
*
Om Wisnu duduk si sofa bersama Siska yang masih menangis. Matanya berkilat tajam padaku yang duduk di kursi berhadapan dengannya. Aku masih menggunakan otakku untuk memikirkan apa yang aku lakukan tadi pada Siska, tapi tetap aku tak mampu mengingatnya. Hanya wajah Di yang sedang tersenyum yang memenuhi otakku.
" Kau harus bertanggungjawab Dimas."
Aku cepat menoleh pada om Wisnu dan menggeleng
" Aku tidak melakukan apapun pada Siska om... Aku bersumpah."
Aku mulai membela diri
" Aku melihatnya sendiri Dimas, kau dan anakku berada dalam satu kamar dalam keadaan telanjang, lalu apa yang kalian lakukan berdua dalam keadaan telanjang, main catur?"
Om Wisnu berteriak marah.
" Aku tidak mau tau, kau harus menikahi Siska secepatnya."
Aku membelalakkan mata, terkejut dengan kalimat om Wisnu barusan. Dia tau anaknya sering berganti pasangan selama ini, tak satupun dari laki - laki yang sudah meniduri anaknya, dimintanya untuk menikahi. Kenapa aku?
" Aku sudah punya istri om... aku mohon, aku sudah punya keluarga dan aku yakin sekali tidak melakukan apa - apa."
Siska menangis dan berteriak - teriak tidak jelas,
" tenang sayang... tenang nak... "
Om Wisnu menenangkannya, memberinya pelukan dan membelai lembut kepalanya.
" Aku tidak mau tau, kau sendiri yang bicara pada mama dan istrimu atau aku yang melakukannya?"
Aku mengacak - acak kepalaku sendiri, merasa sangat ***** hari ini. Aku tidak melakukan apa - apa, aku yakin.
**
Dirgana
Sudah 2 jam Dimas berada di kamar mandi, aku jadi takut terjadi sesuatu padanya di dalam.
" Dim... Dimas..."
Tiba - tiba Dimas membuka pintu kamar mandi, aku terkejut. Wajahnya begitu kusut sejak pulang tadi. Aku jadi bertanya - tanya apa yang sebenarnya terjadi.
" Kamu sakit Dim?"
Aku mencoba memancingnya untuk bercerita, tapi dia hanya diam, menatapku dengan sendu, ada genangan sangat tebal di matanya, yang kemudian tumpah membasahi pipinya. Dimas menubrukkan tubuhnya padaku, memelukku erat sambil terisak, tapi tak mengucapkan apapun. Aku membalas pelukannya dalam kebingungan.
" Kamu ada masalah di toko yank?"
__ADS_1
tanyaku lagi, lagi - lagi dia menggelengkan kepalanya.
" Peluk aku Di... Aku mau kau memelukku terus...
Jangan tinggalkan aku, sebesar apapun kesalahanku, sesulit apapun kondisiku... aku mohon... jangan pernah tinggalkan aku."
Aku mulai merasa ada sesuatu yang terjadi pada Dimas, tapi kenapa dia tidak mau membicarakannya padaku. Seberat itu kah masalah yang sedang dia hadapi. Aku menambah erat pelukanku padanya.
" Berjanjilah kalau kau akan selalu menemaniku Di... Hanya kau satu - satunya perempuan yang aku cintai, tolong percaya aku, bukan orang lain."
Kembali kata - katanya meninggalkan pertanyaan besar di otakku,
" Apa yang terjadi Dimas?? Ceritakan padaku."
Dimas hanya diam memelukku
" Seberat apapun masalahmu, sebesar apapun kesulitan yang sekarang kau hadapi, tolong ceritakan padaku. Jangan sampai aku tau dari orang lain sebelum kau."
Tangisannya semakin kencang, pelukannya semakin erat, kenapa Dimasku begitu rapuh sekarang? Apa yang sedang membebaninya?
Beragam pertanyaan muncul meminta jawaban, tapi pada siapa aku harus bertanya kalau Dimas saja tidak mau menceritakannya
***
Sudah seminggu Dimas uring - uringan. Dia pun sudah tidak ke toko selama seminggu ini. Ponselnya sengaja dimatikan, tapi dia masih bisa tertawa ketika bersama anak - anak. Saat malam datang, dia memintaku memeluknya terus sampai pagi, tanpa melakukan aktivitas ranjang apapun. Berulang kali aku memancingnya untuk bercerita, tapi dia selalu mengelak untuk menceritakannya.
" Kalian bertengkar lagi?"
Mama langsung bertanya ketika kami sudah duduk di ruangan keluarga bertiga. Aku tersenyum dan menggeleng cepat. Mama menghela nafasnya lega.
" Ada yang ingin Dimas ceritakan pada mama dan Di malam ini."
Dimas sepertinya sudah memutuskan untuk jujur, tapi kenapa bawa - bawa mama juga?
" Tapi sebelumnya, Dimas ingin mama dan kamu Di... "
Dimas berhenti sebentar dan menatapku sedih,
" Dimas ingin kalian berdua percaya pada Dimas kalau Dimas sangat menyayangi keluarga kecil Dimas. Di, Iza , Azi, Zya... Aku sangat mencintai kalian, sangat."
Dimas kembali menangis, mama dan aku saling berpandangan dan kembali menatapnya sedih.
" Apa yang terjadi nak.. jangan buat mama mati penasaran dengan kata - katamu ini... langsung saja ceritakan apa yang sedang terjadi?"
Tiba - tiba sebuah ketukan di pintu terdengar. Kami bertiga melihat ke arah pintu secara bersamaan. Aku langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu hendak melihat siapa yang datang.
" Mana Dimas!"
__ADS_1
Siska berdiri di depan pintu rumahku dengan gayanya yang pongah bersama seorang laki - laki tua yang sedang menjelajahi tubuhku dengan matanya berdiri di sampingnya.
" Ada urusan apa kau dengan suamiku?"
Aku menjawab pertanyaannya dengan kesal.
Siska lalu mendorongku, aku yang tidak siap dengan itu langsung tersandar di pintu. Laki - laki tua itu mengikutinya masuk ke rumahku, matanya belum dia palingkan dariku.
" Apa - apaan ini?"
Mama berteriak melihat perlakuan Siska padaku. Tapi Siska mengacuhkan mama.
" Apa yang kau lakukan di sini Wisnu, mau apa kau?"
Mama sepertinya sangat mengenal Siska dan om - om tuanya. Dimas berdiri mematung dengan wajah kesal yang tertahan menatap kedua orang itu.
" Ohhh... calon bisan ku... tak bisa kah kau berkata sedikit lembut padaku."
Mama membelalakkan matanya, begitu juga aku. " calon bisan " katanya?
" Mimpi kau Wisnu. Anakku sudah punya istri dan mereka bahagia. Pergi saja lah kau ke neraka menjemput sahabatmu."
Laki - laki tua itu tertawa terbahak - bahak memdengar ucapan mama.
" Jadi kau belum juga memberitahu istri dan mamamu Dimas?
Dia bertanya pada Dimas yang masih diam mematung di samping mama. Aku dan mama menoleh pada Dimas, meminta jawaban.
" Aku akan sampaikan pada mereka om... Aku kan sudah bilang pada om."
Dimas mulai bersuara
" Aku sudah memberikan banyak waktu padamu Dim... Aku tidak mau anakku keburu hamil baru akan kau nikahi."
Aku dan mama kembali menoleh pada Dimas, hamil? apa - apaan ini?
" Dimas!"
Mama membentak Dimas menuntut penjelasan.
" Dia sudah meniduri anakku. Aku sendiri saksinya. Mereka berada di kamar hotel anakku dalam keadaan telanjang. Sekarang aku datang meminta pertanggungjawaban."
Wajah Dimas langsung berubah sangat takut dan bingung, tatapannya berpindah dariku ke mama berulang - ulang.
" Dimas bisa jelaskan semuanya ma... Ini tidak seperti yang mama kira... Dimas mohon percayalah pada Dimas... Di..."
Dimas memohon pada kami berdua, mama cepat memegang dadanya, matanya melotot tak percaya pada apa yang sudah di dengarnya. Aku diam seribu bahasa, tubuhku seperti sedang tidak menginjak tanah. Tiba - tiba mama jatuh tak sadarkan diri di kaki Dimas, untung Dimas cepat menangkap tubuhnya. Aku berlari dan berjongkok di samping mama.
__ADS_1
" Mama... bangun ma... ampun Dimas ma... mama banguuunnnnn...."