Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
UJIAN LAGI


__ADS_3

*


" Yank..."


" Iya Dim."


" Ayo lah..."


" Aku lagi sibuk yank, acaranya hanya tinggal beberapa hari lagi."


" Tapi aku merindukanmu yankkk."


Di menatap kesal pada Dimas


" Tidak bisakah kau mengesampingkan hal itu beberapa hari lagi Dim, tolong mengerti keadaannya."


Di beranjak keluar kamar, meninggalkan Dimas yang menatap kepergiannya dalam diam.


" Awas kau Ndi!"


Dimas meninju kasurnya, kesal karena sudah hampir seminggu dia tak mendapatkan jatah kesenangan dari istrinya. Di semakin sibuk dan melupakannya. Dimas menutup mata dan menjepit kedua kakinya untuk membuat tenang senjatanya. Tapi, senjata itu memberontak di balik celana.


" Aaargghhh, sial."


Dimas bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Dia menyiram seluruh tubuhnya agar senjatanya tertidur, meski tanpa perlawanan berarti, dan berhasil.


Setelah selesai mandi, Dimas mengenakan pakaian dan langsung keluar kamar. Di masih melanjutkan kesibukannya, dibantu oleh para baby sitter dan uni. Dimas melangkah keluar, Di tetap tak memanggilnya. Naik ke mobil dan menyalakannya, masih tak ada suara panggilan. Dimas dengan cepat mengeluarkan mobilnya dari garasi dan pergi meninggalkan rumah bersama mobilnya.


" Dimaaasss!!"


Terlambat, Dimas tak lagi mendengar panggilan Di.


*


Dimas memilih pergi ke sebuah club malam untuk menyenangkan dirinya sendiri. Dimas merasa Di sudah tak lagi perduli padanya, perhatiannya tersita habis untuk mengurusi pernikahan Andi dan Andien, seolah - olah mereka itu anak - anaknya.


" Hi."


Seorang wanita mendekati meja Dimas, mengerling manja padanya, sambil sesekali menggigit bibirnya dengan gaya menggoda


" Sendirian?"


Dimas mengangguk lemah, " Ya, aku sendirian di muka bumi ini." lanjutnya dalam hati.


" Aku temani ya."


Tanpa menunggu izin dari Dimas, perempuan itu langsung duduk di dekatnya.


" Aku Hellen."


" Dimas."


Sebentar saja, Hellen mampu membuat Dimas berubah menjadi lebih santai. Tidak kaku seperti di awal tadi. Caranya memberikan belaian dan tawanya yang renyah, seketika membuat Dimas lupa kebutuhannya pada Di.


" Dia saja bisa melupakanku, kenapa aku tidak?" Ucap Dimas dalam hati.


Beberapa saat kemudian, mereka bergantian nomor ponsel dan berjanji akan saling bertemu lagi. Dimas yang sudah mengantuk memutuskan untuk pulang, Hellen memintanya untuk di antarkan ke rumah, dengan alasan yang sama. Jadilah Dimas mengantarkan Hellen terlebih dahulu.


Percakapan mereka berlanjut di mobil, sesekali Hellen menepuk dan memberikan belaian di paha Dimas. Seketika Dimas merasakan senjatanya mengeras akibat sentuhan Hellen, tapi Dimas dengan cepat mengalihkan perasaan yang timbul dan membuat senjatanya menunduk kalah.


" Ok Dimas... Terimakasih sudah mengantarkan aku."


" Sama - sama."


" Kau tidak mau mampir dulu?"


" Mmmm... sebaiknya tidak, aku takut khilaf."


Hellen tertawa renyah, menunjukkan giginya yang putih berbaris rapi di dalam mulutnya.


" Padahal aku berharap sekali kau khilaf."

__ADS_1


Dimas menanggapinya dengan tertawa.


" Ok, sekali lagi terimakasih. See you ya..."


" See you."


Hellen turun dari mobil, langsung masuk ke sebuah rumah dengan gerbang yang sangat tinggi. Dimas menyalakan klaksonnya sebelum pergi berlalu.


*


ting


ting


Dimas tersenyum sambil memandangi ponselnya. Ini sudah hari ke tiga sejak dia mengantarkan Hellen pulang. Dua hari lagi pernikahan Andi berlangsung, Di bertambah cuek karena porsi kesibukannya bertambah


" Kau sudah coba kemeja batiknya Dim?"


Di bertanya tanpa menatap Dimas.


" Sudah."


Dimas menjawab tanpa menatap Di


" Bagus kan?"


" Hmmmm."


" Ini pak."


Dimas menoleh pada uni yang membawakan sarapannya, lalu menoleh kesal pada Di yang sibuk mencobakan seragam untuk si kembar dan Zya.


" Lama - lama, aku jadi merasa uni lah istriku."


Di menoleh cepat pada Dimas, uni pergi menjauh dari meja makan, sementara Dimas sibuk membalas chat lalu memasukkan HPnya ke saku kemejanya.


" Dimmm..."


Dimas berlalu, meninggalkan Di yang diam terpaku. Tanpa meminum teh panasnya ataupun menyentuh sarapannya.


*


" Kau lapar sekali Dimas?"


Hellen mengusap ujung bibir Dimas dengan tissue, namun Dimas diam saja menikmati makanannya.


" Aku belum sarapan."


Hellen tersenyum


" Kalau aku jadi istrimu, aku akan menemanimu sarapan."


Dimas tersenyum sinis, faktanya Hellen bukan istrinya dan istrinya mengacuhkannya.


" Setelah bercinta dulu pastinya."


" Uhukk uhukkk... uhukkk."


Tenggorokan Dimas seketika tercekat, sementara Hellen menyerahkan gelas berisi air minum pada Dimas sambil tertawa terbahak - bahak. Dimas mengambil gelas yang diberikan Hellen dan langsung meminum habis isinya.


" Kau mau kembali ke tokomu setelah ini?"


Hellen mengalihkan pembicaraannya


" Mungkin."


" Kenapa mungkin?"


" Gak pa pa. Tokoku akan tutup lebih awal untuk beberapa hari ini. Semua urusanku di toko juga sudah selesai."


" Owh..."

__ADS_1


Dimas merasa malas pulang, masih siang. Dia hanya akan tersiksa dengan gairahnya melihat Di yang berjalan kesana kemari tanpa mau di sentuh.


" Jalan - jalan yuk."


Dimas menoleh pada Hellen yang tersenyum manja padanya, " aku harap ini adalah kau Di." Dimas membuang pandangannya, hanya bisa berkata dalam hati.


" Bagaimana?"


Dimas diam sebentar, lalu


" Ya sudah, yok."


Mereka langsung berdiri dan pergi meninggalkan restoran. Hellen menggamit mesra tangan Dimas dan bergelayut manja di lengannya, namun Dimas tak menolak sama sekali. Mereka naik ke mobil sambil terus saling berpandangan, mengacuhkan sekitar. Sehingga mereka tak menyadari, ada sepasang mata sedang menatap marah pada mereka sambil menggeram, lalu membanting stir di depannya.


*


Dimas masuk ke rumah lewat tengah malam, setelah seharian menghabiskan waktu bersama Hellen. Meski Hellen cukup menggoda dan beberapa kali dengan sangat jelas memancingnya lewat sentuhan dan ucapan - ucapannya, Dimas dengan sadar menolak untuk bergairah. Dia memang marah pada Di, tapi untuk membalasnya dengan perselingkuhan, Dimas rasa itu tidaklah pantas. Dia hanya sedang butuh teman saat ini, hanya sekedar teman.


Dimas melihat Di yang tertidur di karpet depan TV begitu dia sudah berada di dalam rumah, " dia pasti menungguku pulang." kata Dimas dalam hati. Sesaat Dimas memandang iba pada Di sambil berjongkok di dekat Di, tapi kemudian egonya menguasai. Dimas bangkit dan berlalu meninggalkan Di tanpa membangunkannya. Dia membiarkan Di tertidur di depan TV, sementara dia masuk ke kamar, berganti pakaian dan tidur.


*


Dimas keluar dari kamar setelah mandi dan berpakaian. Melangkah menuju baby twin dan Zya. Menyapa Iza dan Azi yang kebetulan sedang bermain bersama adik - adiknya. Dimas mengedarkan pandangan, tak nampak olehnya sosok Di.


" Mama mana kak?"


" Ke gedung pa, sama oma, oma Jakarta dan nenek."


" Owh... oma dan nenek udah pulang?"


" Udah pa, kemarin sore. Semalam tidur sama Iza di kamar."


Dimas tersenyum menanggapi cerita anak gadisnya.


" Ya udah, bilang mama kalau papa berangkat ke toko ya."


" Iya pa."


Dimas berjalan ke pintu hendak ke garasi,


" Pa."


Dimas menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Iza yang berjalan mendekatinya dengan sebuah amplop di tangannya.


" Ini ada surat untuk papa."


Dimas menatap amplop coklat lebar yang diserahkan Iza padanya, lalu mengambilnya.


" Makasih kak."


" Iya pa."


Iza berlalu, kembali ke tempat adik - adiknya yang sedang bermain.


Dimas berulang kali membolak balik amplop tersebut, tapi tak juga menemukan nama pengirimnya. Dia kemudian membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Beberapa lembar foto dan selembar kertas keluar dari amplop tersebut.


" AKU AKAN MENGHANCURKAN KELUARGAMU, SEPERTI KAU MENGHANCURKAN KELUARGAKU!"


Dimas mengernyitkan kening, sama sekali tak mengerti maksud kalimat tersebut. Dimas kemudian melihat satu persatu foto yang dikirimkan.


Foto pertama adalah foto pernikahan, dua orang yang salah satunya sangat Dimas kenal, Hellen.


Foto kedua adalah foto pernikahan Dimas beserta Di yang diberi tanda silang dengan spidol merah.


Foto ketiga adalah foto sebuah keluarga, sepasang suami istri dan dua orang anak laki - laki remaja seusia Iza, lagi - lagi Dimas bisa langsung menebak, wajah Hellen ada di antara foto keluarga tersebut.


Foto keempat adalah foto Dimas dan Di beserta kelima anak mereka, mama Sandra dan mama Di. Lagi - lagi foto tersebut diberi tanda silang cukup besar berwarna merah.


Dimas terdiam, tak mengerti tapi seketika merasa ketakutan yang luar biasa,


" Hellenn..."

__ADS_1


__ADS_2