
"Jangan menyebut kelembutan dalam diriku Irene-shi. Kau ingin tau darimana datangnya emosi dan tempramen ini.?! Ini semua karna darimu, semenjak mendapat kabar kau akan menikah, disitulah sikap kekasaranku muncul, aku membenci diriku sendiri yang tak bisa menahanmu untuk tidak menikahi pria lain. Kau tau betapa aku mencintaimu saat itu. Tapi itu semua sia-sia sekuat apapun aku berjuang, kita tak akan pernah bersatu dalam ikatan cinta.!!" Kim menghempas tubuh Irene sampai terjatuh disofa, kembali mengatur nafasnya agar emosinya mereda.
Sorot mata Irene kosong, airnya matanya terjatuh begitu deras, nafasnya yang sesamsampai terdengar begitu jelas. Perlahan Irene melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang Kim tanpa mengatakan apapun.
......................
"Hi Mr. Choki perkenalkan namaku Jay, tangan kanan Kim. Slama dikorea saya yang akan melayani anda dan staff anda menikmati jamuan dari kami." Ujar Jay dalam bahasa Ing.
"Hi, terimakasih telah menyambut kami dengan baik. Kalau saya boleh tau dimana tuan Kim. Kenapa tidak kembali.?" Tanya Choki sembari melihat kearah belakang tubuh Jay.
"Oh itu Mr. Kim sesang ada urusan mendadak, tapi tak perlu khawatir jamuan untuk malam pasti akan datang." Jawab Jay dengan hati-hati. Dan mempersilahkan Choki dan staff lainnya untuk menuju ruang makan yang sudah disiapkan oleh kantor.
Disisi lain, Kim yang setia berdiri didepan meja kerja Karin. Menatap ponselnya seraya menunggu balasan chat dari Karin bahkan Kim mencoba menelvonnya berkali-kali namum tak ada jawaban.
"Dimana kau Karin-shi.!! Kenapa belum juga kembali.?" Kim teris berseteru tegang dengan perasaannya sendiri. Kegelisahan yang dirasakannya menimbulkan salah tingkah pada dirinya yang terus membolak-balikkan tubuhnya kesana dan kemari.
Kesetiannya menunggu dimeja kerja Karin membuahkan hasil manis. Karin kini kembali, Kim melihat sosok wanita yang ia cintai keluar dari lift dan mulai mendekat kearahnya. Uluran tangan Kim membentang luas seraya memejamkan matanya menunggu tubuh Karin mendekap jatuh kedalam pelukkannya.
"Kenapa belum sampai.?" Batin Kim bertanya-tanya, ia mengerutkan alisnya dan berlahan membuka matanya. Kim terkejut saat sorot matanya tak melihat sosom Karin didepannya. Kim kelabakan sampai ia menoleh kemeja kerja Karin.
"Ahh syukurlah kau tak menghilang lagi chagia.." Kim menepuk pelan dadanya sembari tersenyum pada Karin, ia lega Karin tak mengalami hal-hal yang membahayakan dirinya. Namun tak ada respon disana, Karin hanya fokus pada layar komputernya tanpa menghiraukan Kim yang telah berdiri lama disana menunggu kedatangannya.
"Chagia.." Panggil Kim lesu, ia merasa diacuhkan oleh Karin. "YA. Chagia! Aku menunggumu disini slama kurang lebih 30 menit. Kemana kau slama aku tidak ada.!?"
Karin tetap tak menjawab dan tetap fokus pada layar komputernya. Meski ia merasakan perih dimatanya ketika menatap cahaya terang pada komputer didepannya dikarenakan tangisannya tadi saat dipantry. Sesekali ia terpejam lama guna menetralkan rasa perih dimatanya.
"Haish..." Kim mendekati Karin, menarik lengannya lalu menyeretnya kasar menuju ruangannya. Karin sempat menahan tubuhnya saat hendak diseret. Namun tenaganya kalah lantaran tubuhnya yang lebih kecil dari Kim.
"Tuan le-lepaskan.! Aku tak mau ada yang melihat ini.!" Bentak Karin dengan suara pelan namun ada penekanan dalam bicaranya.
"Aku tak perduli.!! ikuti aku atau aku akan menciummu disini.!!" Balas Kim tak kalah penuh penekanan dalam kalimatnya sembari melirik Karin tajam.
Kim membuka pintunya lalu masuk dengan tangan yang masih memegang erat lengan Karin. Kim menghempas tubuh Karin kesofa dengan kasar, lalu berdiri tepat dihadapan Karin.
"Dimana kau slama aku meeting.!?" Tanya Kim tegas dengan tatapan tajam.
"Cck, a-aku ketoilet tuan." Jawab Karin santai tanpa menoleh keatas.
__ADS_1
"Lihat aku saat kau menjawab pertanyaanku Karin-shi.!
Karin mendangakkan wajahnya dengan tatapan jengah saat matanya bertemu dengan mata Kim. "Aku ketoilet tuan."
Karin bangkit dari duduknya dan hendak melangkah pergi, namun tangannya kembali ditahan. Karin mencoba menepis namun lagi-lagi tenaganya kalah jauh.
"Maaf tuan saya harus kembali kemeja kerja saya. Permisi." Ucap Karin sembari melepas erattan tangan Kim dengan tangan satunya.
"Apa kau bertemu dengannya.?"
Langkah Karin terhenti seraya memejamkan mata guna menahan rasa sakit kala mengingat ucapan Irene yang menyatakan dia adalah kekasih Kim.
"Nee tuan, saya bertemu dengan kekasih anda tadi." Karin berbalik dan tersenyum saat menjawab pertanyaan Kim. Lalu berbalik kembali dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan.
Dengan cepat Kim menahan tangan dan mendorong tubuh Karin sampai menabrak dinding pintu. Kim menatap wajah Karin dengan penuh emosi yang tak dapat diartikan. Karin yang melihatnya pun langsung memejamkan matanya lantaran takut akan mimik wajah Kim yang tak bisa diartikan.
Kim mel*mat bib*r Karin dengan nafas yang menggebu. Karin mendorong tubuh Kim dengan kedua tangannya. Namun Kim menahannya dengan menarik tangan Karin dan memutar tubuh Karin menghadap dinding pintu. Kini tubuh Karin terkukung oleh dekapan Kim dari belakang.
"YA! Tuan, apa yang kau lakukan. Cepat lepaskan, aaakhh sakit tuan.!" Berontak Karin berusaha melepaskan erattan tangan Kim.
"Shut Up! Atau kau akan merasakan kelanjutannya.!" Bisik Kim ditelinga Karin dengan nada penekanan seraya mengelus perut rata Karin.
"Bisakah kau diam Karin-shi.!" Kim melepaskan erattannya namun tidak dengan kukungannya terhadap tubuh Karin.
"Minggir, aku mau keluar. Sudah cukup main-mainnya tuan. Aku muak dengan pria, terutama pria sepertimu." Sahut Karin malas tanpa melirik Kim. Sesekali ia memutar pergelangan tangannya yang sakit karna ulah Kim.
"Apa maksud ucapanmu! Muak katamu?! Katakan apa yang membuatmu muak, aku ingin mendengarnya.?"
"Cckkk! Jangan berpura-pura tuan. Sudah cukup bermain-main denganku. Kembalilah sekarang pada kekasihmu yang sesungguhnya. Aku akan pergi. Tak perlu repot mengantarku, aku tau jalan pulang." Karin mengelus lembut rahang tegas Kim dengan jari telunjuknya dengan sorot mata sendu.
Kim terdiam melemah saat mendengar ucapan Karin. Ia melihat ada rasa kecewa dalam ucapan Karin, bahkan mimik wajahnya menunjukkan bahwa ia cemburu. Kim menjatuhkan keningnya pada kening Karin. Memejamkan mata disana, bahkan hembusan nafasnya pun terasa berat seperti sedang menahan tangis.
"Mianhae Karin-shi. Mianhae.." Kim mengucapkan kata maaf dengan suara berat menahan tangis agar tak keluar. Karin tersenyum getir saat mendengarnya. Ia melingkarkan kedua tangannya pada punggung Kim. Memeluk Kim penuh hangat, menjatuhkan wajahnya pada pundak Kim. Kim membalas dekapan hangat yang Karin berikan dengan menjatuhkan wajahnya pada tubuh Karin. Dadanya terasa sesak saat Kim membalas pelukkannya, ia menangis dalam hati. Sakit hati ini kembali ia rasakan setelah perselingkuhan yang dilakukan mantan suaminya (Rega). Namun sekarang posisinya terbalik, kini ia yang menjadi selingkuhan namun selingkuhan yang tersakiti.
Perlahan Karin melepaskan tubuhnya. "Aku permisi." Ucap Karin tak melirik dan langsung membuka pintu, Karin menunduk agar tak melihat Kim, ia takut air matanya akan jatuh saat melihat wajah Kim.
Kim mematung saat setelah Karin pergi. Ia mendengakkan wajahnya kelangit-lagit atap ruangannya, membuang nafas kasar dari mulutnya. "Huft.. Aku terobsesi pada tubuhnya.!" Gumam Kim dalam diam.
__ADS_1
......................
Waktu sudah menunjukkan jam aktivitas kantor tlah berakhir. Karin segera membenahi barang-barangnya, memastikan tidak ada yang tertinggal. Tanpa menoleh kearah pintu ruangan Kim dan menunggunya keluar, ia langsung melangkahkan kakinya menuju lift dan turun keloby kantor.
Saat setelah lock out screen, Karin melangkahkan kakinya keluar kantor dan melangkah kedepan jalan tanpa adanya tujuan. Beberapa jam lalu Park menghubunginya, menanyakan kabar dan lain sebagainya, lalu meminta maaf atas tindakan konyolnya saat berani menci*m Karin tanpa izin beberapa waktu lalu. Lalu Park menawarkan diri untuk menjemput Karin. Namun Karin menolak halus, ia beralasan akan diantar oleh Kim ke mes.
Bukan Park bila tak memastikannya secara langsung, pasalanya ia mendengar suara sesak Karin saat ditelvon tadi. Seperti sedang menahan tangis. Dan benar saja, Park menangkap tubuh Karin dari dalam mobilnya, Karin keluar kantor tanpa adanya Kim disampingnya. Berjalan lurus tanpa arah dan ntah akan kemana kaki kecilnya itu melangkah.
Park memutuskan turun dari mobilnya, mengikuti Karin dari belakang. Ia takut terjadi sesuatu pada Karin. Ia setia berada dibelakang Karin bahkan ikut duduk ketika Karin duduk disalah satu kursi yang berada dipinggir jalan yang disediakan pemerintah untuk warganya. Park melihat lekat gerak-gerik Karin, sesekali Karin menyeka air matanya dan menundukkan wajahnya.
"Ada apa denganmu Karin-shi.?" Tanya Park dalam diam, tatapanya sendu ketika melihat Karin menangis. Ingin rasanya ia mendekati Karin, memeluknya mengelus punggung kecilnya dan menenangkannya.
Karin bangkit dari duduknya dan kembali melanjutkan langkah kakinya kedepan. Park langsung mengikuti Karin begitu melihat Karin bangkit dari duduknya. Waktu terus berjalan, sampai hari mulai menunjukkan sisi gelapnya.
"YA! Karin-shi mau kemana kau sebenarnya. Ayolah Karin-shi, aku lelah mengikutimu." Gerutu Park dari kejauhan, ia tak percaya pada wanita yang sangat kuat berjalan dengan menggunakan sepatu hils. Sedangkan dia saja yang menggunakan sepatu datar sudah merasakan pegang berjalan sejauh ini.
Bruhggg!!! Tiba-tiba Karin terjatuh lantara sepatunya tersangkut lubang got ditengah jalan. "Aaghh awww!!" Ringis Karin menahan sakit didengkulnya.
"YA! Karin-shi..!!" Teriak Park dari kejauahan dan berlari cepat mendekati Karin.
"Aigo.. Kau ini, berhati-hatilah saat berjalan, ayo bangunlah." Park mengangkat perlahan tubuh Karin. Memeriksa sepatu Karin yang tersangkut, mencoba mengeluarkannya dsn berhasil.
Park menatap wajah Karin yang masih tertunduk, ia mengangkat wajah Karin dengan kedua tangannya. Menatap serius wajah sebab Karin.
"Wae?? Katakan ada apa denganmu? Kenapa kau menangis?" Tanya Park serius seraya mengelus pipi Karin yang terasa dingin karna udara yang memang sudah memasuki musim dingin.
Karin mencoba menahan tangisnya, ia mencoba menatap Park perlahan. Dan benar, saat matanya menatap Park tangisnya pecah. Karin terisak semabri melipat mulutnya agar tak mengeluarkan suara tangis.
Park mencoba menenangkan Karin dengan kembali mengelus pipi Karin dengan ibu jarinya. Saat Park ingin memeluk Karin guna membantu menenangkannya. Namun berhenti saat mereka mendengar suara panggilan ragu dari sudut arah. "Karin.."
......................
......................
Duhhhh siapa guys yang manggil๐๐
Ayok tebak yok... Kasih hadiah nih kalau berhasil nebak๐คญ
__ADS_1
Lanjut besok ya guys. Makasih udah setia baca novelku ๐๐๐