
Author POV
Di menatap diam dari kaca pembatas antara dirinya dan Dimas. Hatinya hancur melihat laki - laki yang dicintainya terbaring lemah disana. Tak ada air mata, tak tau kenapa.
" Di..."
Mama Dimas menangis sesunggukan, hatinya mungkin lebih hancur dibandingkan Di saat ini. Belum sekalipun dia melihat putra kesayangannya sangat lemah dan tak berdaya seperti saat ini.
" Kanker otak, stadium 2."
Apa kira - kira yang akan terpikir oleh setiap orang yang mendengarkan berita itu, apalagi itu terjadi pada pasangan yang sangat kita cintai, teman dalam suka dan juga duka, pemberi cahaya setelah banyak jalan gelap dilalui.
Di tidak bisa mengajak otaknya bekerja saat ini. Hanya bisa diam memandangi kekasih hatinya, airmatanyapun tak mampu dia keluarkan atas apa yang terjadi saat ini. Menurutnya ini adalah kesalahannya, kurang tegas saat meminta Dimas memeriksakan keadaannya setiap kali Dimas mengeluh kepalanya sakit.
Di sama sekali tak merasa letih meski telah lama berdiri. Matanya pun juga begitu, tak mau perduli dengan apapun keadaan sekitar. Mengacuhkan mama yang menangis histeris, Andi yang menyalahkan dirinya dan berulang kali meninju dinding di dekatnya, dokter dan suster yang bolak balik keluar masuk kamar perawatan, suara - suara yang keluar dari mesin di samping Dimas. Semua tak dia acuhkan, dia hanya fokus pada satu titik di atas pembaringan sana, Dimas.
" Pulanglah dulu Di, aku akan menjaga Dimas disini."
Di diam, tak memperdulikan permintaan Andi.
" Di..."
Masih diam
" Dirgana."
Tetap diam,
Tangisan mama bertambah kencang melihat Di yang hanya diam tak bergeming saat ini. Andi kembali menenangkan beliau, mengajak beliau duduk di salah satu bangku ruang tunggu.
" Jangan pernah mencoba untuk meninggalkanku, aku memperingatkanmu Dimas."
Mama Sandra dan Andi menoleh pada Di, mendengar suara Di yang pelan dan tertahan seperti gumaman.
" Sekarang waktunya kau membuktikan semua kata - kata cintamu padaku, kau harus tetap ada didekatku, menua bersamaku, menemani anak - anak kita tumbuh dan menikah. Kita harus selalu bersama."
Mata Di masih menatap tubuh Dimas yang terbujur lemah. Mulutnya terus bergerak seperti sedang memarahi Dimas yang melakukan sebuah kesalahan. Ini malah menambah sedih hati mama Sandra, membuat Andi kewalahan menenangkan mama.
__ADS_1
**
Sudah 2 hari Dimas berbaring tak sadarkan diri dan sudah 2 hari pula Di berdiri di tempat yang sama. Dokter dan perawat sudah berkali - kali mengingatkan dan mengajaknya bicara, tapi Di masih tidak perduli.
" Dirgana."
Mama Di datang ke rumah sakit, melihat keadaan menantunya dan ingin membujuk Di pulang untuk beristirahat.
" Anak - anak Dimas menunggumu di rumah, mereka sudah resah merindukan pelukanmu."
" Minta mereka yang ke sini ma. Di masih mau disini."
Mama Di menahan kuat tangisnya, beliau tidak pernah melihat Di seperti ini sebelumnya.
" Mereka masih bayi Di, apa kau lupa kalau mereka juga butuh pelukanmu?"
Di masih saja diam, tak bergeming sama sekali.
" Ya sudah, terserah kamu Di. Dimas pasti sedih menyaksikan anak - anaknya kau sia - siakan seperti ini Di."
Mama Di ikut menyerah, melangkah hendak menjauh dari Di.
Mama Di menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan memaksakan senyuman atas keputusan Di.
Di mencoba menggerakkan kakinya, tapi dia merasakan sakit yang teramat sangat di sana. Kakinya seperti kaku dan membeku, tak mampu digerakkan.
Di memaksakan kakinya melangkah, terasa berat tapi dia terus memaksakan. Sampai akhirnya tubuhnya limbung, Di cepat menyentuh dinding untuk menopang tubuhnya yang hampir terjatuh. Mama Di mengejar dan memegangi tangannya, lalu membantunya bergerak maju untuk keluar dari rumah sakit menuju rumah dan anak - anaknya.
***
Di langsung menemui anak - anaknya yang berbaring tidur di atas tempat tidurnya masing - masing. Dia lalu melangkah ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian.
" Kamu makan dulu Di, kau butuh banyak energi."
Mama tiba - tiba masuk ke kamar Di dan mengajaknya untuk makan.
Di keluar dari kamar dan berjalan ke ruang makan. Tak ada yang berani bertanya padanya, uni, dua asisten rumah tangga baru dan semua baby sitternya, semua diam. Mereka seperti mampu merasakan kesedihan Di saat ini.
__ADS_1
Di memakan habis makanan di piringnya, lalu diam menatap kolam renang. Pikirannya benar - benar kusut sekarang, otak dan tubuhnya letih. Di berdiri dan melangkah masuk ke kamar tidurnya lagi.
Handuk Dimas yang tersampir di dekat kamar mandi dibawanya ke dalam pelukan. Di lalu merebahkan tubuhnya, bersama handuk Dimas didalam pelukannya. Aroma tubuh Dimas masih melekat di handuk dan tempat tidur, Di merasa tenang mencium aroma itu, sampai akhirnya dia terlelap bersama jutaan kerinduannya pada Dimas.
****
Seminggu sudah berlalu, selama itu pula Dimas berada dalam keadaan tidak sadarkan diri. Mama Sandra memutuskan untuk membawa Dimas ke luar negeri, tanpa memberitahu Di. Beliau memikirkan nasib anak - anak Dimas dan Di apabila Di meminta ikut nantinya.
Akhirnya, mama Sandra dan Andi berangkat menemani Dimas, setelah sebelumnya memberi kabar pada mama Di dan beliau juga setuju. Di mungkin akan marah besar, tapi mereka yakin Di pasti mengerti suatu saat nanti.
*****
" Mau kemana Di?"
Mama Di menghentikan langkah Di yang hendak ke rumah sakit menemani Dimas.
" Ke rumah sakit ma."
" Anak - anakmu bagaimana?"
" Kan ada baby sitter ma, Dimas sendirian di sana ma."
" Dimas tidak pernah sendirian Di, banyak orang yang akan memberikannya perhatian. Apalagi ada mama Sandra dan Andi. Kau di rumah saja, anak - anakmu membutuhkanmu. Ingat Di, mereka adalah titipan cinta Dimas."
Di merasa kesal pada mama, sudah 2 hari beliau menahan keinginan Di untuk menjenguk Dimas. Tapi, Di tidak pernah punya keberanian menentang perintah beliau. Sudah cukup dulu dia menentang mama, memilih Radit untuk menjadi suaminya, padahal mama jelas - jelas tidak menyukainya, pada akhirnya Di malah dapat sakit yang terhingga.
******
Sudah dua minggu Di tidak menemui Dimas, meskipun dibelakang Di, mama Di dan mama Sandra selalu berkoordinasi dan bertukar informasi mengenai keadaan keduanya. Dimas sudah sadar, Di adalah orang pertama yang dia tanya. Tapi, mama Sandra memberikan pengertian pada Dimas tentang anak - anak dan tentang keterpaksaan mereka membawa Dimas ke luar negeri tanpa memberitahu Di. Syukurnya Dimas mengerti.
Sementara itu, Di sudah mulai bosan dengan semua larangan - larangan mama. Selalu saja bawa anak - anak sebagai alasan untuk melarang Di mengunjungi Dimas. Selalu saja bilang kalau kondisi Dimas sudah membaik. Di butuh melihat langsung keadaan Dimas. Membaik versi mama itu seperti apa? Di juga tidak mau menebak - nebak. Di memutuskan untuk menjenguk Dimas besok, tidak perduli nantinya mama akan marah lagi atau tidak. Di harus ketemu Dimas.
*******
" Halo Ndi, Dimas kenapa?"
Di menerima panggilan dari nomor ponsel Andi, Di sangat tau sekali kalau Andi pasti hanya akan menelponnya apabila terjadi sesuatu pada Dimas.
__ADS_1
Andi tidak menjawab, Di hanya mendengar suara nafas berat dari seberang.
" Andi!! Dimas kenapa? Jawab aku!"