Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Cinta Yang Tumbuh


__ADS_3

Semua keluarga, kerabat, teman dan tetangga diperuhaman elit ini berkumpul dalam suasan duka yang menyelimuti dikediam Choki.


Tak ada satupun yang berani mendekati Choki hanya untuk sekedar berjabat tangan, pasalnya Choki tak beranjak sedikitpun dari sisi jenazah Mirandah. Seolah tak ikhlas melepas sang istri yang baru saja beberapa bulan belakangan ini ia cintai.


Choki baru membuka hati untuk istrinya saat istrinya memberi izin untuknya menikah lagi. Pintu hati Choki terketuk saat mendengar ucapan Miranda yang menurutnya hanya omong kosong belaka.


Flashback On.


...Dua Bulan Lalu...


Perlahan Miranda melangkah masuk keruang kerja Choki dan melihat suaminya yang tengah sibuk dengan berkas serta laptop didepannya.


"Mas, masih sibukkah.? Ini udah malem loh, gak baik begadang terlalu larut. Bisa disambung besok lagi kan."


"Iya sebentar lagi, kamu tidur duluan aja, nanti aku susul." Choki menjawab tanpa melirik Miranda yang ternyata sudah ada disampingnya.


Tangan Miranda menyentuh kening suaminya dengan lembut, memijat sisi kanan dan kiri dengan telaten. Secara langsung Choki menikmati sentuhan Miranda yang membuatnya sedikit lebih rilex.


Beberapa menita berlangsung, perlahan Miranda mengatur nafasnya dan mulai membuka suara.


"Mas, ada yang mau aku bahas denganmu. Ku harap kamu jangan tersinggung dan jangan marah, dengarkan dulu baru berkomentar."


"Hem, katakanlah. Ada apa.?"


"Seandainya ini permintaan terakhirku, apa kamu mau mengabulkannya."


DUARRR!!! Suara tembakan peluru menembus kaca ruangan seakan terdengar begitu jelas ditelinga Choki saat mendengar ucapan Miranda. Dengan cepat Choki menepis tangan Miranda lalu menariknya kedalam pangkuannya.


Tatapan keduanya saling bertemu satu sama lain, terlihat tatapan tajam Choki menatap lekat wajah istrinya, namun berbanding terbalik dengan tatapan Miranda ke Choki. Yang terlihat dari tatapan Miranda adalah tatapan tulus dan penuh cinta.


"Apa maksudmu bicara begitu.? Apa tak ada topik lain.?! Sudahku katakan itu mustahil Mira.. Kami tak mungkin menikah."


Miranda tersenyum dengan tak putus menatap wajah suaminya. Dan berlalu memeluk suaminya dengan penuh kehangatan. Seakan tak ingin melepas pelukkan itu, Miranda semakin mengeratkan pelukkannya sampai membuat Choki luluh dan ikut memeluk tubuh istrinya.


"Menikahlah dengan Karina mas, aku mengizinkanmu memiliki pendamping dan aku siap untuk menjadi madunya."


Dengan cepat Choki melepas pelukkannya yang awalnya terasa nyaman namun seketika terasa panas seperti terbakar api biru.


"Apa maksudmu hah.! Sudah ku bilang aku tidak bisa, apa tidak ada topik lain. Cukup Mira.! Jangan memancing emosiku, aku sedang pusing dengan urusan kantor. Kamu datang kemari bukannya memberiku tenaga tapi justru membuatku semakin mem... Aagh!! sudahlah, minggir." ujar Choki emosi, perlahan ia menurunkan tubuh Miranda dan pergi menuju kulkas untuk mengambil segelas minum.


Miranda hanya terdiam tak berkata apapun saat suaminya mengungkapkan isi kepalanya yang membuatlah lelah dan stress terlebih lagi ini karna urusan kantor. Wajah Miranda tertunduk, tubuhnya mematung ditempat yang tak jauh dari meja kerja Choki. Saat Choki hendak kembali kemeja kerjanya, ia melihat Miranda sudah menangis disana.


Saat setelah meneguk kasar minuman yang ada dikulkas, dengan kasar pula ia menutup pintu kulkas itu. Lalu hendak kembali kemeja kerjanya, Choki menghela nafas kasar saat melihat Miranda menangis sesejukkan tanpa suara.


"Sstttt... Sudah jangan menangis, aku minta maaf atas ucapanku tadi. Apa itu menyakitimu.?" ucap Choki sembari memeluk Miranda dengan mengusap punggung Miranda agar tenang dan berhenti menangis.

__ADS_1


Miranda tak menjawab dan malah semakin menangis dalam dekapan Choki. Namun tak berlangsung lama, Miranda kembali membuka suaranya. Dan memang tujuannya menemui Choki malam ini untuk membahas soal niatnya yang mengizinkan Choki untuk menikah lagi. Tapi ia hanya mengizinkan Choki menikahi Karin, tidak pada wanita lain.


"Aku mencintaimu mas, aku tulus mencintaimu. Tapi aku gak tega melihat orang yang aku cintai menderita karnaku. Karna aku, kamu jadi seperti ini." ucap Miranda dengan suara yang bercampur suara tangis.


"Menderita gimana.? Aku baik-baik aja Mira, gak ada yang perlu kamu khawatirkan. Aku hanya sedang pusing dengan masalah kantor. Kamu dateng kesini kukira untuk memberiku semangat atau hanya sekedar menemaniku. Tapi nyata tidak, kamu justru melontarkan pernyataan yang justru membuatku semakin pusing."


"Mas, jangan pura-pura lupa. Ku rasa kamu sengaja melupakan apa yang Dokter katakan minggu lalu mengenai penyakitku, dan lagi kamu pura-pura lupa akan masalah kesehatanmu. Jangan mencoba membohongi ku mas, kamu slama ini memendamnya kan.?! Bukankah sudah ku katanya, jika kamu membutuhkan wanita dalam semalam, aku mengizinkannya mas. Tapi kamu justru mengabaikannya sampai akhirnya kamu menderita karnaku. Sampai akhirnya aku memintamu untuk menikahi Karina, lagi-lagi kamu menolaknya. Kalian tak ada hubungan darah, tak ada salahnya kalian menikah."


Suara tangis Miranda pecah saat dirinya mengucapkan kalimat terakhirnya. Tangannya meremas kerah Choki saat mengucapkan semuanya. Benar, Choki slama ini menyembunyikan soal kesehatannya pada Miranda. Karna slama kurang lebih satu tahun Choki tak sama sekali mengeluarkan hormon dalam tubuhnya. Oleh sebab itu ia sering merasa pusing dan mudah lelah, terlebih lagi emosinya yang kadang tak terkendali hingga menimbulkan masalah untuk dirinya dan juga orang-orang disekitarnya.


"Ku-mohon mas, turuti permintaanku. Anggap ini permintaan terakhirku, aku tak ingin pergi dengan penuh penyesalan nantinya. Ku-mohon mass..." sambung Miranda dengan suara melemah, memohon pada Choki dengan tatapan sendu.


"Ssttt sudah jangan menangis lagi. Tenangkan dirimu, akan ku turuti permintaanmu tapi beri aku wakru untuk mengatakan semuanya pada ibu." ucap Choki pasrah sembari memeluk kembali tubuh istrinya.


"Bodoh kamu kak.! Kenapa kamu terima permintaan itu.! Apa kata orang-orang." gumam Karin kesal. Tanpa mereka sadari, sedari awal mereka berdebat Karin sudah ada dibalik pintu ruang kerja Choki yang tak tertutup rapat. Awalnya ia berniat kembali kekamar saat dari dapur. Namun seketika pendengarannya mendengar perdebatan mereka yang menyinggung soal pernikahan. Dan sampai akhirnya Karin menguping dari balik pintu.


Flashback Off.


......................


Dan saat setelah perdebatan malam itu, bukannya memikirkan untuk mencari alasan yang tepat untuk ibu panti dan membahasnya langsung dengan Karina. Justru Choki dan Miranda semakin hari semakin dekat dan terkadang mesra, ntah dari mana datangnya kemistri diantara keduanya.


Tak jarang mereka menghabiskan waktu berdua diluar rumah hanya untuk sekedar dinner dan berbelanja disalah mall diJakarta. Dan bukannya melupakan soal mengenai pernikahan, Miranda slalu mengingatkan namun ia juga tak mau menyia-nyiakan waktu yang tersisa untuk dihabiskan bersama suami yang ia cintai. Perlakuan Choki kian hari kian melembut dan posesif akan kesehatannya. Hal itu membuat Miranda semakin jatuh cinta pada suaminya. Yang awalnya ia berniat untuk berhenti meminum obat dari Dokter, namun saat mendapat perlakuan baik dari sang suami, ia tak pernah lupa untuk slalu mengikuti saran Dokter.


Namun ntah kenapa saat sore hari dimana Choki, Miranda, Maura dan Karin bermain ditaman bersama Bam dan juga Boby. Ia merasakan rasa nyeri dan sesak pada area jantungnya. Rasa sakit itu kian muncul saat tubuhnya bergerak, sampai akhirnya Miranda memilih untuk duduk dan hanya menyaksikan anak,suami dan Karina yang sudah ia anggap sebagai adiknya bermain bersama.


......................


Tiga, Tujuh, Empat Puluh dan Seratus hari telah dilewati dengan suasana yang masih berduka. Hari ini tepat seratus hari lebih seminggu kepergian alm Miranda untuk slamanya. Dan tak terasa sang putri kecilnya Maura menginjak usia satu tahun.


Dulu sekali waktu Choki masih kecil ia ingin sekali merayakan ulang tahun seperti teman-teman didesanya. Namun apa daya, ia hanya seorang anak yatim piatu yang hidup disebuah panti kecil bersama anak-anak lainnya yang bernasip sama seperti dirinya.


Namun saat ia memiliki anak dari pernikahannya semua planning sudah tersusun rapih dalam benaknya, jika ia memiliki anak ia ingin merayakan ulang tahun anaknya dengan konsep yang diinginkan malaikat kecilnya. Tapi ntah kenapa ingatan itu seakan hilang saat setelah meninggalnya Miranda, Choki melupakan hari dan tanggal lahir putri kecil Maura. Bukannya melupakan, hanya saja pikiran Choki masih memutar kenangan saat Miranda masih hidup.


......................


...Pagi Hari diHari Minggu...


Didapur kotor Karin tengah disibukkan dengam berbagai kegiatan memasaknya, banyak sekali bahan-bahan masakkan yang terbuat dari tepung, ada telur, gula, mentega dan sebagainya.


Choki yang tengah menyantap sarapannya sembari matanya yang seakan mencari seseorang yang tak lain adalah Karin.


Choki melirik putrinya yang tengah duduk dikursi makan khusus untuk bayi, ia ditemani sang putri sarapan pagi ini. Choki menatap putrinya yang tengah asik bermain dengan sendok dan mangkuk, wajah Maura terlihat mirip dengan Miranda terutama dimatanya. Bulu mata yang lentik, lipatan kelopak mata serta warna mata yang hitam besar seperti boneka.


Rasa sedih kehilangan masih terasa, sebisa mungkin Choki menahan air matanya agar tak terjatuh. Sudah cukup dirinya untuk menangis saat kehilangan seseorang yang tulus mencintainya. Ia tak mau dianggap lemah terlebih lagi ia seorang pria dan seoranh ayah. Choki harus terlihat kuat agar tak dipandang lemah.

__ADS_1


Tiur mendatangi Karin lantaran diperintah majikannya untuk menemui Karin didapur kotor. "Mba Karin ada yang perlu dibantu.?"


"Eh Tiur, gak usah, ini bentar lagi kelar kok." jawab Karin sembari membenahi beberapa peralatan membuat kue dimeja.


"Ini mau dicuci semua mba.? Biar Tiur aja, bapak manggil mba dimeja makan depan." Tiur mengucapkan maksud dari pernyataannya saat menanyakan pada Karin apa ada yang bisa dibantu.


"Astaga iyaaa, aku lupa. Maaf ya, jadi kelamaan nitip Maura kekamu." ucap Karin tersadar saat dirinya melupakan Maura lantaran terlalu sibuk dengan kegiatannya didapur.


Karin buru-buru cuci tangan dan langsung mengelap tangannya dengan tisu lalu melepat celemek dibadannya. "Nanti tolong kuenya dikeluarin daei oven ya, biarin dingin dulu. Nanti aku lanjut lagi. Maaf ya sekali lagi, jadi ngerepotin kamu."


Tiur tersenyum sembari menyambut celemek dari Karin "Iya mba gakpapa, aku seneng kok bisa direpotin."


Karin tersenyum pada Tiur lalu pergi dari dapur menuju ruang tengah menemui Choki dan Maura.


Karin langsung berhamburan menghampiri Maura yang tengah duduk dikarpet ruang tengah. Ia duduk sejajar dengan Maura yang tengah asik bermain dengan mainannya.


"Haloo anak Buna... Udah mamamnya, peyutnya udah kenyang belum ini."


Buna sendiri adalah panggilan khusus dari Maura untuk Karina. Kata Buna yang berarti Bu (Ibu) Na (kariNa). Sejak Maura belajar bicara, ia tak henti memanggil Karin dengan Buna sembari memuncratkan air liurnya ketika menyebutkan kata Buna. Dan daeri situlah panggilan itu menjadi panggilan khusus Maura untuk Karin.


"Aku hari ini gak kekantor, gak tau kenapa badan rasanya pegel-pegel banget. Kamu ngapain aja didapur.? Sampe lupa dengan Maura."


oceh Choki tanpa melirik karna sibuk dengan mengganti saluran televisi.


"Ada deh.. Iihh kepoo. Dek, ayah Choki kepo.. Sini adek aja yang Buna kasih tau, sini Buna bisikin."


jawab Karin dengan gelagat hendak membisikkan sesuatu pada Maura. Maura tertawa geli saat Karin membisikkan kata-kata ditelingi yang Maura sendiri belum mengerti apa maksud Bunanya tersebut.


"Geyiiii Buna..."


Merasa dicuekin, Choki langsung meletakkan remot kesembarang arah lalu mengangkat Maura kedalam pangkuannya.


"Jangan mau dek, Bunamu belum mandi. Bau ketek." ledek Choki dengan gelagat berbisik ke Maura.


Seketika Karin cemberut sembari memukul mukul pelan kaki Choki.


"Iih enak aja, udah mandi tauu. Iih nyebelin nih, gak seru ah ngeledeknya nyinggung soal bau badan."


"Aku kan gak pernah bau badan. Aaaah kak Choki mah gitu... Nanti Maura ngerti terus ngeledek aku gimana."


Choki ketawa besar saat melihat wajah Karin yang bete dan lagi ia puas karna berhasil membalas Karin karna nyuekin dirinya. Syukurlah senyum tawa Choki kembali seiring berjalannya waktu, meskipun tak bisa dipungkiri.


Akhir-akhir ini Choki sering pulang malam dan lagi dengan kondisi dalam keadaan mabuk. Bahkan saat satu hari setelah 100 harinya alm Miranda, Choki pulang sangat larut dengan keadaan mabuk berat. Sampai harus dijemput Boby dan Rian di club malam.


......................

__ADS_1


......................


__ADS_2