Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
SEGALA EKSTRA


__ADS_3

*


Dirgana


Tanpa terasa, ini sudah memasuki bulan ke tujuh kehamilanku. Perutku semakin membesar, lebih besar dari kehamilan 9 bulanku pada 3x kehamilan sebelumnya. Aku duduk membelakangi Dimas yang sedang memberikan belaiannya di punggungku.


" Aku mau rebahan yank."


Dimas menghentikan gerakan membelainya dan membantuku berdiri dan berjalan perlahan menuju tempat tidur. Aku langsung merebahkan badan begitu bokongku mendarat di atasnya. Ahhhh... lega sekali rasanya kalau sudah berbaring menyamping seperti ini. Dimas berjalan menuju keluar kamar,


" Kau mau kemana Dim?"


Aku mengangkat kepalaku berusaha melihatnya, tapi tak kelihatan dengan posisi berbaringku yang membelakangi pintu kamar.


" Mau minum yank."


" Jangan lama - lama, punggungku masih butuh belaianmu."


Dimas diam dan melanjutkan langkahnya keluar kamar.


Beberapa menit kemudian, Dimas kembali ke kamar dan duduk dibelakangku. Aku terkejut dengan kedatangannya yang tiba - tiba. Mataku yang hampir tertutup rapat di belai angin yang masuk dari jendela kamar yang terbuka, jadi terbuka membesar. Ngantukku jadi hilang.


" Kau mengagetkanku Dimas."


Aku berusaha mengejar tubuhnya dengan tanganku, bermaksud ingin mencubitnya. Tapi posisiku saat ini sangat menguntungkannya.


" Maaf yank... aku gak tau kalau kau sudah mau tidur."


Aku menggeram kesal karena tak berhasil mencubitnya.


" Kau belai punggungku Dimas, buat aku tertidur lagi. Aku benar - benar membencimu!"


Dimas kembali duduk dan membelai punggungku.


**


Dimas


Sudah hampir tujuh bulan, Di selalu bersikap kasar padaku. Beberapa kali aku membicarakan ini pada mama dan mama Di, jawabannya sama. Mereka tertawa terbahak - bahak, lalu mengatakan " Anak - anak itu pasti mirip sekali denganmu Dimas." Aku menghela nafasku berat dan menghentikan belaianku begitu mendengar dengkuran Di.


" Awas kau Dimas, aku akan menggigitmu."


Gerakanku untuk berdiri terhenti oleh ancaman dan geramannya. Aku baru hendak duduk kembali di dekatnya, tapi suara dengkurannya membatalkan niatku. Aku melanjutkan langkahku keluar dari kamar.


Aku mengambil cangkir dan menyeduh kopi sachet di dalamnya. Kemudian berjalan ke halaman belakang dan duduk di teras. Aku menghela nafas berat, merasa sangat letih beberapa bulan ini. Hanya tinggal 2 bulan lagi, semoga Di cepat seperti Di yang dulu lagi. Aku rindu manis dan manjanya yang dulu, hufffttt.


Aku menarik cangkir kopi dan menyeruput isinya perlahan. Lalu bangkit dan pindah duduk ke kursi santai. Meletakkan cangkir kopi di atas meja kecil dan membaringkan tubuhku pada kepala kursi. Langit agak mendung, tapi tidak hujan. Angin berhembus tenang, membelai mataku, lalu terpejam.


***


Aku terbangun oleh bau masakan enak, mengerjap - ngerjapkan mataku sebentar, lalu membukanya lagi. Aku bangkit hendak melihat apa yang sedang dimasak Di di dapur, sehingga baunya begitu menggoda.

__ADS_1


" Kamu lapar Dim?"


Di seperti tau kehadiranku di dapur


" Baunya enak, kamu masak apa?"


Aku berdiri di belakang tubuhnya yang sedang menghadap kompor yang menyala, melihat nasi goreng yang sedang di aduk - aduknya dengan lihai.


" Nasi goreng, koq kebawa lapar gara - gara mimpi makan nasi goreng pedas pakai bakso lava. Aku pesan baksonya on line tadi, nasi gorengnya aku masak sendiri."


Di mematikan kompor dan bergerak menuju lemari piring, mengambil 2 buah piring dan kembali ke tempatnya semula.


" Aku juga mau, jadi ikut lapar."


Di tersenyum, lalu tertawa melihatku menepuk - nepuk perutku.


Setelah selesai menyendokkan nasi goreng ke piring , kami pindah ke ruang makan. Aku membantu Di membawakan piring nasi goreng, sementara Di membawa mangkok berisi bakso sebesar kepala bayi. Kami langsung menyantap makanan yang sudah kami sediakan di atas meja makan, menikmati makanan tanpa berbicara apapun.


Di langsung membereskan sisa makan kami, dia melarangku untuk membantunya, jadi aku hanya duduk saja menunggunya selesai. Setelah itu, kami duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Aku mengambil bantal besar untuk menyangga punggung Di, sementara aku berbaring di sampingnya. Entah untuk berapa lama ketenangan ini berlangsung, tapi aku menikmatinya. Tangan Di membelai kepalaku dengan lembut, aku menggeser tubuhku lebih dekat padanya dan meletakkan kepalaku di pahanya. Hatiku berhitung dari 1, mengira - ngira berapa lama Di akan diam jika aku berbaring seperti ini. Hitunganku sudah sampai di angka 100, tapi Di hanya diam menatap televisi di depan kami, masih sambil membelai kepalaku.


10 menit, 30 menit, satu jam, Di masih melakukan hal yang sama dengan posisi yang sama. Aku menelungkupkan tubuhku pelan, mengangkat kepalaku, menatap wajahnya. Dia tersenyum sebentar, kemudian lanjut menonton lagi. " Aneh " pikirku, tapi aku menikmati lagi ketenangan ini.


Hampir 2 jam Di diam, aku jadi merasa rumah ini sangat sepi. Aku bangkit dan duduk menghadapnya.


" Keluar yuk."


Di cepat menoleh padaku, matanya berbinar ceria, dia mengangguk. Aku membantunya berdiri dan bersiap - siap untuk jalan - jalan. Bosan juga lama - lama hening seperti tadi. Anak - anak di rumah mama Sandra, Zya sedang tidur. Lagipula, aku sudah mempekerjakan baby sitter untuk mengurusnya untuk meringankan pekerjaan Di di rumah, mengingat kondisi kehamilannya yang sangat berat kali ini.


****


Dirgana


Aku mengelus - elus perutku, tinggal menunggu waktu saja, " sebentar lagi kalian akan bertemu denganku dan semua orang yang sedang menantikan kehadiran kalian nak." Zya bermain bersama baby sitternya di halaman belakang, tawa cerianya membuat hatiku sedikit iba. Zya masih terlalu kecil untuk punya adik, tapi tentu saja rejeki ini tak akan pernah aku tolak.


" Assalammualaikum "


Aku menoleh ke pintu samping di dekat ruang makan yang membatasi ruang tersebut dengan garasi. Iza langsung menghampiriku,


" Waalaikumsalam."


Iza duduk di sampingku dan ikut membelai perutku.


" Masih lama ya ma debaynya lahir?"


" Sebentar lagi koq kak."?


Dia menundukkan kepalanya hendak mencium perutku, tapi cepat menegakkan tubuhnya lagi, terkejut melihat sebuah gerakan di perutku.


" Nakal kamu ya, nanti kakak cubit kamu, awas!"


Dia tertawa dan menunduk lagi untuk memberikan ciuman di perutku, lalu cepat menegakkan tubuhnya lagi.

__ADS_1


" Ma."


Aku menoleh dan menatap wajahnya.


" Iza sayang mama."


Dia memelukku dan menangis terisak, aku memandangi puncak kepalanya, bingung.


" Mama tau koq kak... Mama juga sayang kalian semua."


Meski bingung dengan tingkahnya, tak urung aku membalas pelukannya dan memberikan ciuman di puncak kepalanya.


" Asammm.. ah..."


Iza tertawa, dan melepaskan pelukannya.


" Mandi sana, ntar mama muntah nih."


Dia tetap tertawa, lalu berdiri dan melangkah masuk ke kamarnya.


Selama hamir si kembar, aku mendapatkan banyak perhatian dari semua orang. Kedua mama yang rutin menanyai kabarku, bahkan mama ku menelpon bisa sampai 4 atau 5 kali dalam sehari. Iza dan Azi yang selalu menjagaku, sudah sangat jarang ku lihat mereka bertengkar. Iza lebih banyak mengalah akhir - akhir ini, Azi juga jadi kasihan sendiri lihat kakaknya selalu mengalah dan sama sekali tidak pernah gangguin atau cari masalah dengan kakaknya. Dimas, dia sangat menderita semenjak aku hamil. Entah kenapa emosiku selalu tinggi kalau sudah bertemu dengannya. Hampir setiap hari, setiap kami berduaan, Dimas selalu jadi sasaran empuk kemarahanku. Tapi, tak sekalipun dia marah atau menolak permintaanku.


Di tidur siangku beberapa bulan yang lalu, aku bermimpi mangkok bakso yang sedang berada di depanku di rebut oleh seseorang. Padahal aku sangat ingin memakannya. Ketakutan langsung melanda batinku, takut kalau Dimas berpaling karena bosan dengan sikapku. Sejak itu aku berusaha menekan dalam - dalam emosiku ketika berada di dekatnya ataupun bertemu dengannya. Aku juga jadi lebih banyak diam, takut kalau kata - kataku menyakiti hatinya.


Aku kembali membelai - belai perutku, menikmati tendangan - tendangan si debay sambil sesekali tertawa. Tiba - tiba sebuah tendangan kecil membuat perutku terasa mulas, seperti ingin buang air. Aku bangkit perlahan untuk ke kamar mandi, berpegangan pada dinding untuk menumpu berat badanku. Ketika aku berhasil berdiri, aku merasakan sesuatu yang memaksa untuk keluar dari kemaluanku, aku menahannya dengan menekan erat di bagian itu, tapi kekuatan dari dalam lebih hebat dibandingkan tekanan ku


" Aaahhhh... Izaaaaaa... Uniiiiii...."


Darah segar mengalir dari paha menuju kakiku. Iza langsung keluar dan berteriak melihat keadaanku, uni cepat mengambil HPnya dan menelpon Dimas. Baby Sitter, Rahma, menggendong Zya masuk ke ruang keluarga dan membantu memegang tanganku menggantikan posisi dinding, setelah dia menurunkan Zya dari gendongannya. Iza cepat menggendong Zya, dia juga tidak tau harus berbuat apa kecuali menangis dan memanggil - manggilku. Sakit perutku sekarang datang lagi, melilit, aku menggigit bibir bawah dan meremas tangan Rahma sangat kuat untuk menahan rasa sakit ini. Rahma mengarahkan aku untuk mengatur pernafasan, memberikan instruksi seperti seorang dokter, aku mengikuti semua instruksinya.


Perlahan sakit perutku hilang, Rahma memintaku tenang, aku mengangguk mengerti. Uni langsung mendekat dan membersihkan darah yang mengalir di kakiku, juga yang berserakan di lantai.


" Bapak dalam perjalanan ke sini buk, ibuk tenang ya... ikuti instruksi Rahma ya."


Aku kembali mengangguk, mengatur pernafasanku, masih menggenggam erat tangan Rahma. Tiba - tiba sakitnya muncul lagi,


" Ma... sakit lagi ma... Eeehhhhhh...."


Aku kembali menggigit bibir dan meremas tangan Rahma. Tangis Iza bertambah keras, Zya juga ikutan nangis.


" Dimaaaassssss!!!!"


Aku mulai tak tahan dengan sakit ini, air mataku mulai mengalir deras. Rahma masih memberikan instruksi dan mencoba menenangkanku.


" Aku gak kuat ma... Badanku lemes, sakit banget ma..."


Aku merasakan tubuhku sudah sangat lemah, kakiku sudah tak tahan menopang tubuhku, aku membiarkan saja tubuhku terjatuh,


" ibuk!!!"


" maaaaa!!!"

__ADS_1


" Diiii!!!"


__ADS_2