
*
Dirgana
Kami masih menikmati keindahan laut dan langit di malam hari dengan saling berpelukan. Sudah habis, tak ada rahasia lagi antara kami sekarang. Kami memutuskan untuk memperbaiki hubungan kami yang sempat rusak. Dimas juga berjanji akan memperbaiki hubungannya dengan Iza dan Azi buah hatiku. Mama Dimas dan mamaku bergantian menghubungiku tadi, sekedar memastikan kalau Dimas tidak menyakiti aku, mereka merasa tenang ketika aku menjelaskan kalau Dimas tidak menyakitiku sedikitpun. HP Dimas kembali berdering saat kami sedang bertukar cerita, dia melihat layar HPnya sebentar lalu membiarkan saja HP itu berbunyi terus. Aku tertawa setelah melirik sebentar ke HPnya tadi.
" Sudah kesekian kalinya, kenapa tidak dijawab?" tanyaku mengejeknya. Dia hanya menggeleng sambil terus berbaring di dekatku. Dia mengeluhkan kepalanya yang sakit lagi sejak sore dan memintaku menjambak - jambak rambutnya. Aku sudah memberikan obat yang diberikan dokter tempo hari padanya, mungkin sakitnya sudah berkurang sekarang.
" Kau sering merasakan sakit seperti ini Dim?" tanyaku mulai cemas dengan keadaannya.
" Beberapa bulan terakhir iya yank... Mungkin tekanan darah atau kolesterolku lagi gak stabil." jawabnya
" Sudah cek ke dokter?" tanyaku lagi.
" Belum, tapi pasti karena 2 penyakit itu saja. Aku kan sudah tua." katanya, aku tertawa mendengar kata - kata tua yang disebutkannya, tapi dia diam tak menanggapi. Dia menelungkupkan kepalanya di pahaku, lalu mengisap kulit pahaku.
" Dimas..." aku berhenti menjambak rambutnya, merasakan geli nikmat dari isapannya di kulitku.
" Hmmmmm...." jawabnya tanpa menghentikan kegiatannya itu.
" Udah ah... jangan nakal." kataku tertawa.
" Hhhmmmmmhhhh..."
Aku menutup mata menikmati desiran hangat di dadaku, tubuhku tiba - tiba terasa panas merasakan sentuhan bibirnya itu.
" Hhhmmmhhh..." aku mulai mengerang kecil, dia mencabut lembut isapannya, meninggalkan tanda merah di pahaku dan kembali memiringkan kepalanya menghadap laut. Aku membuka kembali mataku, dan menghembuskan nafasku dengan pelan.
" Kau tidak bosan menyetubuhiku terus Dim?" tanyaku mulai bodoh, dia menggeleng pelan masih dalam posisi yang sama. Aku membelai lembut rambutnya dan menyandarkan bahuku pada kepala kursi tercinta kami. Menengadah menatap langit yang di penuhi bintang.
" Apa kau bosan Di?" tanyanya balik. Aku mengangkat kepalaku cepat dan menunduk menatap telinganya yang ada di depanku. Aku menunduk lebih dalam mendekatkan mulutku pada daun telinganya, mengulumnya di mulutku dan memainkan lidahku disana.
" Hmmmhhh... sayanghhh" Dimas mulai mengerang, menekan kepalaku memintaku untuk tidak berhenti melakukan itu, dan aku menuruti, beberapa erangan mulai terdengar mengikuti erangan yang pertama dan aku sangat suka mendengarnya. Kemudian dia mulai menurunkan tangannya dari kepalaku, aku berhenti memainkan daun telinganya dan mengangkat kepalaku. Dia bangkit perlahan dan duduk berhadapan denganku.
" Kau selalu punya cara untuk membuatku menelanjangimu, aku suka itu." aku tersenyum menanggapi kalimatnya. Dia berdiri dan menggendongku,
" Waktunya untuk berlayar lagi, besok kita harus kembali."
Dimas menggendongku menuju kamar tidur untuk kembali melepas rindu dan menyatukan cinta, aku melingkarkan tangan di bahunya dan menciumi wajahnya.
**
Dimas
__ADS_1
Aku menghentikan mobil tepat di depan rumahnya, turun dari mobil dan berjalan ke sisi satunya untuk membantu Di turun dari mobil.
" Kau harus mengulang semua dari awal Dim, semoga berhasil." katanya menyemangatiku.
Kalimat itu ditujukan untuk perjuanganku membuat anak - anaknya jatuh cinta lagi padaku. Kali ini pasti lebih sulit, mengingat Iza yang sudah semakin dewasa dan Azi yang bukan anak kecil lagi. Aku tersenyum menanggapi kalimatnya, menghembuskan napas pelan dan melangkah bersamanya kedalam.
Mama langsung menyambut hangat kedatangan kami, beliau langsung mempersilahkanku masuk dan duduk. Di berjalan ke kamarnya, disambut teriakan kedua buah hatinya.
" Mamaaa!!!" aku bisa mendengar tawa lepas dari mereka bertiga dari tempatku duduk.
" Silahkan diminum Dim." mama menyuguhkan teh hangat di atas meja untukku dan aku langsung meminumnya.
" Papa Dimaasss!!" Azi berteriak keluar dari kamar dan berlari memelukku. Aku menyambut pelukannya, mataku seketika panas dan basah melihat tingkahnya. Anak ini sama sekali sudah lupa dengan perlakuan kasarku dulu padanya.
" Papa kenapa tidak jemput kami dari rumah oma Jakarta? Azi bosan disana, Azi gak mau kesana lagi." katanya setelah melepaskan pelukanku.
" Iya... maafkan papa Zi, hmmm... papa... papa.." aku bingung mencari - cari alasan tepat untuknya.
" Papa kerja kan, Azi tahu, mama udah kasih tahu. Udah Azi bilang sama mama, biar Azi yang meminta papa menjemput tapi mama bilang nanti kerjaan papa jadi tambah lama. Capek Azi dengarnya." Anak itu mengoceh terus. Aku hanya menanggapinya dengan tawa saja.
Selang beberapa lama, Iza keluar dari kamar diikuti oleh Di di belakangnya. Dia berjalan pelan ke arahku dan mencium punggung tanganku.
" Apa kabar sayang?" tanyaku ragu.
" Sudah diurus keperluan sekolahnya semua nak?" tanyaku lagi, dia mengangguk.
" Kata mama sudah pa... Mama yang mengurus semuanya." jawabnya masih sambil menunduk... " Maafkan papa Za... " ucapku dalam hati.
" Tinggal membeli peralatan sekolah saja Dim, urusan sekolah sudah selesai." Di ikut menjawab dan duduk di sebelahku. Aku mengangguk.
" Katamu ada yang ingin kau minta, mintalah langsung." Di menatap Iza lama, aku melihat ke arah Di, dia hanya mengedikkan bahu, lalu pindah menatap Iza yang tersenyum takut menatap mamanya.
" Apa za, katakan." kataku lembut. Dia mulai menegakkan pandangannya menatapku
" Mmm... Mmmm... Iza udah SMA kan ya pa?" dia berhenti sebentar, " apa Iza sudah boleh punya HP sendiri?" dia langsung menunduk sambil tangannya memainkan ujung bajunya. Aku mengerti apa yang ingin dia minta.
" Besok kita beli HP, Iza bisa tunggu sampai besok kan?" jawabku, dia langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum.
" Bisa pa, bisa." katanya mantap
" Azi jugaaaa..." Azi mulai protes, Di cepat memberi kode dengan gelengan.
" Kamu udah SMA? cepat sekali naik kelasnya?" tanyaku bercanda.
__ADS_1
" Azi juga mau HP" pintanya
" Untuk apa?" tanyaku
" Untuk nelpon mama, nelpon papa kalau sibuk kerja." aku tertawa mendengar jawabannya.
" untuk main juga kan?" tanyaku lagi, dia tersenyum malu.
" Ok, tapi mama yang pegang HPnya, bukan Azi." jawabku, Di membulatkan matanya ke arahku dan aku mengabaikannya.
Mereka berdua tertawa dan tak sabar menunggu hari esok... " Terimakasih Tuhan..." ucapku dalam hati.
***
Aku masih menjambak - jambak rambutku menahan sakit. Sudah seminggu setelah aku dan Di kembali bersama. Kami memutuskan untuk tinggal dirumah kami sendiri setelah itu, tapi masih harus menunggu beberapa waktu karena adanya beberapa renovasi atas permintaan Di. Mamaku sebenarnya keberatan, tapi aku dan Di berhasil meyakinkannya. Di mulai sibuk dengan kedainya, aku tak bisa menahan keinginannya untuk punya usaha sendiri karena ada campur tangan mama Vena dalam usahanya itu. Kedainya sudah hampir selesai, kemungkinan minggu depan sudah buka. Aku juga melihat Di tidak mengurangi kasih sayangnya padaku dan anak - anak meski dia mulai sibuk sekarang, jadi aku memberikan izin padanya.
Aku cepat bangkit begitu mendengar pintu ruanganku terbuka, melihat Di disana aku merebahkan kembali tubuhku. Di berjalan ke arahku dan duduk di sisi tempat tidur dekat denganku.
" Sakit lagi?" tanyanya lembut sambil ikut menjambaki rambutku. Aku mengangguk.
" Kita cek ke dokter yok Dim?" pintanya, aku menggeleng.
" Aku sudah minum obat koq sayang... sebentar lagi juga hilang sakitnya." kataku tenang.
" Kamu udah makan?" tanyaku padanya yang masih menjambak rambutku.
" Belum," jawabnya pendek.
" Ya udah, kita makan." aku menarik lembut tangannya dari kepala dan bangkit duduk menghadapnya. Dia masih menatapku, aku mendekatkan wajahku padanya, tapi dia menghindar cepat sambil tertawa.
" Aku tunggu diluar yank." katanya berlalu sambil tertawa. Aku berdiri dan berjalan menuju kamar mandi di sudut ruanganku.
****
Dirgana
Aku duduk di depan salah satu etalase toko dan mengagumi semua perhiasan yang ada di sana.
" Dimas ada?" aku mengangkat kepala dan menatap orang yang bertanya padaku dengan kasar. " Nadya" sebutku dalam hati. Aku ingat sekali wajahnya sejak kejadian di pasar beberapa minggu lalu.
" Hey... aku tanya, Dimas ada nggak?" ulangnya dengan nada yang tak kalah kasarnya. Para pegawai diam dan melihat sinis padanya.
" Ada, maaf... anda siapa?" tanyaku balik, pura - pura tidak tahu. Dia tersenyum sombong padaku
__ADS_1
" Aku calon istrinya." jawabnya mantap. " apa mereka belum memberitahumu?" lanjutnya lagi. Aku hanya menggeleng seperti orang bodoh.