Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
LAGI LAGI MENCINTAIMU


__ADS_3

*


Dimas


Aku mengedarkan pandanganku ke jalanan di depan dan samping mobil yang dikendarai Andi. Andi juga ikutan memperhatikan jalanan dengan sangat fokus.


" Dim... Itu Iza."


Dia cepat menekan pedal gasnya dalam - dalam begitu melihat anakku sedang berjalan cepat dan menunduk. Beberapa pria seperti sedang mengikuti langkahnya berjalan cepat di belakangnya. Mereka mungkin takut orang - orang disekitar curiga. Andi membelokkan mobil dengan cepat tepat di depan pria - pria itu, sehingga langkah mereka untuk mengejar anakku terhenti.


" Kejar Iza Dim, mereka biar aku yang urus!" Dia memerintahku seakan - akan dia adalah bosku, tapi aku tak punya pilihan lain, aku menurutinya. Kami berdua langsung turun dari mobil dan mengerjakan tugas kami masing - masing. Iza nampak mempercepat langkahnya menjauhi orang - orang yang mengejarnya. Aku cepat mengejar langkahnya,


" Iza!! Iza sayang... Berhenti!!" teriakku memanggilnya, tapi dia malah menambah cepat langkahnya. Namun, tentu saja aku dapat mengejar langkahnya, karena aku berlari sementara dia hanya berjalan cepat


" Iza.. Iza.." Aku menarik tangannya, dia menarik tangannya sekuat tenaga sambil tetap menunduk dan menutupi dadanya dengan tas sambil menangis.


" Sayang... sayang... lihat, ini papa nak... ini papa.." kataku cepat. Iza berhenti menarik tangannya dan mengangkat kepalanya menatapku.


" Paaa...." dia menangis dan menghambur cepat ke pelukanku. Tubuhnya gemetar, dia menangis dengan kencang.


" Ampun Iza pa... Iza salah pa... ampun pa..."


Aku membelai rambutnya dengan lembut, mencoba menenangkannya.


" Iya sayang... iya... kita bicara nanti ya... Mamamu cemas menunggumu di rumah. Kita pulang ya nak." kataku membujuknya. Dia mengangguk dan melepaskan pelukannya perlahan. Aku mengusap airmata di pipinya, hatiku benar - benar sakit sekarang, berani sekali mereka membuat anakku menangis ketakutan. Aku memegangi bahunya dan mengajaknya ke mobil. Sesampainya di mobil, aku membantunya naik ke kursi tengah di mobil dan menutup pintunya, sementara aku menyelesaikan urusanku dengan laki - laki yang mengejarnya tadi.


**


Dirgana


Sudah hampir 3 jam, mereka belum kembali. Aku tak henti - henti berdoa dan menangis. Azi sudah kembali tidur, tapi dia tidur di ruangan keluarga menemani aku yang sedang cemas. Berulangkali aku mengintip keluar dari jendelaku, tapi masih gelap dan lengang.


Tak berapa lama sebuah mobil berhenti didepan rumah, aku kembali mengintip dan mendapatkan Dimas turun dari mobil bersama anakku, aku cepat membuka pintu rumahku dan berlari mengejar mereka.


" Iza!!!"


Iza juga berlari ke arahku dan kami berpelukan sambil menangis bersama. " Alhamdulillah ya Allah... Terimakasih sudah membawanya pulang... Alhamdulillah.." ucapku bersyukur bisa melihat anakku kembali.


" Ampun Iza mama... Iza salah, ampun maaa..."


Berulangkali dia mengucapkan ampun, menyesali perbuatannya. Aku mengangguk sambil terus memegangi wajahnya.


Andi langsung pulang setelah memastikan Dimas dan Iza sudah sampai di rumah. Kami mengucapkan terimakasih padanya, lalu masuk ke rumah bersama - sama.


Setibanya di dalam, Dimas memberikan kode padaku untuk tidak bertanya apa - apa dulu pada Iza, lewat kedipan mata dan kerutan di dahinya, dan aku mengerti.


" Bersihkan tubuhmu dan istirahatlah. Kau sudah makan?" tanya Dimas pada Iza.

__ADS_1


" Iza gak lapar pa." jawab Iza sesunggukan


" Makan dulu, meski sedikit. Siapkan makanan untuknya Di, aku ke kamar dulu." Dimas kembali memberi perintah dan berlalu meninggalkan aku bersama Iza. Aku meminta Iza membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, dia menurut. Sementara aku memanaskan makanan dan membuatkannya segelas teh hangat. Tak berapa lama Iza keluar dari kamar. Wajahnya lebih segar, tapi masih menunduk sedih.


" Makanlah dulu sayang, jangan sampai kau sakit." kataku. Dia menangis dan kembali memelukku. Aku membalas pelukannya dan membelai rambutnya. Kami lama berpelukan, sampai Dimas keluar dari kamar dan berjalan ke arah Azi yang tertidur.


" Sudah za... makan dulu, setelah itu istirahat." perintah Dimas, lalu berjongkok dan mengangkat tubuh Azi yang nyenyak tertidur dan membaringkannya di tempat tidur miliknya. Iza cepat menghabiskan makanannya, dia pasti sangat lapar dan ketakutan tadi. Setelah selesai, dia berjalan ingin ke kamarnya,


" Kamu berani tidur sendirian kan?" tanya Dimas menghentikan langkahnya. Iza berhenti sebentar lalu mengangguk.


" Apa perlu mamamu tidur di kamarmu malam ini?" tanya Dimas lagi, Iza menggeleng pelan


" Nggak pa, Iza tidur sendirian aja." jawabnya kemudian. Dimas mengangguk


" Ya sudah, istirahatlah. Matikan HPmu, langsung tidur." kata Dimas lagi


" Iya pa.. Iza ke kamar ya ma... pa..." katanya berpamitan, aku dan Dimas hanya menjawab lewat anggukan.


" Yok Di, istirahat. Sebentar lagi kamu ke kedai kan?" Ajak Dimas sambil membantuku berdiri dari tempat dudukku.


" Nggak Dim... Aku udah beberapa hari di rumah." jawabku sambil terus melangkah menuju kamar tidur kami.


" Kenapa, kamu sakit?" tanyanya cemas.


Aku tersenyum


" Syukurlah, tanpa aku minta kau sudah mengerti." katanya lagi. Dia lalu menatapku, menangkupkan kedua tanagannya di pipiku,


" Aku merindukanmu Di... tapi aku sangat capek." katanya sambil kemudian memelukku dengan erat, bahagia sekali rasanya mendengar kata - kata rindu dari laki - laki yang kita cintai.


" Terimakasih banyak untuk semuanya yank... terimakasih banyak sudah menjaga kami..." aku mulai menangis lagi dalam pelukannya, menunduk pada bahunya.


" Hey... kalian berempat itu tanggungjawabku. Aku wajib menjaga kalian." jawabnya lembut dan mengecupku.


" Aku mencintaimu dan anak - anak kita Di, jangan perlakukan aku seperti aku adalah ayah tiri mereka. Aku adalah ayah mereka, titik." sambungnya lagi. Aku semakin terharu dan menambah erat pelukanku padanya.


" Sekarang kita istirahat ya.. Aku butuh banyak imun darimu besok, bersiap - siaplah." dia melanjutkan, mengecup lagi kepalaku dan mengajakku berbaring di ranjang. Kami cepat tertidur begitu tubuh kami bertemu langsung dengan kasur, tertidur berpelukan...


***


Aku langsung ke dapur setelah selesai mandi pagi ini, berniat memasak untuk keluargaku. Uni yang membantuku sudah datang, tugasnya hanya membersihkan rumah, mencuci pakaian dan menjaga anak - anak kalau aku sedang tidak berada di rumah, jadi dia tidak bermalam di rumahku. Azi sudah asyik menonton TV di ruang keluarga sejak selesai mandi, Iza duduk di teras belakang sambil mendengarkan musik lewat ponselnya, wajahnya sudah ceria seperti biasanya dan aku senang sekali melihat itu. Dimas keluar dari kamar dan berjalan ke teras, dia menepuk bahu Iza lalu duduk di sampingnya. Iza cepat melepaskan headset dari telinganya dan mulai menunduk. Aku dapat memperhatikan kegiatan mereka dari dapur karena jendela dapurku mengarah ke halaman belakang.


" Papa gak mau hal seperti ini terulang lagi sampai kapanpun." Dimas mulai memperingatkannya, aku hanya mencuri dengar dan memperhatikan saja dari dapur. Iza mengangguk, masih tertunduk.


" Jangan pernah ada kebohongan antara kita semua, mama dan papa mengawali kebersamaan kami tanpa kebohongan, papa mau kita semua seperti itu. Kalapun kau tidak mau terbuka sama papa, kau harus terbuka sama mama. Dia sangat mencintai kalian, kau harus tahu itu Za." sambung Dimas lagi. Iza mulai terisak menahan tangis.


" Kenapa Za, kau tidak suka? Katakan, ungkapkan, papa akan dengarkan." pinta Dimas padanya. Iza menggeleng pelan

__ADS_1


" Iza menyesal pa... Iza udah bohong sama mama..." jawabnya membuka cerita.


" Kenapa harus berbohong nak... Bukankah mama memberikan kebebasan padamu untuk berteman selama ini? Papa tidak pernah melihat mama melarangmu ketika kau minta izin padanya untuk bertemu teman - temanmu." tanya Dimas, Iza diam.


" Kau sedang dekat dengan salah satu dari mereka kan?" tanya Dimas lagi. Iza semakin menunduk dan mengangguk pelan.


" Dan kau tidak cerita pada mama, kau mengambil langkah sendiri tanpa memberitahunya, kau lihat hasilnya kan?" kata Dimas mengingatkan


" Ampun Iza pa... Iza salah... Iza minta maaf..." Iza masih menangis terisak.


" Minta maaf dan memaafkan itu soal gampang nak, yang terpenting itu kau mau berubah."


Aku ingat sekali, kata - kata itu pernah ditujukan buatku. Iza mengangguk


" Jadikan kejadian semalam itu pelajaran, apa yang akan terjadi kalau kau berbohong pada orangtuamu, apa yang terjadi kalau papa tidak bisa menemuimu, bayangkan bagaimana nasibmu kalau semua itu terjadi." sambung Dimas lagi.


" Pokoknya, jujur dan terbuka. Jangan tutup - tutupi masalahmu pada kami. Kami pernah melewati usia sepertimu nak... Kami menyayangi dan mencintai kalian, kalian harta kami, apa jadinya kami ketika kehilangan harta berharga yang kami miliki?"


Airmataku mengalir mendengar kata - kata Dimas, aku cepat mengusapnya dan membawa sarapan yang sudah selesai aku masak ke ruang makan.


" Sini, kau sudah lama tidak memelukku. Aku bahkan baru menyadari kalau sebentar lagi aku akan punya menantu dan cucu." Dimas mulai mencairkan suasana. Iza datang dan mendekati Dimas, lalu memeluknya. Iza menangis dalam pelukaan Dimas.


" Maafkan Iza pa... terimakasih pa... Iza sayang papa..." katanya kemudian. Dimas membelai lembut rambutnya.


" Iya sayang... iya... papa dan mama juga sangat menyayangimu nak... " jawab Dimas lembut. Kemudian mereka melepaskan pelukan, Dimas mengusap airmata di pipi Iza.


" Udah siap Di?? Kami lapar..." katanya setengah berteriak padaku.


" Udah... yok, kita sarapan." ajakku. Azi cepat berjalan ke meja makan mendekatiku.


" Azi pakai ayam goreng ya ma... Dua.." pintanya seperti memerintahku


" Cara bicaramu sudah sama seperti papamu, kayak bos." kataku sambil menyendokkan nasi goreng dan 2 potong ayam ke piring untuknya.


" Namanya juga anak Dimas Arya... Masak iya Azi mirip om Andi..." jawabnya bercanda. Dimas dan Iza yang sudah berdiri dekat meja makan tertawa.


" Emang Azi mau mirip om Andi?" tanya Dimas


" Nggak, Azi gak mau botak tengah kayak om Andi..." jawabnya sambil berlalu dan duduk di depan TV. Kami tertawa mendengar jawabannya.


" Mama kasih tau om Andi kamu besok." ancamku.


" Kasih tau aja... Azi gak takut. Anak Dimas Arya gak boleh jadi penakut, iya kan pa?" dia meminta bantuan Dimas untuk mendukungnya.


" Betul... betul... Itu baru anak papa.." jawab Dimas tersenyum menggeleng.


Kami menghabiskan waktu nonton bersama sampai siang, tidak ke rumah mama Sandra ataupun mamaku. Siangnya kami pergi makan siang di restoran dan berbelanja. Dimas memanjakan mereka dengan membelikan apapun yang mereka minta. Inilah kenapa setiap hari aku selalu mencintainya, karena dia bukan hanya mencintai aku, tapi juga anak - anakku.

__ADS_1


__ADS_2