Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Panik!!!


__ADS_3

Tangan Choki terus mengusap lembut punggu Miranda yang masih berpelukkan dengannya. Tubuhnya tak berhenti bergetar karna menangis, Choki pun ikut merasakan sedih yang dirasakan Miranda saat ini. Ia teringat saat alm ayahnya yang telah meninggal.


Suara mengait pintu terdengar, reflek Miranda dan Choki menoleh kearah pintu kamar pasien yang terbuka. Dokter yang menangani pak Irwan melangkah keluar dengan langkah berat.


Tanpa bertanya, Miranda berlari menerobos masuk kedalam tanpa permisi. Choki yang melihat Miranda sekilas dan langsung menatap bingung kearah Dokter.


"Maafkan saya pak.." Ucap Dokter lesu saat menatap Choki. Dengan waktu bersamaan saat Dokter mengucapkan maaf pada Choki. Terdengar suara jeritan Miranda dari dalam. Dengan cepat Choki pun menerobos masuk tanpa merespon ucapan Dokter.


"AAYAHHHHH....!!!" Teriak Miranda histeris sembari memeluk tubuh ayahnya. Tak ada air mata yang mengalir kepipi Miranda. Namun sesak dan suaranya tangisnya kian terasa menusuk bagi siapapun yang mendengarnya. Mbok Yu mengelus punggung Miranda, ia ikut merasakan kesedihan yang teramat saat melihat kejadian hari ini.


Tubuh Choki mematung ditempat tanpa berkata apapun. Pandangannya kosong kearah kaki alm pak Irwan. Mungkin saat ini Choki mengingat kembalia kejadian saat ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya. Yang ia sesali ketika detik-detik terakhir ayahnya, ia tak ada disampingnya, sama seperti situasi saat ini.


......................


📲📲 Dredd.. Dred..


"Yeobseo.."


"Chagia.. Sedang apa kau sekarang.? Vitamin yang kubelikan sudah diminum.? Jangan terlalu banyak gerak kesana kemari, cukup berbaring manja saja dikasur oke.." Ujar Kim bertubi-tubi dari balik ponselnya.


"Nee Oppa. Aku sudah meminumnya. Sudah, jangan terlalu mengkhawatirkan ku. Fokus saja pada kerjaanmu hari ini." Balas Karin lembut seraya tersenyum saat mendengar suara Kim yang waktu semakin lembut.


"Aish.! Aku sedang merindukanmu chagia, kenapa kau malah mengusirku dengan cara menyinggung soal pekerjaan." Protes Kim seraya meremas rambut belakangnya dengan ekspresi gemas.


Karin terkekeh kecil saat mendengar suara Kim yang begitu gemas, jarang-jarang Kim bertingkah dengan suara seperti ini. "Ani-oh, aku hanya kasihan padamu. Biasakanya dijam segini aku tengah sibuk mengerjakan semua pekerjaanmu. Namun, karna kau menyuruhku untuk berhenti bekerja. Jadi mau tak mau kau sendiri yang harus mengerjakannya. Benar bukan.?"


"Emm kau benar, aku memang sibuk hari ini. Maka dari itu aku menelvonmu. Suaramu bagai bensin yang sedanga mengisi full tang mobil tronton baja Karin-shi.. Apa lagi suaramu ketika sedang bersamaku... Aaghh, kau membuatku gila chagia. Aku ingin pulang cepat hari ini." Ujar Kim dengan nada suara menggoda.


"Hahahah jijjah.? Kalau begitu cepatlah kerjakan pekerjaanmu, setelah itu aku akan melayanimu tuan Kim. Ku rasa pingg*lku saat ini sudah membaik." Bisik Karin dengan suara bercampur hembusan nafas sexy diakhir kalimatnya.


"YA! Jangan membuatku tak tahan chagia. Jika berani sekali lagi kau lakukan itu. Jangan salahkan aku jika aku pulang dalam waktu 1 jam kedepan." Protes Kim seraya memejamkan mata dan menyenderkan punggungnya didinding kursi.


"Haish kau ini, baru begitu saja sudah tergoda. Bagaiman jika kau bertemu dengan wanita yang lebih dariku. Baru ditoel sedikit sudah berputar haluan."

__ADS_1


"Hei babe dengarkan aku. Jangan mengatakan hal itu lagi padaku, aku bukan tipe pria seperti itu. Jika aku sudah mencintai dan memilik wanita. Maka hanya wanita itu yang ada dalam hidupku. Akan memakan waktu yang cukup lama untukku membuka hatiku pada wanita lain. Pahami itu.!" Ucap Kim serius dengan nada tegas disetiap katanya.


"Nee Oppa aku paham. Sudah ya, lanjutkan kerjaanmu. Aku mau mengambil sesuatu dilemari es. Bye Oppa." Ucap Karin seraya memutuskan panggilan telvonnya.


Saat setelah itu, Karin bergegas menuruni kasur lalu melangkah keluar kamar menuju dapur. "Ada makanan apa aja ya disini. Emm.. Kentang aja kali ya, digoreng.." Oceh Karin pada diri sendiri sembari mencari makanan didalam kulkas.


Saat setelah menentukan ingin makan apa, akhirnya Karin memutuskan untuk menggoreng kentang dan teman-temannya. Ternyata dari balik cctv rumah, Kim tersenyum-senyum sendiri saat melihat Karin dari balik ponselnya yang terhubung dengan cctv di apartnya. Ia tersenyum kekeh begitu melihat aktivitas Karin yang terkesan menggemaskan dimatanya.


"Kenapa dia begitu menggemaskan ketika sedang masak. Apa sudah jadi kebiasaannya menari ketika sedang memasak." Gumam Kim dengan setia menatap layar ponselnya. Sampai semua terbuyarkan saat ada seorang yang mengetuk pintu.


"Siang sajangnim, tamu anda sudah menunggu diruang meeting." Ucap seorang staff pada Kim saat setelah masuk keruangannya.


"Nee, 10 menit lagi saya kesana." Jawab Kim singkat sembari mematikan layar ponselnya dan bergegas mengecek kembali berkas-berkas yang akan dibawanya keruang meeting.


......................


"HAH.!!! Aaww Aaghh!! Aduhh-aduh.. Panas.." Rintih Karin saat tangannya terkena minyak panas lalu reflek menyiramnya dengan kuyuran air keran wastafel. Ini terjadi saat ia bermain hp ketika sedang menggoreng nugget, Karin terkejut saat melihat postingan dari salah satu anak panti. Yaitu postingan foto saat dimana mereka berfoto bersama dengan sepasang pengantin yang tak lain yaitu Choki dan juga Miranda.


"AaAaa aduh-aduh.... Iiish reseh banget sih, kenapa make ikutan gosong.!" Gerutu Karin kesal, langsung reflek mengangkat gagang teflon lalu menuang minyak panas kedalam wastafel. Sampai asap memenuhi ruang dapur dan saat waktu bersamaan bunyi alarm kebakaran terdengar, sampai air yang tertempel diatap apart menyembur deras mengguyur seisi dapur sekaligus tubuh Karin.


Tubuh Karin mematung ditempat, tatapannya bengong meratapi kejadian yang menimpanya saat ini. Betapa sialnya ia hari ini, dari yang tak diizinkan Kim bekerja padahal ia sudah siap untuk berangkat kerja, lalu terkejut dengan postingan di instagram yang memperlihatkan pernikahan Choki. Perasaan Karin marah dan cemburu bercampur menjadi satu.


"Kenapa tak seorang pun memberi kabar akan hal ini. Apa aku sudah tak dianggap lagi." Batin Karin berucap seraya menahan sesak lantaran rasa ingin menangis karna perasaan cemburu yang muncul.


......................


...2 Jam Kemudian...


"KARIN-ah..!! Chagia..!!" Teriak Kim seraya berlari memasuki apartnya.


"Wae.? Haruskah berteriak saat memanggilku.?" Jawab Karin saat keluar dari ruang penyimpanan barang. Kim menoleh saat mendengar suara Karin dan langsublng melangkah cepat mendekatinya lalu memeluk erat tubuh Karin.


"Ada apa Oppa?" Tanya Karin penuh kebingungan saat mendapati tingkah Kim seperti ini.

__ADS_1


"Syukurlah kau tak apa-apa chagia. Aku khawatir terjadi apa-apa denganmu." Balas Kim yang masih setia memeluk Karin. Dan tak berselang lama, perlahan ia melepaskan pelukkannya.


"Aku sedang meeting tadi, pihak apartemen menghubungiku, mereka bilang hampir terjadi kebaran disini." Ujar Kim dengan tatapan penuh kekhawatiran.


"Tak ada kebakaran atau apapun oppa. Aku tadi tak sengaja meninggalkan kompor dengan minyak panas didalam teflon. Saat ingat, aku langsung berlari kedapur dan menuangkannya kedalam wastafel sampe timbul asap yang banyak." Jawab Karin dengan setengah berbohong pada Kim. Ia menjawab dengan tatap santai agar kebohongannya tak diketahui oleh Kim.


"Haaahh syukurlah kalau begitu. Aku tenang mendengarnya. Lalu siapa yang membereskan guyuran air dari detektor itu.?" Tanya Kim seraya melirik keatas atap yang terdapat alat detektor kebakaran yang tertempel disana.


"Eeem itu, ada beberapa staff datang lalu membantu membersihkannya. Kau tau Oppa, aku merasa sangat tak enak dengan mereka. Wajah mereka sangat panik saat aku membuka pintu. Sekaligus aku malu lantaran seluruh tubuhku basah karna terkena air. " Ujar Karin dengan nada canda sekaligus ia menutupi kebohongannya dari Kim.


"Haish kau ini. Lain kali berhati-hatilah chagia, jangan membuat siapapun panik terutama aku. Mengerti.!" Sahut Kim sembari kembali memeluk Karin.


"Nee Oppa, mianhae-oh?"


"Emm." Jawab Kim seraya mengangguk


"Oppa, apa kamu tidak kembali lagi kekantor?." Tanya Karin disaat ia meneruskan aktivitasnya didapur.


"Aniyo. Udah nanggung, anggap saja aku pulang cepat."


Karin mengangguk tanpa mengeluarkan suara, saat selesai menggoreng kentang dan teman-temannya. Ia melangkah mendekati Kim sembari membawa piring dan dua notolminuman dingin yang bersoda.


"What!! Siapa yang mengizinkanmu meminum ini.?" Tanya Kim seraya mengangkat botol minuman yang diletakkan Karin dimeja.


"Tentu saja aku. Aku menginginkannya, aku lagi pengen minum yang seger-seger." Oceh Karin protes sembari menyuap kentang yang tlah dicocolnya kemangkuk kecil berisi saus.


"No No No..!! Kau tidak boleh meminum ini, lebih baik minum susu atau jika tidak mau juga. Kau bisa meminum air putih dingin." Jelas Kim tegas dengan tatapan tajam.


"Iiishh nyebelin.. Posesif banget kamu oppa.!" Gerutu Karin yang langsung bangkit dari duduknya lalu melangkah masuk kekamar dengan membanting pintu cukup kasar.


......................


......................

__ADS_1


__ADS_2