dimas.
" Ini akan terjadi lagi kalau ibu memaksakan diri mengingat sesuatu pak, jadi saran saya jangan dipaksakan. Biarkan ingatannya kembali dengan sendiri."
Dimas diam terpaku, merasa bersalah karena sudah merencanakan ini sebelumnya bersama mama. Alih - alih mengurus usaha, padahal Dimas ingin Di mengingat kenangan mereka di tempat ini.
" Bapak minumkan saja obat - obat rutin ibu begitu beliau sadar nanti."
Dimas mengangguk lemah
" Baiklah pak, saya permisi dulu."
Dimas kembali mengangguk dan memberikan senyuman yang dipaksakan. Andi dan uni Rahmi yang sedari tadi menunggu di dalam kamar, ikut melangkah keluar kamar dan mengantarkan dokter kembali ke rumahnya.
Dimas kembali menatap Di, membelai rambutnya. Dadanya terasa sesak, Dimas menunduk dalam di bantal dekat dengan telinga Di. Tangisnya pecah di sana. Dimas benar - benar merasa bersalah,
" andai saja aku bisa bersabar sedikit, kau pasti tak akan merasakan sakit... Maafkan aku yank, maafkan aku."
Dimas masih menangis sesunggukan, seakan Di akan meninggalkannya selamanya.
*
" Dimas akan bawa Di pulang setelah dia sadar ma."
Dimas langsung menelpon mama dan menceritakan kejadian tadi. Dia menyampaikan kalau rencana mereka gagal, Dimas tak mau menyakiti Di dengan cara ini. Mama Sandra langsung menangis mendengar kabar tak sedap tentang menantunya.
" Iya ma, Dimas hanya gak mau Di sakit terlalu lama. Besok kami akan kembali ke rumah."
Dimas menutup sambungan telponnya dengan mama setelah mereka selesai membahas keadaan Di.
" Lihat pantai ini Di, aku yakin kau akan tersenyum bahagia melihat pemandangan ini."
Dimas hanya bisa berkata dalam hati, sambil tetap menatap laut dan langit yang terbentang di depannya.
" Apa pekerjaan tuan sudah selesai?"
Dimas terperanjat dan langsung membalik badan. Di sedang berdiri di belakangnya, entah dari kapan.
" Kenapa kamu bangkit dari tempat tidurmu, beristirahatlah dulu."
Dimas cepat memainkan sandiwaranya kembali. Di hanya menunduk mendengar nada suara Dimas yang cukup tinggi.
kriuuuukkkk
Di cepat memegang perutnya, Dimas melotot sambil memandangi perut Di yang mengeluarkan bunyi.
__ADS_1
" Kamu lapar?"
Dimas merendahkan nada suaranya, Di mengangguk.
" Ya sudah, makanlah dulu. Lalu kembali beristirahat."
Di mengangkat kepalanya, lalu tersenyum.
" Hentikan senyuman itu Di.. Aku mohon." kata Dimas dalam hati, lalu cepat membalik badannya dan memandang ke laut kembali.
*
Rencana duduk memandang langit gelap dan laut lepas bersama Di malam ini terpaksa gagal. Di sudah tertidur setelah selesai makan dan meminum obatnya. Akhirnya, Dimas mengajak Andi menemaninya duduk menikmati malam.
" Besok pagi kita kembali ke Padang ndi."
Andi diam tak merespon perkataan Dimas, matanya tertuju pada pemandangan yang ada di depannya.
" Kenapa banyak sekali ujian untuk kami ya ndi?"
Andi menoleh pada Dimas sebentar, lalu kembali membuang pandangannya ke lautan.
" Supaya ikatan kalian lebih kuat Dim. Supaya kalian menyadari kalau kalian saling membutuhkan, siapa tau kalian akan bertengkar hebat nantinya. Kalian sudah punya jawaban untuk pertanyaan - pertanyaan egois yang akan timbul ketika kalian berselisih nanti."
Dimas diam mendengarkan
" Rasanya aku nggak sanggup lihat Di begini ndi."
Andi tersenyum
" Harus sanggup, harus kuat. Siapa lagi yang bertugas menguatkan anak - anak kalau kau pun tak sanggup."
Dimas mengacak - acak rambutnya, merasa perkataan Andi benar.
" Di itu istrimu. Dia sangat mencintaimu. Dalam keadaannya seperti ini pun aku bisa melihat cintanya untukmu dari caranya memandangimu. Dia hanya sedang merasa aneh dengan perasaannya sendiri saat ini."
*
Di terbangun dari tidurnya, dia melirik jam di dinding sambil menggeliat. Tubuhnya terasa sangat letih akibat hampir seharian dia hanya berbaring tidur. Di lalu bangkit dan berjalan keluar kamar, lampu ruang tamu masih menyala terang. Di lalu melangkah ke belakang, hendak melihat apakah masih ada yang terjaga di jam seperti ini.
Begitu tiba di ruang makan, Di menoleh cepat pada suara orang yang sedang berbicara serius di halaman belakang.
" Di itu istrimu, dia sangat mencintaimu. Dalam keadaannya seperti ini pun, aku masih bisa melihat cintanya untukmu dari caranya memandangimu. Dia hanya sedang merasa aneh pada perasaannya saat ini."
Di menutup mulutnya, matanya membelalak kaget mendengar kalimat yang disampaikan Andi pada Dimas.
__ADS_1
" Apa maksud dari perkataan Andi ini?" Di bertanya - tanya dalam hati