Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
MALAIKAT PENJAGA


__ADS_3

*


" Selamat ulangtahun mamaaa!!"


Pagiku di awali dengan teriakan malaikat kecil. Aku membuka mataku perlahan, Ada senyuman manis di wajah keduanya. Aku mengambil pelukan dari keduanya setengah memaksa, mereka tertawa terbahak - bahak dalam pelukanku.


" Makasih sayang..." kataku sambil menciumi mereka berdua bergantian.


" Kemana kita hari ini ma?? Mama traktir kan??" Aku mengkerutkan kening mendengar pertanyaan Iza.


" Hadiahnya mana, udah minta ditraktir aja." jawabku pura - pura merengut.


" Ini hadiahnya ma..." Keduanya berteriak dan menghujaniku dengan ciuman. Aku kewalahan menerima semua ciuman itu dan mereka kembali tertawa terbahak - bahak.


Tiba - tiba HPku berdering, Iza cepat mengambil HP yang tergeletak di sampingku dan melihat nama Dimas di layar.


" Ma, om Dimas." katanya sambil menyerahkan HP padaku setelah menggeser layarnya. Kemudian keduanya berlari keluar sambil tertawa.


" Halo" kataku sambil tertawa melihat tingkah jahil mereka.


" Pagi sayang..." oh.. aku langsung merebahkan lagi tubuhku mendengar sapaannya.


" Pagi yank..." jawabku pelan.


" Apa rencanamu hari ini?" tanyanya lembut


" Hmmm... belum ada yank, tapi anak - anak ngajakin keluar." jawabku.


" Lho, anak - anak gak sekolah?" tanyanya bingung.


" Hari ini libur sayang..." jawabku

__ADS_1


Dimas tertawa terbahak - bahak di seberang, terlambat menyadari.


" Ya udah, yok... jalan - jalan... Mau kemana?" Aku membesarkan mata mendengar ajakannya.


" Serius?" tanyaku ragu


" Serius lah... Aku tidak akan bisa menolak permintaan anak - anakku yank..." jawabnya. Kembali hatiku terasa hangat mendengar kata " anak - anakku "


" Siap - siap ya, satu jam lagi aku jemput OK" sambungnya


" Iya yank... " jawabku. Pembicaraan terputus.


Aku memanggil kedua malaikatku dan meminta mereka untuk bersiap - siap. Mereka berdua berteriak senang dan keributan rebutan kamar mandi dimulai. Ditambah dengan teriakan si nenek yang menengahi dan meminta untuk diam. Aku hanya tersenyum mendengar keramaian ini.


Kami sudah siap ketika mobil Dimas berhenti di depan rumah. Dimas yang mengenakan kaos oblong hitam dan celana selutut dengan warna yang sama membuatnya kelihatan sangat santai dan tampan. Aku menahan hati untuk tidak memberikan pelukan padanya. Dia yang mungkin menyadari kekagumanku, memainkan alis matanya ketika aku menyambutnya di depan pintu.


" Om Dimas!!" Azi langsung berteriak dan berlari ke arahnya. Dimas menyambutnya dan membawanya naik dalam gendongan. Mama tersenyum melihat kedatangannya, masih sangat merasa malu atas kejadian yang dulu. Sementara Iza, diam berdiri didekat mama menatap Dimas juga dengan senyuman.


" Ke pantai ya om... berenang!!" jawabnya setengah berteriak.


" Lho, tadi katanya mau jalan - jalan aja. Mama gak siapin bekal dan pakaian ganti Zi.." kataku menyela, Dimas melotot melihat ke arahku. Tidak suka kalau aku menolak permintaan Azi. Aku membalasnya dengan membesarkan mata juga ke arahnya.


" Iya lah ma... ke pantai ma..." tiba - tiba Iza buka suara.


Baru saja aku ingin beradu argumen dengan anak - anakku, Dimas memotong


" Ayok bos, kita ke pantai." keduanya bersorak kegirangan mendengar persetujuan Dimas. Setelah menurunkan Azi, Dimas berpamitan pada mama, mengulurkan satu tangannya pada Iza yang masih takut - takut mendekat, tapi dia mengulurkan tangannya juga pada Dimas. Dimas memegang tangannya, berjalan bersisian bersama Iza dan mengacuhkan aku. Aku terharu melihat sikapnya, tak perlu merasa cemburu. Mereka bertiga sudah di dalam mobil menungguku, aku berpamitan pada mama dan masuk kedalam mobil menyusul mereka.


" Hati - hati... Jangan bandel!" pesan mama pada anak - anakku sebelum kami berangkat.


**

__ADS_1


Aku duduk di sebuah pondok melihat mereka bertiga bermain air. Sudah lama sekali rasanya aku tidak melihat tawa mereka sebahagia hari ini. " Terimakasih Dimas.." kataku dalam hati.


Aku sedang asyik membuka - buka social mediaku, ketika tiba - tiba pipiku disentuh tangan basah. Aku kaget dan cepat melihat ke pemilik tangan yang sedang berdiri di belakangku. Dia hanya tersenyum melihat wajah pura - pura merengut ku, berjalan ke depan dan mengambil duduk di depanku.


" Siapa yang kau cari Di?" tanyanya setelah menyeruput kelapa muda miliknya. Aku mengerutkan kening mendengar pertanyaannya.


" Siapa yang mencari siapa?" tanyaku balik


Dia menjawab menggunakan bibirnya yang di monyongkan ke arah HP yang ada di tanganku.


Aku menggelengkan kepalaku cepat, " tidak mencari siapa - siapa sayang... Hanya membaca postingan seorang sahabat saja." kataku.


" Kau tidak pernah mengenalkan sahabat - sahabatmu padaku Di." katanya. Aku diam, melemparkan pandangan pada anak - anak yang sibuk berlari ke sana kemari sambil tertawa. Aku sendiri pun tak tahu kemana mereka menghilang di tengah - tengah keterpurukanku kemarin. Dimas seperti tahu kalau aku sedih, berjalan mendekati dan memberi sentuhan di kedua bahuku. Kesedihanku hilang tiba - tiba,


" Geli Dim.. udah." kataku memintanya menghentikan aktivitasnya. Tapi dia malah meremas bahuku lebih keras.


" Sakit Dimas!" kataku berteriak sambil berdiri menjauh darinya. Dia tertawa melihat wajahku, sementara aku memijat - mijat lembut bahuku yang terasa sakit.


" Ommm... kakak om!!!" kami sontak melihat ke arah pantai, Azi berteriak memanggil Dimas sementara Iza sedang bergelut dengan ombak yang menghantam tubuhnya berkali - kali. Kami langsung berlari ke pantai,


" Iza!! Iza!! Dimas Izaaaa!!" teriakku.


" Pegang Azi Di!" perintahnya sebelum masuk melawan ombak yang menghantam dan cepat menarik Iza dari sana. Dimas membawa iza yang menangis kedalam pelukannya, berjalan keluar dari pantai menuju pondok, aku dan Azi mengikuti dari belakang. Iza memeluk erat tubuh Dimas masih menangis.


" Udah sayang, tenang ya nak...." kata Dimas menenangkan. Airmataku tak berhenti mengalir dari tadi, ditambah lagi melihat perlakuan Dimas pada Iza. Perlahan tangisnya hilang, Iza mengangkat kepalanya dan mengusap wajahnya. Dimas diam memperhatikannya, wajah cemas di ganti dengan senyuman melihat Iza sudah berhenti menangis.


" Iza mau pulang aja om.." katanya kemudian.


" Kenapa, Iza takut?" tanyanya lembut, Iza menjawab dengan anggukan. Dimas berdiri, menurunkan Iza dari pangkuannya dan memegang tangannya.


" Gak boleh takut, anak om gak boleh jadi penakut. Kita kesana lagi, kita lawan mereka. Berani sekali mereka mengganggumu. Ayo zi.." ajaknya, mereka kemudian berjalan bertiga bersisian seperti the avengers yang sedang menantang musuh - musuhnya. Aku tersenyum berair mata, " Tuhan... apa dia malaikat yang kau kirimkan untuk menjaga kami?" tanyaku dalam hati. Tak lama, Iza sudah mulai asyik bermain, mereka bertiga tertawa, saling kejar dan bahagia. Terimakasih Tuhan...

__ADS_1


__ADS_2