
*
Dimas baru pulang ke rumah ketika adzan subuh berkumandang, wajahnya nampak sangat letih. Aku tidak menanyakan hal apapun padanya, selain masih terlalu pagi untuk sebuah keributan, aku juga kasihan padanya. Aku biarkan dia langsung beristirahat begitu masuk ke dalam kamar. Dia langsung tertidur begitu bertemu dengan pembaringan. Aku cepat ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk anak - anakku yang akan berangkat sekolah. Zya baru saja tertidur lagi, setelah membangunkanku pukul 04.00 tadi.
Pikiranku mengembara pada 4 foto tadi, entah siapa yang mengirimkannya dan apa maksudnya, aku tak tahu.
" Mmmhh... asin nasi gorengnya. Azi gak suka."
Aku langsung melihat ke Azi yang duduk di meja makan. Kusendokkan nasi goreng yang tadi aku masak dan ku suap ke mulutku, " uihh " aku cepat berlari ke dapur dan memuntahkannya lagi ke tempat sampah. Pikiran dan hatiku sedang kalut, sehingga memasak nasi goreng saja bisa gagal. Aku kembali ke ruang makan, menemui anak - anakku.
" Sarapan di sekolah aja ya, maaf..." kataku menyesal sambil membawa nasi goreng itu kembali ke dapur dan membuangnya.
Kedua anakku langsung menyambar tasnya dan berangkat sekolah dengan ojol pesanannya masing - masing.
Aku kembali ke dapur dan membersihkan sisa sarapan anak - anakku tadi, tiba - tiba terdengar tangisan Zya dari dalam kamar. Aku melangkah cepat ke kamar, takut Dimas terganggu dengan suara tangisnya. Begitu tiba di dalam kamar, aku melihat Dimas sedang menggendong Zya sambil bersenandung kecil, wajahnya masih terlihat letih, aku mendekatinya dan berniat mengambil Zya dari gendongannya.
" Sini Dim, biar aku gendong." pintaku dengan suara pelan. Dimas lalu menyerahkan Zya ke tanganku.
" Istirahatlah, kamu pasti letih bersenang - senang semalaman." kataku setelah Zya berada dalam gendonganku. Dimas cepat menatap kesal kepadaku. Aku membawa Zya keluar kamar, mengacuhkan tatapannya.
Aku langsung memandikan Zya dan duduk menyusuinya di halaman belakang, menetralisir perasaan marah di hatiku. Bertanya - tanya dalam hati " apa kekuranganku? Aku sudah melayaninya sepenuh hatiku, aku menghormati dan percaya padanya seutuhnya, apa itu belum cukup?" Air mata mengalir dari sudut mataku, aku mengusapnya cepat lalu menunduk pada Zya yang kembali tertidur.
" Aku minta maaf."
Aku terkejut mendengar kedatangannya yang tiba - tiba, lalu cepat berusaha tenang
" Minta maaf untuk apa?" tanyaku balik
" HPku mati, aku tidak bisa memberitahumu kalau aku kedatangan temanku dari Jakarta dan menemaninya semalaman, maafkan aku." jawabnya pelan
" Menemaninya sampai ke hotel dan bersenang - senang di sana?" tanyaku lagi
" Hanya menemaninya mencari hotel, Di... bersenang - senang apa maksudmu?" tanyanya balik, nada suaranya sudah tinggi.
Aku bangkit dan berbalik badan menatapnya,
" Mungkin kau sudah bosan dengan roti coklat, ingin sekali - sekali mencoba roti strwaberry yang asam manis dan berwarna merah, lebih menantang adrenalinmu melihat warna merahnya dan rasa asamnya yang menggoda, aku mengerti dan aku ikhlas."
Aku langsung melangkah pergi meninggalkannya kebingungan, wanita itu mengenakan dress merah ketat semalam, Dimas mungkin sedang mengira - ngira bagaimana aku bisa tahu warna dress yang dikenakan oleh perempuan yang bersamanya tadi malam. Aku keluar dari kamar setelah membaringkan Zya di tempat tidur.
" Kira - kira kalau kau melihat fotoku seperti ini, apa yang ada di otakmu?"
Aku menunjukkan foto yang ada di ponselku, Dimas cepat menyambar ponselku dan memperhatikan dirinya yang sedang tersenyum dan berjalan berdampingan dengan wanita yang mengenakan dress merah.
__ADS_1
" Kalau kau memang suka yang seperti itu, aku akan menjadi seperti itu. Agar kau tidak lagi pulang pagi dan melupakan aku sedang menunggumu di rumah, kau tidak perlu mencari yang lain di luar sana Dim!"
Aku mulai meluapkan emosiku, menahan suaraku mengingat Zya sedang tertidur.
" Tidak, aku tidak melakukan apa - apa Di, aku berani bersumpah." katanya cepat.
" Kenalkan aku padanya!" pintaku cepat
" Ok, aku akan mengenalkanmu padanya. Kau ikut aku siang ini ke toko."
" Ok, ayok."
**
Aku ikut menemani Dimas ke toko bersama Zya, semua pegawai toko menyambut kedatangan Zya, berebut ingin menggendongnya, tapi Dimas melarang. Dimas memang sangat overprotective pada anak - anak, tapi aku justru menyukai itu.
" Tamu bapak sudah menunggu di dalam pak." kata salah seorang pegawai, Dimas mengangguk. Dia mengalungkan tangan di pinggangku dan mengajakku masuk ke ruanngannya.
" Dimas!!"
Seorang perempuan langsung menubruk tubuh Dimas begitu kami baru saja berada di dalam ruangan, bahkan Dimas belum menutup pintu. Dimas kaget, tubuhnya tidak siap menerima tubuh perempuan itu, hampir saja dia menjatuhkan tubuhnya padaku yang sedang menggendong Zya.
" Siska..." katanya kesal, melihat langsung ke arahku dan Zya. Perempuan yang Dimas panggil Siska itu tidak perduli, dia memeluk Dimas dan mengganti posisi berjalanku tadi dengan menggeser tubuhku dengan tubuhnya.
Dimas membawanya masuk ke tengah ruangan, lalu kembali ke tempatku yang berdiri sangat rapat ke dinding bersama Zya. Dimas meraih pinggangku dan menutup pintu ruangan.
" Owhh... sorry... aku tidak melihatmu bersamanya tadi..." ujar Siska sambil mendatangiku dan mengambil Zya dari gendonganku dengan cepat.
" Halo... baby Zi... how are you girl?" katanya tepat di depan wajah Zya, Zya berteriak dan menangis. Dimas tertawa terbahak - bahak dan mengambil Zya dari gendongannya.
" Baby aja takut padamu Sis..." Dimas menepuk - nepuk pelan pantat Zya, tangis Zya berhenti, berganti dengan tawa melihat wajah Dimas.
" Karena dia belum mengenalku Dimas... Nanti juga dia akan menyayangiku."
Siska berjalan mendekat, sangat dekat dengan Dimas. Dia bahkan menempelkan dadanya pada lengan Dimas, aku memaki dalam hati.
" Ehemmm..."
" Owh... Siska, ini istriku Dirgana... Di, ini Siska salah satu sahabatku." Dimas mulai memperkenalkan kami, kami sama - sama tidak memberi respon satu sama lain, hanya saling berpandangan sebentar lalu membuang pandangan tanpa senyum. Siska kembali merapatkan tubuhnya pada Dimas, sungguh tidak sopan.
Aku melangkah ke tengah, memisahkan jarak tubuh mereka yang sangat dekat.
" Permisi... "
__ADS_1
Siska menatapi aku dengan kesal,
" Aku mau pulang."
Dimas menatapku aneh,
" Kita kan baru sampai yank... Lagian Siska masih di sini."
" Aku capek, kau juga semalam tidak pulang kan? Aku mau pulang."
Zya mulai menangis lagi, aku mengambil Zya dari gendongan Dimas dan berjalan meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan
" Di... Di..."
" Dia mungkin beneran capek Dim.. Antarlah dia dulu, aku kembali ke hotel saja... ok." Siska mulai sok perhatian dengan nada bicaranya yang manja.
" Ok, kau ke hotel lah dulu."
***
" Sikapmu kekanak - kanakkan Di."
Dimas mulai bersuara setelah dari tadi kami hanya diam memendam bara.
" Sikapku yang mana yang kekanak - kanakkan menurutmu Dim? Beritahu aku!" jawabku lantang.
" Kau baru saja berkenalan dengannya, tidak bisakah kau bersikap manis sedikit padanya. Dia temanku, orangtuanya banyak sekali membantuku di awal - awal aku membangun toko. Aku berhutang budi pada orangtuanya Di."
" Lalu, saat ini kau membalas budi dengan cara membiarkan saja dadanya melekat di tubuhmu? Atau memang itu yang kau mau?"
Dimas membantung stir dan mengumpat,
" Kau memakiku Dim? Seberharga itu kah dia buatmu, sehingga kau sanggup memakiku?"
Dadaku sudah turun naik menahan marah, sedih dan kecewa.
" Cemburumu tak beralasan... Dia memang seperti itu, hidup bebas adalah life stylenya. Tapi, tidak semua laki - laki juga akan dia ajak untuk menemaninya tidur, apalagi aku."
Dimas berteriak tepat setelah mobil kami berhenti di depan rumah.
" Semua orang bisa berubah, kapanpun. Seperti kau yang kemarin masih lembut dan mencintaiku, tapi hari ini kau memaki dan membentakku. Terserah Dim... Lakukan saja apa yang kau mau lakukan, aku akan diam."
Aku langsung turun dari mobil dan masuk ke rumah sendirian. Dimas membawa mobilnya pergi meninggalkan aku, itu benar - benar menyakitkan buatku.
__ADS_1