
*
" Lalu?"
" Ya... maksudku, haknya kan hanya di hari Sabtu dan Minggu. Ini belum hari Sabtu, berarti kau masih hakku."
Aku berbalik badan dan menghadap ke arah Siska.
" Kenapa sekarang sang perebut hak yang malah meributkan soal hak?"
Emosiku mulai terpancing.
" Dimaaas..."
Aku cepat berbalik badan lagi, menatap Di yang memanggil namaku pelan dan berjalan mendekatiku. " Tuhan... aku sangat merindukannya." kataku dalam hati.
" Tenang saja Sis... Aku tidak akan merebut hakmu, seperti perempuan di luar sana yang suka merebut hak seorang istri. Santai saja ya... "
Di lalu melingkarkan tangannya ke tanganku, desiran hangat cepat melaju di sekujur tubuhku.
" Kau capek yank? Duduklah dulu, biar aku yang menggendong Zya."
Aku cepat bergerak menjauhkan tanganku yang sedang menggendong Zya, Di tersenyum dan menepuk bahuku.
" Ya sudah... kalian istirahatlah dulu."
Mama tersenyum melihat tingkah kami, aku melihat cepat pada mama, aku baru saja bertemu Di, malah di suruh cepat istirahat.
" Ma..."
Mama melotot padaku.
" Apa, kau pikir Di dan Zya tidak capek? Bawa mereka ke kamar sekarang. Mereka butuh istirahat."
Aku membelalakkan mata pada mama, lalu pada Di, mereka berdua tersenyum padaku.
" Aku kasihan pada mama Dim... Beliau sudah tua, aku akan membantu mama menjaga Siska di sini, apa kau keberatan?"
Aku dengan cepat menggelengkan kepalaku.
" Apa - apaan ini? Ma... Dimas..."
Di melihat Siska, lalu berjalan ke arah Siska.
" Aku hanya ingin menolong mama koq Sis... Aku janji akan selalu commit pada perjanjian. Aku tidak akan mengganggu waktumu dan Dimas sesuai hari yang dijanjikan. Aku janji."
Di mengangkat jari telunjuk dan tengahnya bersamaan.
" Tapi kalian akan tidur bersama kan? Setiap malam?"
" Kalaupun aku tidak disini, bukankah Dimas juga akan tidur di kamar kami kan Sis? Lalu, bedanya apa?"
" Kalian gila... gila kamu Di... Maaaa... tolong jangan lakukan ini padaku."
Mama memandangi kami bertiga, lalu
" Kalau Di tidak tidur di kamar Dimas, lalu dia harus tidur dimana? Barang - barangnya semua ada di sana... Aahhhh... Sudahlah Sis, yang penting Dimas akan selalu menjagamu, kami semua akan menjagamu."
Siska baru akan melanjutkan perdebatan,
" Mama capek, kalian masuklah ke kamar masing - masing."
Mama berlalu cepat ke kamarnya. Di kembali melingkarkan tangannya di lenganku dan mengangguk, aku sangat hapal kode itu. Kami melangkah bersama menuju kamar kami, meninggalkan Siska yang berteriak - teriak memanggil namaku.
" Keluarga ini sudah gilaaaaa!!!"
" Berisik!! Kau yang sudah buat kami gila, masuklah ke kamarmu cepat!"
brakk
Pintu kamar mama tertutup dengan keras, Siska diam.
**
__ADS_1
" Jadi, mama sudah tau semua ini?"
Di mengangguk, aku menundukkan kepalaku. Aku sangat malu pada mertuaku, masih saja belum bisa menepati janjiku untuk terus menjaga Di.
" Makanya mama setuju untuk tinggal di rumah menemani Iza dan Azi selama aku dan Zya disini. Lagipula setiap Sabtu dan Minggu kita akan ke rumah kan?
Aku mengangguk cepat, tidak mungkin kami mengabaikan kedua anak kami.
" Mau kemana?"
Aku langsung menahan Di yang tiba - tiba berdiri.
" kamar mandi Dimassss... ihhh, apaan sih?
Aku tersenyum menanggapi jawabannya.
Tidak lama kemudian, Di keluar dari kamar mandi. Mataku melotot kaget dengan kejutan kedua yang dia buat malam ini. Di yang berjalan mendekatiku mengenakan lingerie hitam tipis dengan menonjolkan hampir seluruh isi dadanya, membuatku tiba - tiba susah bernapas. Aku menelan salivaku dengan susah payah. 3 minggu aku tidak melihat pemandangan ini, tentunya aku kaget dan bahagia melihatnya sekarang.
Di berdiri di depanku yang sedang duduk mengaguminya. Aku harus menengadah untuk dapat melihat jelas puncak gunung tanpa hutan, bukit kembar tanpa dedaunan, yang semakin montok itu.
Dari tempatku duduk, aku juga bisa melihat bagian tubuhnya , yang selalu memberikan kenikmatan buatku setiap memasukinya, sudah tanpa penutup, siap menerima kehadiranku.
" Kau lapar Dim?"
Aku dengan cepat menarik pahanya, menuntunnya untuk duduk di atas pahaku sambil membuka kakinya. Cepat menyatukan bibirku dengan bibirnya, melahap rakus bibirnya yang juga memberikan perlawanan, tangannya menahan kepalaku dari belakang, membuatku ingin berlama - lama menjelajahi mulutnya.
Aku cepat menarik celana pendekku dan melemparkannya sembarangan, mulutku sudah sampai di gunung kembar, memainkan puncak gunung dengan lidah. Di lalu mengangkat sedikit pinggulnya dan menyatukan tubuh kami perlahan,
" Hmmmmmhhhh... Dim...."
" Ahhhhhh.... iya yank...."
Di bergerak turun naik dengan cepat, terlalu lama tidak menyatu membuat kami sama - sama merasa ingin cepat tiba di puncak...
Di, menjepit pahanya di tubuhku, memeluk tubuhku dengan erat. Aku mengencangkan peganganku di pinggangnya, menahan tubuh Di tetap di posisi sangat menempel dan menyandarkan kepalaku di dadanya.
Denyutan dari dalam tubuh Di menambah nikmat yang aku rasakan.
Lama kami berpelukan seperti itu, mengatur nafas kami yang memburu, lalu saling berpandangan, kening kami bersatu.
Di mengecup lembut bibirku.
" Aku juga yank... "
Lalu kami kembali berpelukan.
Ketukan di pintu yang tiba - tiba sudah mengganggu kemesraan yang tadi di bangun. Kami saling berpandangan, sudah bisa menebak siapa yang ada di balik pintu.
Di melepaskan tubuhnya pelan - pelan dari tubuhku. Aku menengadah dan menutup mata. Di menarik selimut dari atas tempat tidur dan menutupi bagian tubuhku yang hanya miliknya. Dia berjalan ke pintu setelah menurunkan lingerienya secara asal dan merapikan sedikit lingerie yang menutup dadanya.
***
Dirgana
Aku merapikan lingerieku dengan sembarangan, lalu membuka pintu kamar yang tadi di ketuk dari luar.
Siska, yang berdiri di balik pintu, melotot melihat penampilanku. Lalu, dia memiringkan kepalanya untuk melihat ke dalam, aku sengaja membuka lebar pintu kamar agar dia bisa melihat Dimas yang sedang duduk dengan kaki terbuka lebar, menengadah hanya di tutupi selimut pada bagian intimnya saja. Matanya langsung merah menahan amarah.
" Apa yang kau lakukan padanya?"
Aku tertawa mendengar pertanyaannya.
" Meminta hakku, apa lagi?"
" Ini bukan harimu Di, kau ingat itu."
" Tapi dia dan seluruh tubuhnya adalah hakku, salahnya dimana?"
" Dia harus menemaniku hari ini, karena ini masih hariku."
" Sebentar... Yank... Siska membutuhkanmu, temanilah dia."
Diam... tak ada jawaban
__ADS_1
" Sepertinya dia kelelahan, atau... sedang menyiapkan dirinya untuk perjalanan berikutnya."
Kataku tertawa pada Siska, Siska menatapku tak senang.
" Biar aku yang menemanimu, menggantikannya."
Ucapku memberi tawaran
" Aku hanya ingin Dimasku yang menemaniku."
" Hohoho... Dimasku... seakan - akan dia milikmu yang sudah aku rebut."
" Kau dengar Di..."
" Tunggulah di luar, aku akan membangunkan Dimasmu."
Aku memotong ucapannya dan menutup pintu kamarku.
****
Dimas benar - benar brengsek... brengsek dalam artian tidak sesungguhnya. Bukannya bangkit begitu aku membangunkannya, dia malah mengangkat tubuhku ke tempat tidur dan mengajakku terbang lagi. Aku yang awalnya mengingatkan kalau Siska sedang menunggunya di luar, langsung berubah mengacuhkan perempuan itu. Dimas menciumi seluruh tubuhku dan membawaku kembali ke angkasa. Sangking tingginya dia membawaku, bola mataku sampai berputar ke atas, searah dengan kepalaku yang menengadah terlalu puas. Aku jadi lupa, kalau ada yang sedang menunggunya di luar.
*****
Sesi terakhir untuk malam ini di tutup dengan pelukan. Bahkan kami mengacuhkan ketukan - ketukan di pintu, sampai ketukan itu menghilang. Letih... tapi aku masih mau lagi. Sementara Dimas sudah mendengkur keras disampingku. Dia memelukku erat dari tempatnya.
Untungnya mama langsung membelikan box bayi untuk Zya tadi begitu aku menyampaikan maksudku datang. Jadi, kami bebas bereksplorasi di ranjang tanpa mengganggu tidurnya. Perlahan mataku pun mengendur, lalu aku mengikuti Dimas, terlelap dan mendengkur.
******
" Terimakasih sayang."
Dimas membelai tanganku dan memindahkan Zya dari pangkuannya kepadaku. Mulut Zya sudah di penuhi roti selai kacang buatan omanya, wajahnya pun sudah belepotan selai kacang. Ekspresi wajahnya yang memonyong - monyongkan mulutnya membuat kami tertawa terbahak - bahak, Zya malah balik tertawa melihat kami mentertawainya.
Siska tiba - tiba datang dan ikut sarapan. Kami mengabaikan kedatangannya karena sibuk menonton tingkah lucu Zya.
" Dimaaasss...."
Kami berhenti tertawa dan diam.
" Hmmm..."
" Aku mau ke rumah sakit nanti."
Aku dan Dimas saling bertatapan bingung
" Semalam kan sudah cek kehamilan Sis... Kau lupa?"
Jawab Dimas pelan tanpa melihat padanya
" Aku ingat... tapi perutku kram pagi ini. Tadi malam Di tidak membangunkanmu untuk menemaniku makan... Padahal aku sudah memintanya dengan baik untuk membangunkanmu."
Aku membesarkan mataku mendengar penjelasannya.
" Oh... itu... Aku yang tidak mau bangun... Aku terlalu capek semalam. Pekerjaanku banyak."
Dimas beralasan
" Lagi pula, selama ini kau tidak pernah memintaku untuk menemanimu makan Sis... Kenapa tadi malam kau memintaku untuk menemanimu makan?"
" Bukan aku yang mau Dim... Dimas Junior yang meminta di temani papinya."
Jawab Siska sambil mengelus - elus pelan perutnya. Dimas tersenyum sinis, aku menatap Dimas dan menatapnya lembut.
" Ya sudah... mau ke rumah sakit jam berapa?"
Dimas mengerti maksud tatapanku.
" Jam 2 ya... Aku lagi pengen makan seafood juga."
Jawabnya manja, manja yang dibuat - buat
" Ok."
__ADS_1
Aku tersenyum dan mengucapkan kata " I love you " tanpa suara pada Dimas, yang menatapku sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.