
Disisi Lain...
"Hah.. Akhirnya aku lega sekarang,." Batin Choki berucap seraya membanting dirinya kekasur besarnya. Ia lebih rilex sekarang, tak ada lagi yang perlu ia tutup-tutupi dari Karin. Dan bersyukurnya Choki saat Karin tak minder soal status sosialnya yang kini menempel pada dirinya.
"Aku janji akan buat kamu bahagia Rin, dan bawa kamu kesini, kita pasti bisa bareng-bareng lagi kaya dulu.." Seraya mengelus kasur kosong tepat disebelahnya.
......................
"Slamat pagi pak Choki." Sambut karyawan yang berpapasan diloby kantor. Choki tlah kembali ke Indonesia begitu Karin memberi kabar bahwa dia harus kembali kekorea lebih awal. Sejujurnya Choki ingin menahannya dengan meminta izin pada Kim. Namun itu semua tak mungkin, atas dasar apa Choki sampai menahan Karin. Ditambah mereka bertemu diwaktu yang tidak pas.
"Permisi pak.. Boleh saya masuk,.?" Ucap Miranda dibalik pintu menunggu jawaban pemilik ruangan.
"Ya, masuklah Mir.." Sahut Choki tanpa melirik. Miranda membuka pintu dan melangkah mendekati meja Choki sembari membawa beberapa map ditangannya.
"Ini pak, berkas-berkas dari meeting waktu disingapure kemarin." Menyodorkan map dan meletakkannya diatas meja.
"Ya, terimakasih." Ucap Choki dingin.
"Hem, Boleh saya bertanya sesuatu pak..?" Tanya Miranda tiba-tiba, sembari menoleh kekanan dan kiri, memastikan hanya Miran dan Choki diruangan ini.
"Jika pertanyaannya mengenai pekerjaan, maka katakan. Jika tidak kau boleh pergi." Jelas Choki dengan nada datar.
"Huft, jutek banget si Ky.. Aku cuman penasaran aja, kenapa kamu gak bilang kalau punya adik perempuan." Jelas Miranda yang membuat Choki berhenti fokus pada berkasnya dan melirik menatap Miranda.
"Apa maksudmu.? Tanya Choki penasaran tentang adik perempuannya.
"Tunggu." Rogoh Miranda kesaku blazer navynya dan mengambil ponsel didalamnya. "Ini Lihatlah, ini adikmu kan? kenapa gak pernah crita sih kalau punya adik perempuan, berarti kamu kemarin gak mau pulang bareng, mau ketemu adik kamu ya? Kenapa gak ajak aku juga, kan bisa kenalin aku ke adikmu Ky." Ucap Miranda bete, sembari menyodorkan ponselnya kewajah Choki.
Choki terdiam sesaat. "Dari mana kamu dapet foto itu.? Siapa yang bilang dia adikku? Kamu kenal Karin dimana? Kapan?" Tanya Choki bertubi-tubi dan heran bagaimana Miranda mendapatkan foto dia dan Karin.
"Wah.. Wah.. Kamu gak ngakuin adikmu sendiri? Jahat ya kamu, padahal Karin sendiri yang bilang kamu tuh kakaknya. Nih aku tunjukkin buktinya kalau dia bilang kamu itu kakaknya Karin." Bawel Miranda sembari menscroll layar ponselnya, lalu menunjukkan bukti chattingannya dengan Karin.
__ADS_1
Choki terdiam saat melirik sekilas saat melihat chatting Karin dan Miranda. Choki kembali fokus pada berkas yang ada dimeja tanpa memperdulikan ocehan Miranda, ia terus protes kenapa dan kenapa ia tak dikenalkan ke Karin.
......................
Tok.. Tokk.. Suara ketukkan pintu, dan dengan perlahan Karin memasukki ruangan, membawa nampan ditangannya lengkap dengan menu makanan untuk makan siang Kim dan dirinya.
Kim tersenyum manis saat Karin memasuki ruangannya. Ia bergegas bangkit dan melajukan kakinya kesofa, duduk dan menatap Karin saat sedang menyusun makan siang untuknya.
"Duduk disini Karin-shi.." (Menepuk sofa kosong disebalahnya. Karin mengangguk tanpa menjawab dan menjatuhkan bokongnya duduk disebelah Kim. Makan siang mereka seperti biasa, melahap tanpa berbincang. Ketika makan selesai, barulah mereka bincang sebentar membahas jadwal hari ini, atau apapun soal pekerjaan. Itu yang biasa mereka lakukan, namun lain hal dengan hari ini. Terasa ada kecanggungan diantara mereka.
"Saya perpimisi dulu tuan.." Mengangkat nampan yang berisi piring kotor dan teman-temannya.
"Apa kau akan meninggalkan kekasihmu begitu saja Karin-shi.?" Ucap Kim dingin, ia sedikit kecewa dengan sikap Karin yang flat sedari tadi.
"Mwo..?? a-ah maksudku bukan begi.." Ucapan Karin terpotong oleh ucapan Kim.
"Sudahlah.. kau boleh keluar." Ketus Kim mangangkat bokongnya dan menuju meja kerjanya.
"YA, Chagiya.. Kenapa kau memalingkan wajahmu hem.., aku disini sayang.." Karin menangkup wajah Kim agar mata mereka bertemu dan saling menatap.
"Aku kesal padamu." Sahut Kim dengan mata yang tetap tak mau menatap Karin.
"Katakan., Apa yang membuatmu marah padaku.?" Tanya Karin menatap serius tanpa mengedipkan matanya pada Kim.
"Kau terlalu cuek padaku hari ini. Aku tak suka sikapmu." Kim melirik keKarin sesaat dan kembali membuang tatapan matanya. Karin terkekeh saat melihat tingkah gemas yang Kim tunjukkan saat ini.
"Jadi kau marah karna kau merasa bahwa aku tak memperdulikanmu? Begitukah sayangku..?" Ucap Karin yang masih terkekeh, lalu mengelus wajah mulus Kim secara perlahan, dan akhirnya meluluhkan hati Kim, ia akhirnya menatap Karin yang sedang menatap penuh perasaan pada Kim.
"Berhenti menatapku seperti itu Karin-shi.." Perintah Kim seraya mengalungkan tangannya kepinggang ramping milik Karin.
"Jika aku menatapmu seperti ini, maka tunjukkan tatapan tajam padaku, aku merasa tertantang untuk mendapatkanmu tuan.?" Karin menc*um sekilas bibir Kim, dan saat Karin ingin melepasnya dengan cepat Kim menarik pinggang Karin dan kembali berc*uman mesra . Hingga terdengar suara kec*pan diantara bib*r mereka.
__ADS_1
Flashback On:
"Eeummh." Suara indah yang terdengar ditelinga Kim membuat ia terus meng*ndus dan meng*cup leher Karin hingga keare sens*t*f dibelakang daun telinga.
Karin merespon dengan bergerak sesuai keinginan si pemilik nafas.. Seakan terbuai nikmat tanpa sadar tangan Karin menarik lepas dan menangkup leher Kim dan meci*m bib*rnya dengan nafas menggebu.., Tanpa perlu diminta dengan senang hati Kim membalas ci*man Karin.
Kim mengangkat tubuh Karin dalam keadaan bib*r mereka yang masih saling menautkan satu sama lain. Kim melangkahkan kakinya menuju kamar, menj*tuhkan tubuh Karin kekasur begitu saja, Kim naik keatas kasur dan mendindih t*buh Karin. Ia kembali menc*um rakus bib*r Karin. Turun keleher dan terus menurun. Ringisan dan suara nafas yang tertahan karna sens*si yang diberikan Kim keluar tanpa perintah, suara itu terdengar indah sesuai ketukkan irama.
Malam ini Kim memanjakan Karin sampai ia melakukan pelepasan, tangan dan sentuhan tubuh Kim benar-benar ahli dan perpengalaman, nafasnya menggebu saat semuanya telah usai. Kim tersenyum kemenangan karna telah membuat Karin menyukain dan menikmati permainannya.
"Karin-shi.." Seraya mengusap lembut bib*r se*xy Karin.
"Nee tu-tuan..?" Masih mengatur nafas yang terengah.
Kim tersenyum saat memandang wajah Karin. "Maukah kau menjadi kekasihku Karin-shi..?"
Anggukkan kepala dan senyum Karin terukir sangat jelas diwajahnya, ia memeluk Kim dan menjatuhkan wajahnya kedalam dada bidang pria yang kini tlah menjadi kekasihnya. Terlelap dalam pelukkan sang kekasih sepanjang malam..
Flashback Off
......................
"Aku sampai mengabaikan hal semacam ini karna sibuk" Gumam Choki sembari memainkan jarinya diatas layar ponsel, ia memandangi postingan igs Karin dengannya pada saat disingapure.
Senyum dan kekehan terukir diwajah Choki, ia mengingat hal yang menyenagkan saat bersama Karin. Tak ada yang membuatnya seperti ini selain Karin. Ia tertawa lepas saat berada didekat Karin, hanya Karin yang dapat membuat hari-harinya berwarna. Namun ntah sampai kapan ia memendam rasa ini, rasanya seperti tak akan mungkin ia mengungkapkannya begitu saja. Choki masih terbayang saat kecil mereka bertengkar. Karin tak mau melihat dan menegur Choki. Hal itulah yang membuat Choki takut untuk kehilangan Karin.
......................
Hai guys... Apa kabarπ, sehat-sehat ya untuk kita semua. Jaga kesehatan juga untuk kalian.. Jangan lupa makan teratur ya guys, banyak minum juga..
Hari ini Author baru ngajuin kontrak dengan mangatoon. Doain lolos ya guys, biar Author makin semangat bikin Novel-novel berikutnya. Insya Allah cerita yang Author bagikan berkesan untuk para pembacanya ya.. ππ
__ADS_1