Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

*


Dirgana


Sejak tahu aku hamil, Dimas menjadi sangat protektif. Dia bahkan bersedia bangun pagi - pagi sekali untuk mengantarku ke kedai setiap hari. Dia juga meminta Reni, menggantikan tugasku berbelanja keperluan kedai selama aku hamil.


" Dimas sayang sekali padamu ya Di." kata Reni saat kami sedang mempersiapkan bahan - bahan untuk sarapan besok


Aku tersenyum dan mengangguk mengiyakan kata - kata Reni.


" Andai ada laki - laki yang mencintaiku seperti Dimas mencintaimu, aku akan lakukan apapun untuk selalu membahagiakannya." sambungnya sedih.


" Itu juga yang selalu aku lakukan sampai saat ini Ren." kataku dalam hati.


" Di."


Aku melihat keluar kedai, Hendra datang dan masuk ke kedai sendirian. Aku tersenyum menyambut kedatangannya.


" Bagaimana keadaanmu?" tanyanya begitu di dalam kedai dan duduk berhadapan denganku.


" Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik Hen, terimakasih." jawabku.


Hendra datang sekedar melihat keadaanku, kami bercerita banyak tentang masa - masa sekolah. Sangking asyiknya bercerita, aku tidak menyadari kedatangan Dimas.


" Hi, sayang" sapanya mesra dan mengagetkanku.


" Hi Dim." kataku tersenyum. Dimas langsung berdiri didekatku dan mencium puncak kepalaku didepan Hendra. Hendra membuang pandangannya sebentar, lalu tersenyum ramah pada Dimas.


" Ini Hendra yang pernah aku ceritakan padamu sayang... Hen, ini suamiku." kataku memperkenalkan mereka berdua. Mereka bersalaman, Dimas lalu mengambil duduk di sampingku dan menarik bangkunya untuk berada sangat dekat. Aku tersenyum kepadanya.


" Ok lah Di, aku balik ke kantor lagi ya. Jaga dirimu baik - baik." Hendra berpamitan


" Iya, terimakasih Hen." jawabku.


" Mari Dimas." katanya pada Dimas, Dimas hanya membalas dengan senyuman.


" Sebentar ya sayang, sebentar lagi selesai." kataku pada Dimas yang masih tersenyum memandangku. Dimas menjatuhkan kepalanya dengan manja disalah satu bahuku, sambil asyik membuka - buka HPnya. Aku diam sambil melanjutkan pekerjaanku.


" Ok, selesai." kataku, Dimas mulai menjauhkan kepalanya, memberikan ruang buatku untuk berdiri dan bersiap - siap pergi bersamanya ke toko.


" Hmmmhh... yank." panggilku, dia cepat menoleh ke arahku.


" Kita makan di toko aja ya, beli bungkus saja." pintaku, Dimas tersenyum mengangguk.


**


Dimas


Aku menatap beberapa bungkus makanan yang dibeli istriku tadi sebelum ke toko.


" Kau yakin bisa menghabiskannya Di?" tanyaku ragu, tapi dia tersenyum mantap sambil mengerling padaku. Aku hanya menggelengkan kepalaku.


" yank.." dia memanggilku dan memintaku duduk dekat dengannya, aku menuruti.


Di langsung menciumi wajahku begitu aku duduk di sebelahnya, ciumannya dengan cepat pindah ke bibirku dan melahap bibirku dengan rakus. Aku menikmati ciumannya yang sedikit kasar dan sangat bernafsu. Lalu, dia pindah ke leherku dan menjilati leher dan jakunku, aku menengadah menikmati jilatannya. Setelah puas menjilatiku, dia berdiri menghadapku dan membuka semua pakaiannya, aku menikmati setiap gerakan yang dia buat. Aku juga ikut melucuti pakaianku, lalu dia membuka kakinya dan duduk di pangkuanku, Di bergerak maju mundur dengan sangat bernafsu, menghentak pinggulnya dan berputar - putar nikmat di atasku, bergerak terus... sampai kami sama - sama lepas dan saling berpelukan.


***


Aku menatap wajahnya yang sedang lelap tertidur berbaring miring di sofa. Di nampak sangat letih, tapi dia tertidur sambil tersenyum. Aku berdiri dan jalan menuju kursiku dan menghempaskan tubuhku keletihan. Di benar - benar menyerap habis tenagaku hari ini, setelah dua kali pelepasan yang dia minta dengan sangat bernafsu. Aku menyandarkan kepalaku hendak menutup mata sebentar, tapi bunyi ketukan di pintu membuatku mengurungkan niat.


" masuk." kataku


Silvia masuk ke ruanganku, melangkah anggun ke arahku sambil tersenyum. Dia sempat melirik ke sofa sebentar, lalu kembali menatapku


" Ada apa Sil?" tanyaku.

__ADS_1


" Nggak pak, bapak sehat kan?" tanyanya pelan, cenderung berbisik.


" sehat, kenapa?" tanyaku balik


" bapak terlihat sangat keletihan saat masuk bersama istri tadi, makanya saya bertanya." aku tersenyum melihat tingkahnya yang seperti memberikan perhatian.


" Saya sehat Sil dan sangat bahagia." kataku tegas sambil melihat ke arah Di yang sedang tertidur. Dia diam dan mengikuti pandanganku pada Di.


" Jangan terlalu letih pak, saya takut bapak sakit." katanya kemudian, aku mengkerutkan kening mendengar kata - katanya. Mencoba mencerna kalimatnya, kenapa perhatiannya melebihi perhatian seorang pegawai, atau aku saja yang baper?


****


Untuk kesekian kalinya, aku berbaring terlentang menatap langit - langit kamarku. Aku dan Di memutuskan untuk di rumah saja hari Minggu ini setelah mengantarkan anak - anak ke rumah mama Di. Di keluar dari kamar mandi dan berjalan mendekatiku.


" Lapar yank... " katanya manja


Aku cepat mengangkat kepala menatap heran padanya. Tadi pagi dia sudah sarapan 3 bungkus bubur ayam dan 5 bungkus roti, sekarang dia lapar lagi. Di tersenyum malu membalas tatapan keherananku.


" Mau makan apa yank?"


" pengen kulit ayam crispy dan bakso." jawabnya.


" pesan on line aja ya?" tawarku, dia mengangguk mantap dan berdiri mengambil HPnya.


*****


" yank..." aku duduk bersandar pada kepala ranjang, sementara Di berbaring letih di sampingku.


" Hmmmm..." jawabnya pendek tanpa mengubah posisi tidurnya.


" apa kau pernah merasa tidak terpuaskan olehku?" tanyaku.


Di hanya menggeleng, tetap pada posisinya.


******


Dirgana


Aku menatap Dimas lama... dan baru menyadari kalau wajahnya lebih tirus sekarang. Ada lingkar gelap di bawah matanya, oh Tuhan... kenapa aku baru menyadari ini.


" Kau capek melayani permintaanku Dim?" tanyaku pelan, wajahnya langsung berubah kikuk.


" ng.. nggak.. nggak... aku biasa saja, bahkan aku bahagia yank..." jawabnya terbata - bata.


" jujur padaku Dim, aku mohon." pintaku., tapi dia hanya diam menunduk.


Aku mulai sadar, hasratku jauh meningkat selama aku hamil. Melihatnya saja sudah buat nafsuku terpancing dan minta dilepaskan secepatnya. Tapi Dimas tidak pernah menolakku.


" sedikit yank.. tapi aku bahagia bisa membuatmu bahagia sayang..." jawabnya kemudian.


Aku mendekatkan tubuhku padanya dan memeluknya dari samping.


" Maafkan aku yank... maaf... " kataku merasa bersalah.


" Kau tidak salah sayang... aku senang melayanimu." katanya lagi. Kami lalu diam, masih saling memeluk.


" Kalau kau merasa tidak puas denganku, katakan padaku ya Di. Jangan...." Dia menggantung kalimatnya. Aku melepaskan pelukan dan menatapnya.


" Jangan apa?" tanyaku


" Ya... gitulah... " jawabnya sambil membuang pandangan.


" gitulah apa, jangan apa maksudmu Dim?" tanyaku memaksa.


" Kau tidak sedang berpikir kalau aku butuh laki - laki lain untuk melayaniku kan Dim?" tanyaku kesal, Dimas hanya diam.

__ADS_1


" ahhh... picik sekali pikiranmu."


Aku langsung beringsut menjauh, tapi dia menarik tanganku cepat.


" Di, bukan itu maksud perkataanku. Maaf..." katanya menahanku. Aku menepis tangannya dan pergi ke kamar mandi.


*******


Sudah 2 hari aku dan Dimas saling diam tenggelam dalam pikiran kami masing - masing. Aku masih melayani semua keperluannya, tapi menahan keras tubuhku untuk bereaksi ketika melihatnya. Bahkan aku selalu menghindari untuk berdua saja dalam satu ruangan dengannya, kecuali sedang tidur. Aku memilih untuk meninggalkannya tidur saat dia sedang sibuk dengan pekerjaannya.


" Halooo Dira."


Aku terlalu fokus dengan pekerjaanku, sehingga tidak menyadari kedatangan Hendra.


" Hi Hen." jawabku


" Sibuk sekali, sampai - sampai tidak tahu kalau aku datang." ejeknya dan tertawa


" Iya... lagi catat kebutuhan untuk lusa nih... Alhamdulillah ada pesanan lagi." jawabku.


" Oh... maaf kalau aku mengganggu." katanya sopan


" ahhh... nggak, ini juga udah selesai. Ren... " aku memanggil Reni dan menyerahkan lembar catatan apa - apa yang akan dibelinya hari ini.


" Suamimu pemilik toko emas ya?" tanyanya setelah aku selesai bicara dengan Reni.


" Iya, kenapa? Kau mau membelikan istrimu perhiasan?" tanyaku balik sambil tersenyum.


" Istri... Gak ada Dir." jawabnya pendek dengan wajah sedih.


Hendra mulai bercerita tentang kematian istrinya 2 tahun yang lalu saat mengandung anaknya. Sebelumnya dia tinggal di Kalimantan dan baru beberapa bulan memutuskan untuk kembali ke Padang setelah kematian istrinya.


" terlalu banyak kenangan tentangnya disana, makanya aku memutuskan untuk pindah kesini." katanya lagi.


" Jadi, kenapa kau bertanya tentang suamiku?" tanyaku bercanda, untuk mengalihkan kisahnya dengan sang istri, dia mulai tertawa.


" Aku gak nyangka aja, apalagi dengan melihat penampilanmu." jawabnya, aku menatapnya bingung.


" kenapa dengan penampilanku?" tanyaku lagi.


" Ya... terlalu sederhana menurutku. Pemilik toko emas tentu memiliki banyak emas tapi kau lihat dirimu." katanya menjelaskan.


Aku langsung melihat semua yang melekat ditubuhku. Aku hanya mengenakan satu cincin pernikahan di jari manisku dan kalung emas yang tentunya tertutup oleh jilbabku.


" emang istri bos pertamina bawa - bawa bensin kemana - mana? atau istri juragan ayam, mereka gak bawa ayam kemana - mana?" jawabku sambil tersenyum.


Hendra tertawa terbahak - bahak mendengar jawabanku dan mengangguk.


" Hidupkan bukan tentang apa yang kita kenakan Hen, tapi tentang apa yang kita lakukan." sambungku.


" Aku setuju." katanya lagi.


" jadi, percuma saja kalau suatu hari nanti kau berulangtahun dan aku menghadiahimu perhiasan ya? Kau kan sudah punya banyak." katanya lagi.


" Ngapain kamu kasih aku perhiasan, kasih perhiasan tu ke orang yang kamu sayang... ibumu atau istrimu." kataku membalas.


" dan aku tidak memiliki keduanya." jawabnya sedih.


" Oh... maaf... ibumu juga sudah meninggal Hen?" tanyaku


" Udah lama Dira... Aku kan tinggal sama nenek sejak aku kecil. Aku bahkan tidak ingat wajah ibuku." jawabnya santai.


" Oh... maaf Hen.." kataku menyesal.


Hendra menemaniku ngobrol sampai aku menutup kedai dan pergi ke toko mendatangi Dimas seperti hari - hari biasanya. Aku memesan taxi on line untuk ke toko beberapa hari ini, menghindari berdua saja dengan Dimas. Bahkan di toko pun aku hanya duduk di luar ruangan sambil memandang - mandang koleksi perhiasan di toko, dan tidur saja di mobil selama perjalanan pulang.

__ADS_1


__ADS_2