
*
Dirgana
" Di... Di..."
Aku cepat keluar dari kamar mandi mendengar Dimas memanggil namaku berkali - kali.
" Aku harus keluar kota malam ini juga, mungkin agak lama. Kau mau di sini atau di rumah mama?"
Sudah lama juga Dimas tidak keluar kota, aku tahu dia cemas meninggalkanku hanya bersama anak - anak saja di rumah dalam kondisi hamil,
" Aku di rumah saja Dim, kan ada anak - anak dan uni." jawabku lemah, Dimas mengalihkan pandangannya dari laptop dan menatapku.
Dia berjalan mendekatiku,
" Aku terpaksa pergi kali ini yank... kamu ngerti kan?" tanyanya lembut
Aku mengangguk seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya.
Dimas masih menatapku, aku berjalan keluar kamar meninggalkannya.
**
Ini hari ke 5 ku tanpa Dimas, semakin terasa sepi. Untungnya aku punya kesibukan di pagi sampai sore hariku, jadi aku masih bisa melawan rindu ini.
" Hi Dira."
Aku kaget mendengar sapaan dari belakangku, dengan cepat berdiri dan melihat ke belakang.
" Oh... Hi Hen... Kamu ni... kaget aku." kataku dengan wajah cemberut, dia hanya tertawa langsung mengambil duduk tepat di sebelahku.
Aku duduk di tempat dudukku tadi, menggeser sedikit kursiku, memberi jarak yang cukup dengannya.
" Kamu hamil gini makin cantik ya?" katanya memberi pujian, aku tersenyum, merasa geli sekaligus jijik... tak bisa aku bayangkan kalau Dimas melakukan hal yang sama dengannya pada wanita hamil selain aku.
" Kamu mau sarapan apa?" tanyaku langsung.
" Minta teh hangat aja, aku udah sarapan di rumah tadi." jawabnya.
" Trus, ngapain ke sini kalau sudah sarapan pak?" tanyaku, dia tertawa terbahak - bahak .
" Pengen ketemu kamu aja... Lihat keadaanmu."
__ADS_1
Aku mulai benar - benar jijik sekarang.
" Sebentar, aku buatkan tehmu." kataku dan berlalu meninggalkannya sendiri.
Aku kembali ke meja tadi dengan membawa segelas teh hangat, meletakkannya di depan Hendra dan memilih pindah duduk di seberangnya. Hendra menatapku, dia mungkin tahu kalau aku sedang membuat jarak.
" Tumben kamu masih disini, biasanya sudah siap - siap mengantar sarapan untuk suamimu?" tanyanya lagi.
" Dimas sudah sarapan, dia juga lagi sibuk. Aku gak mau ganggu dia." kataku berbohong
" Yakin kalau dia lagi sibuk?"
Aku melotot menatap matanya, tidak suka dengan cara bercandanya.
" Maksud kamu?" tanyaku balik
" Bercanda Dira... Kamu ni, masih ambekan aja kayak dulu."
Aku menurunkan tatapanku, malanjutkan pekerjaanku, mengabaikan pertanyaan bodohnya tadi.
" Rencananya mau lahiran normal atau operasi nih?" tanyanya berbasa basi
" Normal lah... Kedua anakku sebelumnya juga normal." jawabku
" Kenapa gak operasi aja... biar awet rapet..." dia kembali tertawa atas candaannya yang tidak lucu.
" Ok Hen, aku ada urusan ke sekolah anakku. Kamu nanti langsung bayar ke Reni aja ya... " aku kembali berbohong, aku jengah dengan kata - katanya.
" Lho... Di, yahhh...." Dia tak bisa menahanku karena aku sudah berjalan cepat dan jauh darinya. " Aku merindukanmu Dim..." kataku dalam hati dan mengusap wajahku yang basah.
***
Setelah hari itu, aku meminta Reni untuk handle tugas - tugas yang biasa aku lakukan di kedai. Aku benar - benar malas ketemu Hendra, jadi lebih baik aku menghindar. Lagipula ada baiknya aku mulai mengurangi kegiatanku, aku merasa cepat letih sekarang, mungkin karena usiaku sekarang sudah tak lagi muda. Aku juga bisa lebih fokus pada 2 anakku, mereka sudah beranjak remaja, aku takut mereka kehilangan arah kalau aku tak sering - sering mengajak mereka ngobrol.
Seperti beberapa hari yang lalu, aku melihat Iza senyum - senyum sendiri di depan HPnya, seperti sedang chat dengan seseorang. Dia juga lebih banyak mengurung diri di kamar, menghabiskan waktunya dengan HP. Aku juga pernah memergokinya sedang VC tengah malam, entah dengan siapa. Hal itu membuatku takut kalau dia terjebak dalam pergaulan bebas.
" Panggil kakakmu Zi, " pintaku pada Azi yang berbaring bersamaku di kamar menonton TV. Azi berdiri dan berjalan menuju kamar Iza. Tak berapa lama dia datang bersama Iza, lalu melanjutkan kesibukannya menonton.
" Ya ma?" Iza masuk ke kamarku dengan wajah ditekuk
" Sini nak, mama kangen Iza." kataku sambil menepuk - nepuk kasur di sampingku.
" Eee... mama... Iza lagi sibuk." jawabnya menolak.
__ADS_1
" Sebentar saja sayang... mama pengen ngobrol - ngobrol sama Iza." kataku memaksa. Dia akhirnya menuruti. Berbaring di sampingku, menggunakan lenganku sebagai penopang kepalanya.
Iza adalah pribadi tertutup, dia jarang sekali bercerita tentang sekolah atau tentang teman - temannya. Pertanyaanku pun hanya dijawabnya pendek saja. Sampai akhirnya aku bosan menanyainya dan memintanya kembali ke kamar.
****
Aku berjalan mondar mandir tak tenang di ruang tamu, sesekali melihat keluar rumah lewat jendela. Sudah pukul sebelas malam, Iza yang pergi dari tadi sore belum kembali. Aku sudah menelpon mama dan Iza tidak ada di sana. Aku juga menelponnya berulang - ulang tapi tidak dia jawab. " ya Tuhan... lindungi anak - anakku dimanapun dia berada." aku berdoa dalam hati. Bebarapa saat kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumahku, aku cepat menyibak kain jendela untuk melihat siapa yang datang. Lalu cepat membuka pintu rumah,
" Dimas..."
Dimas turun dari mobil dan membuka pagar, dia meminta Andi membawa saja mobil itu pulang ke rumahnya karena sudah tengah malam.
" Tunggu Ndi... Tunggu Dim!"
Andi tak jadi menjalankan mobil, begitu mendengar teriakanku. Dimas memandangiku bingung dari tempatnya berdiri, aku berjalan setengah berlari mendekati Dimas.
" Kenapa yank? " tanyanya cemas,
" Iza belum pulang yank... Cari dia dulu yank... aku mohon..." kataku menjelaskan
" Sudah kamu telpon?" tanya Dimas sambil mengeluarkan HPnya dari saku celana.
" Udah.. gak dijawab." kataku
Dimas mencoba menelpon dari HPnya, tidak ada jawaban. Lalu mengulang lagi... Masih tidak ada jawaban... Di telpon lagi,
" Kamu dimana?" tanyanya kesal, aku mendengar suara tangisan dari seberang,
" Iza.... Iza kenapa Dim?? tanyaku tak sabar, tapi Dimas diam mendengarkan suara dari seberang.
" Tunggu papa di situ, atau pergi ke tempat keramaian, jangan matikan HPmu!" kata Dimas memberi perintah.
" Masuklah, tunggu saja di dalam." lagi - lagi Dimas memberi perintah
" Dia dimana Dim??" tanyaku memburunya, airmata sudah membasahi wajahku.
" Masuklah dulu Di... Tunggu di dalam." ulangnya lagi.
Dimas kembali menutup pagar rumah, naik ke mobil dan langsung pergi meninggalkanku.
Aku masuk ke rumah seperti yang diperintahkan Dimas. Duduk di kursi tamu sambil terus menangis. " Ya Tuhan... aku mohon padamu... lindungi anakku... lindungi dia dari semua kejahatan dunia..." kembali aku berdoa dalam hati.
" Ma... mama..."
__ADS_1
Azi terbangun dan langsung mencariku, lalu datang mendekatiku setelah dia melihatku menangis di ruang tamu.
" Mama kenapa, mama sakit?" tanyanya, aku menggelengkan kepala dan memeluknya erat.