
Sesampainya Karin dilantai 3, ia langsung melangkah kakinya menuju ruangan yang telah diarahkan resepsionis tadi.
"Mian nunna, ada yang bisa saya bantu." Tanya Body Gruad pada Karin.
"A-ah nee tuan, saya ingin bertemu tuan Kim." Jawab Karin dengan yakin, dan mencoba untuk menyesuaikan aksen aksen korea yang ia pelajarain slama ini.
"Apa anda sudah memiliki janji sebelumnya." Tanya BG pada Karin untuk meyakinkan sikon saat ini.
"A-ah nee, ini surat yang saya dapatkan beberapa hari lalu dari Kim." Menunjukkan surat yang langsung dibaca BG Tuan Kim.
"Arraseo.. Tunggu sebentara disini ya nunna, saya bicarakan pada Tuan Kim didalam." Jawab BG pada Karin seraya melontar senyum.
"Nee ☺". Tunduk Karin menghormati sikap BG Tuan Kim yang sopan. "Tak seperti resepsionis tadi. Ketika membaca surat dari Karin, langsung memasang mimik wajah yang seakan akan tak suka dengan Karin." Gumam Karin sembari menunggu BG Tuan Kim keluar.
Tak perlu menunggu lama, BG itu keluar dan langsung menyuruh Karin masuk keruanganTuan Kim.
Tok..Tok..
"Permisi Tuan." Sahut Karin sembari membuka pintu.
"Nee, masuklah." Sahut si pemilik suara berat dari balik meja kekuasaannya itu.
Karin yang bingung karna Tuan Kim tak melihat Karin, melainkan duduk mengarah keluar jendela.
"Bagaimana aku mau diinterview kalau dia memalingkan badan seperti itu." Gumam Karin yang tak sengaja terdengar oleh telingan Tuan Kim, membuat Karin kalang kabut.
"Mianhae nona, bahasa apa yang kamu pakai untuk menggerutu dibelakangku." Tanya Tuan Kim seraya memutarkan kursi kekuasaannya itu.
"A-ah itu.. Mianhae Tuan, saya tak berniat menggerutu dibelakang anda." Jawab Karin menyakinkan Tuan Kim.
"Kau tak menjawab pertanyaanku nona." Sahut Tuan Kim sembari memutar mutarkan pulpen ditangannya.
"a-ah itu.. Saya menggunakan bahasa Indonesia Tuan, asal negara saya." Tuntas Karin sembari membungkukkan badan guna meminta maaf karna membuat Tuan Kim tersinggung.
"O-oh jadi dia, wanita yang dibicarakannya menarik juga. Bahkan lebih menarik jika dilihat langsung." Batin Kim seraya memandang intens Karin yang berpenampilan Formal, dengan rok hitam sejajar dengan lutut, baju kemeja putih lengan panjang kekinian. Dengan bonus buah D*da yang cukup besar dimata Kim, meskipun tak begitu terlihat akibat kemeja yang cukup longgar, tapi Kim bisa merasakan hanya dari sorot matanya saja.
Karin yang merasa dipandang tak enak oleh Tuan Kim, mencoba untuk membuyarkan suasana tidak enak itu.
"Ehem.. Maaf tuan jika saya lancang, apa boleh kita lakukan interviewnya sekarang." Sahut Karin guna membuyarkan pandangan Tuan Kim yang melihatnya seperti macan yang ingin menerkam buruannya.
"A-ah iya, silahkan duduk nona." Jawab Kim yang berdecik kecil karna pandangannya dibuyarkan oleh si pemilik timun suri itu.
......................
"Baiklah, kita mulai." Sahut Kim dengan tatap serius menatap Karin.
"Siapa namamu nona.?"
"Nama saya Karin Safitri Tuan." Jawab Karin dengan yakin.
"Apa kau bisa berbahasa inggris." Tanya Kim sembari memliat dokumen identitas Karin.
"A-ah itu, Bi-sa Tuan." Ada sedikit keraguan yang diucapkan Karin.
Sorot mata Kim memandang Karin seakan ada keraguan disana.
"Ada apa? Kenapa jawabanmu ragu begitu.?
"Tidak Tuan, hanya saja dalam menguasainya, bisa dibilang saya masih dalam tahap pembelajaran." Ucap Karin menyakinkan Tuan Kim.
"Itu bukan masalah besar bagiku, cukup mengerti dan menurut itu sudah cukup. Jawab Kim seraya mengedipkan sebelah matanya menatap Karin.
Karin yang terjekut kecil melihat kedipan genit Tuan Kim, hanya pasrah menerima dengan terpaksa. Karna situasi saat ini sedang interview.
"Bagaimana bisa mereka merekrutnya sebagai HRD diperusahaan sebesar ini." Gumam Karin dengan bahasa IND yang lagi² terdengar ditelinga Kim.
"Kau akan kami terima dengan satu syarat, jangan menggunakan bahasa asing disini, terutama saat bersamaku." Ucap Kim seraya melirik Karin dengan tatapan tajam.
"A-ah nee Tuan, mianhae kalau sikap saya kurang berkenan." (Tunduk Karin mengucapkan maaf kepada Kim.
"Kau bisa berkeja hari ini, mejamu ada diluar dekat dengan ruanganku, jika aku memerlukanmu datanglah secepat yang kau bisa." Tuntas Kim seraya menyuruhnya keluar.
__ADS_1
"Nee Tuan Kim, terima kasih atas izinnya saya bergabung diperusahaan ini." Jawab Karin seraya menundukkan kepala dan segera meninggkan ruangan Kim.
Kim memerhatikan lekuk tubuh janda muda yang memblakanginya hingga perlahan menghilang ditelan pintu.
"Ah apa benar ia seorang janda. Mana ada janda yang lekuk tubuhnya seperti wanita segel nan polos." Batin Kim seraya tersenyum dengan membayangkan fantasi liarnya.
...2 Jam Kemudian...
Karin yang tengah mempelajari sistem kerja perusahaan, dikejutkan dengan telvon kantor yang berdering. Karin yang sigap mengangkat telvon tersebut, takut ada hal penting yang ingin disampaikan si penelvon.
"Hallo.. Dengan Karin disini." Karin yang lupa kalau ia sekarang bekerja diperusahaan Korea. Dengan santainya menjawab telvon menggunakan bahasa IND.
"Apa yang kau katakan, bukankah aku sudah bilang. Jangan menggunakan bahasa Asing dikantorku.!" Bentak Kim dibalik telvon membuat Karin melebarkan bola matanya.
"맙소사 (astaga) aku lupa." Gumam Karin yang tersadar kalau ia bukan lagi di IND. "a-ah mianhae Tuan, saya masih belum terbiasa". Jawab Karin yang gugup karna suara amarah Tuan Kim sangatlah menakutkan.
"Kau tau ini pukul berapa? Kenapa makan siangku belum kau antarkan." Sentak Kim yang membuat Karin terkejut dan langsung menutup telvon lalu berlari kePantry kantor guna mengambil makan siang untuk tuan Kim.
"Aishh yang bener aja, perasaan aku melamar jadi sekertaris Direktur, kenapa jadi pesuruh HRD begini sih." Gumam Karin yang berlari kecil menuju ruangan Kim.
Karyawan lain yang melihat Karin kalang kabut kesana kemari, membuat mereka terkekeh.
"Kemungkinan ia hanya bertahan 1 atau 2 bulan dia betah kerja disini, apa lagi sifat tuan Kim yang mudah bosan. Sekali pakai langsung dibuang." Gosipan para karyawan lain yang ditujukan untuk Karin.
Kim memang dikenal sebagai boss yang tegas, disiplin, dan berkarismatik. Dibalik wajahnya yang tampan dan berwibawa, ia juga sosok pria yang liar akan fantasinya yang sering bergonta ganti pasangan. Bahkan ia tak segan bermain liar dengan sekertarisnya sendiri. Dalam kurung 1 tahun, Kim bisa 5x ganti sekertaris karna jika ia bosan, ia langsung memecat sekertarisnya itu.
*T**ok.. Tok*..
Karin yang langsung memasuki ruangan setelah mengetuk pintu, dan menghampiri meja shofa didalam ruang. Kim yang sedang sibuk menatap laptop, tak menghiraukan perkataan Karin.
"Ini Tuan makan siangnya." Sahut Karin sembari menyusun makan dan minuman diatas meja. Karin yang merasa diabaikan, langsung melangkah keluar ruangan.
"Mau kemana kamu.?" Tanya Kim tanpa melirik. "Duduk disitu dan temanin saya makan." Tunjuk Kim memerintah Karin duduk diShofa.
Karin yang terkejut hanya bisa mematuhi perintah Kim. "A-ah nee Tuan."
Kim yang langsung bangkit dari kursi menuju shofa dan langsung melahap makan siang yang sudah disiapkan Karin.
"Nee Tuan saya bisa, tapi hanya memasak masakan rumah." Jawab Karin yang tak di gubris oleh Kim. Kim terus melanjutkan makan siangnya tanpa menghiraukan Karin.
Boro boro dihirauin, ditawarin aja engak itu si Karin 😄🤭. Kasian jadi Karin, makan siangnya cuman bisa ngeliatin Tuan Kim makan.😁
Kim yang tlah selesai dengan makan siangnya, langsung menuju meja kerja dan melanjutkan aktivitas kerjanya disana.
Lalu Karin??? Dia hanya bisa bengong dengan sikap Kim yang seolah-olah sendiri dan tidak menganggap kehadiran Karin sedari tadi.
Karin yang mulai emosi langsung berdiri dan mengangkat kakinya 2 langkah kedepan.
"Sebenarnya pekerjaan saya disini sebagai apa pak Kim." Tanya Karin dengan nada tegas, membuat Kim melirik sekilas keKarin.
"Bukankah kau melamar sebagai Sekertaris Direktur, jadi untuk apa mau menanyakannya lagi". Jawab Kim yang terus melanjutkan pekerjaannya.
"Lalu untuk apa saya disini.? Tuan menyuruh saya mengambilkan makan siang, lalu menemani Tuan makan siang.
Bagaimana kalau Pak Direktur memanggil saya, tapi saya tidak stay ditempat." Tuntas Karin dengan nafas yang hampir habis karna menjelaskan semuanya dengan satu tarikkan napas.
Kim yang sedari tadi mendengar dan menatap Karin seraya menjelaskan keluh kesah tentang posisinya padahal Karin belum genap satu hari bekerja diperusahaannya.
"Apa kau kira kau belum bekerja sebagai sekertaris direktur hem.?" Tanya Kim yang berdiri lalu mendekat kearah Karin.
Karin yang langsung mundur karna terkejut dengan langkah Tuan Kim semakin lama semakin mendekat kearahnya.
"Maksud Tuan? Saya tak paham maksud perkataan Tuan." Jawab Karin yang gugup karna langkah Kim semakin memojokkannya kedinding ruangan.
"Kenapa kau masih tak mengerti juga nona.. Apa tampangku tak seperti Direktur disini.?" Tuntas Kim yang menatap tajam Karin, wajah mereka sangat dekat dan hampir tak memiliki jarak.
Karin yang membuka lembar matanya langsung tersadar, bahwa yang dimaksud Tuan Kim benar, dialah Direktur perusahaan ini. Bukan HRD seperti yang Karin kira diawal ia interview tadi pagi.
Karin yang malu hanya bisa memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya, guna menghilangkan rasa gugup yang ia rasakan saat ini.
"Kenapa dia sangat menggoda saat menggigit bibir bawahnya, ditambah pejam'an matanya seakan siap menerima perlakuanku.?" Batin Kim yang melihat lekat wajah Karin yang memerah, bukan hanya wajah.. Bahkan telinganya pun ikut memerah karna malu.
__ADS_1
"Kau boleh keluar, aku masih harus menandatangani beberapa dokumen." Sahut Kim yang menjauh dan kembali kemeja kerjanya.
Karin yang mendengar itu langsung keluar dari ruangan Kim.
"Mengapa ia berbeda, tak seperti mantan sekertaris ku yang lain. Tidak ada yang menolak pesonaku dan tidak ada yang tidak tergoda bila aku mendekat. Kenapa ia hanya pasrah tadi, tidak memberikan pendahuluan." Batin Kim yang terus bertanya.
Tig.. Tog.. Tig.. Tog..⌚⌚
Jam tangan Karin sudah menunjukkan waktu pulang kantor, bahkan sudah lewat. Tapi ia tetap setia dimeja kerjanya. Karna memang sudah menjadi ketentuan dari perusahaan, sebagai sekertaris Direktur, ia tidak boleh beranjak dari kursi sebelum atasan keluar dari ruangan.
...Waktu terus berjalan.....
"Astaga... Lama banget si Pak Kim keluar dari ruangan." Keluh Karin dalam hati dan terus memandangi pintu ruangan Pak Kim.
Sekarang panggilannya pada Kim bukan lagi Tuan, melainkan Pak. Karna dia sudah tau bahwa Direktur disini adalah Pak Kim.
Tak bersalang lama, akhirnya Kim keluar dari ruangan yang melewati meja Karin begitu saja tanpa menghiraukan Karin yang berdiri dan menundukkan kepala guna memberi hormat kepada Kim.
"Hufh.. Akhirnya dia keluar juga, bisa pulang dan rebahan dikasur Gadis yang empuk." Gumam Karin sembari membereskan isi tasnya dan langsung melangkah keluar kantor.
...----------------...
Setelah keluar dari kantor, Karin langsung bergegas keHalte Bus, ia takut ketinggalan bus untuk pulang. Karin duduk disisi bangku dengan orang orang yang tengah menunggu bus yang sama.
Karin yang asik memainkan ponselnya ditengah keramainan, ada 2 orang anak sekolah yang tak sengaja menabrak dan membuat ponsel Karin terjatuh ketengah jalan.
Karin terkejut dan bergegas mengambil ponselnya, namun sayang.. Mobil yang melaju cukup kencang melindas hancur ponsel Karin.
Kregggg..!!// Begitulah kira-kira suara hp Karin yang terlindas mobil.
"Aaaaa, Ponselku." Teriak Karin dalam bahasa IND. Karin langsung lari mengambil ponselnya karna takut akan terlindas mobil yang lain.
"YA! mobil s*ekki. Umpat Karin berteriak kearah mobil yang melindas ponselnya.
Dan tak disangka mobil itu behenti dan menepi kepinggir jalan. Karin yang tadinya ingin menghadapi pengemudi karna emosi, langsung mengurungkan niatnya, ia terkejut ketika melihat siapa yang ada dalam mobil.
"Pak Kim.." Gumam Karin yang spontan membalikkan tubuhnya lalu menjauh dari sana.
Tak lama, mobil Kim kembali melaju tanpa aba aba. Karin sedikit lega ketika mobil Kim menjauh dan meninggalkannya.
"Hemm, kau rupanya Karin-shii." Ucap Kim yang melirik dari spion mobil.
...----------------...
"A-ah eonni, mianhae-oh.. Kami sungguh tak sengaja menambrakmu tadi." Sahut 2 bocah sekolah yang membuat ponsel Karin Hancur terlindas ban mobil.
"Nee, tak apa.. Ini hanya ponsel, untungnya bukan tubuhku yang terlindas." Ketus Karin yang membuat 2 bocah itu merasa tak enak.
"YAA eonni, apa kau marah.?! Katakan berapa harga ponselmu, kami akan menggantinya." Tanya 2 bocah itu bernada sombong dan menatasnya sinis, seakan ingin mengajak Karin berduel.
"Kenapa kalian yang marah, bukankah seharusnya aku yang marah, sudah jelas karna kalian ponselku jatuh sampai terlindas mobil. Apa kalian sadar hah!!?" Teriak Karin yang membuat orang disekitar halte melirik mereka bertiga.
Karin yang kesal dengan kejadian hari ini, melangkah pergi meninggal tempat dan memilih pulang berjalan kaki.
...Skip sampai mes Gadis...
......................
"Hah.. Lelahnya, andai aku pulang naik bus tadi, kaki ku tidak akan sepegal ini." Gumam Karin yang langsung menjatuhkan tubuhnya keatas kasur.
"Hari yang menyebalkan.."
Menangis didalam bus karna keingat pengkhiatan Mas Rega, sampai dikantor disuruh suruh kesana kemari.. Sampai diprank atasan sendiri, lagian siapa suruh tidak memberitahuku kalau dirinya lah Direktur perusahaan. Oceh Karin yang meraba ponselnya yang mati dan retak akibat terlindas ban mobil.
Dan tak lama kemudian Karin pun tertidur dengan tangan yang masih memegang ponselnya.
...----------------...
...----------------...
Terimakasih Sudah membaca Guys, Jangan lupa dukungannya ya 😁👍
__ADS_1