
...Masih di dalam kamar Choki...
Sampai akhir dimana Karin menoleh kearah Choki yang sedang menatap keluar jendela besar dikamarnya, memperhatikan punggung bidang Choki dari belakang.
"Apa ini penyebab ia terus-terusan mengonsumsi alkohol dan pulang dengan keadaan mabuk. Bahkan saat masih adanya alm mba Mira."
................
Choki menyeriangai sinis saat tak sengaja mendengar gumaman Karin.
"Ya kau benar Rin. Aku mengalihkan hasratku dengan alkohol. Hanya dengan itu aku merasa tenang dan dapat tertidur pulas."
"Heh. Menyedihkan bukan."
Ejek Choki terhadap dirinya sendiri dengan wajah tertunduk seolah pasrah meratapi takdir pahit yang ia terima.
Sontak Karin terkejut saat Choki menyadari gumamannya, perlahan Karin berdiri lalu melangkah mendekati Choki.
Ia berdiri tepat dibelakang Choki dengan tatapan intens menatap tubuh Choki dari belakang.
"Kak.."
Panggil Karin lembut, namun tak ada jawaban ataupun respon dari Choki.
Sampai akhirnya Choki berputar cepat kearah Karin saat ia mendengar pernyataan Karin yang membuatnya terkejut.
"Boleh kasih Karin waktu untuk berfikir."
DEGG!!!
Detak jantung Choki berdebar tak karuan. Tatapan matanya tak berpaling kemanapun selain menatap lekat wajah Karin.
Karin tersenyum manis menatap wajah Choki yang tampan rupawan. Wanita mana yang tak jatuh cinta saat melihat wajah Choki dari dekat seperti ini.
Karin membranikan diri untuk menyentuh wajah Choki dengan tangan mungilnya.
"Kasih Karin waktu ya kak. Nanti kita bahas lagi."
"Kakak sekarang istirahat, aku juga harus kembali kekamar."
Choki yang masih berdebar debar, seperti merasakan adanya harapan saat Karin meminta untuk diberikan waktu untuk mengambil keputusan.
Perlahan Karin berhenti menyentuh wajahnya lalu melangkah mundur berbalik meninggalkan kamar.
......................
......................
...Kita kembali ke episode...
...(Cinta Yang Tumbuh)...
"Jangan mau dek, Bunamu belum mandi. Bau ketek."
ledek Choki dengan gelagat berbisik ke Maura.
Seketika Karin cemberut sembari memukul mukul pelan kaki Choki.
"Iih enak aja, udah mandi tauu. Iih nyebelin nih, gak seru ah ngeledeknya nyinggung soal bau badan."
"Aku kan gak pernah bau badan. Aaaah kak Choki mah gitu... Nanti Maura ngerti terus ngeledek aku gimana."
Choki ketawa besar saat melihat wajah Karin yang bete dan lagi ia puas karna berhasil membalas Karin karna nyuekin dirinya.
"Rin."
"Hem.?"
"Ini udah lebih dari satu minggu."
"Kapan kamu akan memberikan jawaban mengenai pembahasan kita kala itu.?"
Choki bertanya secara to the point tentang pembahasannya minggu lalu soal permintaan alm Mira yang malam itu mereka debatkan.
Mata Karin menatap Choki dan Maura secara bergantian, perlahan ia bangkit dari duduknya diatas karpet.
Lalu mengambil alih Maura.
"Datanglah kekamarku malam ini."
Jawab Karin singkat lalu melangkah menuju anak tangga dengan menggendong Maura.
Choki merasa gugup dengan detak jantung yang berdebar-debar saat mendengar jawab Karin.
Dengan yakin ia menoleh dan menatap tubuh Karin yang perlahan menjauh keatas.
Senyum kecil dan sorot mata tenang ditunjukkan Choki seraya menatap Karin dari belakang.
__ADS_1
"Ku harap jawabanmu tak mengecewakan Rin."
Seru Choki dalam hatinya yang berharap apa yang ia dengar nanti dari mulut Karin adalah jawaban yang ia harapkan.
......................
...Malam Hari DiKamar Karin & Maura...
Telapak tangan dan kaki Karin terasa dingin. Tak henti-hentinya ia menggigit ujung ibu jarinya lantaran gugup.
Hari semakin gelap, selesai ia menyusui Maura lalu meletakkan Maura didalam kasur box bayi.
Tak lama ia berdiri disisi kasur box milik Maura, terdengar suara ketukkan pintu yanh terdengar cukup pelan.
Reflek Karin menoleh dan menatap pintu yang masih tertutup rapat.
Dengan langkah berat Karin mendekati pintu.
CEKLEK...
Senyum tipis namun terlihat manis yang ditunjukkan Choki membuat darah dalam tubuh Karin berdesir.
Tanpa mengeluarkan suara, Karin membuka lebar pintu kamarnya isyarat untuk Choki agar masuk kedalam.
"Anak ayah udah bobo rupanya.."
Seru Choki pelan saat sudah menyeruak masuk kedalam sekaligus melangkah mendekati kasur box milik Maura.
Tangan Choki sesekali mengelus surai rambut lebat nan hitam milik putri kecilnya, memandangi wajah putri yang begitu mirip dengan mendiang sang istri.
Helaan nafas kecil Choki hembuskan saat pikirannya melintas wajah mendiang sang istri.
Namun disaat bersamaan ia merasa kamar ini begitu hening. Yang biasa ia mendengar suasana rumah yang ramai lantaran Karin selalu berteriak karna takut saat putri kecilnya mendekati barang-barang yang mudah pecah saat bermain.
"Kamu lagi ngapain Rin.?"
Tanya Choki saat menoleh kebelakang dan melihat Karin tengah berdiri diam didepan kulkas yang ada disudut dinding kamar.
"Eeem... Ini, aku abis naruh ASIP."
Jawab karin dengan suara gugup karna terkejut saat Choki membuyarkan lamunannya.
Choki melangkahkan kakinya mendekati Karin, saat ia sudah nerada tepat didepan Karin.
Dengan hati-hati ia menyentuh tangan Karin dan membawanya kedalam tengkuk lehernya.
"Tanganmu dingin sekali Rin."
"Apa yang membuatmu gugup.?"
......................
...2 Jam sebelumnya...
...(Didalam Kamar Choki)...
CHASHH...
CHASSHH...
Suara semprotan parfum yang disemprotkan Choki dikedua tengkuk lehernya dan tak lupa ditengah pergelangan tangannya.
"Apa ini berlebihan.?"
"Tak biasanya aku mempersiapkan diri sesempurna ini."
"Heh.. Bisa-bisa malam ini aku dibuatnya gugup olehnya."
Seru Choki pada dirinya didepan cermin dengan senyum sinis diwajahnya.
Dengan rasa yakin ia melangkah keluar menuju kamar Karin. Sebelum ia mengetuk pintu, ntah kenapa rasa ingin mengecek kondisi rumah terlintas dikepalanya.
Akhirnya ia mengurungkan niatnya dan berbalik menuju beton pembatas area lantai yang bila mana kita mendekatinya. Kita bisa melihat area lantai satu dengan jelas.
Yang Choki lihat hanya suasana rumah yang sepi, padahal jam baru saja menunjukkan pukul 20.00.
Setelah beberapa menit melihat sekeliling rumah yang terlihat begitu-begitu saja.
Akhirnya Choki kembali lagi kearah kamar Karin. Mengetuk pintu dengan pelan agar suara ketukkan pintu tak menganggu sang putri yang mungkin sudah tidur sekarang ini.
TOK.. TOK..
CEKLEK..
Deg.. Deg.. Deg.. Jatung Choki berdetak kencang saat pintu terbuka dan memperlihatkan wajah cantik Karin dari dalam sana.
"Cantik." Gumam Choki dalam hati yang diiringi senyum tipis daei bibirnya.
__ADS_1
......................
"Gak kak, aku gak gugup."
"Suhu ac nya memang dingin."
"Maura gak bisa tidur nyenyak kalau suhu kamar diatas 18°c."
Alih Karin membawa-bawa Maura agar tak terlihat gugup.
Padahal memang gugup, ditambah darahnya berdesir saat Choki menuntun tangannya masuk kedalam tengkuk lehernya.
Dengan berani dan mencoba melawan rasa gugup dalam dirinya.
Karin membalas dengan mengelus lembut rahang Choki dengan ibu jarinya.
Sontak tindakkan Karin membuat jantung Choki berdebar.
Dan lagi Choki menatap Karin seiringi dengan sentuhan Karin yang perlahan menyentuh area lain yaitu sudut bibir bawahnya
"Kak.."
"Apa slama ini kamu merasa kesepian.?"
Bukan sampai disitu, perlahan Karin mendekatkan diri lebih dekat dengan Choki.
Bisa dibilang jarak keduanya hanyalah berjarak beberapa cm.
Choki mengangguk pelan dengan mata yang menunduk karna pertanyaan Karin benar adanya.
CUP..
Satu kecupan mendarat dibawah bibir Choki.
Lagi-lagi Choki terdiam dengan mata yang membulat karna terkejut.
"Mau bermain denganku.?"
"Astaga!!!... Apa-apaan ini, ada apa dengannya.?"
"Kenapa dia seagresif ini."
Seru Choki dalam hati dengan sikap diam dan terkejut. Choki menatap Karin tajam seolah tak percaya dengan pendengarannya tadi.
Kedua wajah mereka benar-benar tak berjarak, bahkan bila salah satu diantara mereka ada yang bergerak. Ujung hidung mereka akan bersentuhan satu sama lain.
"Apa perlakuanmu ini sama saat bersama Kim.?"
DEG..!!
Jantung Karin berdetak kejut saat Choki menyinggung soal Kim.
Hal itu membuat Karin sedikit menjauh dan melepas tangannya dari tengkuk leher Choki.
"Mau kemana.?"
Tanya Choki cepat dengan menahan lengan Karin saat Karin berbalik dan hendak pergi dari hadapannya.
"Mau ngunci pintu kak."
"Oh.. Kirain mau ninggalin aku keKorea lagi."
Karin menggeleng dengan berdecakkan mulutnya saat mendapat ledekkan dari Choki.
CETAGG..!!
Karin melamun saat setelah berhasil mengunci pintu dengan memblakangi Choki yang ternyata memperhatikannya sedari awal.
Tap.. Tap.. Tap...
Choki melangkah menghampiri Karin lalu memeluknya dari belakang. Dengan membisikkan pertanyaan didekat telinganya.
"Apa yang membuatmu melamun begini.?"
Lagi-lagi darah Karin berdesir dengan diiringi tegangan yang ia rasakan dibagian perut ratanya saat tangan Choki melingkar disana.
Malas untuk menjawab, lalu Karin menyampingkan kepalanya saat Choki menghirup pelan didalam tengkuknya.
Mengikuti lantunan gerakkan yang Choki lakukan sampai akhirnya ia membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Choki.
"Aku juga kesepian."
"Aku merindukan sentuhan seperti ini."
Bisik Karin dengan iringan tangan yang melingkar mesra dipundak Choki.
......................
__ADS_1
......................