Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Aku akan menikahimu.


__ADS_3

......................


......................


Plakk.!!


Karin menepis kasar tangan Choki menjauh dari wajahnya.


"Kamu bodoh kak.!!"


"Kamu tega mengkhianati istrimu dengan cara seperti ini."


"Baru kemarin lusa kita mengadakan pengajian seratus harinya kepergian alm istrimu. Tapi sekarang dengan lantangnya kamu secara tidak langsung menyetujui permintaan mustahil alm istrimu itu. Dimana hati nuranimu."


Geram Karin dengan menatap tajam wajah Choki dan memperlihatkan rahangnya yang mengeras saat mengatakan pernyataannya.


NYUUTTTTT..!!!


Kepala Choki berdenyut kencang ketika mendengar sentakkan dari Karin terlebih ia masih dibawah pengaruh alkohol.


Dengan emosi yang membara membutakan pintu pikiran Choki, ia menghempas mangkuk sup yang terduduk rapih dinakas meja.


Suara pecahan mangkuk itu membuat Karin terkejut sampai menutup mulutnya karna takut.


Suara nyaringnya sampai terdengar keluar kamar.


"Buruan panggil Tiur."


"Suruh dia kekamar non Karin, jagain Maura disana."


Ucap Boby buru-buru menyuruh salah satu body guard dan hendak melangkah cepat menuju lantai atas.


Pandangannya tak berpaling satu kali pun. Boby terus berfokus pada pintu kamar pak Choki. Saat hendak melangkah tubuhnya dihadang Rian.


"Jangan nekad."


"Tunggu sebentar."


Sahut Rian dengan menyentuh pundak Boby.


"Lo gak denger barusan.?"


"Gue denger, tapi lo gak denger non Karina ngejerit kan.?"


"Kita gak tau apa yang terjadi didalam sana, jangan gegabah. Bisa aja mangkuknya gk sengaja jatuh."


"Aiishh sialan lo. Gua gelisah anying.!"


Geram Boby frustasi dengan meremas rambutnya.


Sedangkan Rian hanya diam menatap Boby dengan sejuta kegelisahan mengenai non Karin.


......................


...Dikamar Choki....


"Kak. Lepas.."


"Sakit."


Erang Karin mencoba melepas kukungan Choki yang begitu kuat.


Dengan kedua tangannya yang berada diatas kepalanya, saat Choki menghempas nampan kesembarang arah, ia langsung menarik Karin dan melemparnya keatas kasur besar milik Choki.


"Beraninya kamu menyinggung ku soal hati nurani."


"Kamu pikir aku tenang dengan permintaan terakhirnya."

__ADS_1


"Yang terjadi padaku akhir-akhir ini karna kalian."


"Aku seperti ini karna kalian."


Ucap Choki dengan penuh amarah, terlihat dari bola matanya yang melebar dan bergetar. Wajahnya yang memerah karna marah.


Ditambah air mata Choki yang tiba-tiba jatuh tepat dipipi mulus Karin.


"Apa ini.?"


"Air mata."


"Dia menangis.?"


Seru Karin bertanya-tanya dalam dirinya sendiri saat menyaksikan jatuhnya air mata Choki.


"Kak.."


Panggil Karin lembut nan halus.


"Kita bicarakan ini baik-baik ya."


"Maafin Karin udah buat kakak emosi."


Perlahan Choki melepaskan eratan tangannya yang mencengkram kuat pergelangan tangan Karin.


Sejenak Karin memutar-mutar kecil pergelangan tangan lantaran sakit. Bahkan pergelangan tangannya memerah karna ulah Choki.


Karin mendudukan bokongnya duduk dikursi bulat yang tadi ia seret.


Wajah Choki tertunduk tanpa menghiraukan Karin yang sedari tadi sudah ada didepannya.


Mata Karin terus memperhatikan Choki tanpa berkedip, bahkan ia melihat celana yang basah karna air mata yang menetes dan mendarat disana.


Perlahan ia mengangkat tangannya menyentuh pipi serta daun telinga Choki.


"Kak.."


"Maafin Karin udah bentak kakak dengan nada bicara Karin barusan."


"Tapi ini semua gak masuk dinalar Karin kak.."


"Kita ini sudah seperti saudara kandung. Kita hidup bersama dari kecil. Besar dikeluarga yang sama, dididik dengan cara yang sama."


"Kita pernah melakukan kesalahan. Tunggu.. Bukan kita, tapi aku yang melakukannya lebih dulu."


Seka Karin pada kalimatnya sendiri. Sontak Choki mendongakkan wajahnya menatap Karin nanar.


"Apa maksudmu.?"


"Ya.. Aku yang lebih dulu berinisiatif memeluk lalu menciummu malam itu."


"Maaf kak, saat itu hatiku dan perasaanku sedang kalut."


"Perselingkuhan serta perceraian yang aku trima dari mas Rega (Mantan suami) masih terasa sakit bahkan membuatku gelap mata."


"Ntah dari mana datangnya rasa ingin membalas dendam terhadap dirinya kala itu."


"Semenjak bercerai, aku menganggap semua hubungan tanpa adanya ikatan pernikahan itu sah sah saja. Sampai akhirnya dimana aku bertemu Kim dan kami menjalin hubungan tanpa adanya ikatan yang sah (Suami Istri)."


"Namun aku sadar bahwa itu semua tidak benar. Aku sadar saat anakku meninggal dengan cara yang mengerikan."


Tiba-tiba tangis Karin pecah, Karin menangis tersedu-sedu dengan satu tangan menutup mulutnya. Seolah menahan suara tangis yang akan keluar dari mulutnya.


"Begitupun dengan ini semua kak, maaf sebelumnya... Permintaan alm mba Mira gak masuk akal kak."


"Apa yang tidak masuk akal? Katakan.?"

__ADS_1


Sahut Choki buru-buru dan merasa penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Karin mengenai pernyataannya yang menurutnya tak masuk akal.


"Lalu apa yang tidak masuk akal. Kita akan menikah Karina... Hubungan ini akan sah."


"Lupakan masa lalumu, pikirkan Maura juga. Aku mengenal baik tentang dirimu. Ayolah... Jangan membuatku pusing dan gelisah karna tidak memenuhi permintaan terakhirnya."


Seru Choki cepat dan gusar, ia mengguncang tubuh Karin dengan kedua tangannya.


"Kalau begitu menikahlah dengan wanita lain. Jangan aku."


Sahut Karin cepat dengan suara bergetar sembari menangis.


Seketika Choki menatap tajam Karin dengan begitu intens. Tatapan Choki bgitu tajam sampai membuat Karin menghindar dari tatapan itu. Ia merasa takut dengan tatapan yang dilontarkan Choki padanya.


"Tidak."


"Aku akan menikahimu. Karna aku mencintaimu."


Seru Choki dengan penekanan disetiap ucapannya dengan tatapan yang masih tajam menatap Karin.


"Tapi aku tidak mencintaimu."


Ucap Karin cepat dan semakin membuat Choki emosi. Secara sengaja Choki mencengkram kuat kedua lengan Karin. Sampai Karin merasakan sakit yang teramat pada kedua lengannya.


Karin meringis menahan sakit, rasa ingin teriak karna rasanya terlalu menyakitkan. Namun ia tahan karna tak ingin memancing kegaduhan ditengah malam.


"BOHONG.!!"


"Aku mengenal baik bagaimana dirimu Karina.."


"Kau bukan wanita sembarangan. Jika kau tidak nyaman dengan seorang pria, kau akan menjaga jarak."


"Bahkan kau tidak menolak ku malam itu. Kita hampir melakukannya."


"Dan asal kau tau Karina. Jika saja Kim mu itu tidak datang maka yang akan aku nikahi adalah kau dan bukan dia."


Seru Choki panjang lebar dengan rasa emosi yang terus memburu dalam dadanya. Sontak Karin melirik kearah belakang Choki dan melihat foto pernikahan yang terpampang jelas didinding kamar mereka.


Suara yang bergetar saat mengucapkan disetiap kalimat serta rahang yang mengeras. Perlahan melemah dengan diiringi isak tangis.


"Aku menyukaimu, bahkan aku mencintaimu jauh sebelum kau menikah."


"Tapi aku tak sanggup untuk menyatakannya. Aku tak punya keberanian untuk mengungkapkan."


"Sampai akhir dimana aku tau kau telah bercerai, dan aku mulai bertekad untuk mendapatkanmu."


"Tapi ternyata takdir berkata lain. Bahkan takdir seakan membenciku, pernikahan yang ku jalani tak semulus yang orang lain lihat."


"Hubungan kami sangat buruk diawal pernikahan. Bahkan untuk menyentuhnya pun enggan lantaran hati ini sudah terisi penuh olehmu."


"Ditambah dengan kondisi kesehatannya yang memang tak bisa untuk memberiku hak."


"Aku mulai belajar menerimanya, menyukainya, bahkan mencintainya. Tapi lagi-lagi takdir memberiku kepahitan."


"Ia merampas semuanya dengan cepat, dimana saat aku baru mencintai istriku dengan tulus."


Seru Choki pasrah, ia melepas tangannya dari tubuh Karin. Bahkan ia menjauh dari Karin.


Karin mencoba mencerna dengan baik cerita yang Choki ceritakan padanya. Tubuh yang masih terdiam ditempat tak bergerak sedikitpun.


Sampai akhir dimana Karin menoleh kearah Choki yang sedang menatap keluar jendela besar dikamarnya, memperhatikan punggung bidang Choki dari belakang.


"Apa ini penyebab ia terus-terusan mengonsumsi alkohol dan pulang dengan keadaan mabuk. Bahkan saat masih adanya alm mba Mira."


......................


......................

__ADS_1


__ADS_2