Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
RENCANA BUSUK


__ADS_3

*


Aku mengajak Siska untuk membeli beberapa keperluan bayinya. Kami berulang kali keluar masuk toko perlengkapan bayi untuk membeli beberapa barang atau hanya sekedar melihat - lihat saja. Andi nampak kelelahan menemani kami berbelanja seharian.


Setelah memastikan barang - barang yang dibutuhkan sudah terbeli semua, kami memutuskan untuk pulang. Andi berjalan di depan kami menuju mobil, tapi tiba - tiba Siska menahan langkahku begitu melewati sebuah toko perhiasan. Aku ikut menemaninya masuk ke toko tersebut dan melihat - lihat beberapa perhiasan. Setelah memilih dua buah cincin dengan model yang sama untuk kami kenakan berdua, kami berjalan keluar toko. Tapi, belum beberapa langkah berjalan, sesuatu menutupi mulut dan hidungku, menutup pintu pernafasanku, dan... .


Gelap


**


Dimas


Aku langsung berlari keluar toko menuju mobilku dan cepat menekan dalam pedal gasnya. Sudah ku duga, ular tetaplah ular, tidak akan pernah berubah menjadi kucing, walau diberi cinta sebanyak apapun, dia akan menggigit dan mematikan.


Flashback on


Aku menjawab panggilan telpon Andi lewat ponselku. Nafasnya terengah - engah,


" Di diculik."


Itu kalimat pertama yang dia sampaikan


" Kenapa bisa? Kau ini Ndi, dimana kau sekarang?"


Andi menyebutkan sebuah tempat pusat perbelanjaan di kota ini, aku cepat memeriksa GPRS yang berasal dari ponsel Di, syukurnya itu masih aktif.


Flashback off


***


Dirgana


Aku terbangun oleh percikan sesuatu yang dingin di wajahku. Kepalaku terasa sangat berat, rasanya susah sekali membuka mataku. Beberapa percikan lain menyusul dan mengagetkanku, setelah beberapa kali mengerjapkan mata, akhirnya pandanganku mulai jelas. Mataku melotot melihat seorang laki - laki yang berdiri di depanku,


" Hendra?"


Laki - laki itu tersenyum sinis padaku,


" Apa kabar sayang?"


Dia menyentuh pipiku, aku cepat menepis tangannya dari pipiku dengan menyentakkan kepalaku ke samping. Dia beruntung kedua tanganku terikat di belakang, kalau tidak aku sudah menampar wajahnya.


" Kau masih saja menolakku Di."


Dia berdiri dan menggeleng - gelengkan kepalanya. Lalu dia membelai kepalaku yang tertutup hijab, aku kembali menggerakkan kepalaku, tapi tiba - tiba dia menarik jilbabku ke belakang dengan kasar. Kepalaku menengadah, dia memburu bibirku dengan ciumannya. Berkali - kali aku meludah di mulutnya, tapi dia tak perduli, masih tetap menciumiku dengan menjijikkan.

__ADS_1


" Udah Ndra... Ntar aja lanjutin."


Hendra menghentikan ciumannya dan bergerak ke samping, aku membelalakkan mata melihat perempuan yang berdiri di depanku sekarang.


plak


Pipiku tiba - tiba panas


" Berani - beraninya kau menghancurkan semua rencanaku Di!"


Siska berdiri bersama keangkuhannya yang dulu lagi. Matanya melotot padaku. Aku menatapnya tak percaya


" Ternyata Dimas benar, aku memang bodoh."


Aku menggelengkan kepalaku lemah, menyesal tidak mendengarkan Dimas


" Ya... kau juga naif dan idiot. Kau pikir kata - kata mutiaramu bisa melunakkan hatiku yang terlanjur sangat membencimu? Kau salah Di..."


Siska tersenyum sinis, ada seringai ular dalam tatapannya padaku


" Setelah kalian menghina papaku, menghancurkan usahanya, membuatnya sangat tertekan, kalian pikir kalian bisa tertawa bahagia saat ini!"


plakk


plakk


" Aku akan membuat Dimas melupakanmu selamanya Di, menjadikanku satu - satunya istri buatnya. Membuat anak ini menjadi ahli waris utama di keluarga Arya. Membuat Dimas membenci anak - anakmu dan membuang mereka ke jalanan. Kau akan ku buat tidak tenang di alam sana, melihat kehancuran semua anak - anakmu. Kau lihat saja nanti!"


Siska membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya padaku, tersenyum mengejek. Aku tidak menyia - nyiakan kesempatan itu, menghantamkan kepalanya dengan kepalaku, membuatnya jatuh tersungkur di kakiku. Hendra bergerak cepat mendekati Siska dan ingin membantunya berdiri.


" Wanita iblis!! berani kau menyakiti anak - anakku, maka kau akan ku ajak ke neraka!"


Aku meludah di kepalanya, sebelum Hendra berhasil membuatnya bangkit.


" Kurang ajar kau Di!!!"


Siska yang terlihat limbung, masih sanggup berkata kasar padaku.


Hendra membawa Siska menjauh dariku dan mendudukkannya di kursi di salah satu sudut ruangan ini. Hendra lalu kembali melangkah mendekatiku, sedikit membungkukkan badannya dan menyapu darah yang ada di sudut bibirku dengan ibu jarinya.


" Aku akan membuat Dimas jijik setiap kali melihat jengkal di tubuhmu Di."


Aku cepat meludah padanya, tapi dia lebih cepat bergerak mengelak


plak

__ADS_1


Kepalaku mulai terasa pusing, tamparan laki - laki iblis di depanku ini bukan hanya menyakitkan, tapi juga mengubah struktur otak di kepalaku.


Hendra membuka satu persatu kancing kemejaku dengan kasar. Aku meronta menolak apa yang sedang dikerjakannya, tapi tetap tak mampu melawan gerakannya, apa lagi dengan tangan dan kaki yang terikat kuat.


Hendra berhasil melepas kemejaku, sekarang hanya tinggal dadaku saja yang tertutup. Dia lalu menurunkan tangannya ke kancing celana panjang yang aku kenakan, lalu


brakk


Sesuatu menghantam keras pintu ruangan ini. 2 orang yang tidak aku kenal jatuh terkapar tak jauh dari tempatku. Hendra cepat menghentikan kegiatannya menelanjangiku, bergerak mundur ke tempat Siska yang sedang berdiri menatap ke pintu. Wajah mereka berdua tiba - tiba berubah ketakutan, sesaat kesombongan tadi menghilang.


" Di!!"


Dari posisi dudukku yang membelakangi pintu saja aku dapat mengenali suara itu.


" Tolong aku Dimas..."


Tangisku langsung pecah, tapi Dimas mengacuhkanku. Dia berlari ke tempat Hendra dan Siska berdiri, Andi dan beberapa orang yang tidak aku kenal mengikuti langkah Dimas dari belakang, Dimas kemudian melayangkan tinjunya yang sangat keras pada Hendra. Hendra tersungkur jatuh, meninggalkan Siska yang langsung ciut dengan hanya melihat kehadiran Dimas. Siska bergerak mundur perlahan melihat Dimas melangkah mendekatinya dengan wajah sangarnya menahan amarah


" Berani kau menyakiti istriku."


plak


plak


" Aduhhh... "


Siska terjatuh menelungkup, perutnya mendarat di lantai dengan keras. Dia berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya. Dimas berlari ke arahku, sementara Andi dan beberapa orang lainnya cepat membekuk Hendra dan mengangkat tubuh Siska yang mengeluarkan banyak darah.


" Bawa Siska ke rumah sakit dulu, tubuhnya mengeluarkan banyak darah!"


Dimas berhenti membuka ikatan di kakiku dan menatapku marah.


" Kau masih mau memikirkan keadaannya? Aku akan bantu mengikat tali ini kembali di kakimu!"


Dimas yang marah mulai mengancamku, aku cepat menggelengkan kepala.


" Bawa mereka berdua ke kantor polisi. Aku antar Di pulang dulu, setelah itu aku akan menyusul mu ke kantor polisi."


Andi berulang kali menyasarkan kepalan tangannya di wajah Hendra sebelum kemudian menyeret kasar tubuhnya keluar. Beberapa laki - laki lainnya mengangkat tubuh Siska, yang masih berteriak merintih kesakitan.


Setelah ikatan pada kaki dan tanganku terlepas, Dimas dengan cepat melepaskan jaket yang dia kenakan dan mengenakannya perlahan di tubuhku. Dia melingkarkan tangannya di bahuku dan mengajakku keluar dari ruangan ini. Tapi, belum beberapa langkah kakiku berjalan, aku merasakan pusing di kepalaku, langkahku mulai goyah, tubuhku seketika limbung, dan


" Di!!!!"


Kembali gelap

__ADS_1


__ADS_2