
Rosy langsung masuk kedalam ruang loker para staff saat ia keluar dari lift. Ia terduduk didepan pintu loker dan hendak membukanya namun seketika kakinya terlunglai lemas hingga membuat tubuhnya merosot kelantai.
Air mata yang terus menetes jatuh kelantai tanpa disadarinya. Wajah Rosy tertunduk, perasaan yang hancur akibat kejadian yang telah terjadi. Tak meyangka hal ini terjadi pada hidupnya. Kepahitan, kemiskinan, dan terlilit hutang peninggalan mendiang sang ayah membuatnya harus rela melepas kehormatan yang ia jaga slama hidupnya.
Isak tangisnya hanya terdengar ditelinganya sendiri bahkan sampai ia sesegukan pun tak akan ada yang mendengar tangisnya karna suara musik khas musik club pada umumnya begitu kecang terdengar. Club Jay buka dari pukul 8 malam sampai 4 dini hari. Dan sekarang jam masih menunjukkan pukul 2 lewat, jadi suasana club saat ini masih terbilang ramai pengunjung.
"Rosy-ah.....!!" Panggil Mina dengan cukup keras saat berlari memasuki ruang loker. Rosy melirik kearah sumber suara yang memanggil namanya dengan tatap sedih dan sekujur wajah yang basah karna air mata yang mengalir deras.
"Aigo temanku..." titah Mina seraya mendekati Rosy lalu memeluknya sembari mendudukkan dirinya dilantai bersama Rosy.
"Mianhae-oh. Tak seharusnya aku menawarkanmu tawaran seperti ini. Maafkan aku Rosy-ah.." ujar Mina yang ikut menangis merasa bersalah karna sarannya, Rosy menjadi seperti ini.
"Ani-ah.. Aku sangat beruntung bisa berteman denganmu Mina-shi.. Jangan bicara seperti itu, dan kamu tak perlu meminta maaf. Ini semua sudah kupikirkan baik-baik sebelumnya. Aku tak tahan melihat mereka menyiksa eommaku terus menerus." Ucap Rosy dengan isak tangisnya yang semakin menjadi saat ia menyebut eommanya.
......................
"Ini.. Minumlah dulu." titah Mina memberi sebotol air mineral saat ia kembali dari luar ruang mengambil sebotol minum untuk Rosy.
Rosy meneguknya dengan rakus, tenggorokkannya terasa kering sedari tadi. "Ommo. Pelan-pelan saja Rosy-ah, nanti kalau kamu mau lagi, aku ambilkan lagi." sahut Mina sembari menepuk pelan lengan Rosy. Ia sampai tak tega melihat Rosy seperti ini, penampilannya berantakan itu semua terlihat dari rambutnya yang terlihat kusut. Dan Mina juga sekilas melihat tanda merah yang berada dibeberapa titik dileher bagian bawah dan dibelakang telinga.
"Apa dia menyakitimu Rosy-ah.?" tanya Mina pelan dan seketika membuat Rosy terbelalak kaget.
"M-mwo.? Ka-kau tau Mina-ah. Mianhae Mina-ah.. Ini bukan kemauanku, dialah yang menginginkan ak...." tanya balik Rosy dengan gagap karna merasa semuanya sudah diketaui oleh Mina.
"Ommo. Mian Rosy-ah. Ani-oh, aku tak bermaksud membuatmu mengingat kejadian tadi. Mianhae-oh.." ujar Mina seraya memeluk Rosy dengan cepat.
"Aku cukup mengenal tuan Kim, dia teman dekat tuan Jay. Dia suka berkunjung kemari saat senggang dan pernah meminta direkomendasikan untuk memilih wanita yang cocok untuk menemaninya, permainannya kasar dan terkesan arogan. Pegawaiku sampai pingsan dibuatnya karna tak bisa mengimbangi permainannya. Meski ia hanya baru sekali menyewa tapi kejadian itu cukup untukku mengenalnya walau hanya sebentar." Jelas Mina seraya mengusap kepala Rosy. Dan perlahan Rosy bisa mencerna apa yang di maksud Mina. Seketika tangannya meremas dadanya lantaran merasa lega.
"Uangmu sudah ditransfer, nanti ku kirim kerekeningmu ya. Tuan Kim sendiri yang mengirimnya. Kamu tau Rosy-ah?? Sangat jarang klien kita yang langsung mengirim uangnya langsung padaku. Biasanya mereka mengirimnya pada admin dan akan dikirim padaku saat menjelang tanggal gajian. dan barulah aku membagikannya pada karyawanku." Jelas Mina panjang lebar namun Rosy tak merespon. Pandangannya menatap kosong pada lantai club yang terkena sinar lampu klip klip yang berwarna warni.
......................
"Oppa, aku pulang duluan ya. Maaf aku tak ikut membantumu hari ini." Ujar Rosy pada Chan patner kerjanya dimeja bar yang kini tengah beberes merapihan meja dan botol-botol.
"Nee Rosy-ah, istirahatlah nanti setelah kamu sampai dirumah. Wajahmu terlihat begitu pucat." Jawab Chan seraya tersenyum pada Rosy.
__ADS_1
Dengan yakin Rosy melangkah meninggalkan Chan dan yang lainnya dengan kaki yang ia paksa untuk tegak sepenuhnya meski ia masih merasakan sakit perih disana.
Ketika ia berhasil keluar dari klub, dengan cepar Rosy mencari sesuatu untuk didudukinya. "Aagww, aigo perihnya.. Kenapa begitu menyakitkan. Bukankan mereka bilang hal itu sangat nikmat. Tapi kenapa diaku rasanya sangat sakit." Lirih Rosy dengan tangannya berada di sela-sela pahanya.
"Itu karna kamu baru pertama kali." Sahut Jay dari belakang Rosy.
"Kamchagia!!! Tu-an.. Anda mengagetkanku." pekik Rosy terkejut.
"Aku dari tadi disini, apa kamu tak menyadarinya.?" titah Jay bangkit dari duduknya yang kebetulan kursi mereka saling membelakangi. Jay kembali duduk tepat disebelah Rosy. Ia meneguk minuman soda seraya melihat kearah langit yang mulai terang seiring berjalannya waktu.
"Aku permisi dulu tuan Jay." Ucap Rosy bangkit dari duduknya dan hendak melangkah pergi.
"Wait!! Mari aku antar Rosy-ah." ujar Jay gugup.
"Dengan pakaian piyama.? Anda yakin tuan.?" celetuk Rosy.
"Oh ini.. Ah, tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu." Ucap Jay sembari bangkit lalu buru-buru masuk kembali kedalam club.
......................
...Beberapa saat kemudian....
"Hei kau..!! Ambilkan mobilku di basemant. Palli!!!!." perintah Jay menunjuk body guard yang berjaga didepan club.
"Nee tuan" Ujar Body guard tersebut, dengan cepat ia berlari menuju basemant saat ia berhasil menangkap kunci mobil yang di lempar Jay.
Mata Jay tetap tertuju pada bus yang baru saja melaju saat setelah Rosy menaikinya. "Aku penasaran denganmu Rosy-ah.." gumam Jay seraya menatap bus.
Saat body guard membawa mobil mendekati Jay, dengan cepat Jay masuk kedalam mobil dan menyuruh body guard itu menyusul membuntitu bus yang membawa Rosy.
"Bukankah ini arah kerumah nona Rosy." gumam body guard saat melihat sekeliling.
"Ouh?? Kau tau alamat Rosy rupanya.?" celetuk Jay saat mendengar ocahan body guard clubnya.
"Nee tuan, dulu saya pernah mengantarnya pulang yang kebetulan kami satu arah." jawab body guard dengan santai.
__ADS_1
"Ouh oke.. Dengan siapa dia tinggal.?" ujar Jay tanpa sadar seraya memainkan ponselnya tanpa melihat kedepan.
"Rosy-shi hanya tinggal berdua dengan ibunya. Pertama kali aku melihat ibunya, aku terkejut, pasalnya wajah ibu Rosy saat itu luka lebam. Aku ingin bertanya namun tak jadi karna tak enak hati saat itu. Tapi pada saat aku bertanya pada nyonya Mina ternyata sangat memprihatinkan kehidupan Rosy. Aahhh gadis yang malang." Ucap body guard lagi-lagi tanpa sadar ia keceplosan lalu dengan cepat menutup mulutnya dengan satu tangan seraya melirik Jay yang terdiam dengan tatapan kosong yang menatap ponselnya.
"Ahh mianhae tuan aku tak bermaksud demikian. Duhh.." sambung body guard menatap Jay yang masih diam.
"Lanjutkan saja mengemudimu." jawab Jay dingin.
......................
Setengah jam berlalu, bis yang ditumpangi Rosy berhenti di halte. Terlihat Rosy perlahan turun dari bus dan langsung melangkah meninggalkan halte.
"Apa kita akan terus etap mengikutinya tuan.? "tanya body guard pada Jay yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Tentu. Ikuti dia sampai rumahnya. Aku ingin tau dimana tempat tinggalnya." jelas Jay dingin.
"Kenapa anda tidak mengecek data dirinya nona Rosy saja. Pasti tertulis jelas alamat tempat tinggalnya disana." oceh body guard tanpa sadar ia ditatap tajam oleh Jay dan seketika body guard itu terdiam seraya menundukkan kepala pada Jay.
CIIITTT....... Tiba-tiba mobil direm mendadak oleh body guard.
"YA!! Apa tidak bisa pelan-pelan.!?" pekik Jay emosi.
"Mianhae tuan, itu sa-ya... Rosy ditahan se-seorang disana." ujar body guard gagap seraya menunjuk kearah depan. Dan Jay langsung mengarahkan pandangannya kearah yang ditunjuk body guardnya.
Terlihat Rosy yang berdiri ditengah yang disekelilingnya ada 3 orang pria bertubuh besar dan tinggi, postur tubuhnya hampir sama dengan body guard yang bekerja di club Jay.
Jay dan body guardnya melihat dengan seksama, terlihat Rosy yang sedang sibuk dengan ponselnya lalu tak lama setelah itu salah satu dari pria itu memberi selembar kertas dan pena lalu Rosy menandatangi kertas yang diberikan. Dan barulah Rosy pergi kearah gedung yang tak lain tempat penyewaan rumah semacam rumah susun diKorea. Dan 3 pria yang menghadang Rosy pun pergi dengan menggunakan mobil hitam.
"Kamu kenal mereka.?" tanya Jay
"Ani tuan. Saya tak mengenal mereka. Apa perlu kita turun dan menanyakannya langsung.?"
"Tak perlu, kita kembali ke club." pinta Jay yang langsung dituruti body guard dan langsung menancapkan gas mobil.
Flashback Off.
__ADS_1
......................
......................