
"Hufh.. Mau sampai kapan ia posesif kaya gini." Gumam Karin ditengah aktivitasnya yang sedang membereskan barang-barang dan hendak melangkah menuju lift.
Karin melangkah keluar saat pintu lift terbuka, lalu menekan kartu absensi. Saat hendak menuju halte bus telinganya mendengar seseorang memanggil namanya dari kejauhan.
"Karin-shi..!!" Suara teriakan yang membuat Karin reflek langsung mengarah kearah sumber suara.
"Ommo..!! Park-shi, kau rupanya." Sahut Karin terkejut sekaligus girang seraya berlari kecil mendekati Park.
"Aigo... Senannya bertemu denganmu...!!" Ucap serentak Karin dan Park seraya berpegangan tangan sembari melompat kecil seperti anak kecil yang sudah lama tak berjumpa. Mereka tertawa terjekut saat menyadari kekompakkan mereka saat berbicara.
"Apa kabarmu Park-shi.? Kenapa kau tak membalas pesan dariku.? Sombong sekali rupanya." Oceh Karin seraya melepas pegangan tangan lalu melingkarkannya didada.
"Aigo gemasnya..! Aku baru saja pulang ke Korea, aku ada sedikit urusan diEropa. Jadinya tak sempat melihat pesan darimu, mianhae-oh.." Ucap Park dengan tersenyum gemas sembari menatap Karin.
"What!! Eropa?? Wahh!! Keren juga kau Park-shi, secara tidak langsung kau juga sembari berlibur kesana." Ujar Karin sembari melangkahkan kakinya bersama Park yang ntah kemana arah tujuannya.
"Ah aninde.. Aku tidak berlibur, aku kesana untuk pekerjaan. Bukan untuk berlibur seperti yang kau kira." Balas Park sembari memasukkan kedua tangannya kedalam kantung jas hangat.
"Sama saja, hitung-hitung kau jalan-jalan kesana sembari bekerja." Ucap Karin tanpa menoleh.
"Kenapa nada bicaramu seperti itu.? Apa kau cemburu aku bisa berpergian keEropa?" Tanya Park sekilas menatap Karin lalu berpaling kearah caffe didekat jalan. Dan melangkah menuju pintu yang diikuti Karin secara reflek.
"Ah ani.. Aku hanya kagum padamu, bisa bekerja sembari jalan-jalan keluar negri. Itu saja." Jelas Karin.
Park terkekeh sembari membuka pintu caffe. Park terkekeh karna melihat ekspresi Karin yang tak bisa menutupi kebohongan. Jelas dia cemburu lantaran Eropa adalah salah satu benua yang menjadi mimpi Karin untuk pergi kesana.
"Kau bisa mengajak kekasihmu pergi kesana. Dia kan kaya, jadi mana mungkin dia tak mampu membeli tiket untuk berangkat kesana." Ujar Park yang membuat Karin berhenti melangkah, bukan tanpa sebab. Lantaran Karin baru sadar kalau dia harus segera pulang ke apartemen Kim, kalau telat Kim akan kembali emosi padanya karna rasa cemburu dan keposesifannya yang berlebihan terhadap dirinya.
"Wae?? Kajja duduklah jangan menghalangi jalan orang lain." Sahut Park dengan tatapan heran ketika melihat Karij tiba-tiba berhenti ditengah jalan masuk.
"Eemm Park-shi, sepertinya lain kali saja nee kita mengobrol, aku harus segera pulang." Ujar Karin gugup sembari memposisikan dirinya menghadap Park.
"Apa sekarang kau tinggal bersama dengan Kim.?" Tanya Park tiba-tiba. Awalnya Karin diam tak menjawab, namun ekspresinya tak bisa berbohong. Ketika Park melihat Karin diam dan tak menjawab, akhirnya ia memecahkan suasana dengan mempukul pelan lengan Karin. Lalu mengajak Karin memesan dessert untuk dibawa pulang.
Karin berpamitan saat ketika busnya datang, lontaran senyum senang terukit diwajah keduanya. Karna memang sudah cukup lama mereka tak bertemu, namun sayang pertemuan diantara keduanya tak berlangsung lama. Karin memberitahu pada Park kalau Kim memilik sikap posesif terhadap dirinya. Jadi, mau tak mau Karin harus sabar dan menurut pada Kim.
__ADS_1
"Bus ku sudah datang, terimakasih untuk ini Park-shi.." Ucap Karin dengan suara gemas seraya menggoyangkan plastik berisikan cake yang dibelikan Park di caffe tadi.
"Nee, hati-hati dijalan. Jika kau membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku." Jawab Park sembari mengangguk kecil.
"Siap pak policeee...!!" Sahut Karin dengan memberi hormat pada Park dengan suara gemas khas perempuan. Tingkahnya sudah pasti membuat Park terkekeh lama sampai akhirnya terhenti ketika Karin masuk kedalam bus.
Park memastikan Karin sudah duduk dikursi penumpang lalu melambaikan tangan salam perpisahan. Saat setelah busnya melaju dan perlahan menjauh, Park merogoh kantung mantel hangatnya guna mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang.
"Aku sudah selesai, jemput aku dihalte bus tak jauh dari tempat kita berhenti tadi." Ucap Park lalu mematikan sambungan panggilan tersebut. Dan tak berselang lama, datang sebuah mobil hitam mewah dan turun sosok pria lalu membukakan pintu untuk Park.
......................
Tit.. Tit.. Tit.. Tit.. Suara tombol nomor password pintu apartemen. Ceklek!! Pintu terbuka.
"Annyeong!! Chagia.. Aku pulang.!" Seru Karin sembari membuka sepatu lalu memakai sandal rumah.
"Cha-gia.." Panggil Karin dengan suara pelan sembari menengok kanan kiri mencari keberadaan Kim.
"Waaaaa!!!!" Teriak Kim dari balik pintu laundy room.
Kim tertawa lepas saat aksi usilnya berhasil membuat Karin terkejut bukan main. Lalu ia langsung memeluk Karin dan mencium pipi Karin yang semakin hari semakin berisi. Ekspresi Karin datar tak bergeming saat Kim memeluk dan menciumi pipinya berkali-kali.
"Kenapa lama sekali? Kau tau, aku bosan menunggumu dirumah sendirian." Ucap Kim pelan sembari menatap Karin dengan tangannya yang menangkup kedua pipi Karin.
Beberapa detik Karin terdiam, bukan tanpa sebab. Tapi Karin berusaha menutup ekspresinya saat mulai menutupi sebab kenapa ia agak terlambat pulang. Ia tak mau Kim mengetahui kalau dirinya sempat bertemu Park walau hal itu tak disengaja. Namun tetap saja jika Kim tahu, mungkin rumah ini akan kembali berantakan karna amarah Kim.
"Eeem, bus'nya datang terlambat. Jadi aku mampir sebentar ke caffe dekat sana untuk membeli ini." Jawab Karin sembari menunjukkan plastik berisi cake pada Kim.
"Apa itu.?" Tanya Kim seraya melirik kearah bungkusan plastik ditangan Karin, lalu menerima plastik dan membawanya kedapur.
"Makanlah, aku membelinya 2. 1 untukmu dan 1 untukku." Ujar Karin sembari melangkah maju menuju pintu kamar.
"Tak mau, aku hanya mau memakanmu." Bisik Kim tiba-tiba saat setelah ia menaruh plastik cake dimeja dapur lalu melangkah cepat dan memeluk Karin dari belakang.
"Aish kau ini, biarkan aku istirahat sejenak. Hampir setiap hari kau memintanya. Jangan membuatku tak bisa berjalan karna permainan kasarmu itu.!" Oceh Karin seraya membalikkan tubuhnya dan membalas pelukkan Kim. Ia mengomel protes dengan menatap tajam mata Kim.
__ADS_1
"Aku tidak perduli. Siapa suruh memiliki tubuh yang membuatku candu." Ujar Kim lalu mencium bibir Karin dengan lembut namun penuh nafsu.
Karin membalas permainan Kim dengan menyesuaikan irama. Dan saat setelahnya ia mendorong dada Kim dan kembali menatapnya.
"Jadi kau hanya terobsesi karna tubuhku.?!" Tanya Karin sinis. Kim tak menjawab dan kembali mencium Karin, kali ini mencium sekaligus menggigit leher Karin sampai membuat Karin berteriak sembari tertawa karna merasa geli. Dan tak lama saling membalas kemesraan, Karin mendorong pelan tubuh Kim, meminta izin untuk membersihkan diri. Kim mengangguk memberi izin lalu ia melangkah kembali kedapur, membuka plastik cake dan berlalu mengambil sendok untuk memakan cake yang dibeli Karin.
......................
Selesai setelah mandi dan berpakaian, Karin bergegas membuka laptop dan berniat meneruskan pekerjaan yang tertunda saat dikantor tadi.
"Harusnya ini kelar cepet, tapi gegara ditelvon suruh balik cepet. Mau gak mau gw lanjut dirumah.!" Oceh Karin sembari membuka dan mengabil berkas-berkas didalam tas kantornya.
Ceklek... Suara pintu kamar terbuka. Karin menoleh sesaat guna memastikan siapa yang masuk kedalam kamarnya. Ya, meskipun sudah tau itu pasti Kim, tapi sudah jadi kebiasaan reflek saat ada pergerakkan disekitarnya.
Tanpa berkata, Karin kembali menatap layar laptopnya. Kim melangkah mendekati Karin dan menyeret kursi sofa lalu duduk tepar dibelakang Karin, ia mengelus pelan rambut panjang Karin yang masih sedikit basah. Bahkan sesekali Kim mencium rambut Karin, wangi buah tercium begitu segar dihidung Kim.
Karin hanya diam tak merespon pergerakkan Kim, ia sudah biasa melihat tingkah Kim seperti. Dan sudah paham akan kejadian yang akan terjadi selanjutnya.
"Kim berhentilah, biarkan aku selesaikan pekerjaanku dulu.!" Oceh Karin risih saat Kim mulai mendekati lehernya dan mulai mengendus-edus didalam sana.
"Tidak mau.! Lagian siapa yang menyuruhmu membawa pekerjaan kerumah, bukannya menyelesaikan dikantor malah menyusahkan dirimu sendiri dengan membawanya pulang." Balas Kim dengan suara gumam karna wajahnya yang tenggelam dalam leher Karin.
"Yaish!! Ini kan mau mu. Kau menelvon dan berteriak menyuruhku cepat pulang disaat aku hampir menyelesaikan semua ini.!" Oceh Karin seraya meneken keyboard sembari mengetik dengan tempo cepat dengan perasaan kesal.
Sampai beberapa saat akhirnya Karin menyelesaikan pekerjaannya dan menutup laptopnya. Saat Kim menyadari pekerjaan Karin telah selesai, lantas ia langsung berdiri sembari menuntun tubuh Karin agar ikut berdiri bersamanya.
"Katakan apa mau mu Kim.?" Tanya Karin saat setelah beberapa menit mereka melakukan aktivitas bib*r.
Kim melontarkan senyum penuh arti, rangkulan tangan Karin membuat kepalanya mendengak keatas sembari memejamkan matanya, lalu mengelus pipinya pada pergelangan tangan Karin yang berada dilehernya. Fantasi Kim sangat tinggi, sentuhan tangan Karin yang hal sepele seperti ini saja bisa membuatnya terbuai dan terhanyut didalamnya. Bahkan pernah suatu ketika Kim meminta Karin agar mau mengikuti fantasi liarnya.
Awalnya Karin mengikuti permaian Kim yang terkesan liar namun masih bisa nikmati. Sampai pada pertengahan aktivitas, Kim mengikat tangan Karin lalu menyambungkan tali tambang itu pada paku yang tertancam didinding kamar yang gunanya sebagai gantungan bingkai foto.
Karin sembarang protes karna tindakan Kim sudah berlebihan, namun hal itu tak dihiraukan. Kim kembali melakukan sesukanya disat tubuh Karin berdiri tepat didepannya dengan tangan yang menjuntai keatas dengan ikatan tali tambang yang melingkar dipergelangan tangannya. Tubuh Karin lemas dibuatnya, mau bagaimana pun insting Karin sebagai wanita masih normal dan ia menikmati semuanya mesti terlintas rasa malu saat melihat Kim melakukan secara blak-blakkan.
......................
__ADS_1
......................