Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Perawan Tua


__ADS_3

Kim menunduk dan terdiam, ia tak menatap wajah sang nenek. Jangankan menatap, mendengakkan wajahnya pun Kim tak berani.


Posisi Karin saat ini sedang didapur membuatkan minumab untuk nenek dan juga Kim. Perasaannya gugup bukan main, bahkan punggungnya mengeluarkan keringat, tangannya terasa dingin. Terlebih lagi ia kebelet pipis sangking gugupnya.


Tak berselang lama, Karin mengangkat nampan yang berisikan 2 gelas teh dan kopi menuju keruang tamu. Langkahnya berat ketika dirinya mulai mendekati meja, Tanganya sedikit gemetar saat mengangkat gelas dari nampan, Karin sangat berhati-hati ketika meletakkan teh untuk neneknya Kim.


Mata Kim terus melihat kekasihnya yang sedang menyajikan teh dan kopi untuknya. Sekilas ia tersenyum kecil, Kim merasa sedang berada disituasi kumpul keluarga. Tanpa disadarinya sang nenek memperhatikan raut wajahnya Kim dan beralih keKarin yang duduk dibelah Kim. Sang nenek juga melihat perut buncit Karin, seketika ekspresinya berubah, deru nafasnya terasa berat. Hal itu disadari Kim dan langsung reflek mendekati sang nenek.


"Wae wae wae.. Halmeoni, ada apa.?" Tanya Kim panik


Dengan cepat Karin mengambil air putih didapur lalu berjalan cepat dan menyodorkannya pada Kim, memberi isyarat agar segera diberikan pada sang nenek.


"Minumlah nek, pelan-pelan." Ujar Kim seraya mengelus pelan punggu sang nenek.


"Sudah." Ucap nyonya Kim seraya mendoronh pelan menjauhkan gelas darinya.


Sorot mata nyonya Kim memandang Karin penuh, pandangannya tak luput dari perut Karin yang buncit. "Berapa usia kandunganmu." Tanya nyonya Kim tiba-tiba.


Karin dan Kim saling menatap dan sempat terbengong sejenak, lantaran tak menduga akan pertanyaan sang nyonya Kim secara tiba-tiba.


"Sudah masuk 7 bulan halmeoni." Jawab Kim lembut lalu menoleh dan tersenyum pada Karin.


Wajah nyonya Kim terlihat begitu tenang saat melihat cucu semata wayangnya tersenyum ketika menoleh dan menatap wanita yang kini telah mengandung anaknya.


Beberapa jam kemudian, Kim dan Karin mengantar halmeoni menuju mobil yang sudah stay didepan gedung apart Kim. Saat mereka tiba didepan mobil, Kim bergegas membukakan pintu mobil dan Karin ikut menyerahkan tas halmeoni yang sedari tadi ia pegang.


"Halmeoni gamsahabnida, senang bisa bertemu dengan anda hari ini." Ujar Karin seraya sedikit menundukan kepala dan tubuhnya guna memberi hormat pada orang yang lebih tua.


"Nee, aku juga berterima kasih. Lain waktu datanglah kerumahku. Kita akan masak bersama nanti." Jawab nyonya Kim ramah dan tersenyum pada Karin.

__ADS_1


Saat setelah nyonya Kim masuk kedalam mobil dan sedikit membuka kaca mobil. Karin dan Kim membungkuk lalu dibalas dengan anggukkan kepala oleh nyonya Kim, barulah mobil melaju perlahan.


"Ahh oppa aku senang...." Oceh Karin riang gembira seraya memukul mukul kecil lengan Kim.


"Jinjjah..? Owh chagia, kau memang pandai mengambil hati seseorang. Aku mencintaimu." Ujar Kim seraya memeluk mesra tubuh Karin. Ia juga begitu senang sekaligus tenang, ia tak perlu lagi merangkai kata-kata saat akan memperkenalkan Karin pada neneknya. Kim juga bahagia bercampur lega ketika neneknya menerima kehadiran Karin tanpa mempermasalahkan status sosial ataupun kewarganegaraannya.


......................


"Annyeong halmeoni, apa kunjungannya berjalan lancar." Ucap Irene saat menyambut nyonya Kim yang baru saja tiba kerumah besar Kim.


"Seperti ya kau lihat, tensi darahku normal." Ketus nyonya Kim seraya sinis saat melirik Irene.


"Apa nenek sudah melihat wanitanya Kim. Apa dia sudah pergi.? Dimana Kim.?" Oceh Irene tak henti seraya melihat kearea halaman rumah guna mencari sosok Kim disana. Namun hasilnya nihil.


"Irene-shi, pulanglah. Tempatmu bukan disini. Kembalilah kekeluarga suamimu, jangan ganggu cucuku lagi." Sahut nyonya Kim sinis seraya menjatuhkan bok0ngnya disofa dengan dibantu pengasuhnya.


"Wae?? Apa maksud ucapan nenek? Nenek tidak membawa Kim pulang kembali, tapi justru nenek menyuruhku pergi.! Apa wanita itu juga menghasut nenek.?!" Teriak Irene seraya menangis.


"DIAM!!! Jangan ikut campur urusanku.!! Kau hanya seorang pengasuh disini. Nenek ku minta padamu bawa Kim kembali. Sudah ku bilang wanita itu tak pantas untuk Kim. Dia pasti sudah mencuci otakmu dan juga Kim agar menurutinya. Dia tidak setara dengan kita, dia tak pantas untuk KIM!!".


PLAKK!! Satu tampar mendarat dipipi kiri Irene.


"YA! SAEKKI!! BERANI KAU MENAMPARKU HAH, dasar perawan tua kau.!!" teriak Irene pada pengasuh nyonya Kim dan hendak membalasnya namun ia kalah cepat. Tangannya berhasil ditahan lalu dihempas kelantai sampai tubuhnya pun ikut terjatuh.


Irene menangis seraya meminta bantuan pada sang nenek, ia menunjukkan ekspresi kesakitan seraya memegang pipinya.


"Halmeoni lihat dia, dia menamparku. Wajahku sakit, usir saja dia nek.. Dia telah lancang menyentuhku tanpa menghormatimu." Ucap Irene dengan suara tangisnya.


Ekspresi nyonya Kim sama sekali tak menunjukkan rasa kasihan atau khawator terharap cucu angkatnya itu. Sejujurnya ia sudah mengetahui semua kelakuan sang cucu angkat slama ini.

__ADS_1


Nyonya Kim menarik nafas dalam saat membuang pandangannya pada Irene. Ia jengah dengan semua sandiwara yang Irene lakukan. "Hyun Jung, bawa dia kekamar. Siapkan semua keperluannya, setelah itu bawa dia kembali ke LA." Ucap nyonya Kim pada pengasuhnya dan langsung dilaksanakan. Namun Irene dengan cepat merangkak mendekati nyonya Kim. Ia memegang kedua lutut nyonya Kim sembari menangis.


"Nek kumohon jangan perlakukan aku seperti ini nek, aku tidak ingin jauh dari Kim. Aaa maksud ku, a-aku juga tidak ingin jauh darimu nek. Brian jahat terhadapku nek. Dia kerap memukulku nek, jangan pulangkan aku kesana. Ku mohon nek, biarkan aku disini." Ucap Irene dengan suara tangis namun tak ada air mata yang keluar dari matanya.


Tanpa berlama-lama, Hyun Jung langsung menarik tangan Irene dan memaksanya untuk ikut dengannya. Namun Irene memberontak dan terus berteriak agar dilepaskan, bahkan ia juga melawan sang pengasuh Hyun Jung yang berusia 3 tahun lebih tua darinya.


"YA! LEPAS AKU BILANG!!. Nenek tolong bilang padanya untuk lepaskan tangan kotornya tubuhku. YA!! Nenek kau dengar perintahku kan. BILANG PADANYA NEK. AAAGGHHHH!!!!! SIALAN KALIAN SEMUA. AAGGRHHHH!!"


Irene tak berhenti memberontak dan berteriak, suaranya yang begitu keras sampai semua staff yang berada disana turut mendengar teriakannya. Dengan sekuat tenaga pengasuh Hyun Jung menggeret paksa tubuh Irene menaiki anak tangga dan melangkah menuju kamar Irene.


"Menurutlah nona, aku tidak akan berlaku kasar seperti ini jika kau menurut." Ucap Hyung Jung berbisik seraya memegang lengan Irene.


"Yaish sh*bal kau Hyun Jung. Aku benci kau.! Tidak tau diuntung kau! Aku menyesal telah percaya padamu. Dasar wanita MUNAFIK.!" Ucap Irene kesal saat Hyun Jung memaksanya masuk kedalam kamar. Tanpa menjawab pernyataan Irene, Hyun Jung berbalik dan hendak melangkah menuju keluar pintu.


"Mianhae nona. Ku pikir kau tulus dengan tuan Kim, tapi nyatanya kau hanya memanfaatkannya dengan mempermainkan perasaanya. Aku tak bisa tinggal diam jika ada seseorang yang akan mengusik majikanku." Ucap Hyun Jung dengan sedikit menoleh kearah belakang, lalu ia kembali melangkah pergi meninggalkan Irene dikamarnya.


"AAAGGRHHHHHH!!!" Teriak Irene frustasi seraya menggerang dan menjambat rambutnya. Kekesalan diwajahnya sangat nampak jelas. Wajahnya yang berwarna putih kini berubah menjadi merah muda dikarenakan emosinya yang meluap.


Ia gagal membawa Kim kembali dengan cara meminta bantuan sang nenek, namun usahanya sia-sia. Jelas terlihat nyonya Kim berpihak pada Kim dan juga Karin. Semua pernyataanya saat menjelekkan Karin didepan nyonya Kim semua tak digubris oleh sang nenek.


Irene masih diselimuti rasa emosi dan kesal akan semua kejadian hari ini, barang-barang yang ada dikamarnya semua menjadi sasaran keluapan emosinya. Suara pecahan beling dengan suara teriakkan histeris menggema diseluruh rumah. Suara Irene sampai terdengar kelantai 1 diruang tengah.


Hyun Jung sempat melihat kembali kearah kamar Irene. Ia hendak melangkah kembali keatas, namun nyonya Kim melarangnya.


"Biarkan saja, urus saja urusanmu setelah ini. Awasi dia sampai dia benar-benar kembali pada keluarga Brian." Titah nyonya Kim seraya bangkit dari duduknya dan melangkah perlahan menuju kamarnya. Hyun Jung hanya mengangguk sembari menuntun nyonya Kim.


"Kita lihat saja apa yang akan terjadi pada kalian. Aku benci kehidupan ini. Mari kita akhiri semua secara bersama-sama. Dan kau Karin-shi, akan ku pastikan kau tak akan bisa memiliki Kim. Dia hanya milikku seorang.!!" Ujar Irene dengan menatap dirinya dicermin yang telah retak karna luapan emosinya.


......................

__ADS_1


......................


__ADS_2