Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
DIMAS SUDAH GILA


__ADS_3

Dimas sudah gila, pikirku. Sudah sebulan setelah kejadian di rumah peristirahatannya. Sampai hari ini, dia selalu menghubungiku. Menanyakan kabar, apa aku sudah makan, aku lagi dimana... Huffttt..


Flashback on


Aku cepat menepuk jidatnya untuk mengembalikan kesadarannya, lalu tertawa mendengar permintaannya. Berani - beraninya dia mengajakku menikah, apa dia pikir menikah itu gampang. Hanya karena dia terbawa nafsu, langsung saja dia mengajakku menikah.


" Jangan gila." kataku sambil tertawa dan mengusap wajahku dengan kasar. Dia diam dan menggaruk - garuk kepalanya.


" Udah, balik sana ke tempat tidurmu." kataku memberikan perintah. Dimas menatapku, masih diam tak bergeming.


" Jangan main - main dengan kata pernikahan Dimas... Itu janji pada Tuhan, bukan sekedar janjimu pada mama atau pada temanmu yang bisa kau ingkari." kataku pelan.


" Aku ingin melindungimu Di, apa salah?" tanyanya balik.


Aku tertawa mendengar kata - katanya, langsung teringat kejadian tadi.


" Bagaimana kau melindungiku, kalau melindungi dirimu sendiri saja kau tak mampu sayang?" kataku mengejek, kemudian menunjuk bagian - bagian memar di wajahnya.


" Kau tidak tahu saja kenapa aku tidak membalas mereka, Di.. Sudahlah." katanya kesal dan bangkit dari tempat tidur, berjalan keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan.


Flashback off

__ADS_1


Dimas


Aku baru saja kembali dari luar kota bersama Andi, ketika di sebuah lampu merah aku melihat sosok Dirgana sedang duduk di atas motornya sambil tertawa bersama beberapa orang laki - laki yang mengenakan jaket serupa dengannya. Sudah sebulan setelah kejadian itu, aku merindukannya. Aku memang sering menghubunginya, tapi belum lagi bertemu dengannya. " Di.." tanpa sadar aku mengucapkan namanya.


" Ya, apa Dim?" aku kaget mendengar Andi menjawabku.


" Apa?" tanyaku balik, sambil melihat ke arahnya.


" Kau tadi panggil aku, ya aku jawab." katanya.


" Bukan kau, botak." jawabku kesal, Andi hanya tertawa mendengar jawabanku.


" Katanya mau ke toko, ya luruslah." jawabnya bingung.


" Ke kanan sebentar." kataku lagi dan dia menuruti.


" Berhenti di depan itu sebentar ndi." kataku lagi setelah mobil mulai melaju pelan. Andi kembali menuruti, dia menepikan mobil dan berhenti tepat di samping tempat para biker itu berkumpul. Dirgana sama sekali tak menyadari kalau itu adalah aku, dia masih asyik bercanda dan tertawa bersama teman - teman seprofesinya. Aku cepat turun dan berjalan mendekati, beberapa dari mereka menyadari kehadiranku dan memberikan senyuman ke arahku, aku membalas senyuman mereka dan sedikit anggukan. Aku langsung memegang pinggang Di begitu berada di dekatnya, dia kaget dan menegakkan tubuhnya spontan begitu merasakan tanganku dipinggangnya dan melihat ke arahku cepat. Aku sadar semua yang sedang berada di sana juga menatapku bingung, tapi aku tidak perduli.


" Permisi, saya boleh bicara sebentar dengan Di ya?" kataku meminta izin. Mereka menganggukkan kepala tanpa melepaskan pandangan dari ku. Di cepat turun dari motornya dan patuh mengikuti langkahku yang masih memegangi pinggangnya. Aku melepaskan tanganku dari pinggangnya begitu kami sudah berada di belakang mobilku, lalu berdiri berhadapan dengannya yang masih bingung plus kesal. Pandanganku langsung jatuh ke bibirnya yang penuh berisi berwarna pink dan sedikit terbuka.


" Tutup mulutmu Di, atau aku akan menciumi mu di sini." kataku sambil menekan kuat hasratku untuk mencium bibir itu. Di menurut sambil merengut kesal.

__ADS_1


" Aku sewa ojekmu nanti sore, bisa kan?" kataku.


" Mau kemana?" tanyanya kesal.


" Gak perlu tahu, ikut aja. Aku juga membayar sewanya dengan sangat pantas kan?" kataku lagi, mengingatkannya kalau aku sudah memberikan beberapa lembar kertas berharga berwarna merah padanya setelah menemaniku dan mengantarkanku pulang ke rumah setelah kejadian malam itu. Dia diam, lalu menunduk dan mengangguk pelan.


" Jemput aku di rumah pukul 07.00, OK."


kataku padanya, seperti sedang memberikan perintah pada anak buahku. Di menjawab dengan anggukan. Aku menepuk bahunya dan menggeser tubuhnya pelan, menunjukkan kalau aku memintanya kembali pada teman - temannya. Dia menggaruk kepalanya dan melangkah pelan menjauhiku,


" Di!" Dia cepat membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku


" Jangan kenakan jaket itu dan on time ya." kataku kemudian. Dia mengangguk lagi, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Aku langsung iba melihat perubahan di wajahnya, " maafkan aku Di... " kataku dalam hati. Setelah itu, aku langsung masuk ke mobil dan meminta Andi melanjutkan perjalanan menuju toko.


Dirgana


Dimaaasss!! aku menahan kesal atas apa yang sudah dia lakukan padaku di depan teman - temanku tadi. Teman - temanku langsung menatap wajahku begitu aku kembali ke motor. Aku membesarkan bola mataku untuk melawan tatapan mereka, lalu seperti ada yang mengkomandoi, tatapan mereka serentak beralih.


Kenapa aku diam dan mengiyakan saja permintaannya tadi, sekelebat terbayang catatan biaya masuk SMP yang masih aku simpan di saku celanaku. Aku sendiri sedang bingung sebenarnya, kemana aku harus mencari uang 2 juta untuk biaya masuk sekolah anak sulungku. Tapi, tiba - tiba Dimas datang dan menawariku sesuatu yang sedang aku butuhkan. Aku hanya butuh 1 juta lagi sebenarnya, karena uang yang diberikannya kemarin masih ada. Ya sudahlah, mungkin ini sudah jalan yang harus aku tempuh. Toh kami tidak melakukan hal - hal yang berlebihan, aku hanya menemaninya saja.


Aku memutuskan untuk pulang dan beristirahat sekalian meminta izin untuk tidak pulang lagi malam ini, otakku berpikir mencari alasan yang tepat. Aku pergi meninggalkan teman - temanku, dengan alasan cari orderan sambil jalan. Mereka seperti tahu kalau itu hanya alasanku saja, mereka hanya berpesan agar aku hati - hati dan motorku pun melaju meninggalkan basecamp.

__ADS_1


__ADS_2