
Sekitar 30 menit Miranda menunggu diruang tengah sembari memainkan ponselnya. Dan tak berselang lama setelahnya Choki pun menuruni anak tangga. Kini penampilannya berubah, ia memakai kemeja garis-garis.
(Masya Allah guantengnya rekkkππ)
"Sorri Mir, nunggu lama ya.?" Tanya Choki seraya melipat lengan kemejanya.
"E-emm enggak kok Ky.." Sahut Miranda gugup, ia sempat bengong saat melihat Choki yang tetlihat tampan dengan setelan kemeja dan celana jeans. Memang jarang melihat Choki menggunakan celana jeans. Miranda lebih sering melihat Choki mengenakan setelah jas saat dikantor, dan pakaian rumah saat dia mampir kerumah Choki dihari weekend. Choki slalu mengenakan pakaian over size.
"Yaudah yuk berangkat, aku juga mau mampir ketoko bingkisan yang searah kerumahmu." ucap Choki pelan tanpa menoleh kearah Miranda dan berjalan menuju pintu keluar rumah.
Miranda pun mengikuti langkah kaki Choki keluar rumah menuju mobil dan berangkat kesalah satu toko bingkisan. Setelah sampai ditoko bingkisan, Choki tampak sedikit bingung harus membeli apa untuk dibawa kerumah Miranda.
"Duh, beli apaan yak. Bingung gua!" Ucap batin Choki seraya memandangi bingkisan yang tersusun dilemari kaca. Miranda yang melihatnya mengukir senyum malu, ia tak menyangka Choki bisa bersikap seperti ini. Hatinya tersentuh saat menatap punggung Choki, betapa bahagianya ia saat ini bisa menemani Choki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Impian Miranda memiliki Choki berbuah manis.
"Mir, ayahmu kira-kira suka kue jenis apa ya.?" Tanya Choki tanpa menoleh dan masih setia memandangi kue yang ada dibalik kaca rak didepannya.
"Ayah gak pemilih kok Ky, dia suka semua jenis kue. Kamu pilih aja yang kira-kira enak dimakan." Sahut Miranda seraya meremas gagang keranjang yang ia bawa sejak masuk ketoko. Ia merasa gugup saat Choki bertanya langsung padanya. Sudah pasti Miranda dilanda rasa senang bercampur bahagia. Bagaimana tidak, secara tidak langsung malam ini akan menjadi malam bahagia untuknya, dia akan segera dilamar oleh lelaki yang sudah lama ia sukai dan bahkan ia cintai. Miranda tak berhenti tersipu malu dibelakang Choki. Miranda tak sabar menunggu dan akan menyambut hari bahagianya nanti.
......................
Setelah memilih kue, Choki memesan buah pada pelayan toko untuk dibuatkan parsel yang akan dibawa nantinya kerumah Miranda.
"Kamu gak mau ambil sesuatu untuk dimakan Mir.?" Tanya Choki gugup seraya menunggu dimeja kasir.
"Em kayanya enggak Ky, aku gak lagi pengen nyemil." Jawab Miranda santai.
"Kamu yakin gak ada yang dipengen, atau mau minuman dingin.?" Tanya Choki lagi seraya melirik Miranda dibelakangnya, pasalnya sedikit banyaknya yang Choki tau kalau wanita hamil biasanya lebih suka nyemil saat sedang mengandung.
Miranda hanya menggeleng seraya tersenyum. Ia senang saat mendapat perhatian dari Choki. Ia tau maksud dari pertanyaan Choki, pasti ia memikirkan anak yang ada didalam perut Miranda saat ini.
__ADS_1
Tak berselang lama saat parsel pesanan Choki selesai dibuat, Choki pun membayar dan membawa parsel serta plastik berisikan kue, ia menolak bantuan Miranda saat ingin ikut membawakan salah satu plastik bingkisan tersebut. Lantaran tak mau merepotkan orang lain.
Choki melajukan kembali mobilnya setelah meletakkan bingkisan dibangku belakang mobil. Sepanjang perjalanan tak ada perbincangan apapun diantara keduanya. Hanya suara musik santai yang mengisi kekosongan mereka. Yang dirasakan Miranda saat ini sudah pasti senang bercampur gugup. Lain hal dengan Choki.
Pikirannya terus diisi dengan sosok Karin. Lagi-lagi Karin yang slalu muncul dalam benaknya, Choki tak bisa membohongi perasaannya saat ini. Choki menyukai bahkan mencintai Karin sejak lama. Ia rela melepas Karin saat menikah dengan Rega, dan rela menyendiri lantaran patah hati ketika melihat sang pujaan hatinya menikah dan enggan membuka hati untuk wanita lain. Sampai saat ia mendapat kabar Karin bercerai dengan Rega, perasaan Choki saat itu justru senang bukan kepalang. Hasratnya ingin memiliki dan memimang Karin akan segera terwujud.
Namun semuanya nihil, lagi-lagi dia harus mengalah dengan keinginan Karin saat ingin mewujudkan cita-citanya yang ingin keliling dunia. Padahal ia sudah menyiapkan kejutan kecil untuk Karin malam itu. Ia ingin menyatakan perasaannya melalui liontin yang simpan sejak lama. Namun ia urungkan lantaran tak mau menghalangi Karin yang ingin mewujudkan cita-citanya keliling dunia. Sebenarnya bisa saja ia menemani Karin, namun ia tersadar kalau ia baru saja diangkat sebagai CEO. Dan tak mau meninggalkan kewajibannya demi urusan pribadi.
Dan sekarang semua rencananya berantakan saat mendengar langsung pernyataan Kim yang menyatakan bahwa Karin adalah kekasihnya dan berlalu membawa Karin pergi begitu saja meninggalkan Choki sendiri dikamar hotel sendirian. Ditambah dengan kecerobohan Choki diwaktu yang sama malam itu. Sampai pada akhirnya ia harus mengubur dalam semua rencananya dengan perasaan sakit hati dan menerima kenyataan ini.
......................
"Ky, aku udah hubungin ayah tadi lewat WA dan bilang kamu mau dateng malem ini. Dan kemungkinan nanti ayah ngajak kamu makan malem bareng. Pasti bibi juga udah siapin makan untuk kita." Ujar Miranda seraya melepas sabuk pengalamnya. Choki hanya mengangguk sembari mematikan musik dan mulai mematikan mesin mobil lalu ikut keluar beriringan dengan Miranda.
Ceklekk... Suara pintu terbuka, Miranda melirik kebelakang dan memberi kode pada Choki agar masuk kedalam rumahnya. Choki mengangguk dengan senyum datar diwajahnya. Rasa gugup dan detak jantung yang tak beraturan kini ia rasanya. Perasaan ini belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pasalnya malam ini ia mau tak mau harus melamar seorang wanita yang sedang mengandung anaknya.
"Assalammualaikum." Ucap salam Choki seraya masuk kedalam rumah Miranda.
Choki menghampiri pak Irwan yang berdiri tak jauh darinya dan mengulurkan tangannya untuk bersalim tunduk guna menghormati seseorang yang lebih tua darinya. Lalu memberikan bingkisan yang ia beli tadi. Seraya tersenyum malu saat memberikan bingkisan tersebut.
"Ah, gak perlu repot-repot nak Choki. Jangan membawa apa-apa kesini. Kamu sudah seperti anakku sendiri." Ujar pak Irwan seraya menerima bingkisan dari Choki dan memberi isyarat pada Miranda untuk menyambut bingkisan itu dari tangannya. Lalu Miranda membawanya kedapur untuk disajikan dipiring.
"Emm, enggak begitu repot pak, hanya bingkisan kecil." Jawab Choki dengan nada gugup dan tersenyum paksa guna menutupi rasa gugupnya. Lalu pak Irwan mempersilahkan Choki untuk duduk disofa bersama dengannya yang duduk tepat didepan Choki yang hanya dibatasi dengan meja persegi panjang didepan mereka.
Sempat terdiam beberapa detik diantara Choki dan pak Irwan sampai pada akhirnya suasana keheningan itu dibuyarkan dengan kedatangan Miranda yang membawa nampan berisikan minuman dan beberapa jenis kue, termasuk kue yang tadi dibeli Choki tadi. Semua diletakan Miranda dimeja dengan rapih, lalu ikut duduk disebelah ayahnya.
"Silahkan nak Choki diminum dulu." Ujar pak Irwan seraya ikut meminum teh yang telah dibuatkan Miranda untuknya. Choki mengangguk dengan senyum gugup terukir diwajahnya. Dan timbul kembali keheningan diantara mereka. Sampai pada akhirnya pak Irwan membuka percakapan duluan.
"Hem, tadi Miranda sudah menghubungi saya, dan ngasih kabar kesaya kalau kamu mau datang berkunjung malam ini. Jadi, ada keperluan apa nak Choki sampai repot-repot datang kemari.?" Ujar pak Irwan frontal diakhir kalimatnya lantaran ia penasaran ada apa sebenarnya sampai Choki berkunjung kerumahnya diwaktu malam seperti ini.
"A-ayah.. Jangan langsung blak-blakkan gitu nanyanya. Gimana kalau kita makan dulu, kayanya bibi udah selesai nyiapin makan dimeja." Sahut Miranda memutus rasa gugup yang Choki rasakan. Miranda dapat merasakan apa yang Choki rasakan, ia melihat wajah Choki yang tegang saat ayahnya bertanya pada Choki secara frontal.
__ADS_1
"Oh iya, ayah sampe lupa kalau bibi lagi nyiapin makan malem untuk kita. Ayok nak Choki kita makan bersama." Ucap pak Irwan seraya bangkit perlahan dari duduknya lalu memberi kode dengan mengulurkan tangannya pada Choki agar ikut bersamanya kemeja makan.
Choki mengangguk seraya bangun dari duduknya. Wajahnya masih menunjukkan rasa gugup dan tegang. Choki mengikuti dibelakang pak Irwan yang melangkah perlahan sembari dibantu dengan dituntun Miranda. Usia pak Irwan sudah tak muda lagi, tubuhnya yang sudah renta yang menunjukkan sudah seharusnya ia beristirahat dikasur karna kakinya kini sudah tak mampu melangkah lebar seperti dulu.
Saat sampai dimeja makan, Miranda langsung menarik kursi dan mempersilahkan ayahnya untuk duduk, begitu juga dengan Choki, ia mempersilahkan Choki duduk dengan isyarat tubuh. Dengan telaten Miranda menyendok nasi beserta lauk pauk dipiring pak Irwan dan juga piring Choki. Setelah itu baru ia menyendok nasi ke piringnya sendiri.
Pak Irwan mempersilahkan Choki untuk menyantap hidangannya dan merekapun makan bersama dengan nyaman, namun tidak dengan Choki. Perasaannya kacau, gugup gelisah dan detak jantungnya tak beraturan bercampur menjadi satu. Bahkan keringat dingin kini bermunculan ditubuhnya. Tangan Choki terasa dingin, rasa-rasa ia ingin cepat menyelesaikan semuanya begitu saja. Namun waktu berjalan seakan sangat lambat sampai kakinya pun ikut bergoyang kecil karna rasa gugup yang ia rasakan saat ini.
Selesai makan, Choki kembali duduk disofa ruang tengah. Disusul pak Irwan lalu Miranda meminta izin berganti pakaian setelah itu menyusul mereka keruang tengah.
Hanya ada obrolan omong kosong diantara Choki dan pak Irwan. Seperti pembahasan masalah pekerjaan dan membahas hal lucu mengenai mendiang pak Johan selaku ayah dari Choki saat masih muda dulu. Tawa kecil antara pak Irwan dan Choki sampai terdengar dirumah Miranda.
Senyum bahagia terukir diwajah Miranda saat menuruni anak tangga sembari melihat pemandangan antara ayahnya dan Choki yang tengah berbincang dengan senyum diwajah keduanya.
"Yah.." Sahut Miranda menghampiri ayahnya dan duduk perlahan disebelahnya. Mata Miranda menatap Choki seakan memberi kode untuk Choki membuka suara mengenai tujuannya datang kerumahnya.
Rasa gugup bercampur tegang kembali Choki rasakan, namun ia harus berani membuka suara. Ia sudah tak tahan jika harus berlama-lama didalam situasi ini.
"Omm.. Maaf jika saya menganggu waktu istirahat om hari ini." Ujar Choki gugup dengan pandangan tegang diwajahnya saat mulai bicara serius mengenai tujuan ia datang kemari.
Pak Irwan tersenyum datar seraya mengangguk dan setia menunggu Choki melanjutkan kalimatnya.
"Saya datang kemari atas nama alm ayah saya sekaligus atas nama saya sendiri. Maaf jika kedatangan saya kurang berkenan dan terkesan mendadak. Sebelumnya saya memohon maaf pada om, terutama pada Miranda atas kelancangan saya. Saya ingin meminta izin pada om Irwan untuk meminang Miranda sebagai istri saya. Maaf sekali lagi atas kalimat saya yang kurang pantas didengar. Seperti yang om tau, saya tak punya sanak saudara selain alm ayah saya dan juga keluarga saya dipanti." Ujar Choki seraya menghela nafas lega karna telah berhasil menyelesaikan kalimat dan tujuannya.
Tak terasa air mata Miranda menetes begitu saja. Rasa haru dan bahagia ia rasakan ketika Choki meminta izin pada ayahnya untuk melamarnya. Pak Irwan sempat terkejut saat mendengar pernyataan Choki sembari melirik kearah anaknya yang berada disebelahnya. Terlebih lagi Miranda kini menitikkan air mata, hal itu membuat pak Irwan menghela nafas panjang dan kembali menatap Choki sendu.
......................
......................
Oke guys lanjut besok ya ππ
__ADS_1
Yuk diLike ya disetiap episodenya guys semoga suka sama cerita novelku ya guys ππ