Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
AKU INGIN PERGI


__ADS_3

*


Aku duduk sambil menundukkan kepalaku, lagi - lagi sifat kekanak - kanakkanku membuatnya sakit. Padahal dulu aku sangat ingin melindungi dan membuat mereka bahagia, tapi yang terjadi malah seperti ini.


" Kalian bertengkar?" mama mulai menginterogasiku. Aku menjawabnya dengan anggukan


" Kenapa sih Dimmmm... Keras kepalamu muncul lagi." katanya menyalahkanku


" Aku harus apa ma... Tiba - tiba saja aku membenci anak - anaknya." mama diam mendengar jawabanku, merasa tersinggung juga mungkin dengan kata - kataku. Aku akui, sikap kami pada Azi dan Iza berubah setelah kami tahu mereka anak siapa.


" Hmmmhhh... Iya Dim, padahal mereka tidak tahu apa - apa?" mama mulai menyadari.


Otakku langsung flasback ke masa remajaku yang tanpa papa mendampingi. Beliau asyik dengan istri mudanya sehingga mengacuhkan keberadaanku. Aku sangat menyayanginya, bahkan sampai beliau wafat pun aku belum sempat mengucapkan itu.


Azi bahkan tidak tahu wajah ayahnya, apalagi mendapatkan kasih sayangnya. Kehadiranku lah yang membuatnya tahu arti kasih sayang seorang ayah, tapi hanya beberapa bulan saja aku sudah langsung berubah. Aku sadar ini pasti menyakitkan buat Di, karena selama ini dialah ibu sekaligus ayah buat anak - anaknya. " Maafkan aku lagi Di..." kataku dalam hati.


Aku melirik mama yang diam termenung di sampingku, bulir - bulir airmata mulai membasahi pipinya. Kami seperti sama - sama


sedang disadarkan kalau sikap kami salah. Aku mengambil tangan mama dan menariknya ke dada, beliau menatapku dan tersenyum sambil memiringkan kepalanya di bahuku.


" Mereka anak - anak baik Dim, Di sudah susah payah menjaga dan mengajarkan kebaikan pada mereka, sendirian, tapi karena ayahnya kita malah membenci mereka. Tidak adil." mama menyalahkan dirinya sendiri. Aku kembali meremas tangan mama dan menangis bersama menyesali semuanya.


**


Di sudah sadar dan harus dirawat beberapa hari. Kejadian semalam membuat kami harus kehilangan calon bayi kami, tapi Di hanya diam saat mendengar berita itu, aku tak bisa menebak apa yang sedang berkecamuk di otaknya saat ini. Dia masih diam dan mengacuhkan aku. Mama memilih untuk pulang setelah melihat Di sadar, beliau sudah letih menunggu semalaman bersamaku disini.

__ADS_1


" Sepertinya kita harus segera akhiri semua ini Dim..." aku kaget mendengar ucapannya yang tiba - tiba.


" Diii...." aku berjalan ke arah tempat tidur agar bisa lebih dekat dengannya, tapi


" Berhenti di situ Dim." ucapnya kemudian, aku langsung menghentikan langkahku.


" Itu bukan solusi sayang... Kita baru kehilangan anak kita." kataku mengingatkan.


" dan aku tak mau kehilangan anak - anakku yang lainnya" jawabnya pelan


" Biarkan aku kembali ke rumahku, kembali ke duniaku, aku kuat bersama mereka selama ini dan aku yakin aku masih mampu berdiri tanpa uangmu." sambungnya. Kata - katanya seperti bongkahan batu besar yang menghantam kepalaku, kepalaku mendadak sakit karena semua ini.


" Apa kau tidak menyayangi aku lagi Di?" tanyaku


" Aku membesarkan mereka sendirian, mereka adalah hidupku. Jangan berani - berani bilang kalau kau menyayangiku, sementara kau tidak bisa menerima kehidupanku." tambahnya


" Ok Di, Ok... aku minta maaf, aku menyadari kalau aku salah. Tolong jangan lakukan ini padaku. Aku menyayangimu Di, tolong jangan jauhkan dirimu dariku." pintaku padanya. Tapi Di hanya diam tak bergeming.


" Keputusanku sudah bulat Dim, menjauhlah dariku." Dia bergerak membelakangi aku, seperti tak perduli kehadiranku. Aku benar - benar bingung dalam keadaan ini dan memilih keluar dari kamar. Aku berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobilku, lalu pergi menjauh dari RS tempat Di dirawat.


***


" Di!!" aku terjaga dan langsung duduk, mimpi buruk sudah membangunkan aku. Aku melirik jam yang melingkar di tanganku, setengah tujuh. Huffttt... sudah lama sekali aku tertidur di sini. Aku turun dari tempat tidur dan berjalan perlahan menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi dan mengambil HPku yang tergeletak didekat bantal. Sebuah notifikasi tertera disana, mama menelponku sebanyak 50 kali. Aku langsung menelponnya kembali.


" Halo ma," kataku begitu terdengar sebuah suara di seberang

__ADS_1


" Kemana aja kamu Dimaaaassss??? Ihhhh..." mamaku berteriak kesal


" Istirahat ma, ketiduran." jawabku sambil memandangi seisi kamar yang aku bayar hanya untuk tidur sebentar.


" kenapa ma?" sambungku bertanya.


" Di pamit untuk pergi tadi. Dia memaksa keluar dari RS, langsung kesini. Mama telponin kamu tapi kamu tidak menjawab telpon mama!!" Aku langsung memasukkan HPku ke saku celana, mengenakan sendal dan cabut dari hotel.


****


Aku menyapu ruangan kamarku dengan pandangan. Semua masih ditempat yang sama, mataku tertuju pada sebuah HP di atas meja rias Di. Aku berjalan ke sana dan mendapati beberapa CC yang selama ini Di pegang beserta HP yang baru aku belikan untuknya. Sebuah cincin yang aku berikan saat pernikahan pun ditinggalkannya, Di benar - benar ingin menjauh dariku.


Flashback on


Aku mengarahkan mobilku ke rumah mama Di, beliau masih menyambutku dengan ramah. Meski setelah itu, aku tak temukan apa yang aku cari disana.


" Di hanya pamit dan membawa anak - anaknya bersamanya Dim. Mama tidak tanyakan apa - apa padanya, dia lebih banyak diam." kata mama sambil menahan tangisnya.


" Maafkan Dimas ma..." kataku menyesal.


" Nggak pa pa Dim, tak ada yang bisa merubah takdir. Lepaskan dia daripada harus selalu menyakitinya, sudah terlalu banyak kesakitan menghantamnya Dim... Jadi, biarkan saja dia pergi."


Flashback off


Aku menunduk dalam, menjatuhkan tubuhku, airmataku mengalir, tangisku pecah. Aku sudah begitu menyakiti hatinya, sementara dia selalu berusaha membahagiakan aku. " maafkan aku Di... Aku mohon kembalilah padaku sayang..." pintaku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2