Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
MERINDUKANMU


__ADS_3

Dirgana


*


Sudah satu jam aku berbaring di sampingnya, tapi dia sama sekali tak menyadarinya. Hari ini aku pamit ngojek lebih awal dengan alasan karena biaya sekolah Iza masih banyak kekurangannya, sementara dia sudah hampir seminggu tidak ngojek. Akhirnya mama mengizinkan. Padahal, Di sudah tak sanggup menahan rindu akan pelukan Dimas, ingin sekali memandangi wajahnya langsung seperti ini setiap hari, " tenang Di... tak sampai sebulan lagi, kau akan dapat melihatnya terus seperti sekarang ini." kataku dalam hati. Mama Sandra sedang jalan - jalan keluar negeri, dan beliau sudah memberitahu semua asisten rumah dan satpam kalau aku adalah istri Dimas. Jadi, tidak sulit bagiku untuk datang dan langsung masuk ke kamar Dimas seperti sekarang ini.


" Hmmmmmhhh..." Dimas menggeliat, aku masih tetap dalam posisi berbaring miring menghadapnya. Dimas masih belum juga menyadari kehadiranku. Ingin sekali membangunkannya, tapi kasihan... Makanya aku menahan rindu sebentar, sampai Dimas bangun.


" Di..." Dimas mulai mengigau memanggil namaku, aku tersenyum.


" Ya sayang... " kataku menjawab panggilannya. Dimas membuka matanya cepat begitu mendengar suaraku, mengerjap - ngerjap sebentar, membersihkan kotoran yang melekat di matanya, lalu tersenyum sendu ke arahku.


Dia menggapai pinggangku dan menarik tubuhku untuk mendekat. Aku menggeser tubuhku dan berbaring sangat dekat dengannya. Dimas memelukku erat, aku pun membalas pelukannya.


" Aku merindukanmu Di.." katanya setengah berbisik.


" Aku juga sayang.." Jawabku


Dimas lalu melonggarkan pelukannya menatapi wajahku, lalu tatapannya berhenti di bibirku, aku yakin dia sangat ingin menciumku, tapi...


" cuci muka dulu, sikat gigi... bau..." kataku sebelum dia memajukan wajahnya.


Dimas cepat bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan cepat ke arah kamar mandi. Setelah beberapa menit, dia keluar dari kamar mandi dan kembali berbaring miring menghadapku. Dia mendekatkan wajahnya padaku, mencium lembut bibirku, menarik pinggangku agar lebih dekat dan tubuh kami menempel. Mungkin karena sama - sama merindu, kami terbawa suasana dan melepaskan semua hasrat yang belum kami lakukan sejak kata " sah " diucapkan.


" Aku lapar Dim..." kataku padanya, Dimas langsung bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


" Di..." Dimas memanggil


" Ya..." jawabku


" hsjnsbshsnhshj.." katanya lagi,


" apa yank?" tanyaku, karena ucapannya yang tidak jelas.


" jannsvbsbsghsb.." jawabnya.


Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi untuk memastikan pendengaranku. Aku membuka pintu kaca yang memisahkan antara walking closet dengan tempat dia membasahi tubuhnya.


" Kamu bilang apa Dim?" tanyaku, Dimas berbalik ke arahku dan dengan cepat menarikku masuk.


" Dimas... basahhh!!" kataku berteriak, dia hanya tertawa saja melihat aku yang sudah basah kuyup.


Dimas melucuti satu persatu pakaian yang aku kenakan, menempelkan punggungku di tembok dan menekan tubuhku yang juga haus akan tubuhnya.


**

__ADS_1


" Besok aku keluar kota sama Andi yank." katanya sambil merapikan baju kaos hitam yang baru dikenakannya.


" Langsung pulang kan?" tanyaku.


Dimas berjalan mendekatiku yamg sedang melipat lengan kemeja punyanya yang sekarang ada di tubuhku.


" Tiga atau empat hari paling lama." jawabnya, aku mendongakkan kepalaku menatap matanya. Dia hanya diam, mengambil alih kesibukanku melipat lengan kemeja yang aku kenakan. Setelah selesai melipatkan lengan kemejaku, dia jongkok di depanku yang duduk di sofa, memegang tanganku, dan membalas tatapanku.


" Beginilah pekerjaanku sayang.. Aku yakin kau bukan perempuan manja yang harus aku temani kemanapun dan kapanpun. Kau perempuan mandiri dan aku mempercayaimu. Aku begini juga untuk kita berempat kan, siapa tahu besok jadi berlima atau berenam." katanya sambil mengelus - elus perutku yang tiba - tiba kehilangan rasa lapar. Aku diam, Dimas benar. Aku bukan perempuan manja, dan dia memang harus bekerja untuk kami berempat saat ini.


" Kamu marah sayang?" tanyanya pelan. Aku menggeleng cepat.


" Lalu?" tanyanya lagi.


" Aku sangat lapar Dim..." jawabku, dia tertawa mendengar jawabanku, berdiri dan tidak lupa menyerahkan satu tangannya untuk membantuku berdiri. Kami berjalan bersisian dan saling berpegangan tangan menuju meja makan.


***


Di rumahku


Azi berteriak - teriak menahan sakit, Iza menangis sedih melihat luka di kaki adiknya, mama berjalan kesana kemari mencari HPnya, setelah ketemu, beliau mencari sebuah nama dan menekan tombol yes.


" Di, pulang sekarang. Azi jatuh, kakinya robek."


****


Hanya beberapa menit saja, kami sudah sampai di rumah. Dimas langsung keluar dari mobil setelah memarkirkan mobilnya tepat di depan rumahku. Dia membukakan pintu untukku dan membantuku turun. Kami berjalan berpegangan tangan, terdengar suara tangisan Azi yang sedang menahan sakit, aku melepaskan tanganku dari Dimas dan berlari masuk ke dalam rumah.


" Mama!!" suaranya bertambah keras begitu melihat kedatanganku. Aku jongkok mendekatinya dan melihat luka di kakinya yang menganga. Dimas tiba - tiba sudah berada di sampingku, ikut melihat luka tersebut.


" Bawa ke RS aja yank..." katanya tanpa sadar, mama dan Iza melotot mendengar kata " yank " yang disebutkan Dimas, tapi Dimas seolah tidak perduli.


" Kita ke RS ya, Azi berani kan?" tanyanya pada Azi.


" Takut om... Azi takut. Kasih obat merah aja ma..." pintanya.


" Apa yang Azi takutkan, Azi kan jagoan." sambung Dimas membujuk.


" Nanti Azi ditinggal berdua aja sama dokter, mama sama nenek kan penakut... Azi takut ma..." jawabnya polos.


Dimas melihat ke arahku sambil tersenyum.


" Om yang temani Azi nanti, Azi masih takut?" katanya pelan.


" Bener ya... om yang temani Azi ya, awas kalau om bohong." ancam Azi.

__ADS_1


" Om janji, yok." Dimas cepat mengangkat tubuh Azi dan membawanya ke mobil, aku membukakan pintu mobil untuk Azi. Sengaja aku dudukkan dia di kursi depan, agar dia merasa santai bila dekat dengan Dimas, dan Dimas sama sekali tidak keberatan.


" Iza, mama ikut?" tanyaku pada Iza dan mama. Keduanya menolak ikut, mungkin takut.


Seperti menatap gambar bergerak, satu persatu sikap Dimas terhadap anak - anakku membuatku tambah mencintainya. Sikapnya lebih dewasa dari umurnya. Kekalutannya saat mendengar Azi terluka, cara dia membujuk Azi, menggendong dan menemaninya di ruangan dokter tadi, tulus dan tidak dibuat - buat. Dimas bahkan tidak lupa membelikan makanan untuk anak - anakku sebelum kami pulang. Melihat mereka makan dengan lahapnya, tertawa, tanpa berebut karena takut gak kebagian, Dimas benar - benar ingin membahagiakan kami. Aku menatap kedua anakku yang sedang tertidur lelap, " mama menyayangi kalian nak..." kataku pelan.


ting


Aku cepat meraih HP ku begitu mendengar nada pesan yang masuk.


" Anak - anak udah tidur yank?" aku tersenyum membaca pesannya, seolah - olah mereka berdua ini anak biologisnya.


" sudah yank." balasku


" terimakasih banyak sudah membahagiakan anak - anakku" sambungku


" maksudmu?" tanyanya balik


" Mereka bahagia sekali hari ini yank." jawabku


" Bukan, bukan itu maksud pertanyaanku." balasnya


" Apa maksudmu bilang mereka anak - anakmu?" sambungnya


" Mereka juga anak - anakku, apa kau lupa?" tambahnya lagi.


Aku tersenyum, terenyuh membaca pesannya.


" Aku mencintaimu yank... sangat mencintaimu." balasku.


" Aku juga sayang..." balasnya dengan menyertakan emoticon kecupan.


" Besok ke rumah jam 02.00, jangan telat." sambungnya.


" Iya sayang... Iya.." balasku


" Cepat istirahat, segarkan tubuhmu, aku masih membutuhkannya besok sebagai imun. " aku tertawa membaca pesannya


" Iya, aku siap koq... selalu." balasku menutup percakapan.


Aku senyum - senyum sendiri, sampai tak tahu ada yang jelas - jelas melihat kegilaanku dari depan pintu kamar.


" Kamu sehat Di?" aku terperanjat kaget mendengar suara mama yang tiba - tiba


" Mama ni... kaget aku." kataku kesal " Sehat aku ma... sangat sehat." sambungku lagi.

__ADS_1


" Syukurlah." katanya, lalu pergi menjauh dari pintu kamarku.


huffttt... mama... mama...


__ADS_2