Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
MY NEW " Z "


__ADS_3

*


Dirgana


Aku memandangi bayi mungil yang ada di gendonganku dengan takjub, bagaimana tidak, dia lahir di usia kandungan 7 bulan dan dia sehat. Meskipun berat badannya hanya 2,5 kg, tapi dia sehat. Azi sangat ingin menggendongnya dari tadi, berkali - kali Dimas membujuknya untuk menunggu satu atau dua tahun lagi untuk bisa menggendong adiknya , tetap saja dia meminta izinku untuk menggendong. Iza sibuk mengambil foto adiknya, aku rasa sudah penuh memori HPnya dengan foto si baby.


" Namanya siapa ma?" Tanya Azi, Dimas terdiam dan melihat ke arahku. Kami memang belum menyiapkan nama untuknya.


" Di..." panggil Dimas bingung, seperti menyerahkan kepadaku untuk memberi nama pada si baby.


" Hmmm... ada 1 nama yang sempat terpikir sih, aku gak tau kamu setuju apa nggak." Jawabku pada Dimas


" Siapa?" tanyanya penasaran


" Zyana... Zyana Arya... Berkah dari surga untuk keluarga Arya."


" Bagus ma... bagus.. Azi setuju."


Aku dan Dimas melihat ke arah Azi berbarengan, lalu tertawa bersama - sama.


" Zya... adek Zya..."


Azi langsung memanggil si baby dengan nama yang aku sebutkan tadi, aku melirik ke arah Dimas yang masih mengagumi si baby.


" Dim?" panggilku pelan, Dimas membalas lirikanku seakan tahu kenapa aku memanggilnya


" Iya.. aku setuju.. Zyana Arya."


**


Hari ini aku mengadakan kumpul keluarga sekaligus syukuran atas kelahiran Zya, semua anggota keluargaku dan juga Dimas ada disini. Mama Sandra tak henti - hentinya menciumi Zya, bahkan beliau tidak keberatan harus menggendong Zya seharian, palingan sesekali ketika Zya menangis karena haus atau lapar baru Zya berada di tanganku.


" Buatkan mama 5 lagi yang lucu kayak gini ya Di... Biar seruuuu...


Aku menggelengkan kepala mendengar permintaannya.


" Kan ada Azi oma, nanti Azi ramaikan rumah oma." Azi ikut bicara, kami tertawa mendengar ocehannya.

__ADS_1


" Azi bentar lagi gede, trus kayak kakak Iza, sibuk... Oma jadi kesepian lagi." jawab mama Sandra tersenyum. Iza mendekati mama Sandra dan memberikan pelukannya.


" Azi akan temani oma kalau Azi sudah besar, tenang oma." katanya sambil menepuk - nepukkan tangannya di bahu mama Sandra. Mama Sandra tertawa terbahak - bahak dan mengacak - acak rambutnya.


Setelah selesai acara, kami duduk berkumpul di ruang keluarga, Iza, Azi dan Zya sudah tidur karena kelelahan. Mama Sandra dan mamaku berencana tidur di rumah kami malam ini.


" Ok, Dimas... Di... Minggu depan mama mau keliling Indonesia. Pengen refreshing." Mama Sandra membuat pengumuman. Dimas memandangi wajah mamanya,


" Tumben... Biasanya keluar negeri." Ejek Dimas, tanpa tertawa.


" Udah bosan, lagipula susah nemu nasi." jawab mama, kami tertawa terbahak - bahak mendengar alasan mama yang kedua.


" Ok... Ok... Berapa lama refreshingnya?" tanya Dimas tersenyum


" Belum tau.... secapeknya aja, kalau belum capek ya... tambah keluar negeri juga kayaknya." lagi - lagi kami tertawa,


" Besan ikut ya?? Refreshing... Nyegerin otak." Ajaknya pada mama, mamaku terkejut dan menoleh padaku.


" Ide bagus itu ma... Mama udah lama juga gak jalan - jalan kan?" kataku mendukung ide mama Sandra. Aku memperhatikan wajah mama yang sudah semakin tua, langsung merasa iba padanya. Mama memang jarang sekali jalan- jalan setelah kepergian almarhum abah. Apalagi setelah aku berpisah dari Radit, bisa dikatakan tidak pernah. Paling - paling jalan ke pasar, itupun untuk belanja kebutuhan rumah. Sudah saatnya beliau bersenang - senang, pikirku.


" Ok... pikirkanlah dulu. Tapi, jangan kelamaan, minggu depan kita berangkat." jawab mama Sandra mengingatkan.


Aku tahu benar apa yang menjadi pertimbangan mama, " tenang ma, aku akan handle semuanya." kata ku dalam hati.


***


Pagi harinya, mama dan aku memasak bersama di dapur. Mama Sandra sibuk menanam bunga di sudut halaman belakang ditemani Azi. Dimas duduk di teras belakang menggendong Zya, sementar Iza sudah berangkat pagi - pagi sekali untuk latihan basket.


" Mama ikut aja jalan - jalan sama mama Sandra, kapan lagi mau mau nyenangin diri?" kataku sambil memotong - motong sayuran, mama hanya diam saja menanggapi kata - kataku.


" Ma..."


" Mama dengar koq Di... Mama sih mau aja Di, mau banget, tapi... " Mama menggantung kalimatnya seperti memikirkan sesuatu.


" tapi apa ma?" tanyaku


" Gak enak nyusahin mama mertuamu... Simpanan mama kan gak banyak juga, keliling Indonesia pula." jawabnya yang sudah bisa aku tebak.

__ADS_1


" Oalah maaaa.. Itu masalahnya toh.."


Aku menghentikan kegiatan memotong sayuranku, mengeluarkan sebuah kartu dari saku bajuku,


" Jangan gunakan tabungan mama untuk jalan - jalan kali ini, mama pegang ini." aku menyerahkan salah satu CCku pada mama, mama menatap wajahku, lalu menatap kartu yang ada di tangannya.


" Gunakan kartu itu ketika mama ingin beli apapun, mama juga bisa gunakan seperti ATM, untuk pegang uang cash." kataku menjelaskan.


" Ini... Ini punya Dimas kan Di... Yah... sama aja menyusahkan jadinya Di..." kata mama dengan wajah sedih.


" Di udah izin sama Dimas koq ma... Lagipula kartu seperti itu masih ada beberapa lagi di dompet Di, yang ini kartu yang jarang Di gunakan. Mama gunakan untuk bersenang - senang. Di mau mama bahagia." kataku tersenyum.


Mama langsung memelukku, aku sempat melihat air mata yang menggantung di matanya,


" Terimakasih Di... Terimakasih banyak nak..." katanya padaku.


" Di yang harusnya berterimakasih ke mama, ini belum ada apa - apanya dibanding pengorbanan mama untuk Di dan anak - anak Di selama ini. Di hanya ingin mama bahagia, itu aja." kataku sambil menyeka airmataku yang juga sudah tumpah.


" Kamu juga seorang ibu, kamu juga akan melakukan hal yang sama pada anak - anakmu seperti mama Di." mama mulai melepaskan pelukannya.


" Iya ma... itu pasti, kebahagiaan mama dan anak - anak adalah prioritas Di." jawabku, mama tersenyum dan membelai pipiku.


" Di, Zya haus nih..." tiba - tiba Dimas masuk ke dapur sambil menggendong Zya yang menangis.


" Iya Dim... Sini aku gendong Zya." kataku menghampiri Dimas lalu memindahkan Zya ke gendonganku.


" Dimas... terimakasih ya..."


Mama menunjukkan kartu tadi pada Dimas, Dimas tersenyum lalu mengangguk sedikit.


" Sudah waktunya para orangtua menyenangkan diri sendiri ma... Mama tenang aja." kata Dimas kemudian,


Kami lalu keluar dari dapur, meninggalkan mama bersama uni. Aku melangkah ke kamarku bersama Dimas yang masih di sampingku menemani.


" Terimakasih ya yank... Aku benar - benar mencintaimu." kataku padanya begitu kami sudah di dalam kamar.


" Iya sayang... karena aku juga mencintaimu, maka aku akan lakukan apapun untuk kebahagiaanmu, agar kau selalu mencintaiku." jawabnya dan mengecup keningku dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2