Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
JANGAN LUPAKAN


__ADS_3

Author POV


Di berjalan ke tempat tidur setelah selesai membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Dimas memperhatikan langkah Di yang mendekatinya sambil tersenyum.


" Anak - anak udah tidur yank?"


" Udah yank."


Dimas menepuk - nepuk kasur di sampingnya, meminta Di berbaring di dekatnya, dan Di menurut.


Dimas menyediakan lengannya sebagai bantal untuk menyangga kepala Di, tapi Di memilih dada Dimas untuk menyandarkan kepala.


" Kau letih sekali hari ini."


Dimas mengecup puncak kepala Di,


" Letihku hilang melihat anak - anak dan suamiku bahagia."


Dimas memainkan rambut Di, sesekali membelainya dengan lembut.


" Besok mau berangkat jam berapa yank?"


" Agak siangan lah, agar kau tidak terburu - buru menyiapkan semuanya."


" Hmmmmhhhh... Cepat sekali waktu berlalu, gak kerasa udah 3 hari aja disini."


Dimas tersenyum


" Kenapa, kau ingin liburan ini di tambah?"


Di tertawa pelan, membayangkan seandainya saja bisa.


" Kita cari villa lain, ganti suasana."


Di mengangkat kepalanya dan menghadapkan wajahnya pada Dimas tak percaya


" Kau membaca pikiranku?"


Dimas kembali tertawa mendengar pertanyaan Di

__ADS_1


" Aku bukan peramal sayang... Aku hanya tau kemana arah pembicaraanmu tadi."


" Kau serius kita akan menginap lagi?"


Dimas menganggukkan kepalanya.


" Anak - anak pasti akan sangat bahagia Dim."


" Apa kau tidak bahagia?"


" Kebahagiaanku terletak di kebahagiaan anak - anak dan kau. Aku akan merasa sangat bahagia kalau kalian bahagia."


Di dan Dimas tersenyum, membayangkan ekspresi anak - anak besok, Di lalu kembali menyandarkan kepalanya di dada Dimas.


" Trus, kita mau seperti ini saja sampai pagi?"


Di mengerti maksud pembicaraan Dimas, dia bergerak pindah ke atas tubuh Dimas dan menindihnya. Dimas tertawa karena kaget dengan gerakan Di yang tiba - tiba. Di dengan cepat menarik celana pendek dan underwear Dimas, lalu dia mengangkat dasternya dan melemparkannya sembarangan ke lantai, Di yang sudah tidak mengenakan underwear dan branya langsung merapatkan senjata Dimas pada miliknya. Mereka berdua mendesah, menikmati gesekan - gesekan lembut kedua benda berharga milik mereka. Di lalu mengarahkan senjata Dimas, lalu mengerang kecil setelah senjata itu masuk ke dalam tubuhnya dengan sempurna.


Dimas menarik bantal milik Di dan meletakkannya di atas bantalnya tadi, posisi Dimas yang setengah berbaring memungkinkannya menatap ekspresi Di yang sedang bergairah di depannya.


" Kau semakin cantik sayang."


Di bergerak memaju mundurkan pinggulnya, lalu bergerak memutar pinggul dan mendesah merasakan nikmatnya. Dimas kembali menatap wajah Di, sesekali matanya tertutup menikmati goyangan Di di atasnya. Tangannya sibuk memainkan puncak gunung Di yang mengeras dan merah


" Buka matamu sayang."


Di membuka matanya, wajahnya sudah merah dan di basahi keringat. Di menggigit bibirnya sebagai tanda nikmatnya sudah hampir sampai, matanya menatap tajam dan nakal pada Dimas. Dimas sengaja menahan gerakannya untuk nanti, menyerahkan semua kendali permainan pada Di,


" Emmmhhhh... Dim..."


" Jangan tutup matamu."


Di cepat membuka matanya dan menatap tajam pada Dimas yang mulai bergerak menggoyang pinggulnya dengan cepat, lalu menurunkan tangannya untuk meremas bokong Di dengan kasar, membantu Di mencapai puncaknya sambil terus beradu tatap dengan Di. Sampai akhirnya Di mencapai puncak dan menggigit keras bibirnya sendiri dan mencakar dada Dimas menahan geram kenikmatan, lalu menjatuhkan tubuhnya pelan di atas tubuh Dimas.


Dimas tersenyum, membelai rambut Di dan memaksa wajah Di untuk menghadap ke wajahnya. Mata Di merah karena terbakar nafsu, nafasnya memburu tak karuan


" Kau belum yank"


" Sekarang giliranku."

__ADS_1


Dimas menjatuhkan tubuh Di dengan pelan ke samping, mengambil bantal yang tadi dia gunakan dan meletakkannya di pinggang Di. Di diam dan menuruti Dimas. Dimas juga bergerak menarik selembar tissue dari atas meja kecil di samping tempat tidur, lalu menyapukannya dengan lembut di bongkahan bukit Di yang sudah basah, Di mengerang.


Setelah bongkahan itu kering, Dimas menciumi bibir Di dengan lembut dan bergairah, lidahnya menyeruak masuk ke mulut Di, menyapu lembut semua dinding mulut Di, kemudian Dimas melepaskan ciumannya dan mulai menjilati leher Di, menghisap pelan tanpa meninggalkan bekas. Lidah Dimas mulai turun ke dada Di, bermain sebentar di bukit kembar Di yang menyembul indah, lalu Dimas menghisap puncak bukit yang mengeras karena kembali merasakan gairah. Lagi - lagi Di mengerang dan menjepit kakinya yang sudah berada di bawah kaki Dimas yang terbuka lebar. Dimas lalu menegakkan tubuhnya dan membelai lembut paha Di.


" Tetaplah membuka matamu sayang."


Di mengangguk pelan


Dimas mulai mengarahkan senjatanya ke gua milik Di, pelan, berulang - ulang dan kembali mendesah. Kehangatan gua itu menambah kobaran gairahnya. Dimas menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan perlahan dan menghentak. Posisi pinggul Di yang lebih tinggi membuat hentakan senjata Dimas beradu dengan * - **** dengan tepat. Di merasakan nikmat yang tiada tara, dan merasa ingin kembali mencapai puncak.


" Aku mencintaimu Dirgana Putri, sangat mencintaimu."


" Eeeeehhhhh.. heehhhhh..."


Di tak bisa mengatakan apapun karena kenikmatan yang Dimas suguhkan, Dimas mulai mempercepat laju gerakannya, mereka berdua menggigit bibir masing - masing, masih saling beradu tatap, mata mereka merah terbakar gairah.


Dimas mulai merasakan puncaknya sudah mulai dekat, lebih mempercepat gerakannya, desahan demi desahan keluar dari mulutnya yang terbuka


" Di... ehhhmmmhhh Di..."


Dimas lepas, Di menengadah kejang. Pinggulnya bergerak - gerak sendiri merasakan kenikmatan cinta kali ini. Mereka diam sejenak menetralisir rasa nikmat tiada tara yang baru saja mereka dapatkan, denyut dari dalam tubuh Di membuat senjata Dimas merasakan ngilu yang nikmat


Dimas kemudian menjatuhkan tubuhnya dengan pelan di atas tubuh Di. Tangannya masuk ke bawah tubuh Di dan memeluk Di erat. Mereka sama - sama mengatur nafas mereka yang berantakan. Dimas lalu mengangkat tubuhnya dan melepaskan pelukannya pada tubuh Di. Dia menatap wajah Di yang terkulai seksi buatnya.


" Kau curang."


Dimas tertawa, lalu mengecup kening Di.


" Aku rindu memuaskanmu Di."


Di menepuk pelan dada Dimas dan mencubit pinggang Dimas. Perlahan Dimas melepaskan tubuhnya dari Di dan berbaring di samping Di.


Di cepat menarik selimut yang berada di dekat kaki mereka, lalu menariknya untuk menutupi tubuh mereka yang polos. Di kembali masuk kedalam pelukan Dimas, mencuri hangat dari tubuh Dimas untuk menghangatkannya juga.


Dimas kembali mengecup puncak kepala Di


" Aku mencintaimu Di, jangan lupakan itu."


" Aku juga mencintaimu sayang, aku tak akan pernah lupa rasa itu."

__ADS_1


__ADS_2