Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
IKHLAS


__ADS_3

*


" Kau ke rumah Di nanti Dim?"


Aku menganggukkan kepala menjawab pertanyaan mama. Ini hari Kamis, artinya aku akan menghabiskan waktuku bersama Di dan anak - anakku untuk 4 hari ke depan.


Siska melirikku sambil mengunyah roti yang ada di tangannya.


" Bawakan hadiah untuk anak - anak nanti sekalian ya Dim... Mama beli sesuatu untuk mereka."


Aku mengangguk lagi.


" uwekkk..."


Aku dan mama cepat menatap tajam pada Siska. Berani sekali dia melakukan itu di meja makan saat jam sarapan begini.


" uwekkkk"


" uwweeekkkk..."


Mama cepat mengalihkan tatapannya padaku, aku hanya mengedikkan bahu melihat tatapan itu. Nafsu makan ku langsung hilang, aku meletakkan sendok dan garpu yang tadi aku gunakan, lalu meminum teh hangat ku.


" Dimas ke toko ma."


Aku berpamitan pada mama sebelum berdiri dan hendak melangkah berjalan keluar.


" Dimaaaasss... aku sakit..."


" Uwekkk..."


Siska mulai merengek manja tapi aku tak perduli.


" Pergilah ke rumah sakit. Minta mang Hasan mengantarmu."


Ucapku memberi perintah dan melangkah ke mobil.


**


Baru saja aku mendaratkan pantat di kursi, ponselku berbunyi. Aku cepat menggeser layar HP begitu melihat nama Di di layar.


" Halo sayang..."


" Halo Dim... Kau ke rumah nanti kan?"


" Kenapa yank? Kau merindukanku?"


" Tentu saja yank... setiap hari aku merindukanmu."


Aku tertawa mendengar suaranya yang manja.


" Apa kau sudah siap menerima seranganku?"


Tawa Di membuatku tersenyum - senyum sendiri mendengarnya.


" Selalu siap yank.. Karena kau selalu buat aku lapar."


Mendengar rayuannya saja adikku langsung terbangun... " Sabar ya dik... nanti malam kau akan bertemu dengan liang kenikmatanmu." kataku dalam hati.


***


Sudah menjelang sore, ponselku berbunyi lagi.


" Ya ma."

__ADS_1


" Kau pulang sekarang Dim, mama mau bicara!"


Aku mengernyitkan kening, aneh sekali nada bicara mama kali ini.


" Kenapa gak langsung bicara aja sih ma?"


Ucapku membuat penawaran.


" Gak bisa, pokoknya kamu pulang sekarang! Kita bicara di rumah."


Sambungan langsung diputuskan. Ibu suri ini pasti akan membicarakan sesuatu yang sangat penting. Kalau tidak, beliau tidak akan memerintah sekasar itu.


****


Aku langsung masuk begitu tiba di rumah, dan terkejut melihat kedatangan om Wisnu di rumah kami. Siska sedang tersenyum sombong di samping ayahnya, sementara mama... Wajahnya seperti sedang menahan amarah.


" Duduk!"


Aku langsung patuh melihat nada bicara mama yang memerintah.


" Siska hamil."


Aku membelalakkan mata, menatap ke arah Siska yang mengangguk tersenyum dan papanya, om Wisnu, yang membalas pelototanku dengan mata membesar.


" Lalu?"


Aku melihat kilatan 3 pasang mata menyerang tatapanku.


" Kamu tanya lalu?"


Om wisnu mulai buka suara.


" Ya... lalu kenapa kalau Siska hamil? Aku juga memperlakukannya dengan baik koq selama ini."


Jawabku santai


Aku langsung tersenyum sinis pada om Wisnu.


" Om nampak yakin sekali kalau aku adalah ayah dari anak yang di kandungnya."


Kemarahan om Wisnu memuncak, dia langsung berdiri dan berjalan mendekatiku, lalu


plak


Pipiku terasa panas, cukup keras juga tamparan pria tua ini.


" Kurang ajar kau Dimas, kau sudah menidurinya dan sekarang kau ragu apakah itu anakmu atau bukan?


Aku menatap tajam pada om Wisnu. Kalau saja aku tidak banyak berhutang budi padanya, aku akan membalas tamparannya.


" Om sendiri tau kalau yang sudah menidurinya bukan hanya aku. Sekali lagi aku katakan pada om, aku tidak menyentuhnya sedikit pun hari itu, aku bersumpah!"


Siska berteriak dan menangis, memulai drama korea karyanya.


" Ini anakmu Dimas ... Aku bersumpah..."


Aku menoleh ke arahnya, lalu menatap mama yang hanya diam saja melihat aku diserang 2 iblis yang ada di depanku.


Aku kembali menatap kedua iblis itu.


" Lalu, apa yang om mau aku lakukan?"


Aku mulai menyerah, nampaknya mama memintaku menghadapi ini sendirian.

__ADS_1


" Lakukan semua hal yang dilakukan semua suami ketika tau istrinya sedang memgandung anaknya, keturunannya."


" Dampingi dan jaga dia terus, aku tidak mau terjadi apa - apa padanya. "


" Om tau kalau aku juga punya keluarga kan? Aku punya 3 anak yang butuh perhatianku juga. Keadaan hidup berpisah seperti ini saja sudah membuat anak - anakku bingung. Apa yang harus aku jelaskan pada mereka?"


" Mereka anak tirimu Dimas, ini anak kandungmu. Pewaris kekayaan ARYA, calon pemilik kekuasaan di keluargamu. Kau..."


" Mereka juga anakku om!"


Aku mulai melawan keras, aku tidak suka mendengar kata anak tiri. Mereka adalah anakku.


" Mereka juga penerus keluarga ini. Aku juga sudah punya Zya, yang sangat aku yakini sekali kalau aku adalah ayah kandungnya."


Dadaku mulai sesak, nafasku memburu, namun aku tetap menahan emosiku.


" Anak tiri yang om maksud juga keturunan ARYA. Mereka anak dari Raditya Arya, saudara tiriku. Suka atau tidak, mereka juga keturunan ARYA."


" Lalu om menuntut aku membuat kehamilan Siska sangat spesial, aku tidak bisa. Alasan pertama, karena aku tidak mencintai Siska. Kedua, aku tidak pernah menidurinya. "


plak


plak


" Sudah Wisnu!"


Mama berdiri menatap tajam pada om Wisnu.


" Sudah cukup kau menghakimi anakku!"


Om Wisnu membalas tatapan marah mama.


" Aku yang akan menjaga Siska selama kehamilannya ini. Kalau itu yang kau mau."


" Tapi dia ayahnya! Seharusnya dia yang melakukannya!"


Om Wisnu berteriak pada mama.


" Itu karena dia tidak pernah menginginkan anakmu. Kalian yang membuatnya jadi terpaksa menikahi perempuan yang dia tidak sukai."


Om Wisnu baru akan menjawab ucapan mama, tapi mama mengangkat tangannya untuk menyuruhnya diam.


" Aku yang akan menjaga Siska sampai anak yang dikandungnya lahir. Setelah itu kita tes DNA. Kalau benar ini bukan anak Dimas, aku pastikan akan memenjarakan kalian berdua. Tapi, kalau ini benar anak Dimas. Aku yang akan menyuruhnya bertanggungjawab lebih dari sekarang dan akan memberikan setengah dari semua toko yang Dimas punya untuk anak ini."


Mama menatap sangat marah padaku, aku menunduk untuk menghindari tatapannya.


" Ok. Aku setuju."


Om Wisnu mulai tersenyum, lalu dia dan Siska seperti saling mengerling penuh kemenangan.


*****


" Kau harus bicara pada Di. Dengarkan apa yang jadi permintaannya. Mama yakin, Di jauh lebih waras daripada kau."


Aku menunduk, diam


" Tapi Dimas bersumpah kalau Dimas tidak menyentuhnya ma..."


Aku masih saja membela diri, kenapa aku yang selalu harus bertanggung jawab atas apa yang tidak aku lakukan pada Siska. Belum cukupkah aku menikahinya saja, sekarang harus ditambah pula dengan kehamilannya.


" Mama percaya, mama yakin Di pun begitu. Tapi, gunakan hatimu untuk anak yang ada di perutnya. anak itu tidak bersalah... Oh Tuhan... aku merasa seperti de javu sekarang ini."


Mama seperti mengingat perlakuan salah kami pada Iza dan Azi dulu, yang membuat aku harus kehilangan Di selama 2 tahun.

__ADS_1


" Pergilah ke rumah Di sekarang, ceritakan padanya tentang semua ini."


Aku mengangguk dan pergi meninggalkan mama di kamarnya sendiri.


__ADS_2