
"Kau yakin tak ingin tinggal lebih lama lagi Karin-shi.?" Pinta Kim saat Karin mengemasi barang-barangnya dan bersiap untuk pulang ke Mes.
"Nee tuan, aku tak enak pada temanku karna tak pulang sesuai jadwal, aku takut ia bertanya-tanya nanti."
"Apa kau tak ingin orang lain tau tentang hubungan kita.?" Tanya Kim dengan wajah masam dan ada rasa kecewa disana. Karin menghampiri Kim yang duduk ditepi kasur, duduk disebelah Kim lalu mengusap kepalanya dengan lembut.
"Aku hanya menjaga image mu sebagai CEO. Jika waktunya tiba, kau boleh mempublikasikan hubungan kita." Kim menerima sentuhan Karin yang membuat suasana hatinya nyaman. Ntah mengapa sentuhan Karin kini menjadi favoritnya.
"Baiklah kalau itu alasanmu. Jika kau sudah siap, akan ku antar kau pulang." Karin membalasnya dengan anggukkan dan tersenyum.
Sepanjang jalan, mereka setia berpegangan tangan dengan erat. Dan setibanya digedung mes, Karin mencoba melepas genggaman tangannya namun Kim enggan melepas malah makin mempererat genggamannya.
"Ayolah.. Masih ada hari esok tuan." Ucap Karin seraya menatap Kim yang tetap diam tanpa bersuara.
"Kurasa besok kita tak bisa bertemu, aku ada urusan mendesak." Kim menatap Karin dengan tatapan murung.
"YA tuan, ada apa.? Apa ada masalah dengan perusahaan.? Atau kau ada masalah pribadi.?" Tanya Karin bertubi-tubi.
"Anida, bukan apa-apa Karin-shi, hanya saja aku harus ke Busan besok. Jadi kita tidak bisa menghabiskan weekend bersama." Jelas Kim seraya mengusap wajah Karin untuk menenangkan perasaan Karin yang terlihat cemas.
Ketika mendengar Kim menyebut kata weekend, Karin terkejut dalam diam ia nengingat akan janjinya pada Park untuk menghabiskan waktu bersama seharian.
Dan untungnya Kim besok sibuk, sehingga Karin tak perlu banyak alasan pada Kim.
muach.. Suara kec*pan antara bib*r keduanya saat tercabut satu sama lain.
"Jaga dirimu tuan Kim, Gomawo-oh sudah mengantarku." Ucap Karin dengan tangan yang masih menangkup kepala Kim. Kim membalas dengan anggukkan serta senyum manis diwajahnya.
Kim memperhatikan punggung Karin yang menjauh dan menghilang ketika menaikki anak tangga. Lalu Kim menekap pedal gas seraya meninggalkan lokasi mes.
......................
...Keesokkan Harinya...
Park sudah menunggu dimobil sedari pagi, mereka sudah saling menukar pesan sejak kemarin malam. Park keluar mobil dengan rasa antusias menyambut Karin yang berlari kecil menuju mobil. Melebarkan tangan dengan harapan Karin datang kedalam pelukkannya, namun itu semua tak terjadi lantaran Karin malah berhenti dan menatap aneh tingkah Park.
"Ada apa denganmu Park-shi." Tanya Karin heran dan membuyarkan perasaan Park saat melihat kenyataan tak sesuai harapan.
"Aish kau ini, begitu saja tidak mengerti. Tentu saja aku ingin dipeluk olehmu, aku merindukanmu pab'bo." Jawab Park dengan ocehan yang terdengar kecewa bercampur emosi. Namun Karin membalasnya dengan kekehan kecil karna gemas dengan tingkah Park saat mengoceh. Karin berlalu melewati Park, lalu masuk kedalam mobil dan disusul Park.
Slama diperjalanan Park hanya membalas singkat saat Karin bertanya dan hanya merespon sekilas saat Karin bercerita.
"YA, ada apa denganmu Park-shi.? Kenapa kau seperti ini, Apa kau sakit?" Tangan yang menjulur dan mengecek suhu dikening Park.
"Tidak demam, suhumu sama sepertiku." Gumam Karin seraya mengecek suhu dikeningya juga.
Park tetap menunjukkan sikap dingin dan ada rasa kecewa diwajahnya. "Park-shi ada apa ini, ada apa denganmu.?" tanya Karin lembut menatap Park sendu.
Menghela nafas mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa Karin-shi." Jawab Park dingin.
"Jika memang tidak ada apa-apa, lantas kenapa dirimu bersikap seperti ini.?" Tanya Karin dengan penuh harapan menunggu jawaban Park.
Park melirik Karin sinis, hal itu membuat Karin merasa bersalah namun tak tau letak kesalahannya dimana. Laju mobil terus berjalan tanpa ada keseruan didalamnya, sampai saat tiba mereka dijeju. Park memarkirkan mobil menghadap pantai, pemandangannya sangat indah dipagi hari yang sejuk ini.
"Kajja kita turun." Ajak Karin menarik tangan Park yang sedari tadi hanya diam dalam tatapan kosong menatap kedepan.
"Kau saja, aku akan tetap didalam mobil." Park menolak tanpa melirik Karin yang berusaha untuk menghibur Park.
"Come on Park-shi, tak baik menyia-nyiakan waktu weekend ini dengan cuma-cuman. Lihatlah langitnya sedang bagus, kajja." Karin terus menarik paksa tangan Park yang akhirnya luluh menuruti Karin turun dari mobil.
"Wah.. Indahnya, sangat indah." Kagum Karin saat memandang keseluruh pencuju pantai, menghirup udara segar dengan lebarkan tangan sembari memejamkan mata. Park yang melihat Karin dengan tatap sendu, lalu melangkahkan kakinya maju menginjak pasir pantai.
Karin melihat Park berjalan dipasir mencoba mendekati dan berjalan menyesuaikan langkahnya dengan langkah Park. Tanpa perduli, Park terus berjalan sembari melihat dan mendengar suara ombak yang begitu menenangkan. Merasa diacuhkan, terlintas ide iseng dipikiran Karin.
Diam-diam ia menendang pasir kearah kaki Park. Namun Karin tetap mendapatkan sikap acuh tak acuh. Namun itu tak membuat Karin patah semangat, ia mengepal pasir dan melemparnya kebok*ng Park. Sampai pada akhirnya Park menoleh kearah Karin menatapnya gemas dan mengukir senyum tipis diwajahnya.
"YA pab-bo..!" Teriak Park lalu mengejar Karin karna tak terima mendapat keusilan dari Karin.
"Aaaa.. Anida, Aku tidak sengaja sungguh aku tidak sengaja, hahaha." Ledek Karin seraya menertawakan Park yang mengejarnya dengan raut wajah emosi.
"Awas kau Karin-shi akan ku balas perbuatanmu. Karna kau bok*ngku penuh dengan pasir, yaaaak." Park meneriaki Karin lalu mengambil pasir dari bawah lalu melemparnya kearah Karin. Dan pasir lemparannya mengenai wajah Karin, sehingga Karin jatuh tersungkur kebawah.
"Aaww mataku." Karin mengucek matanya, dan Park panik lalu menghampiri Karin melihat dan memastikan keadaan Karin.
"Kau tidak apa-apa Karin-shi, coba sini ku lihat." Menangkup wajah Karin guna mengecek keadaan Karin. Park melihat mata Karin memerah karna pasir yang mengenai matanya. Dengan perlahan Park meniup mata Karin.
"Nee, sudah tidak begitu perih lagi kok." Menyakinkan Park agar tidak menatapnya khawatir lagi.
"Mianhae Karin-shi aku tak sengaja, mianhae-oh." Park memohon karnanya mata Karin kini berubah menjadi kemerahan.
"Nee nee, bantu aku bangkit." Alih Karin seraya menjulurkan tangannya. Park dengan sigap membantu Karin berdiri.
"Ayo kembali kedalam mobil." Ajak Park dengan lembut menarik tangan Karin, namun Karin menahannya.
"Tidak mau, aku tidak mau kemobil. Itu membosankan tau, kajja kita berfoto saja. Ayo, aku fotokan dirimu terlebih dulu." Karin membalik menarik tangan Park dengan sedikit paksaan karna Park mencoba menolak.
"Berdiri disana dan tersenyum. Jangan menolak." Karin mendorong pelan saat hendak ingin mengambil gambar. Park hanya bisa pasrah ketika Karin menyuruh-nyuruhnya, namun ia senang dan gemas ketika melihat tingkah Karin saat menyuruh dirinya, harus seperti ini dan lalu seperti itu.
"Wahhh daebak..!" Gumam Karin saat melihat hasil jeprettannya.
"Gomawo, aku memang sedari dulu sudah keren." Sahut Park yang membanggakan dirinya sendiri.
"Bukan kau pab-bo, tapi hasil jepretanku." Ketus Karin melirik sinis ke arah Park lalu terkekeh melihat Park yang malu karna merasa kepedean.
"YA Karin-shi mana hasilnya, aku belum melihatnya." Park menghampiri Karin dan melihat hasil fotonya.
__ADS_1
"Aish apa ini.? Kau memotretnya saat aku tak melihat kearahmu." Protes Park karna dari banyak gaya, hanya ini hasil yang berhasil dijepret Karin.
"Hahah sudahlah, lagi pula ini juga sudah bagus." Park mendengar kata itu hanya mengiyakan saja. Lalu mereka menikmati suasana pagi ditepi pantai.
"Apa kau yakin kau baik-baik saja Park-shi.? Sedari tadi wajahmu datar, hanya sesekali tersenyum tidak seperti biasanya." Tanya Karin yang masih penasaran, ada apa sebenarnya dengan Park.
"Aku tidak kenapa-kenapa, hanya perasaanmu saja." Jawab Park singkat tanpa melirik ke Karin. Dengan sikap Park yang masih bikin penasaran, akhirnya Karin mendekat dan menangkup wajah Park agar mendongak menatap Karin.
"Katakanlah ada apa.? Jangan seperti ini." Park menepis pelan tangan Karin saat Karin bertanya serius padanya.
"Jangan sentuh aku seperti itu, nanti kekasihmu marah." Jawab Park memberi klue pada Karin.
Karin sempat terdiam sejenak dan akhirnya tersadar akan ucapan Park mengenai kekasih.
"Ommo.. Bagaimana kau mengetahuinya, apa kau mengikutiku Park-shi.?" Karin melepas tangannya dari wajah Park karna terjekut.
"Aish kau ini, mana mungkin aku mengikutimu kesingapure sedangkan aku tidak tau hotel tempat kau menginap. Hanya saja kemarin malam aku tak sengaja melihat mobil yang terparkir didepan gedung mes tempat kau tinggal dan melihatmu berci*man dengan seorang pria didalamnya, itu pasti kekasihmu benarkan.?
"Kemarilah, duduk disebelahku sini. Akan ku ceritakan semuanya." Menepuk pasir pantai disebelahnya. Karin mulai menceritakan semuanya secara berurutan dari kisah pernikahannya sampai ia memutuskan untuk kekorea dan berteman dengan Park seperti sekarang.
"Aku gagal dalam membangun pernikahan, usia pernikahanku hanya bertahan slama 1 tahun. Kami bercerai lantaran mantan suamiku berselingkuh dengan sekertarisnya sendiri, yang tak lain adalah temanku. Alasannya menceraikanku karna aku tak kunjung memberinya keturunan."
Park sempat memotong pembicaraan Karin lantaran kesal. "Bagaimana bisa dia menyalahkanmu karna belum bisa memberinya keturunan, bukankah justru mantan suamimu yang harusnya disalahkan dalam hal ini."
"Aku setuju dengan mu Park, tapi disisi lain aku juga sudah pasrah. Mantan ibu mertuaku pun ikut menyalahkan ku dalam masalah ini. Jadi ku rasa tak ada yang perlu dipertahankan dalam pernikahan ku." Karin menjelaskan kalimatnya dengan pandangan kosong kedepan.
Park menepuk pelan pundak Karin guna membantu menenangkannya disaat mulai terlihat raut sedih diwajahnya. "Jika kau tak sanggup bercerita maka berhentilah. Aku tak ingin melihatmu menangis." Karin tersenyum dan tetap melanjutkan ceritanya.
"Setelah bercerai aku memutuskan kembali kepanti, tempat dimana aku diurus dan dibesarkan. Aku adalah anak yatim piatu Park, aku diletakkan didepan pintu panti saat usiaku masih 1 minggu. Orang tuaku yang aku tau hanyalah ibu panti dan aku sangat menyayanginya." Karin tersenyum saat menyebut ibu sambungnya itu.
Park memandang sendu kewajah Karin, Park tak habis pikir betapa kelamnya kehidupan Karin yang ia hadapi.
"Aku mempunyai kakak laki-laki dari panti yang sama, kami berdua sangat dekat. Dia diberikan orang tuanya kepanti lantaran terbelit masalah ekonomi. Dia juga yang merawat ku sedari bayi, menggendongku, menjagaku bahkan meniduriku disaat malam tiba."
"Aku sempat memiliki rasa padanya, namun aku tak tahu apakah dia juga memiliki rasa padaku. Sampai akhirnya aku dilamar oleh mantan suamiku lalu memutuskan menikah dengannya. Dan ketika pernikahanku kandas, dialah yang memberikan pundaknya untukku. Dari situ aku tak memiliki perasaan lagi padanya, karna ku pikir jika aku dan dia bersatu lalu terjadi pertengkaran diantara kami, aku akan terpuruk sendirian dan tak ada lagi tempatku mengadu."
Park hanya diam saat Karin bercerita. Dia mengelus lembut punggung Karin guna menguatkannya.
"Lanjutkan Karin-shi, aku ingin tau semua tentangmu." Karin melirik dan tersenyum pada Park, ia lega karna Park mau menerima dan mendengarkan cerita tentang kehidupannya.
"Lalu aku memutuskan untuk kekorea meninggalkan tanah kelahiranku. Aku beralasan ingin mewujudkan cita-citaku berkeliling dunia yang dimulai dari negara korea. Padahal ingin menghindari tempat-tempat yang menjadi kenangan manis saat bersama mantan suamiku. Aku berbohong pada semua keluargaku termasuk kakak laki-laki ku. Sebelum aku berangkat kekorea, aku menghubungi teman sekolahku dibangku SMA yang sudah lama bekerja disini. Meminta bantuannya untuk mendapatkan pekerjaan dan aku mendapatkannya, aku melamar pekerjaan sebagai sekertaris. Dan aku diterima sebagai sekertaris CEO."
......................
Malem guys, aku up kelanjutannya besok ya. Btw aku mau curhat dikit nih guys, aku kemarin ngajuin kontrak ke mangatoon.
Terus ditolak karna ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menulis cerita. Tanda baca juga harus diperhatikan. Akhirnya aku revisi lagi kan, terus nunggu 3 hari lagi untuk ngajuin kontrak. Kira-kira lolos gak ya guys.? Aku bener-bener lemes kalau gk lolos lagi ðŸ˜ðŸ˜.
__ADS_1
Doain aku lolos kontrak ya guys, biar semangat bikin novelnya. Aku memang masih amatir, dan dengan adanya teguran ini bikin aku jadi semangat belajar untuk kedepannya supaya makin baik dalam menulis novel. Aamiin..