Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
TANGIS DI DALAM TAWA


__ADS_3

*


Aku cepat melangkah masuk ke kamarku untuk menemui Di, mengabaikan Siska yang tersenyum melihat kepulanganku yang lebih awal dari biasanya. Meninggalkannya menceracau dan merengut kesal karena aku tak mengacuhkannya.


Aku membuka pintu kamar dengan pelan, Di berbaring di atas karpet bersama Zya yang sedang membangun kerajaannya di sekitar Di yang tertidur. Andi ternyata benar.


" papa... pa... miss you."


Zya yang menyadari kedatanganku berlari mengejarku. Aku meletakkan telunjuk di depan bibirku, tak mau membangunkan Di.


Aku langsung mengangkat tubuh Zya ke gendonganku, lalu membawanya keluar dari kamar agar Di bisa beristirahat.


" Kau sudah pulang Dimas?"


Mama keluar dari kamar begitu mendengar kedatanganku, aku mengangguk.


" Zya... Cucu mama di sekap tadi ya... hahahahaha"


Aku tertawa mendengar ucapan mama.


" Di mengantuk, tapi tak mengizinkan kami membantunya menjaga Zya. Beginilah setiap harinya."


Mama kembali mengganggu Zya, yang terbahak - bahak melihat omanya membuat aneh wajahnya.


" Jadi, mama tau kalau Di..."


Mama mengangguk cepat.


" Dia sangat mencintaimu Dim... dan kau menuduhnya bersekongkol dengan Siska untuk merebut hartamu."


Mama menarik rambut tipis dekat telingaku. Aku meringis menahan sakit, mama melepaskan tarikannya, lalu menepuk keras lenganku.


" Hati - hati kalau bicara Dim... Dia mungkin akan memaafkan, tapi pasti sulit untuk melupakan."


Mama memberi peringatan padaku dan aku mengangguk sedih. Menyesal atas apa yang aku ucapkan padanya malam itu, juga dengan perlakuanku mengacuhkannya beberapa hari ini.


Aku mengajak Zya ke taman belakang rumah dan bermain di sana. Sampai akhirnya dia menangis karena capek dan tertidur dalam gendonganku.


**


Aku meletakkan Zya di dalam boxnya, terswnyum menatap kepolosan di wajahnya yang letih.


" Hmmmhhh... Zya... Udah selesai nak?"


Di menggeliat, memanggil Zya dengan matanya yang masih tertutup


" Zya..."


Di cepat bangkit dan melihat ke sekitar


" Zya!!"


" Sssssttttt..."


Di terkejut mendengar suaraku dan berbalik badan menatapku yang sedang membungkuk di samping box bayi.


Di lalu membaringkan tubuhnya kembali begitu menyadari kehadiranku.


Aku jalan mendekat pada Di dan berbaring di sampingnya. Di lalu bergerak menyampingkan tubuhnya padaku yang terlentang, meletakkan kepalanya di dadaku dan tangannya di perutku.


Aku membelai rambutnya dengan lembut dan memberikan kecupan di puncak kepalanya.


" Maafkan aku Di."


Kataku setengah berbisik, Di menggerakkan kepalanya mengangguk


" Terimakasih sudah membantuku."


Kali ini dia diam, lalu mengangkat kepalanya dan menatapku


" Untuk apa?"

__ADS_1


tanyanya berpura - pura


" Untuk toko."


aku menjawab sambil membalas tatapannya


" Hufffttt... Andi, aku mulai tidak mempercayainya sekarang."


Aku tertawa mendengar ucapannya.


" Tapi aku malah bertambah sayang padanya."


Aku tertawa terbahak - bahak


" aww..."


Di mencubitku, sakit tapi aku melanjutkan tawaku.


" Sudah bisakah kita berlibur?"


Aku mulai meredakan tawaku,


" Bisa, bukankah hari ini adalah hari untukmu."


Jawabku mantap.


" Aku sudah tidak perduli."


Aku mengangkat kepalaku sedikit dan melihat Di yang masih menangkupkan kepalanya di dadaku.


" Aku sudah ikhlaskan, tapi dia malah meminta lebih melewati batas. Aku sudah memintanya untuk tidak mengganggu pekerjaanmu, tapi dia mengacuhkan. Aku tidak perduli lagi padanya."


Di lalu bangkit dan duduk menatapku


" Kau adalah milikku, aku akan egois mulai sekarang, dan membuat nama hari menjadi Sabtu dan Minggu selamanya."


Aku tersenyum bangga mendengarnya menyebutkan aku adalah miliknya.


Aku cepat menggeleng dan menarik tubuhnya untuk dekat, menuntunnya untuk berbaring menelungkup di atas tubuhku.


" Sama sekali tidak keberatan."


Aku langsung memberikan ciuman rinduku buatnya. Meremas pantatnya dan terus menciuminya. Di juga memberikan perlawanan tanpa menuntut. Dia mulai bangkit dan duduk membuka kakinya di atas tubuhku. Membuka cepat celanaku dan memegang penuh senjataku di tangannya. Aku menengadah, dia menciumiku, membangunkan gairahku yang kemarin terabaikan.


Di berhenti dan berdiri sebentar melepaskan pakaian dalamnya, lalu kembali jongkok di atasku dan menyatukan tubuhnya dengan tubuhku. Kami sama - sama menengadah dan mengerang kecil saat aku berhasil memasuki tubuhnya. Di lalu menarik bantal yang di pakainya tadi dan meletakkannya di bawah kepalaku, membuat posisi badanku jadi setengah duduk menghadapnya.


Di lalu mulai bergerak setelah mengatur posisi, memaju mundurkan pinggulnya dan berputar - putar di atasku. Tanganku bergerak lembut ke pantatnya dan meremasnya, mengarahkan gerakannya yang semakin lama semakin cepat dan menghentak, bergerak terus, terus dan...


Di menutup matanya sambil menengadah, tangannya mencengkeram bahuku dengan kuat, kembali denyutan yang berasal dari tubuhnya menambah kenikmatan di tubuhku.


Di lalu menjatuhkan tubuhnya di atasku, berbaring mengatur nafasnya di sana, dan aku membiarkannya tetap disana sambil memeluk pantatnya.


***


Dirgana


Aku menyiapkan pakaian untuk kami dan langsung ke rumah menjemput anak - anak.


Dimas menyewa sebuah villa di sebuah tempat berudara dingin. Anak - anak yang sudah lama tidak liburan, tampak bahagia sekali menikmati liburan kali ini. Apalagi begitu mereka melihat kolam renang air panas pribadi di belakang villa. Tanpa menyia - nyiakan waktu, mereka melompat ke dalam kolam, meninggalkan Zya yang berteriak - teriak ingin ikut bergabung. Dimas membuka bajunya dan mengajak Zya masuk ke kolam. Zya teriak - teriak kesenangan bermain air, begitu juga Iza dan Azi.


Sebuah nada panggilan masuk berulang dari ponsel Dimas, membuatku penasaran. Aku melihat ke layar ponsel dan melihat nama Siska di sana. Aku cepat menggeser layar ponsel,


" Halo."


" Mana Dimas? panggilkan dia cepat!"


" Dimas sedang sibuk."


" Aku membutuhkannya saat ini Di, panggilkan dia!


" Ini hari Sabtu bukan Sis?"

__ADS_1


Aku mengingatkannya


" Aku tidak perduli ini hari apa, Dimas harus menemaniku ke dokter hari ini."


" Owwhhh.. tapi maaf Sis, ini hariku bersama Dimas. Lagipula Dimas tidak perduli kau mau apa."


" Kalian dimana, aku akan mendatangi kalian."


" Kami di... Eh, kenapa aku harus memberitahumu, kau bisa mengganggu kesenangan kami nantinya."


Aku lalu tertawa terbahak - bahak, apa lagi mendengar Siska memgomel panjang lebar di seberang. Aku meletakkan ponsel Dimas di atas meja di sampingku, membiarkannya tetap tersambung, agar Siska dapat mendengar dengan jelas tawa Dimas bersama anak - anakku.


****


Kami langsung kembali ke rumah mama Sandra setelah mengantar Iza dan Azi ke rumah. Mereka berdua bahagia sekali hari ini, lebih tepatnya kami semua bahagia.


Aku turun dari mobil tanpa bantuan Dimas, karena dia sedang menggendong Zya. Kami masuk ke rumah bersama dan terkejut melihat kehadiran om Wisnu. Dia menatap kami dengan sangat marah, Siska sedang menangis di sampingnya, mama diam dengan wajah menahan amarah. Aku mengambil Zya dari gendongan Dimas dan meminta Ratih membawa Zya, yang tertidur, ke kamar.


" Aku menikahkan anakku bukan untukku kau sakiti Dimas."


Om Wisnu menekan nada suaranya yang menahan marah


" Kenapa kau tega memperlakukannya seperti ini, apa salahnya kau berbuat manis padanya sementara dia sedang mengandung anakmu. Anak laki - lakimu."


Om Wisnu memberi tekanan pada kata " anak laki - laki " dalam kalimatnya.


" Karena aku tidak mencintainya om, dan aku tidak pernah meminta untuk menikahinya."


Om Wisnu membelalakkan matanya pada Dimas


" Kalau kau tidak mencintainya dan tidak mau menikahinya, lalu kenapa kau tidur dengannya?"


" Aku tidak menidurinya om, kalaupun benar aku sudah menidurinya, kenapa hanya kepadaku kau meminta pertanggungjawaban? Sementara kau sangat tau kalau yang menidurinya bukan hanya aku, bukan hanya satu."


" Jaga bicaramu Dimas!"


Om Wisnu berdiri dan melotot pada Dimas.


" Kenapa om, aku benar kan?"


Dimas tetap duduk menatap tajam pada om Wisnu.


" Aku hanya menunggu anak yang dikandungnya lahir, memberikan nama atasnya meski aku sudah tau siapa ayahnya."


Dimas mendapatkan pelototan dari kami semua yang ada di ruangan itu.


" Aku diam mengikuti maunya hanya untuk menyelamatkan anak yang ada di rahimnya, itupun atas permintaan mama dan Di, istriku. Bukan karena aku mencintainya ataupun perduli padanya, tidak sama sekali."


Dimas melanjutkan kalimatnya yang masih menjadi tanda tanya bagi aku dan mama.


" Uang bisa membeli segalanya, kau gunakan uangmu untuk menghilangkan bukti CCTV, dan aku membelinya lagi dengan harga 10x lipat dari uang yang kau keluarkan."


" Aku memang tertidur hari itu, setelah meminum habis air dalam gelas yang di berikan anakmu padaku. Aku sama sekali tidak menyangka kalau dia sedang menjebakku, karena dia sedang hamil dan om Wisnu sedang butuh banyak dana untuk membayar hutang dan juga bersenang - senang."


Om wisnu membuang pandangannya, merasa terpojok dengan kebenaran yang terungkap


" Om dan beberapa suruhan om masuk ke kamar begitu melihatku tertidur, butuh empat orang mengangkatku ke tempat tidur dan membaringkanku di sana. "


Siska menundukkan kepalanya, malu karena dramanya terbongkar.


" Secara logika saja, orang yang tidak punya kekuatan untuk berdiri, bisa bercinta dan menikmati tubuh anakmu? Kau gila."


" Oh... aku terlalu capek hari ini om... Aku akan mengirimkan satu copyan CCTV yang aku punya untuk mengingatkanmu pada kejadian yang sebenarnya, sementara aku akan menyerahkan satu copyan juga pada yang berwajib sebagai bukti atas pemerasan yang kau lakukan padaku selama ini, setelah anak itu lahir."


Dimas bangkit dan menatap tajam pada Siska yang masih menunduk


" Cepatlah kau menyadari kesalahanmu Sis, jangan sampai anakmu nanti berperilaku sama denganmu atau dengan kakeknya."


Siska menangis, Dimas berjalan menuju kamar dan aku mengikutinya dari belakang. Mama menatap tajam pada kedua ayah beranak yang masih berada di depannya.


Akhirnya kebenaran akan selalu menang, meski harus mengorbankan banyak hal. Uang, waktu, tenaga, perasaan dan cinta.

__ADS_1


__ADS_2