Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
BELAJAR IKHLAS


__ADS_3

*


Aku melihat Dimas yang sedang berbaring menatap lekat pada Zya, berkali - kali Dimas mencoba membangunkan Zya dengan menciumi tangan dan kakinya, tapi gagal.


" Apa Zya juga merindukanku Di?"


Dimas bertanya tanpa mengalihkan pandangannya pada Zya.


" Dia pasti merindukanmu Dim... Dia juga dapat merasakan keresahan hatimu ketika kau jauh. Beberapa hari kemarin tidurnya tidak setenang ini, aku bahkan harus begadang menemaninya sampai menjelang subuh."


" Hmmmhhhh..."


Dimas melepaskan nafasnya dengan berat, dia lalu bangkit dan duduk bersamaku di sofa.


" Aku merasa bersalah pada kalian semua, entah kenapa aku jadi sangat bodoh."


Dimas merengut kesal, lalu merebahkan kepalanya di bahuku.


" Takdir tidak akan bisa kita ubah yank... Berdamai saja dengan keadaan ya..."


Dimas menegakkan kepala dan menatap lekat wajahku. Dia menyapu wajahku dengan matanya, lalu mendekatkan tubuhnya padaku.


Tangannya maju ke wajahku dan menangkup di kedua pipiku, lalu dia memajukan wajahnya pelan dan mengecup lembut bibirku. Aku yang sangat merindukannya cepat terbakar oleh nafsu... Jadilah malam itu kami melepas rindu yang syahdu. Sofa, kamar mandi, walking closet menjadi tempat pelepasan indah buat kami. Rasanya seperti sedang melakukan malam pertama, selalu merasa kurang dengan sentuhan - sentuhan nakal dan nikmat darinya. Lalu tidur saling berpelukan sampai pagi.


**


Dimas


" Darimana saja kau semalaman."


Aku menghentikan langkahku, mendengar sesorang berteriak padaku.


" Kenapa?"


Aku menjawab pelan, menahan amarah.


" Suami macam apa kau ini Dim? meninggalkan istri di malam pertama setelah di sahkan. Kau memang tak punya hati."


Siska berdiri tegak sambil berkacak pinggang menantang padaku


" Aku suami yang baik, buat istri yang sangat aku cintai. Kau hanya istri di atas kertas, jangan menuntut sesuatu dari apapun yang sudah kau rebut dari orang lain. Kau tidak akan dapatkan apa - apa."


" Tapi aku membutuhkanmu di sampingku Dim, bagaimanapun juga aku sudah sah menjadi istrimu."


" Apa yang kau butuhkan dariku? kehangatan? Kau bisa mendapatkannya dari orang lain, toh selama ini kau jago soal itu. Sudahlah Sis... Gak usah berlebihan?"


" Ma.. Maaf tuan... nona... maaf.."


Seorang asisten rumah tangga menyela di tengah keributan kami.


" Ada apa uni?"

__ADS_1


Aku menurunkan nada bicaraku


" Nyonya memanggil non Siska ke kamar, nyonya mau buang air katanya."


Siska melotot menatap si asisten rumah tangga, lalu pindah menatapku memohon.


" Tugas sudah memanggilmu, kerjakan atau aku tidak akan memberimu uang belanja.!"


Aku memberikan perintah padanya dan berjalan masuk ke kamarku,


" Kau mau kemana?"


Siska lagi - lagi bertanya, tapi dengan nada yang lembut


" Mandi, siap - siap ke toko."


Jawabku acuh


" Kamar kita di sini."


Dia menunjuk pintu kamarnya, aku menoleh sebentar dan tersenyum sinis


" Itu kamarmu, kita tidak punya kamar. Ini kamar kami, kamar Di dan aku. Aku lebih nyaman berada di sini. Sudah, kerjakan saja tugasmu."


Aku langsung masuk ke kamar untuk mandi dan bersiap - siap ke toko.


***


Aku langsung ke rumah melihat Di dan anak - anak sepulang dari toko, lewat tengah malam baru aku kembali ke rumah mama. Tentunya setelah selesai melepas segala hasrat dan cinta bersama Di, jadi aku hanya menumpang tidur saja di rumah mama.


" Dimas."


Aku berhenti tepat di depan kamar yang ditempati Siska. Dia tersenyum ke arahku, lingerie merah menyala dan sangat tipis sangat mengganggu pandanganku.


" Apa?"


Siska merengut dan berjalan pelan berlenggak lenggok mendekatiku.


" Aku merindukanmu Dim... "


Dia merayuku, memeluk lenganku dan menciumi bahuku. Aku cepat menepis tangannya


" Awwww... Dimas... sakit."


Lagi - lagi Siska berteriak manja, tapi aku tidak perduli.


" Aku capek Sis, sudah... tidurlah."


Aku melanjutkan langkah menuju kamarku


" Aku akan memijat tubuhmu Dim, agar tubuhmu lebih segar."

__ADS_1


Siska memberi penawaran, aku berbalik badan, menatapnya sambil menyeringai, melangkah mendekatinya... sangat dekat... dan,


" Di sudah mengambil haknya terlebih dahulu Sis, menyerap habis semua tenagaku. Aku tak punya apa - apa lagi untukmu." bisikku di telinganya.


Aku kembali berbalik dan melanjutkan langkahku ke kamar, meninggalkan Siska yang marah.


" Dimaaasssss!!! "


" Berisikkkk!!!, kau kesinilah Siska, bersihkan tempat tidurku! Aku buang air di sana tadi, cepat!"


" I... Iya ma... sebentar..."


" Sekarang!"


****


Keesokan harinya,


Siska masuk ke kamarku tanpa mengetuk, lalu mengunci pintu dengan gerakan cepat. Aku yang sedang berbaring sambil menonton TV sempat kaget sebentar, lalu kembali menatap TV, mengacuhkan kehadirannya.


Siska berdiri di depanku, tepat di depan TV. Menutup setengah layar televisi dengan tubuhnya. " Apa lagi yang ingin dia lakukan?" pikirku.


" Kalau dengan kelembutan pun kau tidak bisa ku dapatkan, maka aku akan gunakan kekerasan.'


Hohoho... Dia mengancam ku rupanya


" Silahkan."


Siska memulai aksinya, menarik paksa kedua lengan bajunya hingga robek, menurunkan celana pendeknya tak beraturan dan mengacak - acak rambutnya.


" Apa yang mau kau lakukan?"


Tanyaku pura - pura bodoh, Siska tersenyum penuh kemenangan.


" Tidak Dimas!! Tidak!! Jangan sakiti aku!!"


Siska berteriak - teriak gak jelas, berbuat seolah - olah sedang menolak seseorang yang ingin melakukan sesuatu padanya, bergerak ke sana kemari seperti orang gila, aku diam memperhatikan tingkahnya.


" Ampun Dimass!! Ampunnnn!! Jangan lakukan ini padakuuu!! Aku mohonnnn!!!"


teriakannya bertambah keras, lalu dia berlari menuju pintu, hendak membuka pintu kamarku dalam keadaan seperti orang yang baru saja diperkosa.


" Sis... Siska!"


Dia berhenti sebentar, masih berteriak - teriak gak jelas dan melihat ke arahku.


Aku hanya duduk diam di atas tempat tidur dan menunjuk 2 CCTV yang ada di kamarku. Matanya mengikuti arah yang aku tunjuk, lalu... suara teriakannya hilang... Bodoh... Wajahnya seperti orang bodoh sekarang, melihat padaku yang masih santai.


" Kau yakin mau mempermasalahkan ini di depan mama?"


Tanyaku sambil tersenyum menertawai penampilannya yang sudah seperti orang gila. Dia cepat tersadar dan memperbaiki penampilannya, lalu membuka pintu kamar dengan kasar.

__ADS_1


" Tutup kembali pintunya ya Sis..."


Pesanku sebelum dia keluar dari kamar, Siska membanting pintu kamarku dengan keras. Aku tertawa terbahak - bahak sambil menggeleng - gelengkan kepala... Siska ... Siska...


__ADS_2