
Disaat orang-orang sudah terlelap ditengah malam. Sedangkan Irene mempersiapkan diri untuk pergi dari rumah. Tak memperdulikan kondisi kamarnya yang sudah hancur karna luapan emosinya.
Langkah kaki Irene melangkah tanpa alas kaki menginjak pecahan beling yang berserakkan dikamarnya, ia juga meraih kunci mobilnya yang ia taruh didalam tas yang menggantung didalam lemari.
Lalu Irene melangkah keluar kamar dengan perlahan. Langkah kakinya menurun anak tangga dengan santai, ceceran d4rah mengecap cap kakinya dilantai, seperti tak merasakan sakit apapun itu, Irene terus melangkah tanpa henti.
Sampai ia tiba didepan pintu keluar rumah, Irene sempat terdiam sejenak sebelum mendorong pintu. "Aku benci kalian semua!!." Gumam Irene dengan raut wajah emosi seraya menitikkan air mata.
Saat setelah itu Irene keluar dari rumah menuju mobilnya, dengan tatapan kosong ia menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang. Irene benar-benar tak merasakan sakit apapun ditelapak kaki yang masih mengeluarkan d4rah.
Pandangannya benar-benar kosong menatap jalan. Namun air matanya masih terus mengalir disaat pikirannya melintas sosok Kim, terlebih lagi disaat Irene diperlakukan kasar oleh Kim karna Kim lebih membela wanitanya yang tak lain ialah Karin. Warna wajah Irene berubah menjadi merah karna emosi saat mengingat wajah Karin.
"Wanita si4lan, kau merampas harapanku.! Aku benci kau wanita si4alan.!! Akan ku buat hidupmu menderita, kau harus merasakan penderitaanku slama ini.!!" Ucap Irene Kesal.
...Setengah jam kemudian....
Irene memarkirkan mobilnya ditepi jalan, tepat disebrang gedung apart Kim. Ia sengaja menunggu hingga malam berganti pagi, tanpa terlelap sedikitpun. Sampai dimana ia melihat mobil Kim melaju keluar dari gedung apartnya.
Irene memastikan Kim benar-benar pergi jauh dari area apartnya, barulah Irene melajukan mobilnya masuk kedalam basemant apart Kim. Ia pergi memasuki gedung apart dengan kaki tanpa alas. Pakaian yang ia kenakan pun masih menggenakan piyama, ia pergi dari rumah besar nyonya Kim dengan berbalut setelah piyama lengan dan celana pendek.
Dengan raut wajah sebab dan menahan emosi, ia berkali-kali menekan bel apart Kim saat kode yang ia masukkan salah. Kim sudah sejak lama mengganti pin apartnya. Yang hanya Karin dan Kim saja yang mengetahuinya.
"Nee, tunggu sebentar." Sahut Karin dari dalam, ia terburu-buru mendekati pintu saat mendengar bunyi bel yang terus ditekan tanpa henti. Jikalau itu Kim, ia tak perlu menekan bel, apa lagi sampai berkali-kali.
"Nee anyeong..." Ucap Karin saat membukakan pintu, dengan waktu perdetik ia terkejut saat melihat siapa yang datang.
"Ck, buruk sekali bahasa koreamu.!" Ucap Irene ketus dengan tatap Karin tajam seraya mengepalkan tangannya.
"Oh eonni Irene. Silahkan masuk." Sahut Karin gugup sembari menawarkan masuk, namun bukannya menerima balasan hangat. Justru ia mendapat serangan dari Irene secara terus menerus.
__ADS_1
Plakk!! Plakk!!.. "Aaggwww.. Wae eonni, kenapa kau menam..." Ucap Karin seraya memegang pipinya dan menatap Irene bingung. Namun Irene tak mendengar ucapan Karin, ia terus melakukan kekerasan pada Karin. Terlebih dari saat ia melihat perut Karin yang membesar. Emosinya semakin memuncak dan pukulannya terus menerus dilayangkan pada Karin.
BUGG..!! BUGG!! "AAGRHH, RASAKAN INI WANITA SH*BAL.!!" BUGH!! PLAKK.!!
"Aaahh sakit, Eonni jangan... Aawwhh." Ringis Karin seraya menahan pukulan Irene yang terus memukul seluruh tubuhnya. Karin mencoba melawan dengan mendoronh tubuh Irene hingga terjatuh kelantai. Dan saat ada kesempatan, Karin mencoba untuk melarikan diri hendak keluar apart. Namun langkahnya kalah cepat, kakinya disambar langsung dengan tangan Irene hingga ia jatuh tersungkur kelantai.
"Aaagghhh pe-perutku.. Aaghh!!" Ringis Karin yang teringkuk dilantai seraya memegang perutnya yang terasa amat sakit. "Eonni to-tolong aku, aagww pe-perutku sakit e-eonni.. Tolongg.." Sambung Karin seraya meminta tolong pada Irene.
Namun bukannya merasa iba karna melihat Karin meringis meminta tolong, justru Irene mendekati Karin dengan melangkah santai, ia berjongkok dihadapan Karin dan menatap dengan senyum licik.
"Dimana yang sakit Karin-shi.? Disini ya..? Ujar Irene dengan meraba perut buncit Karin.
"Nee eonni, tolong telvon Kim, perut sakit..." Ringis Karin menahan sakit. Namun lagi-lagi Irene tak menggubris perkataan Karin. Ia bangkit dari jongkoknya dan tanpa aba-aba Irene melayangnya tendangan pada perut Karin.
BUGGHHH!!!
"AAAAAAAHHHH EONNI..."
Karin tak henti-henti berteriak kesakitan dan meminta ampun pada Irene agar berhenti memukul dan menyiksanya. Tanpa disadari kaki Irene merasakan ada cairan kental yang mengenai kakinya.
Secara bersamaan mereka melirik kebawah lantai, ternyata cairan kental itu berasal dari paha Karin. V4ginanya mengeluarkan d4rah segar nan kental namun Karin tak merasakan saat d4rah itu keluar. Yang ia rasakan hanya sakit yang teramat dalam dibagian perutnya.
Irene sempat syok tanpa ekspresi, namun karna ia dibutakan emosi. Irene justru tertawa saat melihat sekaligus merasakan d4rah hangat yang mengenai kaki putihnya.
"Ups.. Sepertinya kau akan melahirkan ya..? Mau kubantu Karin-shi." Ujar Irene tersenyum licik seraya mengangkat satu kakinya kearah perut Karin.
"Ani.. Anii eonni, cukup.. Kumohon jangan eonni, kasihani aku dan anakku. Ku mohon eonni ampuni aku." Minta Karin dengan tangan bergetar seraya memberi perlindungan pada anaknya yang masih ada didalam perut.
"Hah?? Apa kau bilang? Kasiani? Hahaha apa yang harus aku kasihani padamu KARIN-SHI.. Bukankan kau sudah mengambil dan mendapatkan kebahagian yang kau rebut dariku."
__ADS_1
"Asal kau tau Karin-shi, aku sangat membenci wanita sepertimu. Karna kehadiranmu Kim berubah! Karna kau ia berlaku kasar padaku! Dan karna kau juga, nenekku tak mau mendengarkan dan menuruti permintaanku.! Kau memang wanita SI4L4N KARIN-SHI. RASAKAANNN INIII.!!!!!! BUGH!!!
"AAAAAAAAAAAA....." teriak Karin histeris saat merasakan sakit, senap, keram semua menjadi satu ketika Irene memukul sekaligus menekan perutnya dengan kakinya. Kaki Karin bergetar hebat, pinggangnya terasa panas. Rasa panas itu menjalar hingga kepunggung Karin. Dan dengan waktu bersamaan, kesadaran Karin menurun seiring dengan penglihatannya yang memudar.
Lagi-lagi tanpa rasa iba dan kasihan, Irene menendang kecil kaki Karin yang sudah tak bergetar lagi. Ntah apa maksud dari tindakan Irene yang menyentuh Karin dengan kakinya.
......................
"Dimana IGDnya..!" Tanya Kim panik pada seorang petugas rumah sakit yang berpapasan dengannya diarea parkir rumah sakit.
"Disana tuan." petugas menunjuk kearah kebarat. Tanpa mengucapkan apapun, Kim langsung berlari masuk kegedung rumah sakit. Tanpa memperdulikan sekitar, ia terus berlari menerobos melewati orang-orang didepannya.
Kim kalang kabut saat mendapat telvon dari staff apart nya, ia diberi kabar bahwa nyonya Kim yang tak lain adalah Karin mengalami pendarahan dan tak sadarkan diri. Ia diminta untuk langsung kerumah sakit terdekat.
Staff menyadari ada keanehan saat salah satu petugas kebersihan berpapasan dengan Irene yang keluar dari lift dengan melihat kaki Irene yang berselimut d4rah ditelapak kakinya. Terlebih lagi Irene tak mengenakan alas kaki. Firasat tak enak pun dirasakan staff kebersihan dan langsung menahan Irene diloby, lalu menanyakan apa yang terjadi padanya.
Irene tak menjawab pertanyaan staff tersebut dan kembali melangkah hendak keluar gedung apart menuju basemant. Namun langkahnya dihentikan saat staff kebersihan itu meminta para penjaga bagian basemant untuk menahan Irene dan mengintrogasinya.
Awalnya Irene diam tak menjawab pertanyaan para staff, kecurigaan semakin menyakinkan ada yang tidak beres ketika Irene tertawa tanpa alasan. Tatapannya kosong menatap kebawah kakinya, ia menggerakkan jari-jari kakinya yang terselimut d4rah yang mulai mengering.
Sampai akhirnya salah satu staff wanita yang bertugas pagi itu turun tangan. Staff wanita itu mendesak sampai harus melayangkan tamparan keras kewajah Irene agar mengatakan apa yang terjadi. Pasalnya saat para bertanya dengan nada baik-baik Irene tetap menutup mulutnya dan malah tertawa saat staff bertanya mengenai asal muasal d4rah dikakinya.
Akhirnya Irene mengaku ia baru saja menghabis nyawa seorang wanita hamil. Ekspresi Irene saat mengatakannya tak ada rasa sedih ataupun menyesal, ia justru menunjukkan ekspresi senang dan bangga akan tindakkannya.
Dengan cepat para staff menuju lantai apart Kim, karna sesuai data yang tertera. Digedung ini hanya ada 1 penghuni yang sedang hamil. Yaitu nyonya Kim yang tak lain adalah Karin. Para staff membuka pintu apart dengan menggunakan pin DARURAT yang hanya digunakan saat keadaan genting.
Saat menerobos masuk, seketika para staff terkejut bukan kepalang saat mendapati tubuh Karin yang terbaring tak sadarkan diri dilantai dekat meja tv. Ditambah dengan melihat d4rah yang menggenang dibawah kakinya.
......................
__ADS_1
......................