
*
Di
" Aku sudah menelpon mamamu, memberitahukan keadaanmu, dan memberitahunya kalau kita sekarang masih di Bukittinggi." aku shock mendengar penjelasannya, apalagi mama di sana.
" Mamamu kaget, karena yang menelpon laki - laki, lalu aku minta uni Rahmi berpura - pura menjadi teman wanitamu dan menjelaskan kembali keadaanmu. Syukurnya, mamamu percaya." sambungnya lagi. Aku mulai tenang mendengar penjelasannya.
" Mama Sandra sudah tahu tentang kita, aku yang bercerita langsung padanya." aku mendelikkan mataku lagi, tapi dia santai saja. Apa yang ada di benak wanita itu nanti, aku tidak mau dianggap menjebak anaknya demi harta.
" Beliau mengucapkan selamat dan terdengar bahagia." sambungnya lagi, aku kembali membesarkan mataku, tak percaya dengan ceritanya, tapi dia mengangguk meyakinkan, seperti tahu apa yang aku pikirkan.
__ADS_1
" Besok kita pulang, aku antar kau sebagai Dirgana anak mamamu yang seorang janda, sebagai mama dan ayah dari anak - anakmu. Kau silahkan berangkat seperti biasa dari rumahmu untuk ngojek, tapi kau hanya akan datang ke rumahku, melayani aku sebagai suami, dan kembali ke rumahmu pada malam hari. Tidak ada menarik penumpang ataupun mengantarkan makanan lagi, tujuanmu hanya ke rumahku." Dia kembali menjelaskan, lalu anak - anakku mau ku kasih makan apa? gila juga ni laki - laki. Tapi aku belum berani menyela perkataannya.
" Kompensasinya, kau dan anak - anakmu, yang sebenarnya saat ini adalah anak - anak kita, kalian akan ku nafkahi, aku yang bertanggungjawab atas dirimu dan anak - anak kita sekarang." dia kembali melanjutkan bicaranya. Entah kenapa, hatiku tiba - tiba hangat ketika dia menyebut anak - anakmu menjadi anak - anak kita. Aku menahan airmata yang meminta keluar ketika mendengar bagian ini.
" Terakhir, satu bulan Di. Beri aku waktu satu bulan saja, untuk mengambil hati mama dan anak - anakmu, aku akan melamarmu dan mengulang kembali pernikahan kita." Dia berhenti, aku mengangguk mengiyakan. Tapi, kenapa dia harus mengambil hati mama dan anak - anakku, kenapa tidak pisah saja. Apa dia???
" Sekarang aku boleh bertanya?" kataku meminta izin. Dia mengangguk.
" Berapa lama permainan ini akan berlangsung, kapan kau akan menceraikan aku?"
" Aku menikahimu bukan untuk menceraikanmu, aku justru ingin melindungi dan membahagiakan kalian bertiga. Kau simpan itu di otakmu, jangan simpan di memori HPmu yang murahan." Dia mengucapkan kata - kata itu dengan jelas, aku cepat mengangguk, benar - benar merasa takut.
__ADS_1
**
Dimas
Dia mengangguk cepat, mungkin karena ketakutan. Bibir itu membuka, sudah tidak pucat dan masih tetap penuh menggairahkan. Aku menyambar pelan bibir yang terbuka itu, memainkan lidahku di sana, menerobos masuk perlahan meski sedikit memaksa. Dia menutup mata, menyerah pada posisinya yang sudah tertahan. Aku mendengar erangan kecil darinya, dia mulai menikmati sapuan lidahku, dadanya turun naik menahan nafsu, lalu dia mencengkeram ujung kaosku, menekan dan memberi perlawanan pada lidahku. Hohoho... Kau tidak akan kubiarkan menang sepeti kemarin sayang, aku yang akan mendominasi permainan mulai saat ini. Aku turunkan ciumanku ke dagu, lalu ke lehernya, aku menciuminya dengan lembut. Dia menengadahkan kepala menikmati sentuhan lidahku, matanya tertutup, mulutnya terbuka, mengerang indah seperti sebuah permintaan untuk di sentuh lebih dalam. Aku kembali ke bibirnya, menciumi dan menggigitnya pelan, bukannya kesakitan dia malah melenguh dan merapatkan tubuhnya padaku. Menyentuhkan bukit kembarnya ke dadaku, tapi aku mulai melonggarkan ciuman dan melepaskannya. " Belum sekarang sayang, aku mau kau mencintaiku dulu, bukan hanya terbawa oleh nafsu yang memburu" kataku dalam hati. Dia membuka matanya menatapku, wajahnya seperti menahan kesal karena aku menghentikan perjalanan nafsunya. Aku kembali mengatupkan kedua tanganku diatas kedua pipinya, merapatkan keningku dan keningnya, mengatur nafasku agar lebih tenang, lalu...
" Cintai aku Di... aku mohon..."
Tiba - tiba tangisnya pecah, aku menjauhkan wajahku karena terkejut, kenapa dia menangis? Dia lalu menghambur ke dalam pelukanku, lagi - lagi menangis di bahuku, apa dia kembali mengingat mantan suaminya, shittt... Di saat aku menyentuhnya dengan semua rasa cinta, dia malah sedang membayangkan kalau aku adalah mantan suaminya. Aku diam tak membalas pelukannya, kesal, aku pikir aku sudah berhasil menggiring keluar nafsunya, ternyata aku salah.
" Maafkan aku Dim... " katanya pelan bercampur isak, yahhhh... sudahlah, silahkan anggap aku ini mantan suamimu Di, kataku dalam hati.
__ADS_1
" Aku memang sudah jatuh cinta padamu, tapi aku takut di sakiti lagi..." tangisnya bertambah kencang, mataku membesar mendengar kata - katanya, aku menjauhkan bahuku darinya, kembali menangkupkan tanganku di pipinya, sayang... sebegitu rapuhnya kah engkau, sampai - sampai untuk berharap bahagiapun kau takut, kataku dalam hati. Aku menciumi wajahnya, mengacuhkan airmata yang membasahi wajahnya, aku sampai lupa kapan aku mulai jatuh cinta padanya, tapi aku tak perduli, aku hanya ingin dia bahagia. Berkali - kali aku menciumi wajahnya, hanya sebatas menciuminya saja, aku tak mau dia merasa tertekan atas hasrat dan menahan sakit di kakinya.
Kami menghabiskan malam dengan saling berpelukan, bercerita, berciuman, sepanjang malam, tak takut lagi di datangi warga karena dia sudah sah menjadi istriku.