
"Dimana IGDnya..!" Tanya Kim panik pada seorang petugas rumah sakit yang berpapasan dengannya diarea parkir rumah sakit.
"Disana tuan." petugas menunjuk kearah kebarat. Tanpa mengucapkan apapun, Kim langsung berlari masuk kegedung rumah sakit. Tanpa memperdulikan sekitar, ia terus berlari menerobos melewati orang-orang didepannya.
......................
"Chagia....." Panggil Kim dengan suara gemetar saat ia melihat Karin terbaring lemah dengan selang yang menyambut dihidungnya. Ia melangkah dengan cepat menghampiri Karin, air mata yang tak tertahan lain lalu mengalir begitu saja. Rasa sesak didada Kim kian menjadi saat ia melihat dress yang dipakai Karin berlumuran darah.
"Ada apa denganmu chagia. Kenapa jadi seperti ini, apa yang terjadi??" Ujar Kim seraya menundukkan kepalanya dipundak Karin setelah ia mengelus pipi Karin, berharap Karin sadar dan menjawabnya.
Suara tangis Kim terhenti saat pundaknya sedikit disentuh dengan perlahan, ia menoleh kebelakang memastikan siapa yang menyentuhnya.
"Mianhae tuan, apa anda suaminya? Jika iya, bisa kita bicara. Lebih cepat lebih baik, ini menyangkut pasien."Ujar Dokter dengan nada serius.
"Nee, kita bicara diluar." Jawab Kim mengangguk seraya melangkah keluar meninggalkan Karin.
Saat diluar, Dokter meminta Kim untuk secepatnya menandatangi berkas-berkas perizinan keluarga untuk tindakan operasi pengangkatan janin. Pasalnya janin yang dikandung Karin sudah tidak bernyawa 1 jam sebelum sampai dirumah sakit.
Dokter sudah mengeceknya melalui USG, dan sudah memastikan detak jantung bayi secara berulang kali, namun hasilnya tetap sama. Ini disebabkan hantaman keras yang menekan perut si Ibu, sampai janin yang ada didalam mengalami syok berat serta pendarahan yang disertai air ketuban yang pecah dan keluar hingga habis. Sehingga janin kekurangan asupan oksigen.
Kaki Kim seketika terasa lemas saat mendengar penjelasan dokter. Tubuhnya merosot didinding rumah sakit. Pandangannya kosong, sesak dada yang kian terasa begitu mengguncang jantungnya. Nafas Kim terasa sesak dan tersengal, Dokter mencoba menguatkan Kim dengan membantunya duduk dikursi yang tersedia.
"Saya mohon maaf atas keterlambatan saya tuan. Saya turut berduka atas calon bayi anda. Jangan berlarut dalam kesedihan dan lakukan tindakan sesuai waktu yang terus berjalan. Saya bertanggung jawab atas nyawa istri anda. Tolong segera tanda tangani surat izin operasi untuk pasien tuan." Ujar Dokter jelas, lalu mencoba mengajak Kim bangkit untuk ikut keruangannya.
Kim masih mencerna semua penjelasan Dokter mengenai penyebab peristiwa yang dialami Karin. Tangisnya pecah sedari awal mendengar pernyataan Dokter soal nyawa calon bayinya yang tak terselamatkan.
__ADS_1
Perlahan Kim mengambil pulpen yang diberikan Dokter padanya, ia mulai menandatangi surat yang ada didepannya tanpa membacanya terlebih dahulu. Pikiran dan perasaannya masih sangat kacau, kesedihan sekaligus berbagai pertanyaan terus berputar dalam dirinya. "Apa yang sebenarnya terjadi." Batin Kim berucap seraya menandatangi beberapa lembar kertas.
Saat setelah selesai dengan urusan berkas, Kim beranjak dari duduknya dan menundukkan tubuhnya pada Dokter didepannya lalu meminta izin meninggalkan ruangannya. Kim kembali melangkah menuju ruang IGD, tempat dimana Karin saat ini. Ia berjalan dengan wajah tertunduk, ia masih tak percaya dengan kejadian yang menimpahnya terlebih lagi nyawa sang bayi yang ia nanti-nantikan akan kelahiran tak bisa terselamatkan.
Ditambah lagi wanita yang ia cintai kini tak sadarkan diri, rasa takut akan kehilangan kian menjadi. Pikirannya dipenuhi rasa takut bila operasi yang dilakukan nanti akan mengalami kegagalan. "Haish ya Tuhan..!! Kenapa ini terjadi padaku.!! Wae!!" Ucap Kim frustasi ketika sampai diambang pintu IGD.
"Slamat siang tuan Kim." Sahut seorang pria dari belakang.
Kim menoleh ketika namanya disebut. "Ye, siapa.?" ucap Kim bingung.
"Eee kenalkan saya Dae Jung. Penerus dari tuan Lee." Ujar Dae yang tak lain adalah anak dari pemilik gedung apart Kim yang ia tinggali saat ini.
"Oeh nee,.. Mianhae saya sempat tak mengenali anda sejenak tuan Dae." Ucap Kim seraya menerima jabat tangan Dae Jung serta memberi pelukkan khas pria kita bertemu.
"Bagaimana anda bisa disini. Apa ini sebuah kebetulan.?" Sambung Kim seraya menatap staff apart yang ikut bersama Dae Jung.
Kim mencoba mencerna kembali perkataan dari Dae Jung. "Ting-tingkat keamanan? A-apa maksud dari tingkat keamanan.?" Tanya Kim bingung.
Dae Jung menoleh ke arah staff dibelakangnya. Mereka saling menatap sampai akhirnya staff yang ikut mulai buka suara tentang kejadian yang menimpa nyonya Kim (Karin). Staff menjelaskan secara detail kejadian sesuai dari cerita pelaku (Irene) sampai pihak staff yang menerobos masuk kedalam apart Kim, mereka melihat nyonya Kim sudah tergletak tak sadarkan diri dilantai apartnya.
"Untuk saat ini pelaku sudah diamankan dikantor polisi, dan pihak kepolisian sedang melakukan olah TKP. Untuk hal ini kami mohon izin untuk memeriksa apart anda secara full tuan, kami akan beri jaminan jika ada kehilangan barang atau sebagainya saat olah TKP sedang berlangsung." Ujar staff jelas.
Lagi-lagi Kim dibuat terjekut, kepalanya pusing ketika mendengar penjelasan dari staff yang sebenarnya. Terlebih lagi ada sebutan kata (pelaku), yang tak lain semua ini terjadi bukan karna kelalaian Karin, melainkan ada orang yang memang dengan sengaja ingin melukai Karin dan juga calon bayinya.
"Aaagrrhhh!!!" Teriak Kim geram saat ia merasakan sakit dikepalanya. Emosi Kim muncul, ia menatap Dae Jung dan juga staff apart yang ada didepannya. Ingin sekali ia menghajar mereka berdua, namun seketika pandangan Kim teralihkan saat brankar keluar dari dalam IGD. Brankar itu didorong oleh perawat keluar dari ruang IGD. Brankar itu membawa tubuh Karin yang masih terbaring tak sadar diri dengan tabung oksigen yang menempel disudut brankar.
__ADS_1
"Tunggu.. Tunggu, mau dibawa kemana istriku.?" Tanya Kim sembari menahan brankar yang hampir melewati dirinya.
"Anda suaminya.? Kami akan membawa pasien keruang operasi, mari ikut kami. Sekalian kami tunjukkan ruang rawat pasien." Jawab perawat yang hentak mendorong brankar.
Kim sempat menatap Dae Jung dan tanpa berkata apapun, ia langsung mengikuti brankar yang membawa Karin.
"Chagia bertahanlah.." Gumam Kim seraya menitikkan air mata saat melihat wajah Karin yang sangat pucat, namun dengan cepat ia menghapus air matanya.
Langkahnya berjalan cepat mengikuti para perawat yang mendorong brankar. Saat setelah sampai dideoan ruang operasi, Kim diminta untuk menunggu diluar. "Kumohon slamatkan istriku, apapun akan ku berikan padamu. Slamatkan dia." Ucap Karin pada Dokter yang hendak masuk kedalam ruang operasi.
"Tuan tenangkan dirimu. Berdoalah agar semua berjalan lancar, aku bersumpah akan menyelamatkan pasienku. Hanya doa yang harus kau ucapkan saat ini." Jawab Dokter seraya menepuk-nepuk pelan punggu Kim guna menenangkannya.
Kim mengangguk kecil, tangisnya kembali pecah saat Dokter meninggalkannya masuk kedalam ruang operasi. Ia mendudukkan dirinya dikursi yang tersedia didepan ruang operasi. Kim terisak saat dirinya mengingat masa-masa bahagia saat merawat Karin yang tengah hamil anaknya.
Sejenak Kim terdiam saat ia lelah menangis, ia merogoh ponselnya guna menghubungi seseorang.
"Jay, bisa bantu aku. Datanglah kemari, aku ada urusan sebentar." Ucap Kim dari balik ponsel.
Kim berdiri seraya menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat. "Chagia, aku berjanji akan membalas perbuatan siapapun yang berani mengusik kehidupan kita. Aku tak akan memaafkannya, karna dia bayiku.. Bayiku..." Kim tak bisa menahan emosionalnya, ia kembali terisak dalam diam. Dadanya terasa sakit saat menyebut dan mengingat tentang Karin terutama calon bayinya.
......................
......................
Yuk guys, di Like ya setiap episode yang kalian baca. Bantu follow juga akun Author. Berarti banget guys dukungan kalianπππ
__ADS_1
Semangat terus ya guys, jangan bosen pokoknya baca novel Author. Next time kalau Novel Aku Mencintaimu Tuan Kim udah tamat, Author bakal