Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Kim..


__ADS_3

"Masuk.!" perintah Choki menyuruh Karin masuk kedalam kamarnya. Dengan perasaan takut Karin mengiyakan perintah Choki sembari membuka pintu kamar perlahan.


PLAKK!!!! Satu tamparan mendarat dipipi Karin. Sampai tubuh Karin tersungkur kelantai karna kakinya yang tak mampu menahan beban tubuhnya yang terhuyung kuatnya tamparan Choki.


"MASS..!!" Teriak Miranda saat melihat suaminya dengan tega menampar Karin sampai terjatuh kelantai. "Kamu apa-apaan sih mas.! Tega kamu nampar adikmu sendiri.!" Ucap Miranda kesal sembari buru-buru menghampiri Karin lalu memeluknya.


Karin menangis dalam pelukkan Miranda sembari memegang pipinya yang terasa panas saat setelah menerima tamparan dari Choki. Matanya terpejam seakan tak mampu lagi terbuka, lantaran takut untuk melihat wajah Choki yang kini sudah pasti meradang merah karna emosi.


"Jadi ini kelakuanmu slama disana.?! Sebegitu susahnya kah menjaga diri sendiri!. Apa kamu gak malu dengan diri kamu sendiri atas kejadian ini.?! Gimana kalau ibu tau.! Gak kasian kah kamu Rin.!" Emosi Choki memuncak saat bertanya serta membentak Karin yang sedari tadi menangis.


"Mas cukup mas.. Gak gini caranya mas, pelanin suaramu. Jangan memancing keributan."


"TERUS GIMANA.?!! Aku harus gimana? Semua udah terjadi Mir. Kami tau, betapa sakitnya aku sebagai kakak. Aku ngerasa, aku gagal mendidik adikku sendiri. Aku kecewa, aku marah, aku cem-- AAAGGGGRRHHH..!!"


Teriak Choki dengan suara lemah, seketika tubuhnya jatuh kelantai dengan wajah tertunduk. Karin yang melihat sikap Choki langsung merangkak dengan lututnya mendekatkan dirinya dengan perasaan campur aduk, takut, ragu, sedih semua menjadi satu.


"Kak.. Maafin Karin kak, Karin minta maaf.." lirih Karin dalam isakkan tangis dan mencoba memeluk Choki. Tubuh Choki tak merespon pelukkan Karin lantaran sudah terlalu lemah karna kejadian ini.


"Aku mau cerita tapi aku takut kak. Aku gak bisa apa-apa saat itu. Hanya dia yang ada disampingku saat itu. Aku mau cerita saat waktunya tempat. Tapi semua aku kubur karna semua gak berjalan sesuai rencana. B-bayiku, dia meninggal.." Ucap Karin terputus dan kembali menangis saat ia harus menceritakan kenyataan mengenai bayinya.


Choki yang ikut merasakan kesedihan itupun ikut menangis dan merangkul Karin dalam pelukkannya. Ia menjatuhkan kepalanya kepundak Karin. "Apa yang terjadi sama kamu Rin.? Kenapa kamu begini.?" ucap Choki dengan suara berat karna ikut menangis.


Miranda yang sedari tadi hanya diam dan melihat Choki dan Karin, tanpa terasa ikut menangis lantaran hatinya ikut merasakan sakit ketika mendengar cerita Karin. Perlahan Miranda mendekati Choki dan Karin, ia mengelus punggung Karin dan bergantian mengusap kepala Choki. Meskipun tak sedarah tapi rasa saling menyanyangi begitu kuat, Ia merasakan kedekatan mereka begitu erat.


Sampai beberapa saat kemudian, Choki, Miranda dan Karin duduk dilantai beralaskan tikar, tubuh mereka saling berhadapan satu sama lain. Karna luas kamar yang terbilang kecil, dan fasilitas kamar seadaanya. Ini semua membuat mereka duduk berdekatan. Tatapan Choki tak henti menatap Karin, begitu pun Miranda. Sebisa mungkin ia membantu menenangkan Karin yang masih menangis dengan wajah tertunduk.


"Kalau kamu belum siap untuk cerita jangan dipaksa ya Rin. Yang terpenting sekarang kamu harus buat dirimu happy tanpa harus mengingat kejadian dimasa lalu." ucap Miranda lembut sembari tangannya yang terus memegang erat tangan Karin.


Choki juga perlahan mengulurkan tangannya mengelus pucuk kepala Karin, ia merasa bersalah atas perlakuan kasarnya tadi membuat dirinya tak terkontrol. Namun ia gengsi untuk mengatakan kata maaf untuk Karin.


"Rin.. Kamu mau ya ikut dengan kami kekota. Maaf kalau aku ngomongnya mendadak begini, karna aku butuh kamu Rin. Semua demi Maura juga. Kamu paham kan maksudku Rin.?" ucap Miranda pada Karin, Karin hanya diam dengan menatap lekat wajah Miranda.

__ADS_1


"Aku tau ini berat buat kamu, aku juga yakin kamu bakal kebayang-bayang saat menyusui Maura. Tapi aku beneran butuh kamh Rin. Pliss, tolong aku, aku cuman percaya sama kamu Rin." sambung Miranda penuh harap.


"Aku bisa kasih kebahagia untuk suamiku dengan hadirnya Maura, tapi aku gak bisa kasih kesempurnaan untuk Maura. Diusiannya yang masih kecil harus menahan sakit karna ibunya yang gak sempurna ini." lirih Miranda dengan suara redam karna menahan tangis.


"Ssstt.. Hei sayang, jangan bilang gitu. Kamu sempurna Mir, kamu wanita hebat. Kamu ibu hebat untuk Maura." ucap Choki yang langsung memeluk Miranda dan menenangkannya dalam dekapan yang terlihat hangat dimata Karin.


"Kim.." lirih batin Karin saat melihat Kim dalam diri Choki.


......................


...Malam Hari...


Sesuai tujuan Choki dan Miranda datang rumah panti untuk melangsungkan tasyakuran aqiqah putri mereka. Sebenarnya bisa saja anak-anak panti dan keluarga disini diboyong kerumah besar Choki. Namun Mirandalah yang menginginkan acara aqiqah putrinya dilangsungkan dirumah panti. Choki langsung menyetujui permintaan Miranda karna ia juga ingin bertemu Karin, begitu ia mendengar kabar Karin tlah kembali keIndonesia, hatinya dan perasaannya seketika bahagia. Choki juga begitu antusias saat berbincang dengan ibu panti melalui telvon, membicarakan soal rencana aqiqah Maura disana. Ibu panti juga memberitahu Choki soal kepulangan Karin, Choki yang sejak awal sudah tau mencoba untuk berbicara dengan nada bicara seolah senang mendengar kabar kepulangan Karin.


Namun rasa bahagia itu seketika hilang tertutup dengan rasa kecewa saat mendengar obrolan singkat Karin dengan Miranda. Apa lagi ia melihat sendiri bagaimana Karin menyusui anaknya. Isi kepalanya seketika penuh dengan pertanyaan. Apa maksudnya.? Bagaimana bisa.? Ada apa dengan Karin.?


Semua pertanyaan itu terus berputar dikepalanya sampai akhirnya terbuyarkan saat Miranda dan Karin yang tanpa sengaja memergoki dirinya berdiri dibalik pintu kamar. Dan tanpa harus bersusah payah mencari informasi mengenai Karin, secara tidak langsung semua itu akan datang dengan sendirinya. Dan benar saja, informasi itu datang melalui Miranda yang meminta izinnya untuk membawa Karin ikut tinggal dirumah besar dengan alasan sebagai teman curhat. Sampai akhirnya Choki mendapatkan informasi tanpa harus susah payah menyuruh bawahannya.


......................


Walaupun hati tak bisa berbohong, ada rasa sedih yang datang menghampiri Karin. Ia berandai-andai akan masa lalunya tak sepahit kenyataan. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Senyum Karin malam ini terlihat palsu, ditambah matanya yang masih terasa perih karna menangis tadi siang.


......................


"Haaaaah...." hela nafas Karin saat menjatuhkan b0kongnya dikursi kayu yang ada diatas atap rumah panti. Tempat favoritnya dikala susah senang maupun senggang. Badan yang terasa lumayan pegal-pegal karna aktivitas hari ini yang cukup banyak membuat Karin mengantuk namun enggan tidur.


Pandangan mata yang melihat langit gelap membuatnya termenung memikirkan sosok Kim. Pria yang ia cintai namun tak bisa ia miliki, ada sedikit rasa menyesal karna tlah pergi secara diam-diam. Namun bila ia tetap bertahan, justru makin memperburuk keadaan. Tak ada yang tau apa yang akan terjadi bila Karin tetap memilih bertahan.


"Ngopi neng." ucap Boby tiba-tiba muncul disamping Karin. Sontak Karin terkejut serta melayangkan pukulan keras kelengan kekar Boby.


"Aaagghh aww..!" ringis Boby menahan sakit.

__ADS_1


"Kali ini julukkan lo bukan bison jantan, tapi g3nderuwo jantan." ucap Karin kesal.


"Hahaha g3nderuwo kan emang cuman ada jantan, emang ada yang betina.?"


"Mana gw tau. Tanya aja langsung dengan yang bersangkutan." jawab Karin sinis.


"Dih galaknya, nanti cepet tua loh."


"Diem! Brisik. Lagian ngapain lo disini.? Tau dari mana rumah ini ada atap.?"


Lagi-lagi Boby tertawa karna ocehan Karin. "Kalau rumah gak ada atap, bukan rumah namanya."


"I-iya sih. Emm maksud gw, lo tau dari mana tempat ini.?"


"Tau dari bapak, waktu pertama kali kesini, bapak ngasih tau kalau mau ngudup langsung keatas. (atap panti)."


"Oh.." jawab Karin singkat.


"Rin, sorri ya soal kemarin lusa. Gw gak bermaksud lari. Tapi urgent banget, si mbok lupa bawa pampers untuk non Maura, jadinya gw disuruh buru-buru beli kewarung naik motor. Mangkanya gw langsung ninggalin lo gitu aja."


Flashback On.


"Bob..!!" panggil Choki cukup kencang sembari berlari keluar dari rumah panti.


"I-iya pak, ada apa..??" Boby yang terkejut karna teriakkan Choki yang memanggil namanya dari dalam rumah panti.


"Ini, tolong belikan popok untuk Maura, cepet.!!" perintah Choki sembari memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu rupiah.


"I-iya pak."


Namun saat Boby hendak masuk kedalam mobil, Choki langsung menghentikan dirinya. "Bob.! Jangan naik mobil, kelamaan. Naik motor aja, sebentar, saya cari dulu kuncinya.

__ADS_1


......................


......................


__ADS_2