
Terduduk lemah dipinggir kasur dengan wajah yang tertunduk. Menyimpan rasa sakit hati karna kepergian Karin yang tak terduga dan tanpa firasat apapun.
Rasa kecewa dan merasa ditipu oleh Karin yang dulu pernah berjanji tidak akan pernah meninggalkan Kim dalam keadaan apapun. "Chagia, dadaku terasa sesak. Hatiku sakit, tolong aku chagia." gumam Kim frustasi sembari menangis dengan pandangan yang tertunduk.
Ceklek, terdengar suara pintu terbuka. Seketika Kim berlari menuju pintu apartemennya berharap Karin kembali padanya, namun siapa sangka.
"Kamu?? Kenapa bisa masuk kedalam? Siapa yang memberimu akses masuk kesini.?" tanya Kim pada Soya.
"Oh annyeong pak Kim, mianhae sebelumnya. Saya sebenarnya tidak diizinkan memberitahu bapak soal pertemuan saya dengan ibu Karin beberapa hari lalu. Saya diberi izin masuk oleh beliau, dan diminta untuk datang hari ini karna beliau memberitahu saya bapak pasti tidak akan datang kerja hari ini. Jadi...." tiba-tiba Kim memberi kode pada Soya untuk berhenti berbicara karna ia mendengar Soya menjelaskannya dengan berbelit.
"Kapan terakhir kamu bertemu dengan kekasihku.?" tanya Kim singkat.
"Dua hari lalu, hari ini saya mengirim pesan menanyakan sesuatu pada beliau, namun tak ada balasan." jawab Soya gugup.
"Apa yang dia katakan dan apa alasan dia menyuruhmu kemari.?" tanya Kim kembali. "Jawab dengan singkat, tak usah berbelit." sambung Kim cepat.
"Intinya beliau menyuruhku kemari hari ini karna bapak pasti tidak datang kekantor. Aku tak diberi alasan lain, hanya itu." jawab Soya berusaha menjelaskan intinya saja. "Dan lagi, saat aku bertanya dari mana beliau mendapat nomorku, aku pun tak diberitahu." sambung Soya.
"ada lagi.?"
"anii pak Kim." jawab Soya menggelengkan kepala.
"Haishh!! Satu lagi, dengan siapa dia menemuimu.? Maksudku, apa dia sendiri atau bersama orang lain." tanya Kim.
"Sendiri pak, tapi... Saat beliau perpamitan, dan aku menyusul keluar dari resto, aku tak sengaja melihatnya masuk kedalam mobil dan didalamnya ada seseorang yang memakai kaca mata hitam. Dan aku yakin itu bukan bapak, soalnya badannya tak sebesar dirimu pak." jelas Soya polos. Dan langsung tertunduk saat Kim menatapnya tanpa berkedip.
Sontak Kim langsung mendekat dan mencengkram lengan Soya sembari memberi pandangan terkejut penuh tanya. "Katakan lagi.? Apa kamu mengenal orang itu? Pria atau wanita? Katakan.!?" tanya Kim panik.
"Aa-aagh sakit pak." ringis Soya pada tangannya yang dicengkram Kim. Dan seketika Kim langsung melepasnya. "Aku tak mengenalnya, dan pastinya dia pria. Tadi sudah ku bilang kan, badannya tak sebesar badan bapak. Jadi pastinya sudah jelas dia pria." sambung Soya sembari mengelus kedua lengannya.
"Apa nama restonya.? Cepat katakan!" teriak Kim tanpa sadar membuat Soya ketakutan, lalu Kim berlari masuk kedalam kamar dan kembali keluar dengan ponsel ditangannya, gelagatnya seperti sedang menghubungi seseorang.
"Ya Tuhan, apa aku mengatakan hal yang salah? Kenapa aku dimarahi.?" batin Soya berucap ketakutan.
"Kenapa diam! Katakan, apa nama resto saat kalian bertemu.?" tanya Kim cepat sembari sibuk dengan ponselnya.
"Resto vege.." ucap Soya terputus saat Kim mengambil alih suaranya ketika sambungan telvonnya tersambung.
"Hallo Jay! Dimana kau? Apa bisa bertemu? Aku butuh bantuanmu sekarang." Titah Kim terburu-buru berlalu melewati Soya begitu saja. Namun dengan gerakkan cepat dia memalingkan wajahnya kearah Soya. "Kirimkan nama alamat restonya padamu lewat whats4." sambung Kim cepat, lalu pergi begitu saja meninggalkan Soya sendiri didalam apartnya.
Terlihat jelas diwajah Soya yang kebingungan dengan situasi yang tengah ia hadapi. "Ada apa dengan mereka.? Apa kekasihnya pergi.? Mata pak Kim bengkak seperti habis menangis.?" gumam Soya bertanya-tanya.
......................
Kletak!! Suara benturan kecil saat Park menutup sambungan telvon.
"Apa harus menelvon untuk membereskan bekas makanku? Aku bisa menaruhnya sendiri kebawah, kenapa harus memanggil pelayan.?" ujar Karin bertanya pada Park.
"Haish., kalau rumah ini sebesar apartemenmu, aku tak masalah untuk itu. Bahkan aku tak masalah jika kamu yang ingin membersihkan rumahku. Naik dari lantai 1 kelantai 2 saja sudah memakan waktu 1 menit." jelas Park terkekeh saat diawal ia mendengar ujaran Karin.
Tok.. Tokk.. Suara ketukkan pintu terdengar disela-sela obrolan mereka. "Bawa ini dan pergi." tegas Park pada pelayan yang masih berdiri menunggu perintah. Tanpa menjawab pelayan langsung bergegas membawa nampan keluar dari kamar dengan pandangan yang tertunduk tanpa melihat kearah Park dan juga Karin.
__ADS_1
"Park-shi, terima kasih ya.. Berkat dirimu aku akan kembali kenegara asalku." ucap Karin secara tiba-tiba langsung memeluk Park begitu pelayan keluar dari kamarnya. Tentu saja Park membalas erat pelukkan Karin yang secara tidak langsung membuatnya nyaman berada dalam dekapan Karin.
"Sudah ku katakan padamu, jika membutuhkan sesuatu, cari dan datanglah padaku. Akan ku tolong semua masalahmu." jawab Park tulus.
"Andai kau mau bertahan sebentar saja, mungkin itu akan membuatku bertambah bahagia." batin Park berucap diiringi kecupan lembut dipucuk kepala Karin.
......................
"Dimana kau? Aku sudah di lift. Oke, aku sebentar lagi sampai." ujar Kim dalam sambungan telvon.
Ting.. Suara pintu lift terbuka, sorot mata kedua insan bertemu satu sama lain dan sempat saling beradu pandang.
"Annyeong tuan Kim." sapa Rosy pada Kim
"Nee., apa kau baru dari tempat Jay.?" tanya Kim sembari menahan pintu lift agar tak tertutup.
"Ah nee tuan, silahkan. Tuan Jay sudah menunggumu." jawab Rosy sembari masuk kedalam lift dan Kim yang langsung keluar dari lift menuju ruang kerja Jay.
"Jay!! Aku membutuhkan bantuanmu, cari Karin dan temukan mobil ini." ucap Kim cepat sembari memberi selembar foto yg dimana foto itu adalah foto mobil yang Karin tumpangi saat bertemu dengan Soya di resto beberapa hari lalu.
"Wae wae wae.. Santai Hyung, duduk dulu. Kita bicara ini baik-baik." jawan Jay sembari menuntun Kim agar duduk disofa lalu memberinya segelas minum.
"Tenangkan dirimu dulu, cah minumlah." sodor Jay memberi air minum pada Kim.
"Ntahlah Jay, aku tak napsu saat ini. Pikiran ku saat tau kalau Karin pergi begitu saja meninggalkanku." ucap Kim seraya memegang dadanya, terlihat raut wajah kecewa.
"Apa yang terjadi.?" tanya Jay
"Kami tak ada perdebatan apapun sebelumnya, hanya saja sikapnya sedikit lebih cuek. Terkadang dia melamun saat aku mengajaknya berbincang." sambung Kim
"Aku bahkan berniat melamarnya tadi malam, namun tak ku sangka dia mencampur 0b4t tidur di makananku, lalu meninggalkanku begitu saja tanpa penjelasan yang masuk akal." ujar Kim semakin terisak
Jay yang mendengar curahan Kim hanya bisa diam dan sesekali ia mengelus dan menepuk pelan punggung Kim. Barang kali sikapnya sedikit membantu Kim agar lebih tenang.
"Haihh, kenapa dia slalu gagal dalam urusan asmara. Jatuh cinta dengan adik sendiri, dan sekarang ditinggalkan begitu saja. Kalau dipikir-pikir apa kurangnya seorang Kim Namjoon." ujar Jay dalam hati dengan terus memberi ketenangan pada Kim.
"Aku akan bantu sebisaku Hyung, sudah.. tenangkan pikiranmu, kau sangat kacau saat ini." ucap Jay pada Kim sembari menepuk perlahan pundak Kim.
......................
Beberapa minggu telah berlalu, terik matahari menemani Karin yang tengah memanen buah naga dikebun milik salah satu juragan didesanya. Kucuran keringat mengalir dari sisi wajah Karin, punggungnya terasa basah. Ditambah ASInya yang masih terus berpoduksi, Karin merasakan lembab diarea sana. Untungnya ia mengenakan spons ASI dan warna pakaian yang ia pakai berwarna gelap, jadi bercak basah tak begitu terlihat.
"Karin!!!" panggil Gadis sembari melambaikan satutangannya keatas dengan menenteng rantang ditangan satunya. Saat menyadari ada yang memanggilnya, sontak Karin langsung menoleh dan ikut membalas lambaian tangan sahabatnya itu dan bergegas menghampiri Gadis.
Flashback On.
Saat Karin kembali keIndonesia, Ia langsung pulang kekampung halamannya yang dimana desa ini adalah rumah panti yang ia tinggali sedari bayi. Karin disambut haru saat ia muncul secara tiba-tiba, isak tangis bahagia suka cita menyambut Karin dalam pelukkan ibu Panti. Dengan kembalinya Karin keIndonesia membuat semua keluarganya senang.
Senyum hangat terukir diwajah Karin saat ia menghampiri Gadis, selang 2 hari kembalinya Karin kedesa, ia bergegas pergi mendatangi kediaman Gadis yang tak jauh dari rumah pantinya. Awalnya Karin ragu, namun saat Ibu panti memberitahu bahwa Gadis telah pulih dari sakit mentalnya. Saat Gadis pulih, ia tersadar bahwa slama ini ia salah dan mengakui semua perbuatannya terhadap Karin, Gadis ingin bertemu Karin dan ingin meminta maaf pada Karin atas kesalahannya slama ini.
"Assalammualaikum." ucap Karin begitu sampai diambang pintu rumah Gadis.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." jawab pemilik rumah diiringi langkah menghampiri keluar. Seketika tubuh Gadis membeku melihat sosok wanita yang slama ini ia tunggu kehadirannya. Tak tertahankan lagi, tatapan mata yang saling bertemu tanpa berkedip membuat air mata keduanya langsung tumpah begitu saja.
"Ka-Karin.." lirih Gadis terbata.
"Hai sahabatku.." jawab Karin haru dengan tangan yang terbuka lebar. Gadis langsung berlari memeluk Karin, ia menenggelamkan wajahnya ditubuh Karin. Tubuhnya bergetar hebat diiringi tangis, tak menyangka Karin datang mengunjunginya. Begitupun Karin, ikut menangis haru bahagia saat melihat sahabatnya dengan keadaan sehat.
Flashback Off.
"Bawa apaan tu Dis.?" tanya Karin singkat sembari duduk ditanah berlapiskan sendal jepit yang ia kenakan.
"Bawa batu." Ketus Gadis. "ya bawa makan siang Rin." sambung Gadis.
"Hahaha santai mbak bro." tawa Karin melihat sahabatnya kesal karna pertanyaannya.
"Lagian udah tau ini rantang isinya makanan, make ditanya lagi bawa apaan. Nyari gara-gara emang janda satu ini."
"Hahaha si4lan lo ya! Berani-beraninya ngeledekin gw janda." tawa Karin berlanjut. "Eh, bener juga sih." sambung Karin kembali terkekeh dengan Gadis yang ikut terkekeh melihat Karin.
Ditengah-tengah suapan mereka, Gadis melirik tubuh Karin yang banyak perubahan. Dari warna kulit yang terlihat lebih putih nan mulus dan lagi PD Karin yang terlihat membesar dari setahun sebelumnya.
Tuitt!! Gadis iseng mencolek PD Karin seraya tersenyum usil.
"Woii elah..!! Kaget gw." reflek Karin menepis.
"Makin gede aja keknya tu Enen." goda Gadis dengan alis yang narik turun sembari melirik PD Karin.
"Wuooo iya dungss. Karin gituloh." jawab Karin percaya diri dengan senyum gigi pepsodentnya.
"Operasinya berhasil dong berarti." tanya Gadis penasaran.
"Wett enak aja, alami neehh!"
"Masa sih.? Mana? Sini gw pastiin." ujar Gadis hendak menyentuh PD Karin.
"Woi woii, ngadi-ngadi lu yee.!" reflek Karin bangun dari duduknya dan menghindari Gadis. Karin hendak berlari saat Gadis mencoba mengejar. Karin dan Gadis saling tertawa geli dengan candaan mereka ditengah-tengah jam istirahatnya.
"Heii Karina.!!" terdengar suara wanita peruh baya memanggilnya dari arah tengah kebun. Reflek keduanya terhenti dan langsung melihat kearah sumber suara.
"Ayok sini ndok, biar cepet selesai." sambung wanita paruh baya itu pada Karin.
"Eh iya bude,." jawab Karin sembari melambaikan tangan.
"Dah sono, cuci tangan dulu. Gw balik ya." titah Gadis kembali ketempat istirahat mereka dan membereskan rantang makan siang mereka.
"Oke, thanks ya Dis. Ntar malem gw tunggu diatap." ujar Karin sembari melangkah mengambil sendal dan berlalu meninggalkan Gadis.
......................
......................
Hai guys, Author back nih hehe.
__ADS_1
Makasih ya masih setia baca novel ini, moga bisa lanjut dengan mood yang kadang muncul kadang tenggelam. Ditambah kegiatan yang mulai padat. Semangat dah ya pokoknya buat kita semua. Hwaiting !!!