Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Flashback Rosy 2


__ADS_3

"Mwo??? Jinjjah? Ros!! Apa yang kamu katakan.? Itu tak sesuai dengan ucapanmu sebelumnya." Bisik Mina seraya menatap Rosy sekilas lalu melirik tuan Jay yang menatap mereka serius.


Jay menghela nafas kasar melalui mulutnya. Lalu bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat kearah mereka.


"Duduklah." Titah Jay sembari menjatuhkan bok0ngnya disofa lalu diikuti dengan Mina terlebih dulu baru Rosy.


"Ada alasan untuk permintaanmu itu.?" Tanya Jay perlahan.


"Aku membutuhkan uang lebih tuan, aku bisa menjamin untuk kepuasan tamu yang menyewaku." Jawab Rosy gugup tanpa seraya meremas untuk bajunya.


"Berapa uang yang kamu butuhkan.?" Tanya Jay seraya menyalakan korek yang membakar tembakau yang telah menempel dibibirnya.


"8 juta won (100 juta rupiah.)." Ucap Rosy lantang dan tersadar ketika melihat tatapan tajam yang ditunjukkan Jay padanya.


"Ommo! Rosy-ah! Aigo.. Itu bukan uang yang sedikit!!. Apa kamu gila!! Untuk 1 kali tarif saja tidak segitu.!" Sentak Mina seraya menggeplak lengan Rosy lantaran kesal.


"Apa jaminan yang kamu berikan dengan uang segitu.?" Tanya Jay disela-sela ringisan Rosy saat menahan sakit akibatan pukulan Mina.


Sontak Rosy dan Mina saling menatap kebingungan saat Jay justru bertanya kembali. Awalnya Mina kira mereka akan langsung diusir, dan begitu juga dengan Rosy. Ia berfikir Jay tidak akan menyetujui saat ia menyebut nominal untuk ini semua.


"Aaa itu.. Aku bisa menjamin untuk kepuasan klien yang menyewaku, karna ..."


"KATAKAN DENGAN JELAS.!!" bentak Jay dengan kesal saat memotong ucapan Rosy.


"Karna aku masih perawan.!" Jawab Rosy dengan cepat dan lantang karna terkejut saat Jay berteriak padanya.


Seketika rahang Jay yang tadinya mengeras kini mereda perlahan dan sorot matanya menatap Rosy dan Mina secara bergantian. Begitu pun dengan Mina, ia menatap Rosy syok dan menatap Jay sekilas lalu tertunduk ntah karna sebab apa Mina menunduk begitu saja.


"Mianhae tuan, sepertinya hal ini tak perlu disetujui, aku akan bicara pada Rosy. Kami permisi." Titah Mina seraya menarik paksa lengan Rosy agar ikut dengannya keluar dari ruangan Jay.


"Tunggu Mina, siapkan saja kamar untuk Rosy dan berikan dia pakaian yang pantas untuk wanita penghibur yang ia inginkan. Untuk urusan tamu, biar aku yang atur." Sahut Jay yang seketika membuat langkah Mina dan Rosy terhenti dan kembali berbalik kearah Jay.


"Apa penjelasan ku kurang jelas Mina.?" Tanya Jay menatap dingin kearah mereka berdua.


"Aaa-ah nee tuan, saya mengerti. Akan saya siapkan." Jawab Mina terburu-buru dan kembali menarik tangan Rosy keluar ruangan Jay.


......................

__ADS_1


"APA KAMU GILA!! Apa yang kamu ucap saat didalam itu berbanding terbalik dengan keinginanmu saat bercerita denganku.!" Ucap Mina penuh emosi. Namun Rosy tak menanggapi keseriusan dari ocehan Mina.


"Nee, aku memang gila Mina, aku sudah gila karna memilih kejalan yang salah. Lagi pula ini sangat cepat untuk aku mendapatkan semua uangnya hanya dalam satu malam. Jalanku sudah buntu Mina. Aku sudah tak memiliki jalan keluar lagi selain ini. Tolong mengertilah." Jawab Rosy pasrah seraya menghela nafas kasar.


"Haish kau ini.! Aku tak tau harus berbuat apa nantinya. Mana aku tidak tau tamu apa yang akan kamu layani nantinya." Ujar Mina yang membuat mata Rosy membulat sempurna.


"Ma-maksudmu??." Tanya Rosy syok dan bingung.


"Slama aku bekerja disini, ada beberapa tamu yang sedikit bar-bar. Mereka rela membayar tinggi untuk wanita yang mampu mengimbangi permainan mereka yanh diluar nalar. Yang aku takutkan, tuan Jay akan memberi tawaran pada salah aatu diantara mereka yang akan kamu layani nantinya. Tapi berdoa saja tidak akan. Tapi.. Aagghhh kamu bemar-benar membuatku ikut GILA Rosy.!!" Teriak Mina frustasi diakhir kalimatnya.


"Aaaaa Mina.. Jangan membuatku takut. Aku harus bagaimana ini." Rengek Ros yang mulai panik karna mendengar penjelasan dari Mina.


"iiiiihhhhh lagian kenapa kamu menarif dengan harga tinggi. Mana ada yang berani membayar wanita penghibur dengan bayaran segitu. Aaahh kamu ini. Berdoalah semoga tuan Jay tidak memberimu pada pria yang ganas." Ujar Mina lagi-lagi kesal dan memukul bok0ng Rosy yang terlihat menonjol ketika ia membuka celananya didepannya, lalu ia memberikan paper bag pada Mina yang berisikan baju.


"Pakai ini, lalu balut dengan kain kimono ini. Nanti buka saat klien memintanya." Ujar Mina berupaya menjelaskan pada Rosy.


"Haish iya iya.. Aku tau, tak perlu dijelaskan begitu. Aku bahkan tau wanita yang babak belur saat setelah melayani klien yang kamu bilang bar-bar itu. Aku pernah melihat ada beberapa pria yang membopong wanita penghibur keluar dari club dan membawa wanita itu kedalam ambulance." Jawab Rosy seraya membuka paper bag dan mengambil baju didalamnya.


"Ya Tuhan. Haruskan baju seperti ini." Gerutu Rosy mengeluh saat membuka lebar baju kehadapannya dan juga Mina.



"Yaish shib*l.!! Berhentilah mengejekku Mina. Dan bantulah aku sekali lagi. Bujuk tuan Jay agar tak menjualku pada pria bar-bar yang kamu maksud tadi." mohon Rosy seraya menyatuka kedua tangannya dihadapan Mina.


Mimik wajah Mina menunjukkan kekhawatiran namun sebisa mungkin ia meyakinkan Rosy. "Aku tak bisa berbuat banyak, berdoalah semoga mereka tak datang malam ini. Tunggu disini saja, mungkin tengah malam klienmu akan masuk bersama tuan Jay."


"Untuk apa tuan Jay ikut.?" tanya Rosy bingung.


"Tentu saja mengantar tamu itu bertemu denganmu. Kamu mau dia datang sendiri lalu ternyata bukan dia orangnya." Ujar Mina seraya memukul lengan Rosy dengan perasaan kesal.


"Aaghh iya iya maaf. Ini kan hal yang baru pertama kali aku lakukan." Ucap Rosy seraya menunduk karna merasa bersalah. Saat wajah Rosy tertunduk disitulah Mina dengan cepat menangkup kedua pipi Rosy dan menatapnya tajam.


"Apa benar kamu masih perawan Ros.?" Tanya Mina serius. Dan dibalas dengan anggukan oleh Rosy.


"Aishhh aku tak percaya ini. Sangat sulit dizaman sekarang mendengar wanita yang berusia seperti kita masih perawan. Terlebih lagi pekerjaan seperti kamu."


"YA!!! Jaga ucapanmu. Jangan asal menilai seseorang hanya dari pekerjaannya. Apakah salah jika aku masih perawan meski aku bekerja di club.?" Tanya Rosy mulai emosi.

__ADS_1


"Ommo.. Mianhae baby, aku tak bermaksud membuatmu emosi. Mianhae-oh." ujar Mina seraya memeluk Rosy.


"Sudah-sudah. Pergilah, nanti keburu tuan Jay datang. Nanti klien yang melihat kita berdua disini malah tertarik padamu dibanding aku." ledek Rosy


"Aishh mana mungkin. Aku sudah tidak minat menjadi wanita penghibur. Tuan Jay sangat murah hati pada saat mengangkatku sebagai manager disini. Jadi mana mungkin tuan Jay tidak akan menyetujui dan menyuruhku melayani kliennya." Jawab Mina.


Asal mula Mina disini sebagai wanita penghibur, lalu karna asal usulnya yang baik dan tujuan dia bekerja bukan untuk foya-foya dan sebagainya. Keluarganya terbelit hutang dan adiknya yang sakit-sakitan. Sejak Jay mengetahui hal itu, Mina naik tingkat dan selalu direkomendasikan ketamu kelas VIP. Seiring berjalannya waktu, karna manager yang lama sudah seharusnya pensiun. Lantas Jay mengangkat Mina sebagai manager pengganti sampai sekarang.


......................


Tittt..!! Beberapa jam dari kepergian Mina, Rosy yang tadinya duduk dikursi sofa yang berada dikamar dengan santai, namun perasaannya berubah menjadi gelisah saat mendengar suara kunci pintu kamar yang berhasil terbuka.


Saat gagang pintu ditekan dan pintu didorong kedalam, Rosy dengan cepat berdiri dengan memeremas ujung kain kimono yang ia kenakan. Jantungnya berdetak kencang, suhu tubuhnya tiba-tiba turun. Rosy bisa merasakan itu dari telapak suhu tangannya yang mulai berubah menjadi dingin. Berkali-kali menelan air liurnya lantaran gugup yang teramat.


Bahkan sampai langkah kaki besar itu melangkah mendekat, wajah Rosy terus tertunduk tak berani melihat kearahnya. Sampai pada akhirnya sepasang sepatu pantofel hitam berdiri tepat didepan Rosy. Dagu Rosy mulai disentuh dan dituntun kearah atas agar wajahnya terlihat jelas.


"Tu-tuan Jay.." Ucap Rosy pelan bercampur kaget saat matanya melirik kearah belakang Jay dan tak ada orang lain selain sendiri.


"Wae-oh.? Kamu terkejut.?" Tanya Jay pelan sembari mendekatkan wajahnya perlahan kewajah Rosy. Reflek Rosy memundurkan langkah kakinya perlahan saat Jay mulai mendekatinya.


"Kenapa kamu menjauh hah!!" Ujar Jay seraya menahan kasar tangan Rosy yang perlahan kian mundur.


"Aagh mianhae tuan. Ta-pi bukankah tamunya akan datang bersama tuan. Kenapa tuan sendirian? Dimana tamunya.? Tanya Rosy pelan seraya menahan sakit pada tangannya yang diremat Jay.


"Mwo? Kamu menunggu tamumu.? Jinjjah.?" Tanya Jay seraya mengelus lengan Rosy dan mulai menggrayangi lekuk tubuh Rosy dengan tangannya.


"Mianhae tuan, jangan seperti ini." ujar Rosy yang perlahan menepis tangan Jay dari pinggangnya. Dan hal itu membuat Jay berdecak kesal.


"CK.!! Sepolos itukah kamu! YA ROSY-AH!! Berhenti membodohi diri dengan berpura-pura polos seperti ini.! Kamu teelihat seperti wanita munafik yang sedang kehausan uang, sampai rela menjual dirinya, apa gaji sebagai BARTENDER kurang, hah?!" Bentak Jay kesal.


"Tuan, tahan nada bicaramu. Aku memang membutuhkan uang, dan bukan tanpa alasan. Bukan semata-mata aku kehausan uang seperti karyawan penghiburmu dibawah sana. Aku membutuhkannya karna satu hal. Kalau tidak, aku tidak akan menjual kehormatanku pada pria sembarangan seperti tamumu contohnya."


PLAK!! satu tampar keras mendarat dipipi Ros. Jay tak terima saat Rosy menyebut hina tentang para kliennya.


......................


......................

__ADS_1


__ADS_2