
Boby pun keluar dari mobil dan langsung keUGD meminta brankar untuk Miranda. Saat mendapat brankar perlahan Choki mengangkat tubuh Miranda keatas brankar dan mulai membantu mendorong brankar kedalam rumah sakit. Choki berlari kecil mengikuti brankar yang membawa Miranda masuk kedalam ruang UGD. Rasa cemas menyelimuti pikirannya ditambah suasana keheningan malam diruang UGD yang terbilang sepi membuatnya semakin khawatir.
Selang oksigen langsung diberikan pada Miranda. Perawat yang berjaga pada malam itu meminta Choki dan Boby untuk menunggu diluar ruangan agar para petugas medis bisa melakukan tugasnya dengan sigap.
"B3go.. B3gooo. B3go banget si lu Choki, udah tau tu penyakit sensitif. Kenapa masih lu hajar.!!" geram Choki meremas rambutnya dengan rasa sesal.
"Pak tenang pak. Duduk dulu dan jangan panik. Saya yakin ibu gakpapa pak." ujar Boby sembari meminta Choki duduk dikursi.
"Astagaaaaa b3gonya... Kenapa bisa coba.!!" oceh Choki menyalahkan diri sendiri.
Boby mencoba menenangkan Choki dengan menepuk punggung bidangnya. "Jangan ngomong gitu pak, gak baik. Bu Miranda udah ditindak sama perawat, semua akan baik-baik aja pak, selebihnya kita berserah sama Allah. Kita udah lakuin secepat dan sekuat yang kita mampu."
"Jantungnya kambuh pas berhubungan tadi. Awalnya dia bilang its oke, jadi yaudah gw hajar aja. Duhhhh b3gonya.!!! Tau gini kan gw bisa kontrol diri." jawab Choki kembali menunduk dan kembali meremas rambutnya.
Boby melebarkan kedua matanya seakan tak percaya dengan penjelasan Choki. "Hah gimana pak.? Bapak berhubungan dengan ibu.? Bukannya slama pengobatan ibu sama bapak harus cuti dulu ya.?"
Choki menjelaskan kejadian sebelum ia meneriaki memanggil Boby dirumah tadi. "Iya, tapi tadi Miranda bilang hasil rekam medisnya udah oke dan boleh berhubungan. Tapi ditengah perjalanan tadi dia sesek napas, gw panik. Mangkanya tadi gw manggil lo buat buru-buru nyiapin mobil sampe gw lupa make baju coba, gila kan? Bisa panik attack gw lama-lama begini."
Boby ternganga mendengar penjelasan Choki dan langsung buka suara pasal rekam medis yang dibilang Miranda. "Pak sorri kalau saya lancang, tapi waktu saya anter ibu kerumah sakit untuk cek up. Ibu cerita sendiri kalau kesehatan jantung ibu menurun dan harus banyak istirahat. Jadi gimana ceritanya bapak sama ibu dibolehin berhubungan.?"
Choki langsung terdiam sembari menatap wajah Boby, dia syok saat mendengar penjelasan Boby dengan mengekpresikan rasa syoknya dengan hanya diam menatap lama wajah Boby.
Saat menatap Boby tiba-tiba perawat UGD keluar manggil keluarga pasien (Miranda). Choki langsung cepat berdiri menghadap perawat tersebut.
"Gimana dengan istri saya.?" tanya Choki buru-buru.
"Sebelumnya pasien ada riwayat cek up rutin dirumah sakit ini ya pak.? Tanya perawat pada Choki dan Choki langsung mengIyakan pertanyaan perawat tersebut.
Perawat itu menatap Choki dan sekilas melirik kearah Boby lalu kembali berbicara pada Choki selaku suami pasien (Miranda).
"Bapak boleh masuk kedalam, temani pasien. Tapi jangan diajak ngobrol lama-lama ya pak. Kondisinya masih syok, untuk selebihnya besok saya ajukan berkas agar cepat dicek Dokter dan langsung dipindah ruangan."
Begitu diizinkan masuk, Choki melangkah lebar masuk kedalam UGD. Choki melihat tabung oksigen dan layar komputer yang memperlihatkan detak jantung Miranda. Rasa khawatir, bersalah dan marah bercampur jadi satu saat menatap wajah pucat Miranda. Keduanya saling bertatapan tanpa mengatakan apapun.
Tangan Choki mengusap lembut kepala lalu turun kepipi Miranda, Choki menghela nafas kecil sembari duduk disisi kasur. Padangannya tak henti menatap wajah Miranda. Ia berfikir jika saja ia tak sadar akan kondisi Miranda dan masih terus melanjutkan hawa nafsunya, mungkin sekarang Miranda tak akan ada diruangan ini.
__ADS_1
"Mas, maaf.." ucap Miranda dengan suara lirik nan pelan.
Choki langsung menutup bibirnya dengan satu jari pada Miranda agar diam. "Sssttttt.. Udah, jangan banyak bicara. Atur nafas kamu pelan-pelan."
Dan dari kejadian ini Choki benar-benar memutuskan untuk tidak sama sekali memikirkan soal hubungan suami istri. Emosinya memuncak saat mendengar penjelasan dari Boby tadi. Namun ia hanya manusia biasa dan lagi ia juga pria normal yang masih memiliki nafsu. Terkadang lingkungan bisnisnya mengajaknya untuk mencoba hal-hal baru. Tapi ia berhasil menepis semua itu agar ia tak menyesal dikemudian hari.
Flashback Off.
Miranda terkejut akan sikap suaminya yang tiba-tiba menindih tubuhnya. "Kali ini aku gak bohong mas, kamu sendiri pun liat hasil rekam medisnya kan.?"
"Sudah ku katakan bukan, aku tidak apa-apa.! Mau berapa kali ku jawab dengan jawaban yang sama bahwa aku tidak apa-apa." Tegas Choki dengan bahasa baku dan sorot mata tajam menatap lekap kedua mata Miranda.
Terlihat Choki mengerasakan rahangnya seakan menahan emosi, ia pun langsung bangkit dari tubuh Miranda dan segera memakai piyama kimono berbahan satin dan langsung melangkah keluar kamar. Bahkan kali ini Choki menutup pintu kamar dengan cukup keras sampai terdengar menggema keseluruh rumah.
Deg!! Karin melompat kecil karna terkejut mendengar suara pintu yang terdengar keras. "Kamchagia!! Si4lan.. Bikin kaget aja tu s3tan."
Jarak kamar Karin tak begitu jauh dari kamar Choki dan Miranda, bisa dibilang saling berdampingan, namun karna ukuran rumah yang besar jadi pintu kamar Karin dan Choki ada jarak kurang lebih 5 meter.
Miranda mendudukkan dirinya dan bersandar didinding kasur, ia meringkuk dengan kedua lututnya. Menangis tersedu dengan meratapi hidupnya yang penuh kesedihan. Kehilangan sosok ayah yang ia sayangi, melahirkan seorang anak namun tak bisa memberinya ASI yang sebagaimana itu adalah salah satu simbol kesempuraan bagi seorang seorang wanita yang telah menjadi ibu (menurut pendapatnya.) Dan parahnya lagi, karna penyakitnya ia tak bisa memberikan hak suami terhadap istri untuk suaminya (Choki). Rasa bersalah, merasa tak sempurna bahkan ia merasa malu pada dirinya akan kondisi yang membuatnya seakan hidup dalam ruang kosong.
KLANG!! Suara tutup botol jatuh kelantai. Sudah hampir satu botol wh1sky, sejak kebutuhannya tak tersampaikan Choki melampiaskannya dengan mabuk. Bahkan ia sampai mendatangi club hanya untuk sekedar cuci mata. Teman karirnya tak sekali dua kali menyarankannya untuk melakukan hubungan gelap dibelakang istrinya, namun hal itu ditolak Choki mentah-mentah. Menurutnya itu hanya akan menimbulkan masalah baru dan lagi hal semacam itu akan membuat candu.
......................
...Pagi Hari dikamar Karin....
Si mbok dengan telaten dan sabar mengajari Karin cara mengurus bayi, dari memandikan, step by step terus diajarkan si mbok. Karin dengan terus memperhatikan si mbok tanpa berpaling sampai tak sadar Miranda telah masuk kedalam dan melihat suasana pagi yang berbeda dari biasanya.
"Gimana Rin.? Udah bisa.?"
Karin kaget saat denger suara Miranda dari belakang, dan si mbok juga reflek langsung nengok kebelakang.
"Eh mba. Ini lagi merhatiin si mbok."
Miranda senyum keKarin lalu melangkah mendekati si mbok dengan sikap hendak menggendong Maura.
__ADS_1
"Sini mbok, Mira bawa dulu Mauranya, ayahnya mau berangkat kerja."
Si mbok langsung mempersilahkan Miranda untuk bawa Maura, dan Karin juga langsung bantuin si mbok beberes peralatan mandi Maura seperti handuk, popok, baju, dan lain-lain.
Belum sempat keluar dari kamar Karin, Miranda berbalik melihat Karin dan si mbok lagi beberes.
"Rin, nanti turun ya. Sarapan, udah disiapin Tiur." ucap Miranda pada Karin dan berlalu keluar dengan menggendong Maura.
Dengan penuh hati-hati Miranda menggendong Maura menuruni anak tangga, ia juga sesekali melihat kearah Choki yang tengah duduk diruang tamu dengan wajah yang setia menatap ponsel.
Saat menyadari kehadiran Miranda, Choki langsung berdiri dengan sekilas menatap Miranda lalu menatap.putri kecilnya.
Mengajak ngobrol Maura sembari mengelus lembut kepalanya yang mungil. "Pagi anak ayah.. Tadi malem bobonya nyenyak gak nak. Gak rewel lagi ya anak ayah. Pinternya.."
Miranda senyam senyum saat Choki berinteraksi dengan Maura, hal sekecil ini membuatnya bahagia. Walau terkadang ia teringat akan sesuatu dimasa depan. Akan kah hal ini akan terus ia rasakan nantinya.
Tatapan Miranda bergantian menatap Maura dan Choki, lalu membalas ucapan Choki.
"Nyenyak dong ayah, dedek kan udah punya tutu enak. Jadi bobonya dede nyenyak." Choki yang mendengar ucapan Miranda mencoba tersenyum meski dipaksa. Pertengkaran kecil semalam memang bukan yang pertama dan sesuai pertengkaran itu terjadi, Miranda dan Choki mencoba bersikap biasa saja diesokkan harinya.
Sedari tadi Karin ragu untuk turun ketika ia melihat Miranda dan Choki tengah berbicang diruang tamu yang tak jauh dari tangga. Sampai akhirnya pundak Karin ditepuk pelan dengan si mbok.
"Ngopo ora turun ndok. Ayo sarapan."
Karin kaget dan tersadar dari lamunannya. Dan langsung mengikuti langka si mbok dari belakang.
"Eh si mbok. Bikin kaget aja, aku nungguin mbok biar gak nyasar." elak Karin berbohong.
Si mbok terkekeh kecil dengan ledekkan Karin. "Eleh-eleh eneng-eneng ae toh kamu tuh, emangnya rumah ini dikira tanah abang. Sampe harus takut nyasar segala."
Karin juga gak kalah terkekeh bahkan di ketawa karna ucapan si mbok yang nyamain rumah mewah ini dengan pasar tanah abang. Dan ternyata obrolan si mbok dengan Karin udah terdengar jelas oleh Choki dan juga Miranda dari bawah. Terus Miranda ikut nyambung dengan topik pembicaraan mereka.
"Aku juga awalnya sama kaya kamu Rin. Sempet nyasar dirumah ini, tapi lama kelamaan juga terbiasa kok."
Niat Karin ingin membalas ucapan Miranda, tapi akhirnya ia cuman membalas dengan senyum saat ia melihat kearah Choki yang terus menatap dirinya tanpa berkedip. Bukan salah tingkah, tapi justru malah risih dengan sikap Choki yang terlihat tidak menghargai istrinya didepan orang lain. Kalau bukan karna iba, Karin benar-benar ogah tinggal disini.
__ADS_1
......................
......................