
Ctakk..
Suara jentikkan tangan Kim membuyarkan keheningan kekosongan didalam ruang sembari menatap tajam tubuh Choki terutama wajahnya yang babak belur ia pukuli.
Emosi Kim membara penuh kehancuran, dengan entengnya Choki mengatakan bahwa ia dan Karina memiliki hubungan spesial.
Niat awal hanya ingin menarik perhatian sang wanita agar mau bertemu dan ikut kembali padanya. Akan tetapi saat mendengar hal itu (?) dari Choki, Kim benar-benar dibakar api cemburu dan membabi buta memukuli Choki.
"Wae-oh.?"
"Apa kau gugup Kim hyeong.?"
"Tatapanmu tak bisa membohongiku, kau benar-benar pecundang cinta. Ha ha ha.!!" Ledek Choki pada Kim saat ia membalas tatapan tajam Kim.
"DIAMM..!!"
"Apa kau bosan hidup hah.!!"
"YA saekki. Jika sekali lagi kau berbicara, akan ku pastikan malam ini kau tak akan bisa bernafas dengan baik."
Ancam Kim sembari menarik kerja kemeja Choki yang kotor terkena d4r4h.
......................
...Diwaktu bersamaan...
Dengan perasaan resah, khawatir, sampai bergetar rasa didada dan ditangan tak menjadikan diri Karin menjadi penakut saat menelusuri jalanan sepi setelah keluar dari jalan tol.
...
Setelah mengakhiri komunikasi melalui sambungan televon rumah, Karin langsung berhamburan lari dari kamar turun kelantai bawah.
"Mba tunggu...!!"
Tiur memanggil Karin saat ia melihat Karin langsung berlari keluar kamar begitu mengakhiri sambungan televonnya.
"I..ya, kenapa..?" jawab Karin dengan suara gemetar.
__ADS_1
"Mba mau kemana?"
"Udah gak ada waktu lagi Tii.."
"Maksudnya gimana mba? Apa yang terjadi.?" tanya Tiur tak kalah gemetar bercampur panik.
"I..ni, ka..mu jaga Maura dikamar, kalau Boby pulang suruh mereka kealamat ini."
Ujar Karin buru-buru sembari mengenakan kardigan seadanya. Bahkan ia tak mengganti dress sutra bertali spagettinya terlebuh dahulu.
Karin menyodorkan sebuah kertas yang berisi alamat yang ia tulis saat Kim memberitahunya tentang alamat lokasi penyanderaan Choki.
"Mba mau kemana tengah malem begini.?"
Tanya Tiur tak kalah buru-buru lantaran melihat Karin yang kalang kabut. Namun tangannya menerima kertas yang Karin sodorkan.
Sebisa mungkin Karin menenangkan dirinya dengan menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Setelah beberapa saat menenangkan diri, Karin meraih tangan Tiur menggenggamnya erat dengan menatap dalam wajah Tiur yang mungil nan cantik.
"Tii, aku titip Maura ya. Tolong jaga Maura dengan baik setelah ini."
"Aku gak yakin aku bisa kembali kerumah ini. Tapi jangan khawatir, aku pasti baik-baik aja. Dan aku akan menjamin keselamatan untuk pak Choki."
"Mba ko..k ngomongnya begitu."
"Memangnya mba mau kemana.? Hiks, jangan ngomong begitu mba. Aku takut."
Ujar Tiur dengan deru isak tangis pecah saat mendengar pernyataan Karin.
Tanpa menjawab pertanyaan Tiur, justru Karin menarik tangan Tiur kedalam pelukkannya. Seperti seorang kakak perempuan memeluk sang adik perempuan. Pelukkan keduanya sangat memilukan bagi siapapun yang melihatnya.
Sekilas Karin mengecup pucuk kepala Tiur lalu melepas pelukkannya.
"Aku pamit, jaga dirimu ya.. Insya Allah semua akan baik-baik aja.
......................
"Apa ini alamat yang dimaksud."
__ADS_1
Tanya Karin pada dirinya sendiri sembari memastikan maps yang terdapat dilayar kecil di mobil sembari menatap keluar yang terdapat gedung beberapa lantai yang terlihat terbengkalai namun memiliki pintu dan jendela lengkap.
Tak ada mobil satu pun yang terparkir didepan gedung itu, hanya saja ada sedikit cahaya yang bersinar redup dari dalam.
Perlahan kaki Karin melangkah menjauh dari mobil. Awalnya ia ragu untuk turun dari mobil, namun saat benar-benar memastikan lokasi dan menyesuaikan alamat, disitulah rasa ragunya terkalahkan.
...
Ceklek!!
"KAKK CHOKIIIII....!!!"
Teriak Karin histeris begitu membuka pintu salah satu ruangan dan langsung melihat Choki didalamnya yang sudah tersungkur lemah tak berdaya dilantai yang penuh debu.
Berlari secepat mungkin menghampiri Choki. Sampai hilang keseimbangan hingga ikut tersungkur tepat didepan Choki.
Meraih tubuh Choki dengan tangan gemetar, menangis pilu melihat wajah Choki penuh luka serta d4r4h.
"Kak.." lirih Karin dengan suara parau karna menangis.
Mencoba menepuk-nepuk lembut pipi Choki dengan jari telunjukkanya, berharap Choki merespon karna matanya yang terpejam membuat Karin diselimuti kekhawatiran mendalam.
Namun hasil yang didapat ternyata nihil, Karin terus menangis terisak dengan wajah tertunduk sembari memangku setengah dari tubuh Choki kedalam pangkuannya.
"Ma..afin aku.. A..ku terlambat, hiks.."
"Ka..ta si..apa kamu ter..lambat, kamu tepat waktu sayang." seringai Choki saat menjawab ucapan Karin yang terdengar memilukan.
Seketika tangis Karin terhenti dan langsung menatap wajah Choki yang terlihat susah untuk membuka mata. Terkesan memaksa lantaran sakit ditubuhnya sangat teramat sakit.
"Aaaa ya Allah alhamdulillah kak.. Ku kira kamu..."
Seru Karin kembali menangis sembari memeluk Choki dan tak henti mengucapkan kata syukur karna Choki masih hidup.
...
Segini dulu ya guys, yang penting up ya..
__ADS_1
Masih ruwet nih kepala, masih berada ditengah laut soale..
Jangan lupa like komen ya 😚😚