Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
DIRGANA


__ADS_3

Author POV


Di memeluk Iza dan Azi bersamaan, benar saja tebakan Dimas, Azi demam tinggi semalaman. Berulang kali memanggil - manggil nama Di, tapi tak ada yang mendengarkannya karena dia tidur sendirian di kamarnya.


Iza kemudian menjatuhkan tubuhnya dan memeluk kaki Di, memohon ampunan pada Di atas semua kesalahan yang dia perbuat. Azi kemudian ikut beringsut dari tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di dekat kaki Di, melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan kakaknya.


" Sekarang kalian tau apa arti kehilangan kan nak? Mama tidak mau merasakan hal itu, makanya mama sangat keras menjaga kalian semua."


" Iya ma... ampun kakak ma.. Kakak janji akan patuh pada mama seumur hidup kakak... Kakak gak mau jauh dari mama... hwaaaaaa... ampuni kakak ma...."


" Azi juga maaaa... ampun Azi ma... Azi juga gak mau jauh - jauh dari mama... Azi sayang mamaaaa... hwaaaaa..."


Di ikut menjatuhkan tubuhnya dan duduk bersama Iza dan Azi.


" Sampai kapanpun, seorang ibu akan menganggap anak - anaknya adalah bayi - bayi kecilnya. Yang butuh penjagaan, cinta dan kasih sayang. Jangan pernah ingatkan mama soal umur kalian, karna buat mama, kalian itu anak - anak bayi mama."


Di bergantian menciumi puncak kepala Iza dan Azi, kemudian kembali memeluk mereka berdua.


*


Di masuk ke kamar, di susul oleh Dimas yang melangkah pelan dan takut di belakangnya. Dimas langsung menutup pintu kamar begitu mereka berada di dalam kamar, sementara Di mengambil tepian ranjang untuk duduk.


Dimas datang mendekati Di, berdiri menghadap Di yang duduk sambil menatap lurus ke dinding. Tiba - tiba Dimas menjatuhkan tubuhnya di depan Di, duduk menopangkan tubuh pada kedua lututnya.


" Aku mohon Di.. Maafkan aku.."


Suaranya bergetar menahan tangis yang sedari tadi ingin keluar, sejak melihat kehadiran Di di kamar Azi.


" Kenapa aku harus memaafkanmu Dim? Apa salahmu padaku?"


tanya Di datar


" Aku sudah tak memahami kondisi dan kesibukanmu, aku terlalu memikirkan kebutuhanku saja, aku tak memberikanmu ruang untuk melakukan hal lain selain aku dan anak - anak. Padahal aku tau, cintamu tak akan pernah berkurang untuk kami."


" Aku egois, maafkan aku."


Di masih diam, namun air matanya mengalir deras di pipinya


" Aku merindukanmu Dim."


Dimas mengangkat kepalanya yang semula tertunduk, menatap wajah Di yang basah oleh air mata


" Aku minta maaf sudah sempat melupakan kewajibanku, maafkan aku."


Di menjatuhkan tubuhnya dan menghambur ke dalam pelukan Dimas. Pertahanan Dimas jebol, air matanya ikut mengalir deras


" Kau tidak salah apa - apa sayang.. Aku yang salah.. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku juga sangat merindukanmu Di.."


" Aku mohon, semarah apapun kau padaku, sebesar apapun kesalahanku padamu, seburuk apapun kondisiku, jangan pernah pergi meninggalkan aku. Aku tersiksa merindukanmu Di.."


Dimas memeluk erat tubuh Di, seakan tak ingin pelukan itu terlepas. Hanya ingin memeluk dan dipeluk Di saja seperti ini.


" Iya sayang.. maaf.. maafkan aku."

__ADS_1


Dimas mengecup puncak kepala Di.


" Kau juga harus percaya padaku, aku tak akan pernah menyentuh perempuan manapun selain dirimu Di, karna hanya kau yang ingin aku sentuh, hanya kau yang kubutuhkan untuk menghangatkan aku, hanya kau."


" Aku tau Dim, aku percaya itu. Aku hanya tak suka kau berbohong padaku. Aku tak suka dibohongi, kau tau itu kan Dim?"


" Iya sayang, aku sangat tahu itu. Maafkan aku."


*


" Jadi, kemana saja kau dan Zya selama seminggu ini Di?"


Di mengangkat kepalanya, meletakkan dagunya di dada Dimas, menatap wajah laki - laki yang sangat dirindukannya.


" Jakarta."


Dimas mengernyitkan kening, menatap lama wajah Di.


" Ke rumah mama Vena?"


tanya Dimas memastikan, dan dijawab anggukan oleh Di


" Menemui ketiga mamaku, menceritakan kegelisahanku, tapi tidak tinggal di rumah mama Ve."


" Lalu?"


" Hotel. Aku butuh sendiri."


" Zya?"


" Lalu, apa saja yang kau lakukan sendirian di hotel?"


Di bangkit dan duduk menghadap Dimas.


" Aku ke makam Vena setiap pagi."


Dimas menegakkan tubuhnya, menatap Di sambil menunggu lanjutan ceritanya.


" Belanja, jalan - jalan, makan di tempat yang aku mau. Aku mau tau, sanggupkah aku mengacuhkan kalian yang tak lagi memperdulikan aku."


" Lalu?"


Di kembali memeluk Dimas, membaringkan kepalanya di dada Dimas.


" Aku gak sanggup."


air mata kembali mengalir di wajahnya


" Aku terlalu mencintai kalian, aku tak perduli kalian acuhkan atau tidak, aku hanya ingin mencintai kalian sampai Tuhan memanggilku."


" Oh.. Dirgana..."


" Itu lah cinta Dim.. Sesakit apapun yang kau rasakan, cinta akan membuatmu kuat untuk bertahan."

__ADS_1


Dimas merasakan matanya kembali panas, kata - kata Di secara tak langsung malah mengingatkannya pada kesalahannya.


" Aku mencintaimu dan anak - anak, terserah kalian suka atau tidak dengan kehadiranku, aku hanya ingin mencintai kalian dengan caraku sampai aku mati."


" Kami tidak hanya menyukai kehadiranmu Di, kami membutuhkanmu. Kita hanya kurang komunikasi saja beberapa minggu terakhir, begitu juga kau dan anak - anak. Itulah kenapa aku tak mau kau terlalu banyak aktivitas, kau mengacuhkan kami jika kau terlalu sibuk dengan kegiatanmu Di."


" Iya Dim... Aku juga tau. Aku benar - benar menyesal. Aku diacuhkan karena aku juga mengacuhkan kalian. Sakit sekali ternyata."


Dimas tersenyum, membelai rambut Di dengan lembut.


" Lalu, apa saja yang kau lakukan di makam Vena?"


" Hanya berdoa untuknya, minta maaf karena aku sudah mengambil cinta sejatinya."


" Tapi, berkali - kali pula dia mendatangiku dalam mimpi. Menatapku bersama anak - anak dengan senyuman tulusnya, aku tak akan pernah melupakan senyuman itu."


" Artinya dia bahagia melihat kita Di."


Dirgana kembali mengangguk,


" Jangan pergi lagi sayang... Aku mohon."


Di kembali menegakkan kepalanya dan menopang dagunya di dada Dimas.


" Sebesar itu kah rasa kehilanganmu Dim? Sampai kau tak punya waktu untuk mencukur jenggot dan membersihkan kumismu?"


Dimas tertawa menanggapi pertanyaan Di yang dibarengi senyum nakal


" Aku tak memikirkan diriku lagi sayang.. Waktuku ku habiskan untuk mencarimu dan menyesali semua kesalahanku."


" Kasihaaaannnn..."


Dimas melotot pada Di


" Kau mengejekku Di?"


dengan gerakan cepat, Dimas sudah berpindah posisi tubuhnya menindih Di


" Dimas!!"


" Apa?"


Di tertawa terbahak - bahak, kaget dengan gerakan Dimas yang tiba - tiba


" Kau belum pernah disetubuhi pria brewokan bukan?"


" Belum.. Tidakkk.. Gelii... Arggghhh... Dimaas!!"


Dimas mengacuhkan penolakan Di, menelusuri seluruh tubuh Di dengan bibirnya. Seketika teriakan penolakan menjadi erangan - erangan kecil.


" Bagaimana, kau masih mau menolak?"


" Arggghhh.. Kau mengganggu kesenanganku saja."

__ADS_1


Dimas tertawa sebentar, lalu melanjutkan kegiatannya. Mengajak Di melepas banyak kerinduan bersama.


__ADS_2