
*
Semua orang dewasa yang berada di villa, sibuk bersiap - siap mengemasi barang untuk kembali ke rumah. Andien sesekali membantu mengangkatkan barang untuk di susun oleh Andi di mobil
" Tet.. Ter.. Terimakasih ya pak."
Andi menghentikan kegiatannya menyusun barang - barang di mobil dan menatap Andien dengan lembut, sementara Andien hanya menunduk malu
" Tatap lawan bicara mu, kau tau itu tidak sopan."
Andien menegakkan kepala dan menatap Andi dengan perasaan takut.
" Begitu lebih man.. eh, lebih baik."
Andi lalu melanjutkan kegiatannya, menghindari perasaan gugupnya.
" Bapak belum jawab ucapan terimakasih saya."
" Iya iyaaaa.. udah, kamu sana, aku pusing."
" Bukankah bicara tanpa menatap lawan bicara itu tidak sopan pak?"
Andi menghela nafas berat, Andien malah membalikkan ucapannya tadi kembali padanya. Andi berdiri dan menghadap Andien. Mata bulat dan hidung bangir Andien menarik perhatian Andi, baru kali ini Andi berada sangat dekat dan berkomunikasi secara langsung dengannya. Bibir mungil Andien yang di poles lipstik warna pink menggugah hasrat Andi untuk tau rasa apa yang tersembunyi di dalamnya.
" Terimakasih soal kemarin pak."
Andien menyadarkan Andi dari lamunannya.
" Iya, udah kan?"
Andien mengangguk
" Pergilah sana, aku pusing."
" Mau Andien ambilkan obat sakit kepala pak?"
" Kau lah obatnya ndieennn." Kata Andi dalam hati.
" Tidak usah, aku tak suka obat."
" Ya sudah, Andien bantu ibu lagi aja."
Andien berlalu meninggalkan Andi yang masih terus menatapinya sampai Andien menghilang di balik pintu.
" Hufffttt..."
Andi kembali melanjutkan kegiatannya.
*
" Kamu sudah punya pacar Ndien?"
Andi melirik Di lewat kaca kecil di atas kepalanya, Di mengacuhkannya
" Mmmm.. be... belum buk."
" Calon suami?"
Andien tertawa kecil
" Belum juga buk... Lagian, saya kan setiap hari bersama ibuk. Saya gak pernah minta izin keluar selama ini."
Di mengangguk. Andien memang hanya memiliki satu tujuan, yaitu rumahnya. Berteman saja pun tidak. Ponsel yang ada padanya hanya dia gunakan untuk main game dan menelpon Di, bila Di sedang berada di luar rumah.
" Kau mau ibuk carikan suami?"
Andien dan Andi melotot berbarengan pada Di, lagi - lagi Di mengacuhkan.
Dimas tersenyum menatap mata Andi yang membelalak menatap kaca,
__ADS_1
" Sa.. saya gak tau buk."
" Koq gak tau, kamu gak mau berumah tangga dan mengurus anak - anakmu sendiri?"
" Mau buk... tapi, apa ada yang mau sama saya yang begini buk?"
Andien menunduk sedih
" Makanya aku carikan dulu, laki - laki yang siap menerima dan mencintaimu apa adanya. Kamu mau nggak?"
" I.. iy.. iya buk... iya."
Di tersenyum,
" Di toko ada berapa laki - laki yang masih bujangan sayang?"
Dimas tertawa kecil, Andi memelototinya seketika mendengar pertanyaan Di
" Wahhhh... aku harus survey dulu sayang... Aku gak tau soal itu."
" Ok, survey secepatnya yank... Minta bantuan Andi untuk survey calon suami untuk Andien."
" Kenapa harus aku?"
Andi protes tak senang dengan perintah Di
" Karena kau juga kan bagian dari keluarga kami, kau ikut bantu carikan yang terbaik untuk Andien."
Dimas tertawa terbahak - bahak melihat ekspresi Andi yang kesal
" Iya kan sayang?"
Di meminta persetujuan Dimas yang masih tertawa keras, lalu mengangguk
" Usiamu berapa Ndien?"
" 25 buk."
Tawa Dimas semakin keras, Andi yang sudah lelah melotot tanpa diperdulikan, mengalihkan pandangan ke jalanan di sampingnya.
" Asal belum beristri, saya mau buk."
" Bagus, itu prinsip bagus. Jangan pernah mendekati suami orang."
" Karyawan toko itu gajinya sekitar 2 jutaan, apa itu cukup buatmu?"
" Saya sudah terbiasa hidup dalam kekurangan buk, baru setelah kerja dengan ibuk hidup saya membaik. Bahkan gaji saya saja tak saya ambil semuanya, ibuk yang menyimpankan untuk saya. 2 juta itu besar buat saya buk."
" Kalau sudah berumah tangga, itu kecil lho Ndien."
" Saya juga kan bekerja buk, saya juga akan bantu keuangan rumah tangga kalau saya sudah menikah nanti. Kasihan suami saya nantinya kalau harus memikirkan urusan rumah tangga sendiri."
Di tersenyum, merasa penilaiannya benar tentang Andien. Sementara Andi, jawaban Andien membuatnya semakin ingin mendekati dan memperistri Andien. Andi merasa sudah menemukan perempuan yang dia cari selama ini.
" Kalau sudah menemukan yang tepat, secepatnya kita urus pernikahanmu Ndien."
Andien mengangguk, mulai yakin pada keinginannya untuk berumah tangga di usianya yang sudah terbilang bukan remaja lagi.
" Cepat amat, kayak menikah karena ada sesuatu."
Andi mulai buka suara
" Kalau udah cocok, ngapain lama - lama. Aku tidak akan beri kesempatan pada laki - laki yang akan akan menikahinya untuk tau rasanya sebelum menikahinha. Biar laki - laki itu menikmatinya setelah mereka menikah. Iya kan yank?"
Dimas yang sudah tak sanggup tertawa lagi karena ulah Di, mengangguk menahan tawa.
" Maksudku, mereka kan butuh kenalan dulu, penyesuaian karakter, menyamakan visi dan misi mereka ke depan."
" Kenapa jadi kau yang mengutarakan pendapat? Apa kau mau mengajukan diri untuk jadi calon suami Andien?"
__ADS_1
Tawa Dimas kembali pecah, dia benar - benar salut pada istrinya. Tanpa basa basi, langsung bisa buat wajah Andi memerah
" Bukan begitu maksudku, maks..."
" Kalau kau ingin mengajukannya langsung itu bagus, aku setuju. Kau bagaimana yank?"
Andi mulai gelisah, pantatnya mulai terasa panas, bergerak tak tenang
" Aku setuju, aku setuju sekali."
" Arrgghhh... Kalian berdua ini pasangan gila."
" Emang."
Dimas dan Di tertawa menjawab berbarengan
" Kau mau menikah dengan Andi, Ndien?"
Wajah Andien seketika bersemu merah. Tentu saja dia mau, tapi apa mungkin pak Andi itu mau?
" Ibuk ini ada - ada saja... Mana mungkin pak Andi mau sama saya buk."
" Siapa bilang?"
Dimas dan Di menoleh bersamaan pada Andi, Andien membelalak kaget menatap kepala belakang Andi.
" Jadi, kau mau menikah dengan Andien?"
Dimas bertanya serius.
" Ngg... itu.. bukan begitu..."
" Kau mau atau tidak? Hanya itu pertanyaan suamiku."
Di bergerak maju, suaranya mulai meninggi. Andien menatap Andi dan berharap - harap cemas dengan jawaban Andi.
" Argghh... Kalian mengeroyokku?"
" Jawab!"
Kembali Dimas dan Di berteriak bersamaan, Andi melonjak kaget sambil menoleh pada Dimas sebentar.
" Ok ok... iya.. Aku menyukainya. Puas?"
Andi berteriak menjawab, Iza dan Azi berteriak senang setelah sekian lama hanya mendengar pembicaraan orang dewasa ini dalam diam. Andien menunduk tersenyum, wajahnya bersemu sangat merah.
" Tapi, aku..."
" Diam kau botak, kalau kau menyukainya, nikahi dia secepatnya."
Andi merasa terpojok, menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal
" Aku akan mengurus semuanya yank, kau serahkan saja padaku."
" Tunggu, aku harus beritahu ayahku dulu."
" Ayahmu sudah menyerahkan semuanya padaku, kau tenang saja kalau soal beliau."
" Oh Tuhannnn... Akhirnya sahabat suamiku ini akan menikah, satu bulan mulai hari ini. Kau serahkan semua tabunganmu padaku secepatnya Ndi."
Di tertawa bahagia, Dimas menepuk - nepuk bahu Andi dan tersenyum bahagia,
" Kau lihat, istrimu akan merampok semua tabunganku."
Dimas menggeleng - gelengkan kepalanya, memasang wajah iba pada Andi.
" Begitulah wanita Ndi, mereka tidak akan membiarkanmu memiliki tabungan atas dirimu sendiri. Selamat datang di dunia pernikahan Ndi."
" Aarrrgghhh, aku membenci kalian berdua."
__ADS_1
" Kami menyayangimu Andi Pramana."
Dimas memberi pelukan hangat pada Andi, Di gantian menepuk - nepuk bahu Andi. Sementara Andi hanya pasrah saja menerima perlakuan pasangan suami istri yang juga sahabatnya itu.