Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
ISTRI?


__ADS_3

*


" Istri?"


Dimas dan Andi berbalik badan berbarengan, mata mereka melotot melihat kehadiran Di.


" Maksudnya apa?"


Di menatap tajam pada kedua laki - laki yang sekarang sedang berdiri menatapnya.


" Bisa tolong jelaskan?"


Di menekan suaranya, meminta jawaban.


Dimas dan Andi diam, lalu saling berpandangan. Kemudian, Dimas meminta Andi meninggalkan mereka berdua. Meski agak ragu, tak urung Andi mengikuti permintaan Dimas dan melangkah menjauh.


" Kemarilah Di, kita bicara."


Di berjalan mendekati Dimas dengan mata masih menatap tajam. Dimas mengajak Di duduk di bangku santai tempat dia dan Andi duduk sebelumnya. Di menolak, tubuhnya tidak bergerak dengan mata masih menatap Dimas.


" Kau ingin mendengarkan penjelasanku kan, duduklah."


Dimas mulai meminta, Di tak kuasa menolak lalu mengikuti kemauan Dimas. Di duduk dengan tubuh masih menghadap Dimas. Dimas yang dilanda ketakutan akan kondisi Di, merasa bingung harus memulai penjelasannya dari mana. Dimas duduk berhadapan dengan Di dan menghela nafas berat, untuk mengulur waktu.


" Kau lapar Di?"


Di mengernyitkan keningnya, merasa itu bukan jawaban yang dia minta.


" Tolong tuan jelaskan pembicaraan tuan tadi dengan pak Andi, kenapa tuan bilang saya ini istri tuan? Apa tuan sedang mempermainkan saya?"


Dimas cepat menggelengkan kepala atas pertanyaan - pertanyaan Di.


" Jangan salah paham dan mengira - ngira apapun Di, saya akan jelaskan."


Di diam, Dimas menatap dalam dan tajam ke mata Di. Tiba - tiba saja Di merasakan dorongan di hatinya untuk memeluk Dimas, tapi Di mengusir perasaan itu dengan cepat.


" Kau adalah istriku Di."


Di membalas sinis tatapan Dimas, merasa sedang dipermainkan.


" Kau mungkin lupa tempat ini, tapi tempat ini sudah menjadi saksi kapan cerita kita dimulai."


" Tidak, saya tidak pernah menikah dengan siapapun, kecuali dengan...."


" Radit Arya, aku tau."


Dimas memotong pembicaraan Di, wajahnya berubah kesal.


" Radit Arya menikahimu dan memberikan 2 buah cinta untukmu. Iza dan Azi, aku tau."

__ADS_1


" Radit Arya mempermainkanmu, menjebak Vena, yang akhirnya meninggal bunuh diri karena tidak tahan dengan pemerasan - pemerasan yang dilakukan Radit."


" Kenapa tuan bisa tau?"


" Karena kau adalah benar istriku, apa yang tak ku ketahui tentangmu Di?"


" Aku bahkan tau letak tahi lalat menonjol yang ada di atas pusarmu, bagaimana menurutmu?"


Wajah Di berubah merah karena malu pada apa yang disebutkan Dimas tentang tahi lalatnya.


" Saya tidak pernah merasa menikah lagi tuan, tolong jangan permainkan saya."


" Saya tidak mempermainkanmu Di."


Dimas melunak, hatinya meminta dirinya untuk sabar, tetap waspada pada kondisi Di saat ini.


" Kita sudah menikah, bahkan 2x pernikahan. Disinilah pertama kali aku menikahimu, setelah sebelumnya aku jatuh hati padamu, di sini lah tempatnya."


Di membuang pandangannya dari tatapan Dimas, menyisiri halaman, kursi dan pemandangan di depannya.


" Zya dan si kembar adalah anakmu Di, buah cinta kita berdua."


Suara Dimas mulai bergetar, Di mengembalikan tatapannya pada Dimas


" Itulah kenapa mereka selalu tenang bila berada di dekatmu, karena kau ibunya. Kenapa Zya memanggilmu mama, tidakkah pernah kau pertanyakan itu pada dirimu sendiri Di, Zya itu anakmu.. anak kita yank."


Di tiba - tiba merasakan sakit di kepalanya, lebih sakit dari yang tadi. Di memegangi kepalanya dengan kedua tangan, mencoba menahan sakitnya.


" Di!"


Dimas mendekati Di, berjongkok di depan Di.


" Maafkan aku Di, maafkan aku. Andiii!!! Uni!!!"


Andi cepat mendatangi Dimas dan Di yang sedang menahan sakit, wajahnya berubah pucat melihat keadaan Di.


" Siapkan mobil cepat Ndi."


Andi segera berlari keluar rumah, uni yang baru datang, menutup mulut dengan tangannya dan menangis iba melihat keadaan Di. Wajah Di sangat merah menahan sakit, matanya tertutup, mulutnya berulang kali menyebut " sakit " dan " mama ".


Dimas bangkit dan mengangkat tubuh Di, uni hanya mengikuti langkah Dimas sambil menangis.


" Uni, kami langsung pulang."


Dimas cepat naik ke mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Andi. Setelah Dimas berada di dalam mobil bersama Di, Andi menutup pintu dan berlari ke arah bangku kemudi. Mobil dengan cepat melesat membelah jalanan di malam hari, meninggalkan uni yang masih menangis sambil bertanya - tanya apa yang sebelumnya terjadi.


*


Gambar bergerak itu muncul sangat cepat, pernikahan, bercinta, anak - anak, semua tawa, tangisan, semua bergerak sangat cepat di otak Di. Menimbulkan rasa sakit yang tak tertahankan di kepalanya. Di tiba - tiba mendengar suara tangisan kedua bayi kembar dan Zya yang memanggilnya dengan sebutan " mama ", tangan Zya mencoba meraihnya tapi dia terlalu jauh untuk di raih, sesuatu seperti membawa Zya menjauh dari gapaian Di, teriakan Zya menjadi lebih keras.

__ADS_1


" Zya!!!"


Gelap


*


Dimas mengutuki dirinya sendiri sambil menangis di lorong rumah sakit. Andi yang tak kuasa menenangkannya, hanya bisa berdiri tak jauh dari Dimas dalam diam. Air mata ikut membasahi pipinya. Dia merasa sedih melihat keadaan Dimas saat ini. Dimas terlihat sangat hancur dan rapuh, belum pernah dia melihat sahabatnya ini terpuruk begitu dalam seperti sekarang.


Tak berapa lama mama Sandra datang dan melangkah cepat menuju Dimas. Wajahnya pun sudah dibasahi air mata


" Dimasss..."


Mama Sandra langsung menjatuhkan tubuhnya dan memeluk Dimas. Mereka menangis bersama, merasa bersalah atas segala rencana yang sudah mereka buat.


" Dimas udah nyakitin Di ma... Ampun Dimas ma..."


Mama Sandra menggeleng - geleng cepat, membelai kepala anak semata wayangnya


" Sabar sayang... sabar... Kita harus kuat nak..."


Mama Sandra mencoba menguatkan, meski dia sadar kalau dia tak sekuat itu.


Pemandangan seperti ini malah menambah deras air mata Andi. Dia cepat berlalu meninggalkan ibu dan anak yang sedang merasa bersalah.


*


Mama Di berdiri tepat disamping Di, matanya sudah bengkak akibat menangis terlalu lama. Dimas dan mama Sandra berdiri di seberang mama Di. Mereka bertiga memandangi wajah Di sambil menangis, berharap sesuatu yang baik lah yang akan terjadi, berharap apa yang mereka takutkan tidak terjadi pada Di.


" Kau kuat Di, kau Dirgana Putri, putri kecilku yang sangat kuat. Mama tau kau mampu lewati semua ini sayang."


Mama Sandra malah tambah sedih dan menangis kencang mendengar kata - kata penguatan dari mama Di, Dimas cepat merengkuh bahu beliau dan ikut mengalirkan air mata meski tanpa suara.


*


Dimas membuka gorden yang menutupi pintu kaca kamar Di, cahaya matahari cepat masuk menyapa seisi kamar,


" Dimmm..."


Dimas cepat membalik badannya, terkejut mendengar kata pertama yang keluar dari mulut Di. Dimas bergerak cepat mendekati Di untuk memastikan apa yang dia dengar tadi. Diam dan memperhatikan terus wajah Di.


" Panggil aku lagi sayang." Dimas meminta dalam hati, sambil terus memandangi. Tapi Di hanya diam, tak ada gerakan apa lagi suara panggilan seperti tadi. 5 menit... 10 menit... 30 menit... Di hanya diam.


Dimas mengacak - acak rambutnya, dia merasa alam bawah sadarnya menghadirkan suara Di memanggil namanya. Dimas bergerak lemah berbalik badan, melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajah dan kepalanya.


Pintu kamar mandi baru tertutup, saat pergerakan itu terjadi.


" Dimas..."


Suara Di yang sangat lemah, kalah oleh suara kran air yang baru saja dinyalakan dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2