
Author POV
Aksi saling tatap antara Dimas dengan mama Radit berlangsung cukup lama,
" Baiklah oma, kalau yang oma inginkan adalah aku ikut oma, aku akan ikut."
seketika tatapan tajam Dimas berpindah pada Iza. Di juga terlihat shock dengan ucapan Iza. Wanita yang dipanggil Iza dengan sebutan oma itu, menatapnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
" Iya sayang... Oma sangat merindukan kalian, hanya kalian yang oma butuhkan."
" Hanya aku oma, hanya aku. Azi tidak akan pernah mau ikut siapapun kalau mama tidak berada di sampingnya."
wanita itu mengernyitkan keningnya menatap Iza.
" Kenapa tidak kau yakinkan dulu adikmu itu, oma dan ayah kalian sangat merindukan kalian berdua."
wanita itu masih bersikeras meminta Iza dan Azi untuk tinggal bersamanya.
" Hanya aku, atau tidak sama sekali."
ucap Iza dengan tegas.
" Ok.. Ok.. Baiklah sayang."
akhirnya wanita itu menyerah. Iza menghadapkan tubuhnya pada Di dan Dimas yang masih menatapnya.
" Mama.. Papa.. Izinkan Iza tinggal bersama oma dan ayah."
Di hanya diam memandangi anak sulungnya, nyawanya seketika serasa tercabut dari raga.
" Iza!"
Dimas menatap Iza dengan sangat marah.
" Papa... Iza mohon, izinkan Iza."
Dimas menggeleng - geleng kan kepalanya tak percaya, sementara Di hanya diam terpaku menatap Iza.
" Iza, jangan permainkan perasaan kami, terlebih lagi mamamu. Ini masalah serius!"
Iza tetap tenang menatap Dimas dan Di bergantian, meski Dimas sudah membentaknya.
" Iza juga serius papa.. Mama, Iza gak boleh dendam kan ma?"
air mata Di seketika mengalir, mendengar anak gadisnya mempertanyakan hal yang berulang kali diajarkannya selama ini, Di mengangguk.
" Itu berlaku untuk oma dan ayah juga kan ma?"
Di menunduk, membiarkan air matanya turun dengan deras membasahi pipi. Dimas mendekatkan tubuhnya pada Di dan merengkuh bahu Di.
" Iya kak. Hal itu berlaku untuk siapapun."
jawab Di menegaskan.
" Sesakit apapun orang memperlakukanmu, jangan pernah menyimpan dendam."
Di dan Iza menyebutkan kalimat itu bersamaan.
Iza kembali menghadap wanita yang menyebut dirinya " oma " sejak pertama kali menemui Iza.
" Oma.. Iza akan ikut oma dan ayah, tapi tidak hari ini."
wanita itu mengernyitkan kening menatap Iza.
__ADS_1
" Iza mau ucapkan perpisahan dulu sama adik - adik, nenek dan oma yang selama ini memberikan Iza cinta. Iza akan ikut oma besok."
wanita itu kembali tersenyum menatap Iza, kemudian mengangguk mengizinkan.
" Ok, besok kamu telpon oma ya."
" Pasti oma, terimakasih."
wanita itu menatap Di yang masih menangis sesunggukan di bahu Dimas, senyuman kemenangan terpancar di wajahnya.
" Baiklah, saya pergi dulu."
wanita tua itu berbalik badan, hendak pergi meninggalkan Dimas, Di dan Iza.
" Sebentar oma."
wanita itu menghentikan gerakannya dan kembali berbalik badan menghadap Iza
" Iza tidak akan membawa apapun dari rumah papa Dimas, kecuali perlengkapan sekolah, tidak apa - apa kan ma?"
Dimas, Di dan wanita tua itu mengernyitkan kening menatap Iza.
" Maksud kamu?"
" Semua pakaian, perhiasan dan apapun yang papa Dimas berikan untuk Iza selama ini, Iza akan kembalikan."
" Iza!"
Dimas merasa kecewa mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Iza.
" Iza hanya akan membawa badan dan pakaian yang melekat di tubuh saja. Anggap Iza adalah bayi ayah yang baru lahir, dan sudah menjadi tanggung jawab ayah untuk memenuhi semua kebutuhan Iza."
Iza menghiraukan bentakan Dimas padanya.
" Termasuk toko - toko yang sudah papa buat atas nama Iza. Iza tidak akan memintanya, Iza minta semua toko atas nama Iza di balik namakan atas nama si kembar atau Zya saja."
" Kenapa seperti itu nak?"
wanita itu menatap tajam pada Iza, menekan perasaan kecewanya.
" Kalau papamu sudah memberikannya, tidak ada salahnya kau membawa serta semua yang sudah dia berikan padamu. Itu hadiah, dan itu milikmu."
ujarnya meyakinkan Iza
" Iza dan Azi adalah anak - anak ayah, sudah seharusnya Iza dan Azi mendapatkan hak kami dari ayah, bukan dari papa."
Dimas merubah ekspresinya, seketika dia merasa anak gadisnya ini semakin pintar. Dimas sudah tau apa maksud Iza, tapi Di belum.
" Benar, apa yang dimiliki ayah kalian adalah benar untuk kalian berdua. Karena ayah kalian hanya punya kalian, begitu juga kalian berdua. Apa yang kalian punya itu juga milik ayah kalian, karena hanya dia ayah kalian."
" Tapi kami tidak punya apa - apa tanpa papa Dimas oma. Semua milik papa Dimas, kami tidak akan meminta atau mengambilnya karena kami anak ayah. Meski papa Dimas sudah memberikannya pada kami."
" Kamu koq jadi mempersulit begitu sih nak.."
" Bukan mempersulit oma, Iza hanya tidak mau mengambil apa yang bukan hak Iza. Lagipula Iza belum mengerti soal toko kan?"
" Kan bisa ayahmu yang menjalankannya dan mengajarkan kepada mu bagaimana cara mengelolanya."
" Tidak. Iza ikut tanpa membawa apapun, atau tidak sama sekali."
kembali ketegasan Di dipertontonkan Iza di hadapan wanita tua itu.
" Terserah kau sajalah. Oma tidak mau berdebat. Itu hartamu, hak mu, seenaknya saja kau berikan pada orang lain."
__ADS_1
" Orang lain itu adalah pemilik sebenarnya oma.. Oma butuh kehadiran Iza dan Azi atau toko - toko kami?"
" Kalian kan sepaket, kalian dan apa yang kalian miliki. Milik ayah kalian ya milik kalian, begitupun sebaliknya."
Kemudian Iza menghadapkan tubuhnya pada Dimas.
" Papa.. Boleh Iza minta semua toko yang papa buatkan atas nama Iza?"
Dimas menatap Iza dengan tenang.
" Untuk apa nak?"
" Oma dan ayahku membutuhkannya, bukan membutuhkan aku. Boleh aku minta toko itu untuk mereka, aku janji tidak akan meminta apa - apa lagi dari papa."
" Iza!!"
wanita itu berteriak, merasa dirinya sedang dipermainkan.
" Mama tidak pernah memberikan syarat ketika membawa kami pergi dari kehidupan ayah dan oma, benar kan oma?
wanita itu mendelik pada Iza.
" Mama tidak pernah meminta pada ayah untuk menafkahi kami selama ini, iya kan oma?"
" Iza juga tak pernah melihat papa Dimas memberikan syarat atas kasih sayang yang dia berikan pada kami, meski kami bukan anak biologisnya."
" Kenapa sekarang oma datang meminta kami dengan syarat?"
" Kau sudah menunjukkan kalau kau benar - benar anak seorang Dirgana Putri! Aku muak melihatmu!"
" Karena hanya Dirgana Putri yang menemaniku tidur selama ini, mencarikan biaya untuk kelangsungan pendidikanku, memberikan peluknya di saat aku sakit, aku adalah Dirgana Putri oma."
Di seketika mengangkat kepalanya, lalu menatap Dimas yang sedang tersenyum sinis menatap wanita tua di hadapan mereka.
" Baru setelah SMP, Dimas Arya mempengaruhi aku dengan kasih sayangnya. Aku melihat langsung bagaimana Dirgana Putri meminta Dimas Arya untuk mencintai anak dari laki - laki yang menyakitinya, cucu dari wanita yang merenggut kebahagiaan seorang Dimas Arya. Mamaku memohon kasih sayang itu dan Dimas Arya memberikannya tanpa syarat."
" Dimas Arya lah yang berkali - kali menyelamatkan aku dari kebodohan - kebodohanku, yang seharusnya dilakukan oleh Radit Arya. Aku saja sampai tak perduli siapa ayah kandungku, karena buatku hanya Dimas Arya lah yang pantas aku panggil papa."
" Diam kau, kurang ajar!!"
tangan wanita itu melayang di udara, mengambil ancang - ancang untuk menampar Iza. Dimas baru hendak maju untuk menahan tangan itu agar tak mendarat di pipi anak gadisnya, tapi terlambat. Iza sudah melakukannya lebih dulu.
" Aku anak Dirgana Putri, anda lupa itu? Aku tidak akan biarkan orang lain menyakitiku."
Iza melotot menatap wanita tersebut.
" Aku juga anak Dimas Arya, aku akan memberikan hukuman lebih sakit pada orang yang berani menyakitiku."
wanita itu tiba - tiba meringis, Iza menekan tangan tuanya dengan sangat keras dan itu menyakitinya.
" Lepaskan tanganku anak sialan!"
Iza menghempaskan tangan wanita itu ke samping
" Ada darah Radit Arya di tubuhku, itu makanya aku pantas kau sebut dengan kalimat tadi!"
" Hari ini kau sudah membuatku marah, anak kecil. Kau lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padamu."
wanita itu menatap Iza dengan sangat marah,
" Aku siap oma.. Kalaupun aku harus mati nanti, setidaknya Tuhan sudah mengurangi satu keturunan iblis di muka bumi. Aku tidak takut oma."
Iza menantang wanita itu dengan pelototannya yang tak kalah besar. Wanita itu seketika mundur meninggalkan Iza bersama Dimas dan Di yang masih menatapnya dengan sangat marah.
__ADS_1
" Siapa yang sudah mengajarimu bicara seperti tadi, anak gadis!"
Di mulai buka suara, air mata kembali mengalir deras si pipinya. Dia pikir dia akan kehilangan salah satu cintanya tadi, tapi ternyata anak perempuannya ini masih tetap memilih berada di dekatnya.