Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Jauhi Kim, Dia Kekasihku.


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan dari Kim akhirnya ia menurut dan mematuhi perintah Kim. Ia takut kerja sama antar perusahaan mereka akan gagal acc. Padahal Karin ingin sekali bertemu Miranda, Beberapa waktu lalu Miranda menghubunginya secara pribadi lewat DM instagram.


Perusahaan tempat Miranda bekerja akan datang keKorea bertemu dengan Perusahaan Kim. Karin sudah tau lebih dulu karna sudah menerima email dari perusahaan Johan Grup. Namun karna temannya yang menghubungi secara pribadi, ia menyambut kegembiraan itu dengan balasan mengiiyakan untuk mereka berjumpa begitu Miranda sampai diKorea.


......................


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan Kim." Karin menunduk lalu melangkah keluar dari ruangan Kim.


"Aishh!! Aku benci sikap profesionalnya. Membuat tak tahan ingin menepuk bok*ngnya yang sekal itu." Batin Kim saat menatap lekat tubuh Karin belakang lalu menghilang dari balik pintu.


Waktu meeting pun tiba. CS kantor dan beberapa staff lainnya menyambut kedatangan Choki sekaligus beberapa karyawaan di belakangnya.


Flashback On.


"Untuk urusan kerja sama kita dengan perumahan Furnt Kim apa sudah kamu urus Mir." Tanya Choki disela-sela meeting dikantor Choki.


"Sudah pak, saya sudah mengirim email pada sekertasi Karin untuk meminta persetujuam secara langsung pada Mr.Kim." Jelas Miranda seraya menatap Choki tersenyum kecil saat nama Karin tersebut. Hal itu bukan membuat Miranda PD, ia mengira senyuman itu untuknya.


Selesai dari meeting, Choki meninggalkan ruangan dengan langkah besar. "Pak tunggu.. Jangan buru-buru jalannya pak." Oceh Miranda sembari menyesuaikan langkah kaki besar Choki.


"Kamu ngapain ngikuti saya Mir, saya akan pulang cepat hari ini. Saya perlu nyiapin barang-barang untuk keberangkatan keKorea nanti."


"Kalau gitu saya bantu bapak siapin semuanya."


Seketika Choki berhenti melangkah. "Gak perlu, kali ini saya sendiri yang nyiapin." Bukan tanpa sebab, Choki ingin memastikan semua barang-barang tidak ada yang tertinggal, terutama hadiah spesial untuk Karin. Ia tak mau hal itu terlupakan.


Miranda mematung saat Choki berhenti tiba-tiba dan menolak mentah-mentah atas bantuannya. Tak seperti biasanya, semua keperluan dan kebutuhan Choki, semuanya disiapkan oleh Miranda. Sampai akhirnya Miranda ditinggal ditengah jalan begitu saja dengan Choki yang memasuki lift, bukannya naik kelantai atas namun malah turun kelantai bawah. Choki benar-benar pergi pulang menyiapkan semua barang-barangnya.


"Gak sabar aku pengen ketemu kamu Rin.." Gumam Choki sembari melangkahkan kakinya menuju pintu keluar kantor, sesekali ia bersiul senang dengan perasaannya yang berbunga-bunga. Sampai karyawan serta sekuriti yang berada disana menatap heran Choki. Pasalnya Choki dikenal dengan sikap dingin dan cuek dengan sekitar namun tidak dengan hari ini.


Flashback Off.


"Slamat siang Mr.Choki, senang menyambut kedatangan anak diperusahaan kami." Ucap manager perusahaan Furnt Kim seraya menjulurkan jabat tangan pada Choki.


"Nee, gomawo tlah menyambut hangat kedatangan kami." Choki menunduk ramah dan menerima jabat tangan manager tersebut.


"Mari ikuti saya, kita langsung keatas menuju ruang meeting." Sahut manager berjalan lebih dulu didepan Choki dan diikuti karyawan lain termasuk Miranda.


Sesaat kemudian, mereka memasuki ruangan yang berukuran cukup besar. Mata Choki bertemu dengan sorot mata yang kini menatapnya senang akan kedatangannya. Kim melangkah mendekati Choki, begitu juga dengan Choki.


"Annyeong hoobaenim, apa kabarmu hem.?" Ucap Kim seraya memeluk dengan pelukkan khas pria pada Choki.


Choki senang menyambut pelukkan Kim dengan senyum diwajahnya. "Nee hyeong aku baik, bagaimana denganmu? Kau terlihat lebih berisi sekarang." Goda Choki dengan pukulan pelan pada lengan Kim.


Kim hanya tertawa elegan dengan pujian Choki. Ada rasa bangga pada dirinya, semenjak bertemu Karin ia merasa terurus dari pola makan yang teratur, terlebih jatah malam yang membuat dirinya semakin bugar dan feet.


"Kajja duduklah, jangan banyak membuang waktu hanya dengan berdiri disini." Ucap Kim sembari menarik perlahan lengan Choki mempersilahkan dirinya untuk duduk. Dan tak lupa Kim juga berjabat tangan pada Miranda dan beberapa karyawa Choki yang lain lalu mempersilahkan mereka untuk duduk dikursi yang tlah disediakan. Dan meeting pun dimulai.


......................


Karin tengah disibukkan dengan beberapa urusan berkas yang akan disalinnya kedalam komputer. Tak berselang lama terdengar suara tapak kaki yang terdengar seperti tapak kaki wanita dengan menggunakan hils mendekati Karin. Namun Karin belum menyadari hal itu, sampai pada akhirnya sosok wanita itu berada telat didepan meja kerjanya.

__ADS_1


Tug.. Tugg.. Suara ketukkan meja yang diketuk dengan jari telunjuk.


"Allahuakbar." Sontak Karin terkejut akan sosok Irene yang berada didepannya sembari menatap malas wajah Karin.


"Apa kau sekertaris Kim?" Tanya Miranda sinis.


"Nee nona, ada yang bisa saya bantu.?" Tanya Karin seraya mengatur detak jantungnya yang sedari tadi masih berdebar karna terkejut melihat Irene.


Irene tak membalas pertanyaan Karin dan memutar tubuhnya lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan Kim.


"Tunggu nona, anda tidak bisa sembarang masuk keruangan tuan Kim." Ucap Karin seraya mengejar Irene dan ingin menahannya masuk.


"Wae, kenapa tidak boleh.!!" Ucap Miranda acuh dan terus melangkah dan menerobos masuk kedalam ruangan Kim. Karin terus mengejar dan ikut masuk kedalam.


"Nona ini tidak sopan, saya mohon keluarlah. Tuan Kim sedang ada meeting sekarang. Anda bisa bertemu dengannya setelah meeting selesai." Jelas Karin jengah karna sikap Irene yang slonong girl.


"Aku tau dia sedang meeting. Kim sudah memberitahuku jauh-jauh hari sebelumnya." Jawan Irene sok tau.


"Maksud nona..??" Karin bingung atas pernyataan Irene yang bilang dia sudah tau karna Kim memberitahunya.


"A-ah ternyata kau orangnya." Batin Irene seraya menatap Karin penuh kelicikkan.


"Apa kau orangnya." Ucap Irene sinis.


"Mainhae nona, apa maksud nona bahwa saya orangnya, saya tidak mengerti.?" Tanya Karin terheran. Lalu Irene menjatuhkan bok*ngnya kesofa dengan cara elegan bak istri pemilik perusahaan.


"Jauhi Kim, dia kekasihku." Ucap Irene santai sembari memainkan kuku cantik ditangannya tanpa melirik Karin.


DUUAARRRR!!! 🌩🌩 terdengar suara petir menyambar telinga Karin. Pendengarannya tiba-tiba berdengung saat Irene mengucapkan pernyataannya yang menyatakan dia kekasih Kim. Air mata Karin mendesak ingin keluar, namun dicegah oleh Karin dengan mencoba tersenyum dihadapan Irene. Dan memberanikan diri untuk tetap santai didepan Irene.


"Haissshh begitu saja harus dijelaskan berulang. Kau ini bagaimana bisa lolos menjabat sebagai sekertaris oppa. Dasar pabbo"


"O-oppa..?" Ucap Karin pelan dengan menatap lekat tubuh Irene sembari menahan air matanya agar tidak keluar.


"Yee, itu panggilan sayangku padanya. OPPA KIM, dan dia memanggilku dengan Chagia. Kalau kau tidak percaya padaku, akan aku tunjukkan fotoku bersama Kim saat kencan pertama kami." Irene merogoh tasnya, mengambil ponsel dan segera mencari foto saat dirinya pergi berlibur keParis bersama-sama. Memang mereka kerap berlibur bersama, namun itu hanya sebatas berlibur bersama keluarga.


"Ini, kau lihat sendiri. Aku dan Kim sedang dinner romantis didekat menara Eiffel." Sontak Karin membulatkan matanya saat menatap layar ponsel yang memperlihatkan foto romantis mereka disana.


"Sudah sana keluar, aku malas melihatmu." Sahut Irene seraya menarik kembali ponselnya


Saat mendengar ucapan Irene tanpa pikir panjang Karin memutar tubuhnya dan berlalu meninggalkan Irene diruangan Kim. Perasaan Karin sudah tak bisa terkendalikan lagi, sesak dadanya sangat terasa sakit begitu tertekan ketika mendengar pengakuan Irene.


"Cckk, mudah sekali menyingkirnya." Gumam Irene seraya menatap pimtu ruangan Kim.


Karin menangis dalam diam, perasaannya hancur, tangannya gemetar, bahkan tubuhnya terasa lemas. Awalnya ia tak percaya dengan pengakuan Irene. Namun mimik wajah Irene menunjukkan keyakinan atas hubungan mereka, ditambah bukti foto yang diperlihatkan dihadapan Karin.


Karin semakin terisak saat mengingat ucapan Kim yang menyatakan cinta padanya dengan tulus, memintanya untuk tetap berada disisinya dan sikap Kim yang posesif terharap dirinya. Hal itu membuatnya kecewa, Karin merasa dipermainan atas nama Cinta. Dia marah pada Kim yang tlah membohongi dirinya.


Mengingat semua itu membuat dadanya semakin sakit. Untunglah sekarang jamnya sibuk bekerja. Ia bebas menggunakan pantry yang kini menjadi tempat pelariannya. Tadinya ia ingin ketoilet, namun ia mengurungkan niatnya karna melihat ada beberapa karyawan lain disana.


......................

__ADS_1


Saat meeting pandangan Choki tak lepas dari pintu yang tertutup rapat, ia menatap lekat pintu itu dengan tatapan penuh arti, seperti sedang menunggu seseorang masuk keruangan meeting dengan senyum rian yang membuatnya menahan rindu begitu lama sampai sekarang.


Tak jauh dari Kim, ia juga tak henti memerhatikan sikap dan sorot mata Choki. Kim tau apa yang dikatakan dari sorot mata Choki. Terlebih lagi sikap Choki yang terlihat tak nyaman seperti seseorang yang gelisah menunggu kehadiran seseorang saat ini.


"Cckkh. Sudah ku duga kau mencari kehadirannya Choki-shi.!" Decak Kim sembari berucap dalam diamnya dan kembali fokus pada persentaris karyawannya.


"Dimana Karin? Kenapa gak ikut meeting, apa dia sakit.? Ais, salah aku juga kenapa tidak memberitahunya kalau aku penerus Johan Grup dan sekarang aku berada ditempatnya bekerja." Batin Choki berseteru pada dirinya dan menyalahkannya kenapa dia hanya memberitahu Karin bahwa dia bekerja diperusahaan besar diJakarta.


......................


Terdengar suara tapak kaki berlari kencang menuju ambang pintu.


BRAKKKK!!!! Suara Pintu terbuka secara paksa.


"YA!! Apa-apaan kalian?!. Tidak ada tempat kah selain di ruanganku.!" Kim membentak dengan keras pada sosok sepasang pria dan wanita yang sedang menautkan ci*man mesra diruangannya. Mereka adalah Irene dan Jay.


"Oh my gosh oppa!!" Irene terkejut tak menduga Kim kembali dengan waktu yang cepat. Sedangkang Jay hanya diam diposisi duduknya. Hanya Irene yang bangkit dari pangkuan Jay.


"Haish..!! Kau masih saja berulah Irene-shi.! Dan kau Jay, aku memintamu kemari untuk menjamu klien ku tang baru datang dari luar negeri. Bukan memintamu untuk meladenin kemaun wanita bersuami ini.!!" Kim menunjuk Irene dengan kesal dan memberi isyarat dengan sorot mata tajam pada Jay untuk segera keluar dari ruangan.


Sorot mata Kim saat ini beralih menatap Irene dengan dingin. Kim melangkah maju beberapa langkah mendekati Irene.


"Jelaskan padaku apa saja yang tlah kau katakan pada Karin slama aku tidak ada disini.?!" Tanya Kim sinis seraya melingkarkan tangannya didada dan menanti penjelasan dari adik angkatnya itu.


Flashback On:


Ceklekk!! Suara pintu terbuka. Jay masuk kedalam dan langsung duduk di sofa sembari memainkan ponselnya. Sedangkan Irene tengah bersembunyi dibalik lemari tak jauh dari meja kerja Kim. Niat awal ingin mengejutkan Kim, namun ternyata yang datang bukan Kim melainkan Jay. Pria yang dulu sempat menyukai Irene, namun perasaannya ditolak lantaran yang Irene sukai adalah kakak angkatnya sendiri yaitu Kim.


"Mwo!! Kenapa yang datang. Dimana Kim oppa." Batin Irene berkata dan sesekali ia melirik kearah tubuh Jay yang kini membelakanginya.


"Wahh dia sudah banyak berubah rupanya. Semakin tampan dan berkarismatik, tak seperti dulu saat menyatakan perasaannya padaku. Dia sangat cupu." Batin Irene terus bersuara dan terbesit ide nakal untuk mengejutkan si penggemar beratnya itu.


Irene melangkah dengan perlahan, mengendap-endap sampai akhirnya ia berhasil berdiri tepat dibelakang Jay.


"Hap..!!!"


"Kamjagiya!!" Sontak Jay terkejut dan hampir lompat dari duduknya. Namun itu tidak dilakukan karna Irene mengangkupnya dari belakang dan berhasil menjatuhkan dagunya pada pundak lebar Jay.


"Hahaha kau terjekut Jay Oppa..?" Tanya Irene seraya melepas rangkulan tangannya dan langsung melangkah mendekati Jay dan duduk dipangkuan Jay.


"Ommo.. Irene-shi apa yang kau lakukan, menyingkirlah.. Aku tak mau Kim salah paham."


"Ssttttt.. Diamlah Oppa, kenapa kau masih saja lugu hem.. Apa kau tak merindukan ku? dan satu lagi.. Kau tampak terlihat tampan seiring bertambahnya usia." Goda Irene dengan mimik wajah nakal diiringi dengan wajahnya yang mendekati wajah Jay.


"Stop Irene-shi, aku tak mau berurusan dengan istri orang." Elak Jay menahan mulut mungil Irene dengan telapak jarinya. Ali-alih tak merespon, Irene justru menepis tangan Jay dan langsung ******* penuh mulut Jay. Beralih keperasaan Jay pada Irene yang masih memiliki rasa. Jay pun membalas lum*tan itu seiring sesuai dengan taut*n manja lid*h Irene. Sampai pada akhirnya mereka berhenti karna kehadiran Kim yang membuat suasana menjadi tegang.


Flashback Off.


......................


......................

__ADS_1


Lanjut next episode guya 👍😁


Gimana kelanjutannya ya.? Saksikan besok ya. Di jam 6 sore...🍒


__ADS_2