Aku Mecintaimu Tuan Kim

Aku Mecintaimu Tuan Kim
Maaf Ayah


__ADS_3

Tak terasa air mata Miranda menetes begitu saja. Rasa haru dan bahagia ia rasakan ketika Choki meminta izin pada ayahnya untuk melamarnya. Pak Irwan sempat terkejut saat mendengar pernyataan Choki sembari melirik kearah anaknya yang berada disebelahnya. Terlebih lagi Miranda kini menitikkan air mata, hal itu membuat pak Irwan menghela nafas panjang dan kembali menatap Choki sendu.


......................


......................


"Terimakasih nak kamu telah berniat baik dan berani untuk datang kemari dan meminta izin pada saya selaku orang tua tunggal dari Miranda anak saya. Seperti yang kamu tau, semenjak kepergian ibu dari Miranda beberapa tahun lalu, Mirandalah yang menggantikan mendiang ibunya merawat dan mengurus saya." Ujar pak Irwan dengan suara berat diakhir kalimatnya, terdengar getaran seperti menahan tangis saat menyebut mendiang ibu dari Miranda.


Miranda berusaha menguatkan ayahnya dengan memegang dan mengelus lembut tangan ayahnya. Dan kembali bersuara.


"Mungkin saya tidak tau apa yang terjadi diantara kalian, sejak kapan dan dimulai dari siapa kalian menjalin hubungan. Dan memutuskan untuk melanjutkannya kejenjang yang lebih serius."


"Nak Choki.. Saya terima niat baik kamu terhadap Miranda. Tolong jaga dan sayangi dia sebagaimana kami menyayanginya." Ujar pak Irwan seraya menitikkan air matanya dan menunduk. Miranda yang melihat ayahnya langsung merangkul ayahnya seraya mengusap punggung ayahnya untuk menenangkannya. Choki yang melihat pemandangan didepan hanya tertunduk lemas, selain lega saat mendengar pak Irwan menerima lamarannya. Perasaan bersalah juga muncul dalam benaknya, bagaimana bisa ia mempersilahkan mereka masuk kedalam zona perasaan Choki yang tak karuan seperti ini. Ia tak mencintai Miranda namun ia tak bisa egois, dan lagi ia menghormati pak Irwan yang tlah setia menemani mendiang ayahnya disaat susah maupun senang.


......................


......................


"Hati-hati dijalan ya Ky. Jangan ngebut bawa mobilnya." Sahut Miranda lembut seraya melangkah mengantarkan Choki sampai kedepan mobilnya.


Choki tersenyum dan mengangguk. "Aku pulang dulu, besok aku jemput dan kita kerumah sakit untuk cek kandungan kamu ya." Ucap Choki sembari berpamitan dan masuk kedalam mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Setelah melihat mobil Choki telah keluar dari area pekarangam rumahnya, Miranda melangkah masuk kembali kedalam rumah. Ketika menutup pintu ia melihat ayahnya yang masih duduk diruang tengah seraya menunduk, ntah apa yang dipikirkan ayahnya sampai termenung seperti ini.


"Ayah.. Kok belum kekamar? Ayok, Miranda anter ayah kekamar." Ucap Miranda seraya mendekati pak Irwan dan hendak menuntunnya, namun tertahan karna pak Irwan hanya diam tak merespon.


"Ayah.. Ada apa.?" Tanya Miranda lembut dan bingung saat melihat ayahnya.


"Nak.. Kenapa harus terburu-buru.?" Ujar pak Irwan tiba-tiba seraya melirik sekaligus menatap Miranda sendu. Seketika air mata Miranda menetes dan mengalir deras, tubuhnya mematung dan mukutnya seperti terikat, ia tak bisa menjawab pertanyaan ayahnya.


"Jangan beritahu ayah apa yang terjadi nak, biarkan ini menjadi rahasia kalian. Anggap ayah tak mengetahuinya. Saat kedatangan Choki dengan niat baik dan mau bertanggung jawab atas dirimu. Itu sudah cukup untuk ayah. Biarkan ini menjadi rahasia kita nak.." Lirih pak Irwan dengan suara beratnya seraya meneteskan air mata ketika menatap penuh arti putri semata wayangnya.


Seketika tangis Miranda pecah, tubuhnya terjatuh lemas dibawah kaki ayahnya. Miranda menunduk dan menangis sejadi-jadi dipangkuan ayahnya. Mulutnya tak mampu mengatakan apapun, rasa bersalah dan berdosa bercampur menjadi satu karna ia tak dapat menjaga kepercayaan orang tuanya. Terlebih lagi pada ayahnya yang merupakan cinta pertama bagi seorang anak perempuan.


......................


"AAAAAAA!!!!" Teriak Karin ketika dikejutkan dengan sosok Kim yang tengah berdiri mematung tepat didepan pintu kamar mandi.


"Kim!! Iiihhhh, kebiasaan banget kamu ya..!" Ucap Karin kesal sembari memukul lengan kekar Kim. Kim membalasnya dengan kekehan karna puas melihat wanitanya terkejut bukan main, padahal ia hanya berdiri tanpa bersuara disini.


"Kenapa tidak membangunkanku? Siapa yang mengizinkanmu mandi.?" Tanya Kim seraya melangkah maju mendekati Karin.


"Aku gerah Kim, jadinya aku mandi duluan." Jawab Karin memalingkan wajahnya kesembarang arah karna gugup, ia tak mau melihat Kim lantaran Kim tak mengenakan pakaian apapun. Kim sudah biasa dan tak malu bila berjalan dihadapan Karin dengan tubuh polosnya.

__ADS_1


"Aku tak mau mendengar alasan chagia, kepercayaanku kepadamu mulai memudar karna kau tlah berani membohongiku." Bisik Kim tegas lalu mengigit telinga Karin.


"Aaggh, sakit tau..!" Ucap Karin seraya reflek mendorong dada Kim. Dan hendak menghindar dari hadapan Kim, namun Kim mencegah dan mendorong tubuh Karin masuk kembali kedalam kamar mandi.


"Aagghhhh, a-aww aww sshhh...!" Ringis Karin menahan sakit saat Kim tak sengaja menginjak kakinya.


"Wae chagia..!?" Tanya Kim panik sembari mengikuti arahan mata Karin yang melihat kebawah. Dan betapa terkejutnya Kim saat melihat bercak dar*h dilantai.


"Kenapa ada darah? Apa kau datang bulan.?" Tanya Kim sembari mengangkat tubuh Karin lalu mendudukkannya diatas kloset.


"Aniaa, itu kakiku terkena pecahan beling tadi." Jawab Karin seraya memperlihatkan telapak kakinya.


"Bagaimana bisa? Kenapa bisa terkena beling seperti ini.?!" Tanya Kim sembari mengambil kotak p3k yang berada dilemari kamar mandi seraya berlutut dihadapan Karin lalu mengobati kakinya yang terluka.


"I-itu aku tadi membereskan ruang tengah yang berantakan, dan tak sengaja kaki ku menginjak beling yang belum aku sapu, sshhhh...!" Ringis Karin diakhir kalimatnya seraya menahan sakit setelah Kim meneteskan betadine kedalam lukanya.


Kim terdiam dan tak bersuara, ia fokus pada balutan kain kasa yang ia lingkarkan dikaki Karin. Rasa bersalah muncul dalam benaknya ketika ia meraba pelan kain kasa dikaki Karin. Semua ini karna emosinya yang tak terkontrol sampai mengakibatkan wanitanya terluka. Kim sebenarnya sadar akan obsesinya terhadap Karin. Namun rasa takut untuk kehilangan itu slalu muncul, oleh sebab itu ia menginginkan Karin segera hamil, agar Karin slalu berada didekatnya.


"Kim, mianhae-oh.. Akutak bermaksud mengkhianatimu dengan meminum pil itu. Tapi...." Rilih Karin menahan tangis seraya mengusap lembut pipi Kim.


"Jangan lakukan lagi, biarkan dia hadir Chagia. Ku mohon, aku sungguh mencintaimu. Jangan takut bila aku tak bertanggung jawab. Kita rawat dan besarkan dia bersama-sama nee." Sahut Kim membalas usapan tangan Karin dengan menangkup perlahan wajah Karin.


Kim memci*m bib*r Karin lembut, membawanya dalam gendongannya keluar kamar mandi. Meletakkan perlahan tubuh Karin keatas kasur. Dan kembali melakukan aktivitasnya sampai pada saat ingin melakukan inti dari aktivitasnya, tiba-tiba suara perut Karin berdering seperti ponsel yang menerima panggilan.


"Baiklah, akan ku siapkan makanan untukmu." Ucap Kim seraya bangkit dan mengambil bajunya lalu memakainya.


"Oh No!! Chagia, biarkan aku saja yang memasak." Sahut Karin dengan suara tinggi seraya bangkit dengam cepat lalu menahan tangan Kim. Karin tak ingin terjadi hal yang tidak-tidak seperti kemarin.


"Hahaha tenanglah sayang, aku tak akan membuat makanan yang membuatmu kesal karna melihat dapur yang berantakan seperti kemarin." Ujar Kim seraya tertawa dan berlalu meninggalkan Karin.


Setelah beberapa menit, Karin mencium aroma ramyeon khas korea yang membuat perutnya kembali bergetar.


"Kajja, kita makan sama-sama." Ajak Kim saat melihat Karin keluar dari kamar.



"Wahh!! Ini kau yang memasaknya.?" Tanya Karin terheran, seperti sesuatu yang tak mungkin saat setelah kejadian kemarin. Saat Kim mencoba untuk menghancurkan dapur dengan cara memasak disana.


"Nee, tentu saja aku yang membuatnya. Kalau untuk membuat ini aku tak perlu menimbang tepung dan telur, aku hanya perlu merebus mienya saja." Jelas Kim yang membuat Karin terkekeh.


Mereka makan bersama dimangkuk yang sama. Awalnya tak ada pembicaraan diantara keduanya, sampai akhirnya Karin membuka suara dan mulai bertanya tentang Kim dan Choki.


"Oppa.. Boleh aku bertanya sesuatu?." Ujar Karin pelan.

__ADS_1


"Em, katakan apa itu.?"


"Ini mengenai Choki kaka..." Ujar Karin yang terpotong karna Kim meletakkan sendok dengan kasar lalu menatap Karin sinis. Tatapan Kim membuat Karin langsung terdiam dan tak berani berbicara lagi setelahnya.


......................


"Biar aku saja Oppa.." Sahut Karin tiba-tiba saat Kim hendak membereskan piring diatas meja. Namun tak direspon baik oleh Kim, ia terus membereskan lalu membawa piring menuju dapur.


Perasaan Karin tak enak saat melihat ekspresi Kim yang seketika dingin. Dengan langkah sedikit pincang, Karin mencoba mendekati Kim dan memeluk lembut tubuh Kim dari belakang saat Kim sedang mencuci piring.


Mereka tak berbicara sama sekali, Karin terus memeluk Kim sampai selesai mencuci piring pun Karin masih setia dengan posisinya. Kim membalik dirinya dan membalas pelukkan Karin.


"Kajja masuk kekamar, aku ceritakan disana." Ucap Kim seraya membawa Karin berjalan menuju kamar. Mereka melangkah perlahan karna kaki Karin masih dalam keadaan terluka. Sampai pada akhirnya mereka duduk dikursi sofa yang berada dikamar Kim.


Kim menarik nafas dalam seraya memegang kedua tangan Karin. Mereka duduk dengan posisi saling berhadapan. Tatapan serius kini Kim tunjukkan saat menatap Karin.


"Sebelum aku menceritakan semuanya, biarkan aku bertanya padamu terlebih dulu." Ujar Kim. Karin mengangguk seakan siap dan menjawab pertanyaan yang ingin Kim tanyakan padanya.


"Katakan padaku, apa hubunganmu dengan Choki.?" Tanya Kim dengan nada santai, namun tidak dengan Karin. Seketika jantungnya berdetak kencang. Perasaan gugup muncul secara tiba-tiba. Mimik wajah Karin menunjukkan rasa ketakutan saat Kim bertanya padanya. Hal itu diketahuin oleh Kim ketika ia melihat wajah Karin tampak seperti orang panik. Kim berdecak kesal lalu meninggalkan Karin begitu saja.


"Kim, mau kemana? Kamu belum menjelaskan apapun padaku.?" Panggil Karin saat melihat Kim beranjak pergi dan melihatnya berbaring diatas kasur.


"Ah sudahlah, aku malas menjelaskan apapun padamu, kamu saja tak mau menjawab pertanyaanku." Oceh Kim sembari mengelus-elus sprei kasur dengan tangannya lalu melirik Karin yang mulai mendekati Kim dan ikut berbaring bersamanya.


"Aku tak memiliki hubungan apapun dengannya. Hanya saja..." Ucap Karin terhenti ditengah-tengah lalu melirik Kim yang mengubah posisinya memiring menghadap Karin.


"Hanya saja apa.?" Ketus Kim.


"Hufh, berjanjilah kau tidak akan marah bila aku menceritakan semuanya." Ujar Karin seraya menghela nafas panjang. Kim hanya mengangguk pelan dengan tatapan penuh tanpa berpaling kemana-mana.


"Aku dan Choki oppa memang kakak beradik sejak kecil. Kami dibesarkan dipanti yang sama. Dia yang merawatku dari aku masih bayi walaupun usianya saat itu masih terbilang belia. Dia ikut membantu perekonomian panti sejak duduk dibangku SD. Ibu panti sempat melarangnya sampai akhirnya menyerah ketika Choki oppa menduduki bangku SMP." Rahang Kim seketika mengeras, ia menahan emosi saat Karin menyebut Choki dengan panggila Oppa. Namun ia sudah berjanji tidak akan marah, jadi Kim hanya diam dan tetap mendengarkan cerita Karin.


"Singkat cerita, ketika beranjak dewasa aku memiliki rasa padanya, namun ku pendam diam-diam. Karna mau bagaimana pun dia kakakku, jadi tak mungkin aku menyukai kakakku. Sampai pada akhirnya ketika aku bercerai dengan mantan suamiku, dialah satu-satunya orang yang kucari. Aku membutuhkan pundaknya untuk melepas lelah dan meringankan rasa sakit hati yang aku rasakan saat itu. Dia datang padaku, menyambutku dengan peluk hangatnya. Dia menghiburku dengan caranya sendiri, wajahnya terlihat seperti bayi saat bersamaku, namun sangat berbeda saat berhadapan dengan orang lain...." Cerita Karin terhenti ketika Kim mencium bibir Karin, lum*tan demi lum*tan terasa begitu kasar dan nafas yang terasa sangat memburu seperti seseorang yang lelah karna berlari.


Kim termakan api cemburu, ia tak tahan mendengar crita Karin, maka dari itu ia menghentikannya dengan mencium kasar bibir Karin.


......................


......................


Lanjut besok guys πŸ˜πŸ‘


Yuk bisa yuk difollow dan like. Kita besti'an ya sekarang guys πŸ‘πŸ˜.

__ADS_1


Aku sayang kalianπŸ˜˜πŸ‘


__ADS_2