
*
Aku mengundang mama Di dan mengajak Iza dan Azi juga ke rumah mama Sandra. Di dan juga aku, sepakat untuk menyampaikan berita kehamilan Di hari ini. Di yang beberapa hari yang lalu terlihat lemah waktu di rumah sakit, berubah menjadi sangat agresif, begitu juga soal ranjang. Aku benar - benar kewalahan melayaninya. Bahkan beberapa kali dia meminta berhubungan di tempat - tempat yang tidak mungkin di lakukan di rumahku ini. Kemarin, dia mengajakku berhubungan di dapur di jam 10 pagi. Di waktu para asisten rumah tangga sedang sibuk menyiapkan makan siang. Susah payah aku membujuknya untuk melakukannya di kamar kami saja, akhirnya dia mengalah. Tapi, aku harus merelakan lenganku untuk di gigitnya sekuat tenaga.
Pagi ini, dia mengajakku berhubungan di balkon kamar kami. Di jam orang - orang sedang lalu lalang di depan rumah, supir - supir dan satpam lagi kumpul di depan gerbang, lagi - lagi lenganku yang jadi sasaran.
" Dimas!"
Aku cepat menoleh padanya yang baru selesai mandi dan belum menggunakan pakaian. Di berdiri di depanku tanpa mengenakan sehelai penutup apapun di tubuhnya yang masih basah. Dia mengerling nakal dan menganggukkan kepalanya padaku.
" Di... kan udah 2 kali dari tadi yank."
" Kamu menolak aku Dim?"
" Aoa aku udah gak menarik lagi?"
" Kau udah kehilangan hasratmu padaku?"
" Kau ingin cari istri baru?"
Nah... kan... Udah sampai kemana - mana pikirannya, aku mengacak - acak rambutku.
" Kamu jahat!!"
Di berlari masuk ke walking closet sambil menangis.
" Dirgana!! bukan begitu!!"
Aku mengejarnya hendak membujuk, tapi dia sudah mengunci pintu yang membatasi kamar dengan walking closet. Aku menunduk dan kembali duduk di sofa.
tok..tok..tok
Sebuah ketukan dari luar mengejutkanku,
" ya..."
" Anak - anak dan neneknya sudah datang tuan."
Tiba - tiba saja pintu walking closet terbuka, Di menghambur keluar dan membuka pintu kamar.
" Iya ni Da... terimakasih."
Di tersenyum manis pada ni Da,
" Aku ke bawah duluan, kamu cepat mandi Dimas..."
__ADS_1
Aku langsung berdiri dan bergegas ke kamar mandi.
**
Semua sudah berkumpul di ruang tamu ketika aku turun. Iza, Azi dan Zya sedang memperebutkan pelukan mamanya, sedangkan oma dan neneknya hanya tertawa melihat tingkah mereka.
" Pelukan untuk papa mana??"
Semua menoleh padaku, dalam hitungan detik Azi dan Zya mengejarku. Iza duduk di sebelah Di dan terus memeluknya. Aku memeluk keduanya dan meminta satu ciuman dari mereka. Setelah itu, aku mengangkat Zya ke dalam gendonganku dan memegang tangan Azi sambil berjalan menuju sofa di ruang tamu.
" Apa kabar ma?"
Mama Di tersenyum padaku
" Sehat Dimas. Kamu bagaimana, sehat kan?"
" Alhamdulillah ma, sangat sehat. Hanya sedikit pegal - pegal aja."
Di melotot padaku mendengar jawabanku.
" Baiklah, karena semua sudah berkumpul. Dimas dan Di ingin menyampaikan sesuatu."
Semua yang ada di ruang tamu, termasuk Di menatapku dengan wajah yang serius.
" Maksud kamu apa Dim? Siapa yang mau datang?"
Mama Sandra bertanya bingung, namun seketika beliau menyadari kalimatku dan memindahkan tatapannya pada Di. Di tersenyum,
" Di hamil ma."
Mama Sandra kaget, lalu cepat berdiri dan mendatangi Di, lalu memeluk dan menciuminya. Mama Di dan anak - anak tertawa mendengar berita yang kami sampaikan.
" Zya punya adek... Kita dapat adek baruuu..."
Azi berteriak - teriak kesenangan, Zya mengikuti setiap gerakan yang Azi buat. Kami tertawa melihat tingkah mereka berdua.
" Dua tamu ma"
Mama Sandra membelalakkan mata pada Di, mama Di kaget dan ikut membelalakkan matanya pada Di.
" Kembar ma?"
Di mengangguk mengiyakan pertanyaan Iza.
" Alhamdulillah... Di... mama bahagia banget nak... Allahuakbar..."
__ADS_1
Mama Sandra kembali memeluk Di. Mama Di mendatangi Di dan bergantian dengan mama Sandra memeluk Di sangat erat.
" Kau harus ekstra menjaga bayimu ini Di, jangan gegabah lagi kayak kemarin - kemarin nak."
Beliau melepas pelan pelukannya dan menangkupkan tangannya di kedua pipi Di.
" Kehamilan ini pasti akan jauh lebih sulit dari pada 3 kehamilan terdahulu Di."
Di mengangguk dan kembali memeluk mama.
" Kamu juga harus ekstra ketat menjaga Di Dimas. Mama gak mau terjadi apa - apa lagi padanya."
Mama Sandra memperingatkan aku. Aku tersenyum dan mengangguk juga.
***
Aku, Zya dan Di kembali ke rumah kami, setelah sebelumnya mengantar mama Di beserta Iza dan Azi ke rumah mama Di. Karena hari ini malam Minggu, anak - anak minta tinggal bersama neneknya, dan aku mengizinkannya.
Sudah lama sekali kami, terutama aku tidak ke rumah kami ini. Rindu sekali dengan suasana di rumah ini. Aku langsung merebahkan badanku sambil merentangkan tangan dan kakiku lebar di kasur kami. Di membaringkan Zya di box bayi di samping tempat tidur kami, lalu keluar menuju dapur.
Aku bangkit dari tempat tidur dan mengikuti langkah Di dari belakang dengan perlahan.Aku melihat Di sedang mengeluarkan beberapa bahan makanan dari kulkas, ketika aku sudah berada di dapur. Dia terkejut melihat kehadiranku di dapur, yang baru dia sadari setelah dia menutup pintu kulkas.
" Kau mengagetkanku saja Dim, kau mau aku kena serangan jantung dan..."
Aku cepat menarik tubuhnya mendekat ke tubuhku dan menciuminya pelan tapi penuh nafsu. Di langsung terbakar nafsunya sendiri oleh ciumanku. Dia mulai menggerakkan lidahnya dengan liar di mulutku, aku mengerang kecil di buatnya.
Aku melepaskan ciumannya dengan pelan dan menatap dalam ke matanya.
" Kau masih ingin melakukannya di dapur yank? Mari kita tuntaskan."
Ajakku, Di tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
" Lalu?"
Di melepaskan pelukanku dengan pelan dan memegang tanganku, mengajakku ke tempat yang ada di dalam fantasi bercintanya. Di menghentikan langkahnya di ruang tamu. Aku membelalakkan mataku, tapi Di malah tersenyum padaku. Aku luluh dengan tatapan liar dan senyuman nakal darinya.
Di melepaskan semua pakaiannya, meninggalkan pakaian dalamnya melekat di tempatnya. Dia lalu membantuku melepaskan kemejaku, mengecup dadaku sebentar lalu menjilati leherku, aku menengadah untuk membebaskannya melakukan jilatan di sana. Jilatannya turun ke dada , lalu ke perut.
Aku menunduk dan melihat Di sedang jongkok di depanku sambil membuka celana pendek yang aku kenakan, menurunkannya pelan dan melemparkannya sembarangan. Lalu dia menyapa adik kecilku yang mulai terbangun dengan kecupannya dan jilatan di balik penutupnya. Aku kembali mengerang indah. Di lalu melepaskan pakaian dalamku, adik kecilku tampak sangat bahagia dengan sapaan Di tadi, sekarang dia saling berpandangan dengan Di, menuntut sapaan yang lebih dari yang tadi, dan Di melakukannya.
Setelah beberapa menit berbincang dengan adik kecilku, Di bangkit dan bergerak mundur ke sofa. Di duduk perlahan di sana, melepaskan penutup dada dan bukit berbunganya, lalu mengangkat kedua kakinya ke atas sofa dan membukanya lebar. Salivaku bergerak turun naik menatap pemandangan di depanku, cepat aku bergerak mendekatinya, lalu menyatukan tubuhku padanya, Di mengerang kecil begitu aku berhasil memasukinya... Aku juga.
Aku bergerak maju mundur memasukinya dengan hentakan lalu keluar perlahan... begitu seterusnya, sampai Di meletakkan tangannya di lenganku, mencengkeramnya dan mengerang sambil menengadah dan bergelinyang. Aku yang belum sampai di puncak, terus melakukan gerakanku menghentak gerakanku setiap memasukinya, perlahan keluar lalu menghentak masuk lagi. Di lalu meremas pantatku dan mengarahkan hentakan ku ketika memasukinya, terus begitu untuk beberapa menit, sampai Di bergelinyang kembali. Aku bahagia sudah membuatnya lepas dua kali, dan dalam hitungan detik, setelah mempercepat laju hentakanku, akhirnya aku pun sampai. Aku berhenti sejenak membiarkan adikku memuntahkan isi perutnya di dalam tubuh Di.
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA MY READERS... PLUS LIKE DAN KOMEM CANTIKNYA... TERIMAKASIH.
__ADS_1