
"Aku juga awalnya sama kaya kamu Rin. Sempet nyasar dirumah ini, tapi lama kelamaan juga terbiasa kok."
Niat Karin ingin membalas ucapan Miranda, tapi akhirnya ia cuman membalas dengan senyum saat ia melihat kearah Choki yang terus menatap dirinya tanpa berkedip. Bukan salah tingkah, tapi justru malah risih dengan sikap Choki yang terlihat tidak menghargai istrinya didepan orang lain. Kalau bukan karna iba, Karin benar-benar ogah tinggal disini.
Tak lama Choki berpamitan berangkat kekantor, setiap hari sebelum ia berangkat kerja hal ini sudah menjadi rutinitas antara ayah dan anak saling mengucapkan salam, meskipun Maura belum mengerti tapi tetap saja Choki slalu mengajaknya berinteraksi.
......................
Saat Karin tengah menyantap sarapannya dimeja makan yang terletak diarea dapur kotor, seseorang menyapa dirinya dan sekaligus memperkenalkan diri mengajaknya berkenalan.
"Hai, kamu Karina ya? Salam kenal ya, aku Tiur asisten rumah tangga disini. Kamu pengasuhnya Maura yang baru kan.?"
Karin menyambut sapaan Tiur dengan tersenyum manis. Namun saat hendak menjawab tiba-tiba Boby datang memotong pembicaraan.
"Sembarang pengasuh baru, ini teh adiknya pak Boby. Awas loh didenger pak Boby atau bu Mira, abis kamu diomelin." Seketika tubuh Tiur membeku dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya karna terkejut sekaligus takut.
Dan saat bersamaan Karin langsung berdiri mendekati Tiur dan mencoba mengajaknya berbicara santai. "Eh kamu kenapa? Gakpapa Tiur, jangan takut ya, kenalin aku Karina panggil aja Karin. Kayanya usia kita gak jauh beda ya." ujar Karin sembari tersenyum.
"Mana ada seumuran, justru dia tuh masih piyik. Mukanya aja yang boros, gak liat tuh ukiran alis kaya singer manten." potong Boby sembari duduk dikursi meja makan.
Karin langsung mencubit lengan kekar Boby karna gemas, karna tak berhenti memotong pembicaraan dan ikut nyambung terus kaya kabel telvon.
"Iiih reseh banget sih, bisa diem gak.! Masih pagi udah bikin emosi aja."
Boby pura-pura kesakitan tapi dengan wajah yang senyam senyum karna senang bisa disentuh Karin.
"Aagh auuw. Lagi dong cantik."
"Deuhh ogah. Lagian lo ngapain disini bukannya nganterin kak Choki kerja."
"Pak Choki dianter Rian, gw disuruh nganterin imunisasi plus ngurusin bam hari ini. Mau ikut gak.?" Jawab Boby sembari menyuap nasi goreng milik Karin.
"Heh punya gw itu.! Btw Bam siapa.?"
"Anjing pak Choki mba." jawab Tiur mencoba berbaur.
"Ooh anj1ng.." ujar Karin dengan melirik kearah Boby.
"Heh! Gw liat ya tu mata." ucap Boby cepat karna merasa dirinya diledek. Karin tertawa senang karna tembakkannya tepat sasaran.
"Tiur udah sarapan? Yuk sini sarapan bareng."
"Gak usah mba makasih. Tiur udah duluan sarapan tadi." jawab Tiur ramah dan berlalu undur diri untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
Selang bebera menit Boby buka suara ditengah sarapannya. "Rin, mungkin hal baru lo. Besok-besok kalau sarapan jangan disini. Temp..."
"Why? Karna ini dapur kotor gitu.? Apa hubungannya? Sama-sama tempat makan, kecuali di wece." ketus Karin memotonga ucapan Boby. Boby menarik nafas dalam saat ucapannya belum tuntas.
"Bener, ini emang sama-sama tempat makan. Tapi status lo disini bukan staff, jangan sampe pak Choki tau lo makan disini. Kalau bu Mira si its oke aja, santai orangnya. Beda sama pak Choki."
Karin langsung berdiri dengan mengangkat piring bekas ia makan, lalu meletakkannya diwastafel. Dan membalikkan tubuhnya, menatap Boby sejenak lalu berjalan meninggalkan Boby.
"Gak perduli.! What ever untuk peraturan gak jelas."
"Ais yaudah terserah kalau itu mau lo. Yang penting gw udah ngasih tau."
......................
__ADS_1
...Siang Hari Dikantor Choki...
Suasana tegang menyelimuti para staff kantor saat meeting, terlebih lagi ada beberapa problem/komplen dari customer mengenai barang yang kualitasnya menurun.
Choki tengah fokus membaca beberapa berkas ditangannya dengan posisi bersandar dikursi. Sesekali ia mengerutkan alisnya bahkan menggaruk ujung pelipisnya yang tak terasa gatal.
"Gimana untuk kontrak kerja sama dengan Perusahan Winara."
"emmh itu., maaf pak." jawab serkertaris Choki dengan gugup, ditambah Choki langsung melirik saat merasa ada yang tak beres.
Jantung Luna seketika berdetak kencang saat Choki melirik kearahnya dengan rasa takut ia kembali menjawab pertanyaan Choki.
"Perusahaan Winara mengcancel kerja sama dengan perusahaan kita dengan alasan tidak cocok mengenai kesepakatan harga."
Emosi Choki terasa naik, Choki menyentak kepada staff nya yang berada diruang meeting. "Cuman perkara tawaran harga kamu gak bisa nego.! Gini cara kerja kalian.! Untuk menghandle satu perusahaan saja perlu saya yang turun tangan.?! Hah!"
Seketika Choki langsung menyandarkan punggungnya dikursi dengan menggaruk pelipisnya yang tak terasa gatal. Kepalanya pusing karna kerjaan ditambah beberapa bulan belakangan ini tubuhnya tak bergairah.
......................
...DiKantor Kim (Korea)...
Jay mendatangi kantor Kim dengan membawa amplop coklat ditangannya. Saat pintu lift terbuka, ia kembali melangkahkan kakinya keluar menuju ruangan Kim. Saat sudah dekat ruangan Kim ia melihat meja serkertaris yang memperlihatkan Soya yang tengah sibuk bekerja. Sangking sibuknya sampai tak sadar bila ada Jay berkunjung ke kantor.
Ceklek!! Suara pintu terbuka.
Kim langsung berdiri dari duduk dan melangkah mendekati Jay. "Bagaimana.? Apa hasilnya sudah ada.? Sudah cukup lama aku menunggu hasil kerjamu Jay."
"Bersabarlah hyeong, aku belum saja duduk kau sudah banyak bertanya. Lagi pula untuk menemukan seseorang yang menghilang bukanlah perkara mudah." Ujar Jay sembari menyodorkan amplop coklat yang ia bawa.
Jay mencoba menjelaskan informasi mengenai Karin dengan hati-hati. "Dia kembali keNegaranya, dia bekerja disalah satu kebun buah naga disana. Pemiliknya masih muda, mereka kenal sejak kecil."
Kim peka terhadap suatu sikap lawan bicara, mangka dari itu ia langsung menatap Jay sembari memegang foto-foto Karin yang tengah bekerja di kebun.
"Ada apa dengan nada bicara mu Jay.? Ada yang kau sembunyikan dariku.?"
"Mianhae, aku tak menemukan orang yang membantu Karin melarikan diri dari rumahmu." ucap Jay berbohong, Jay sebenarnya mengetahui soal Park-Jimin, namun ia tak bisa memberikan identitas Park pada Kim. Pasalnya Park sendiri adalah customer tetap bahkan salah satu pemilik saham di Clubnya.
"Aishh, Wae-oh.? Kalau kau tidak menemukan siapa yang membantu Karin, lalu dari mana kau tau Karin kembali keNegeranya."
"Aku melacak dari bandara, dia melakukan penerbangan secara mandiri. Seperti yang katakan, Karin hanya meninggalkan ponselnya, dan orang yang terakhir ia temui selain kau adalah Soya sekertarismu sendiri."
"Nee kau benar, tapi Soya bilang ia melihat Karin masuk kedalam mobil yang ada seorang laki-laki didalamnya."
Jay mencoba mengelak omongan Kim, ia takut Kim akan mencari tahu sendiri tentang Park. Dengan dalih memberi bukti foto cctv saat Karin masuk ke dalam mobil yang dimana posisi Park tidak kelihatan disana.
"Mungkin itu hanya seoranh supir hyung, ku rasa Soya salah mengira. Lihat ini, tak ada siapapun didalam mobil itu selain supir dan Karin-ah."
Dengan teliti Kim melihat detail foto pemberian Jay, sekilas ia melirik Jay yang berdiri dihadapannya.
"Kenapa tak kau gabungkan foto ini dan foto yang ada di amplop.?"
"Aaa itu.. Aku lupa untuk menggabungkannya, lagi pula fotonya tak jelas (blur)."
"Duduklah Jay, kau terlihat lelah."
"Nee gomawo hyung."
__ADS_1
"Haishhh sepertinya dia curiga. Bagaimana ini." ucap Jay dalam hati.
......................
Waktu terus berjalan, sejak Jay memberi kabar tentang keberadaan Karin yang mengatakan bahwa ia kembali ke Negaranya. Hati Kim sedikit lebih tenang, ia tenang karna Karin tak pergi meninggalkannya demi pria lain. Namun sesuai dengan niat diawal, ia ingin Karin kembali bersamanya, bahkan harus kembali bersamanya.
Namun niat itu terus diundur lantaran kondisi sang nenek yang tengah menjalanin kemoterapi, Kim tak mungkin meninggalkan neneknya seorang diri. Terlebih, tak ada lagi orang yang ia percaya untuk menjaga neneknya.
Kim terduduk disofa sembari memandang foto Karin yang tengah memetik buah naga.
"YA chagia, kau terlihat buruk dengan pakaian itu. Bukankah lebih nyaman tinggal disini, bersamaku dengan hidup yang terjamin." ucap Kim terkekeh kecil dengan melihat penampilan Karin yang terlihat lusu dengan pakaian kebun serta topi.
Namun saat ia melihat seksama foto-foto yang lain, Kim menyipitkan matanya dengan melihat anting yang dipakai Karin. Yap, anting berbentuk permata kecil itu adalah salah satu pemberian Kim yang digunakan Karin sehari-hari.
Kim tersenyum saat melihatnya. Pasalnya Karin tak hanya meninggalkan ponselnya, namun Karin juga dengan sengaja meninggalkan semua perhiasan yang Kim beri slama ini. Dan hatinya merasa senang saat mengetahui pemberiannya ada yang dipakai Karin.
"Aku tau kau mencintaiku chagia, tapi ntah alasan apa yang kau pakai sampai tega meninggalkanku."
Ding.. Dong.. Suara bell rumah berbunyi, dengan cepat Kim berhamburan menuju pintu. Saat ini ia tak tinggal diapart, semenjak neneknya sakit dan menjalankan kemo. Kim tinggal dirumah neneknya yang berada diSeoul.
"Siapa yang datang.?" tanya Kim pada staffnya yang mematung diam didepan pintu.
Staffnya membungkuk pada Kim sembari menjawab pertanyaan Kim. "Oh nee tuan, nona Soya datang."
"Soya? Untuk apa dia kemari dijam segini." batin Kim bertanya.
"Pergilah, suruh dia masuk."
"Silahkan nona." ujar staff pada Soya lalu dibalas Soya dengan senyum ramah sekaligus melangkah masuk kedalam.
Saat Soya masuk dan melihat Kim yang tengah duduk diruang tamu. Disitulah Kim membuka suaranya untuk Soya.
"Duduklah Soya-shi."
Soya tersenyum dan langsung duduk saat mendengar ucapan Kim memintanya untuk duduk. "Nee, gomawo pak Kim."
"Ada keperluan.?" tanya Kim to the point.
"Ah any pak, saya hanya ingin berkunjung, dan ingin menjengguk nyonya besar."
Kim sebenarnya sudah tau maksud Soya yang datang dengan membawa buket bunga serta sebongkah parsel buah-buahan ditangannya. Namun ntah apa yang ada dibenak Soya, apa ada seorang wanita sepertinya yang menjengguk seseorang dijam malam seperti ini. Rasa ingin menskak mat Soya bahwa waktunya tidak pas. Namun sudahlah, hanya perkara sepele seperti ini tak begitu ia pusingkan.
"Mwo.? Apa ini nyonya Karin-ah.?" ucap Soya tiba-tiba yang langsung mengambil foto Karin diatas meja tanpa permisi.
"Nee, dia calon istriku, ada yang salah.?"
Sontak Soya langsung panik saat mendengar ucapan sinis Kim, ia langsung meletakkan kembali foto tersebut dengan hati-hati.
"Ah any pak, saya hanya terkejut melihat penampilan nyonya didalam foto ini. Sangat berbeda saat terakhir kali kami bertemu."
Kim tak menghiraukan Soya mengenai topik Karin, dan langsung mengalihkannya. "Nyonya besar tengah istirahat, jadi mian.. Untuk bertemu dengannya sangat tidak pas dijam segini."
"Haish sb1bal!! Dia sama sekali tak menghargai kedatanganku." umpat Soya dalam hati namun berusaha tersenyum didepan Kim.
......................
......................
__ADS_1